KULIAHALISLAM.COM – “Kita tidak bisa melakukan sesuatu sendiri, kita bisa melakukan semuanya dengan kolaborasi”. Salah satu pandangan mengatakan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang mempunyai pikiran. Sebagai makhluk Tuhan, manusia mempunyai kedirian, artinya antara satu dengan orang lain secara tertentu mempunyai perbedaan-perbedaan.
Dengan demikian, manusia disebut makhluk individu, makhluk yang mempunyai pribadi, mempunyai aku. Manusia sebagai individu hidup bersama-sama dengan individu lainnya, manusia hidup dengan sesamanya. Inilah sebabnya manusia disebut makhluk sosial, makhluk yang hidup bermasyarakat.
Manusia sebagai makhluk Tuhan dan makhluk sosial tidak hidup secara naif saja (secara mantap seperti kambing, ayam, lembu, dan sebagainya), tetapi manusia hidup menciptakan berbagai hal untuk mencukupi, memudahkan, serta mengenakkan hidupnya.
Misalnya, manusia membuat pakaian, rumah, kendaraan, buku-buku, bahkan manusia dapat membuat pesawat ruang angkasa ulang-alik dan komputer, yang semuanya itu disebut kebudayaan. Maka manusia disebut makhluk budaya. Manusia hidup menciptakan kebudayaan, manusia hidup membudaya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan, makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk budaya. Sebagai individu, manusia terdiri atas jiwa dan raga.
Manusia hidup di dunia ini mempunyai ketergantungan, yakni tergantung kepada Tuhan Yang Maha Esa, tergantung kepada alam, dan tergantung kepada sesamanya.
Pengakuan lain terhadap manusia ialah bahwa manusia mempunyai kemerdekaan, manusia mempunyai hak-hak asasi dan sekaligus hak asasi dalam konteks hidup bersama di dalam masyarakat.
Kedudukan Manusia
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna di antara makhluk ciptaan Allah SWT seperti jin dan malaikat. Dikatakan makhluk yang sempurna karena manusia dikaruniai oleh Allah SWT berupa akal dan nafsu. Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan jin diciptakan dari api.
Allah SWT menciptakan malaikat agar senantiasa beribadah kepada-Nya. Malaikat selalu taat dan tidak pernah bermaksiat kepada Allah. Sedangkan jin diberikan pilihan untuk taat atau bermaksiat kepada Allah. Kebanyakan jin kufur kepada Allah, bahkan golongan jin yang kafir lebih banyak dari golongan manusia.
Manusia adalah makhluk sosial karena manusia hidup bertetangga dengan manusia lainnya. Manusia tidak akan bisa dan susah hidup tanpa ada orang di sekitar yang membantu ketika mengalami musibah.
Berbicara mengenai manusia sebagai makhluk sosial, manusia diciptakan dengan berbagai macam agama, suku, ras, dan kepercayaan. Maka manusia harus mampu hidup harmonis dengan segala perbedaan dan keberagaman.
Antropologi Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia itu diciptakan dari debu dan tanah liat. Lalu Tuhan meniupkan ruh ke dalamnya. Artinya, dalam diri manusia terdapat daya tarik yang mengajak ke bawah, yaitu ke debu, dan daya tarik lain yang mengajak ke atas, yaitu ruh.
Dengan kata lain, dalam diri manusia terdapat daya tarik untuk melakukan perbuatan tidak baik, dan daya tarik lain untuk melakukan perbuatan baik.
Manusia yang dapat melaksanakan tugasnya sebagai wakil Tuhan adalah manusia “teomorfik” seperti istilah Ali Syariati, yaitu manusia yang di dalamnya ada ruh dari Tuhan yang dapat mengalahkan separuh dari wujudnya yang berhubungan dengan iblis, tanah liat, dan endapan bercampur air. Ia dapat bebas dari kebimbangan dan kontradiksi antara “dua kemutlakan”, “ambillah sifat-sifat Allah”.
Lebih lanjut, manusia, khalifah Tuhan di bumi, terjun di tengah-tengah alam dan dengan itu menjadi memahami Tuhan; ia mencari manusia dan dengan itu menemukan Tuhan. Ia tidak melewati alam semesta dan membelakangi umat manusia (H.A. Mukti Ali, hal: 76).
Manusia memang makhluk berwajah ganda bahkan berwajah banyak atau multidimensional. Ali Syariati, pemikir dan sosiolog muslim dari Iran, memposisikan manusia sebagai makhluk Tuhan di antara malaikat yang serba suci atau baik dengan iblis yang serba kotor atau buruk. Di situlah letak ketegangan kreatif yang bersifat abadi antara tuntutan untuk berbuat baik atau buruk dalam diri manusia sepanjang hayatnya.
Manusia dan Agama
Agama Islam menuntun umat manusia menggunakan akalnya, sehingga tidak diperbudak oleh nafsu. Akalnya harus dipergunakan sebaik-baiknya, sehingga diri manusia itu bisa terkendali, menghormati orang lain, mencintai dan mengasihi, serta dapat menyadari diri sebagai hamba yang harus tunduk pada perintah Allah.
Agama Islam memerintahkan kepada umat manusia untuk damai di muka bumi dan menjadi umat bersaudara, tidak bermusuhan, tidak menumpahkan darah, tidak saling menghina dan mengejek.
Agar manusia hidup tak salah kaprah dan berjalan sekehendaknya tanpa kompas petunjuk hidup, maka agama mengajarkan arti (makna, hakikat) dan fungsi (misi dan tugas mulia) serta arah dan tujuan hidup.
Agama mengajarkan kehidupan yang suci, yang benar, yang pantas, dan nilai-nilai adiluhung lainnya dalam kehidupan umat manusia. Agama juga mengajarkan bagaimana menghindarkan atau menyingkirkan hal-hal yang nista, yang jahat, yang buruk, yang keji, dan hal-hal mungkar lainnya dalam kehidupan manusia.
Sehingga hidup manusia menjadi beradab, berakal budi, dan berbudaya mulia sebagaimana layaknya perangai makhluk Tuhan yang unggul, bukan manusia yang rendah nista.
Jika ilmu pengetahuan mengajarkan kebenaran rasional dan empiris, ketika mengerjakan susila, dan seni mengajarkan keindahan, maka agama selain menyentuh dimensi-dimensi tersebut, hal yang terpenting adalah mengajarkan makna dan tujuan hidup yang hakiki.
Manusia (individu) yang bangkit ditandai dengan tersalurnya nilai kemanusiaannya yang dilandasi oleh akal pikiran. Karena kemampuan mengekspresikan serta memfungsikan akal pikiran itulah yang membedakan manusia dari jenis makhluk yang lain.
Apabila akal pikiran dijadikan landasan untuk merenungkan segala yang ada dan yang berkaitan dengan peri kehidupan, maka akan lahir suatu aturan dan sistem kehidupan yang mampu meningkatkan serta menyempurnakan moral dan akhlak manusia.
Apabila manusia mampu memfungsikan akal pikirannya secara sehat, mengendalikan hawa nafsu, dan mengontrol tabiatnya, maka dia akan mencapai tingkatan kehidupan dan peri kehidupan yang manusiawi. Dia dapat mencapai kemuliaan, harga diri, dan kepribadian yang tinggi.
Segala inspirasi dan akal pikiran manusia haruslah bersumber dari petunjuk wahyu Allah Penciptanya. Sebab jika tidak demikian, maka kebangkitan itu tidak akan terkendali, atau akan jatuh kepada tingkatan kehidupan yang serendah-rendahnya atau kosong dari keluhuran budi dan kemuliaan akhlak.
Jika manusia hanya memperturutkan kecenderungan nafsu syahwatnya, maka keseimbangannya akan goyah, dan dia akan lebih berat kepada urusan duniawi atau jatuh tersungkur ke derajat hewan.
*) Penulis adalah Redaktur Pelaksana Kuliah Al-Islam.

