Mari kita selami kisah agung Isra Mi’raj. Bukan sekadar perjalanan kilat, melainkan sebuah oase di tengah gurun kesedihan, sebuah pelukan Ilahi yang menghangatkan jiwa yang terluka. Sambil menyesap kopi, mari kita bertafakur: mengapa peristiwa ini hadir justru saat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam berada di titik nadir kehidupannya?
Malam itu, 27 Rajab 621 M pada tahun ke-10 kenabian, langit Makkah tidak lebih terang dari biasanya. Bintang tetap di tempatnya, angin tetap berembus dengan irama yang sama, dan manusia tetap sibuk dengan urusan masing-masing. Namun, sejarah sedang menyiapkan satu bab yang tidak akan pernah selesai ditafsirkan. Di antara sunyi itulah Isra Mi’raj dimulai, bukan sebagai dongeng langit, melainkan sebagai jawaban Allah Ta’ala atas kelelahan seorang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Isra Mi’raj, dalam catatan sejarah, hadir di tahun yang dikenal sebagai ‘Am al-Huzn atau Tahun Kesedihan. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam waktu singkat, kehilangan dua sosok yang sangat dicintainya: Khadijah radhiyallahu ‘anha, sang istri setia yang seluruh hartanya diwakafkan dan diinfakkan untuk dakwah; serta Abu Thalib, sang paman pelindung yang menjadi benteng dari cengkeraman kaum Quraisy.
Tanpa mereka, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bagaikan sebatang kara di tengah badai permusuhan. Dalam logika manusia, ini adalah fase keruntuhan. Namun, dalam logika langit, justru di sinilah pintu perjalanan agung dibuka. Allah Ta’ala tidak menghibur Rasul-Nya dengan harta, kekuasaan, atau kemenangan instan. Hiburan itu datang dalam bentuk perjalanan spiritual, sebuah perpindahan tubuh dan jiwa yang melampaui hukum bumi.
Rumah yang dulu penuh kehangatan, kini terasa dingin dan sepi. Makkah, yang dulu menjadi tempat kelahiran dan berdakwah, kini menjadi neraka yang mengancam nyawa. Beliau menjadi buronan di tanah kelahirannya sendiri, terusir, dan terancam.
Sebelum ‘Am al-Huzn, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluarganya mengalami boikot selama tiga tahun yang memilukan. Mereka dikurung di Lembah Abi Thalib yang sempit, tanpa makanan dan minuman yang cukup. Para sahabat melihat beliau mengganjal perut dengan batu untuk menahan lapar yang mendera. Tangisan bayi-bayi Bani Hasyim yang kelaparan memecah kesunyian malam-malam Makkah. Jeritan kelaparan dan kesakitan menggema di lembah sunyi, seolah merobek langit dan mengaduk-aduk nurani.
Ketika Makkah terasa menyesakkan dada, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan kaki menuju Ta’if, kota yang berjarak sekitar 93 kilometer dari Makkah, demi mencari perlindungan dan dukungan. Namun, harapan itu pupus. Alih-alih sambutan hangat, beliau justru disambut dengan hujan batu. Para pemimpin Ta’if menghasut anak-anak dan budak untuk melempari beliau sepanjang tiga mil. Tubuh mulia itu berlumuran darah. Darah mengalir membasahi terompahnya, dan setiap tetesnya menjadi saksi bisu penolakan serta pengkhianatan.
Hati siapa yang tidak hancur berkeping-keping? Ditolak di tanah kelahiran, diusir di tanah rantau. Di bawah pohon anggur yang rindang, dengan tubuh yang sakit dan hati yang remuk redam, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam mengadu kepada Allah Ta’ala,
“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku dan hinanya aku di hadapan manusia… Jika Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli (penderitaan ini).”
Doa ini adalah ungkapan kepasrahan seorang hamba yang merasa sendirian di tengah dunia yang kejam. Sebuah pengakuan bahwa daya dan upaya manusia telah mencapai batasnya. Pintu bumi seolah tertutup rapat bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Saat itu, bukan hanya Nabi yang menderita. Baitulmaqdis (Yerusalem) pun sedang dalam kondisi yang memprihatinkan, hancur lebur akibat pendudukan Persia. Gereja dan sinagoge menjadi puing-puing yang berserakan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seolah terjepit di antara kesedihan pribadi dan kekacauan dunia. Secara logika, dakwah Islam tampak seperti telah menemui jalan buntu. Tidak ada harta, tidak ada pelindung, tidak ada pengikut baru, dan tidak ada tempat yang aman untuk berlindung.
Tepat di saat kegelapan mencapai puncaknya, Allah Ta’ala mengirimkan Jibril ‘Alaihissalam dengan membawa kabar gembira. Isra Mi’raj bukanlah sekadar pertunjukan mukjizat yang memukau, melainkan tasliyah (penghiburan) bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebuah perjalanan yang membuka cakrawala baru, memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala, serta meneguhkan hati beliau dalam menghadapi segala rintangan dan tantangan.
Masjidilaqsa bukan sekadar titik transit. Di sanalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi imam bagi para nabi. Sebuah isyarat simbolik bahwa kepemimpinan spiritual kini berada di pundak beliau. Ini bukan klaim politik, melainkan pengesahan langit bahwa risalah tauhid telah mencapai puncak kesempurnaannya.
Lalu, Mi’raj dimulai. Perjalanan vertikal yang tidak bisa ditakar dengan meteran fisika. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam naik, lapis demi lapis langit dilewati. Setiap langit menyimpan pelajaran. Bertemu Adam, Isa, Musa, dan Ibrahim bukan sekadar temu sapa, melainkan dialog sunyi antar-generasi kenabian.
Dalam perjalanan agung itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam diperlihatkan surga dan neraka, bertemu dengan para nabi terdahulu, dan menerima perintah langsung dari Allah Ta’ala. Pengalaman ini memberikan kekuatan baru bagi beliau untuk melanjutkan perjuangan dakwah.
Dari perjalanan yang penuh hikmah itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam membawa pulang hadiah yang tak ternilai harganya, yaitu salat. Mengapa salat? Agar kita, umatnya, memiliki cara untuk “naik” (Mi’raj) menghadap Allah Ta’ala saat hati kita hancur. Agar saat dunia terasa kejam dan tidak bersahabat, kita memiliki sajadah sebagai tempat mengadu, tempat mencurahkan segala isi hati. Salat adalah pelukan kasih sayang dari Allah Ta’ala yang dapat kita rasakan lima kali sehari, sebuah oase penyejuk di tengah terik kehidupan.
Isra Mi’raj mengajarkan kita bahwa Allah Ta’ala tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, terutama di saat-saat terendah dalam kehidupan. Ujian berat yang kita alami hari ini bisa jadi adalah cara Allah Ta’ala mempersiapkan “Mi’raj” (kenaikan derajat) untuk kita di masa depan. Setiap luka pasti memiliki obatnya, dan setiap kesulitan pasti ada kemudahan yang menyertainya.
Peristiwa Isra Mi’raj adalah pengingat bagi kita semua bahwa pertolongan Allah Ta’ala selalu datang tepat pada waktunya, meskipun terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Yang terpenting adalah tetap beriman, bersabar, dan terus berusaha mendekatkan diri kepada-Nya. Mari kita jadikan salat sebagai mi’raj kita, sebagai sarana untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta, dan sebagai sumber kekuatan untuk menghadapi segala cobaan hidup.
Hikmah Isra Mi’raj tidak berhenti pada peristiwa. Ia hidup dalam pesan-pesan moral. Bahwa penderitaan bukan tanda ditinggalkan Tuhan. Bahwa setelah kesempitan selalu ada panggilan Ilahi. Bahwa spiritualitas bukan pelarian, melainkan penguatan. Isra Mi’raj juga mengajarkan keseimbangan: ada Isra yang membumi, ada Mi’raj yang melangit. Islam tidak mengajarkan lari dari dunia, juga tidak menenggelamkan diri dalam langit tanpa pijakan sosial.
Di tengah zaman yang memuja kecepatan, Isra Mi’raj mengajarkan makna perjalanan. Di tengah budaya instan, ia mengingatkan bahwa kedalaman lahir dari proses. Bahkan Nabi pun harus melewati malam panjang untuk sampai pada cahaya. Bagi umat hari ini, Isra Mi’raj sering berhenti pada seremoni. Padahal, ia seharusnya menjadi cermin. Sudahkah salat kita benar-benar menjadi penghubung, atau hanya rutinitas yang kehilangan ruh?
Isra Mi’raj menegur kita dengan lembut. Bahwa krisis iman sering kali bukan karena kurang ilmu, tetapi karena jarang “naik”. Jarang berhenti sejenak, jarang menghadap dengan sungguh-sungguh. Jika umat ingin bangkit, Isra Mi’raj memberi peta jalannya: perbaiki hubungan dengan Allah Ta’ala, maka hubungan dengan manusia akan mengikuti. Kuatkan salat, maka karakter akan terbentuk.
Pada akhirnya, Isra Mi’raj bukan kisah masa lalu. Ia peristiwa yang terus berlangsung. Setiap takbiratulihram adalah undangan. Setiap sujud adalah kesempatan. Tinggal kita, mau berangkat atau tetap duduk sambil berdebat tentang jarak langit.

