KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Menuju Kebahagiaan Akhirat (2)

3 Mins read

​Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa mencapai kebahagiaan bukanlah hal yang mudah. Hal tersebut hanya dapat dicapai jika seseorang mampu memahami empat tingkat pengetahuan. Keempat tingkat tersebut adalah: pertama, pengetahuan tentang diri sendiri; kedua, pengetahuan tentang Tuhan; ketiga, pengetahuan tentang duniawi; dan keempat, pengetahuan tentang akhirat.

​Menurut Gus Ulil, salah satu bentuk pengetahuan atas diri sendiri adalah kemampuan seseorang untuk memahami hakikat dirinya. Tujuan utama dari pengetahuan jenis ini adalah untuk mengenal siapa dirinya, yang pada akhirnya akan mengantarkan pada pengenalan akan Tuhannya.

​Di sinilah, kata Gus Ulil, Al-Ghazali menegaskan bahwa yang dapat mengetahui diri sendiri adalah individu itu sendiri. Namun, mengetahui diri sendiri bukan berarti sekadar mengetahui fisik seperti tangan, kaki, badan, wajah, atau anggota tubuh lainnya. Al-Ghazali secara tegas menyatakan bahwa pengetahuan tentang hal-hal fisik (jasmaniah) sama sekali tidak setara dengan pengetahuan hakiki tentang diri (ruhaniah).

​Pengetahuan akan diri sendiri, menurut Al-Ghazali, adalah pengetahuan yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan filosofis, seperti: “Siapakah aku?”, “Dari mana aku berasal?”, “Ke mana aku akan pergi?”, dan “Apa yang akan aku lakukan selanjutnya?”.

​Ketika seseorang mencari pengetahuan tentang dirinya, jawaban yang muncul tidak boleh didasarkan pada nafsu hewani. Sebaliknya, jawaban itu harus lahir dari perenungan mendalam (kontemplasi), yang menjadi kunci untuk menemukan hakikat diri dan hubungannya dengan Tuhan.

Tingkat dan Tahapan Kebahagiaan Hakiki

​Gus Ulil menegaskan bahwa seseorang harus menempuh beberapa tahapan riyadhah (latihan spiritual) untuk mencapai tujuan tersebut.

Pertama, Taubat.

Taubat adalah proses di mana seseorang menyadari perbuatan yang menyimpang dari ajaran dan keridhaan-Nya. Dalam konteks ini, taubat didefinisikan sebagai kesadaran seseorang bahwa ia telah melakukan dosa. Kesadaran ini akan menimbulkan penyesalan. Seseorang yang menyadari bahaya dosa akan merasakan penyesalan mendalam karena dosa tersebut menjadi penghalang (hijab) antara dirinya dan Tuhan.

Baca...  Gus Ulil Ngaji Ihya' Ulumuddin: Riwayat Tokoh Sufi Tentang Dunia

​Jika pengetahuan ini tertanam kuat, rasa sakit akibat penyesalan akan mengubah sikap seseorang sehingga ia tidak mengulangi kesalahan yang sama. Menurut Al-Ghazali, hukum bertaubat adalah wajib, selaras dengan pendapat para ulama sebelumnya.

Kedua, Sabar.

Sabar adalah kondisi di mana seseorang mampu mengidentifikasi struktur spiritual dirinya. Bangunan sabar terdiri dari rentetan ilmu, ahwal (kondisi batin), dan amal. Analogi sabar dapat digambarkan seperti pohon: ilmu adalah akarnya, ahwal adalah rantingnya, dan amal adalah buahnya.

​Dalam situasi ini, kata Gus Ulil, jelas bahwa posisi elemen-elemen pohon tersebut merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Segala upaya memisahkan satu sama lain akan gagal dan justru menjauhkan manusia dari esensi sabar. Oleh karena itu, sabar harus menjadi landasan dalam setiap tindakan manusia.

​Sepanjang hidupnya, manusia harus bersabar, baik dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup maupun dalam beribadah. Artinya, sikap sabar harus menjadi motivasi dalam situasi dan kondisi apa pun. Dengan demikian, kesabaran akan menghasilkan tindakan yang tidak melampaui batas kemanusiaan.

​Cara mencapai tingkat sabar ini adalah dengan menyadari bahwa kesabaran sesaat akan membuahkan kebahagiaan berlipat ganda dari Tuhan. Ketika seseorang mencapai tingkat kesabaran yang tinggi, ia tidak perlu menceritakannya kepada orang lain dengan rasa takabur (sombong).

Ketiga, Fakir.

Istilah “fakir” merujuk pada keadaan seseorang yang selalu merasa membutuhkan. Al-Ghazali menggambarkan kondisi ini sebagai hakikat manusia di hadapan Allah SWT. Dengan kesadaran ini, seseorang belajar untuk berharap hanya kepada Allah dan meyakini bahwa hanya Dia-lah Yang Maha Kaya dan mampu memberikan segalanya.

​Menurut Gus Ulil, kondisi merasa butuh (fakir) inilah tingkat tertinggi di mana seseorang dapat mencapai kebahagiaan. Dengan kondisi ini, seseorang tidak akan menggantungkan harapan kepada makhluk, melainkan hanya bergantung pada Allah SWT.

Baca...  Gerakan Usmani Muda di Turki

​Baik saat memiliki harta maupun tidak, ia tetap bergantung pada Allah. Dalam keadaan ini, seseorang tidak akan merasa keberatan jika kehilangan hartanya, atau memberikannya kepada orang yang membutuhkan. Ia menjadi pribadi yang tidak tamak dan tidak terjebak dalam pemenuhan hasrat duniawi semata.

Keempat, Zuhud.

Secara sederhana, zuhud berarti meninggalkan sesuatu untuk beralih ke hal lain yang lebih baik. Menurut Al-Ghazali, agar manusia dapat mencapai kebahagiaan sejati, mereka harus melakukan zuhud dengan memusatkan konsentrasi pada Allah SWT dan mengurangi keterikatan pada kehidupan duniawi.

​Gus Ulil menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat, kehidupan dunia tidak ada artinya sama sekali. Seseorang baru dapat merasakan kenikmatan sempurna ketika ia benar-benar beribadah kepada Allah SWT. Hal ini dicapai dengan menjaga hati dan seluruh anggota tubuh dari segala sesuatu yang dapat merusak jiwa dan pikiran.

Kelima, Tawakkal.

Menurut Al-Ghazali, tawakkal berarti bersandar hanya kepada satu-satunya Dzat yang pantas, yaitu Allah SWT. Ini adalah bentuk pengetahuan di mana manusia benar-benar percaya bahwa tidak ada yang dapat memberikan cahaya maupun manfaat kepada dirinya selain Allah SWT.

Keenam, Ikhlas.

Pada dasarnya, setiap tindakan manusia memiliki motif. Salah satu bentuk keikhlasan adalah ketika suatu tindakan tidak dipengaruhi oleh tendensi atau pamrih tertentu.

​Syahdan, dalam pemikirannya, kata Gus Ulil, Al-Ghazali menekankan bahwa setiap tindakan harus dilakukan dengan ikhlas, tanpa mengharapkan apa pun selain ridha Allah SWT. Lebih jauh, Al-Ghazali mengatakan bahwa ikhlas adalah sikap yang dapat “menghilangkan” keakuan dalam sikap itu sendiri.

​Jika masih ada alasan duniawi di balik sebuah perbuatan, maka seseorang belum mencapai derajat ikhlas yang sesungguhnya. Hanya Allah semata yang memiliki kuasa untuk memurnikan perasaan ini. Ketika manusia sampai pada tahap ikhlas di dunia, mereka melakukan segala sesuatu tanpa alasan lain selain Allah. Wallahu a’lam bisshawab.

196 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
Keislaman

Gus Ulil: Teologi Asy’ariyah dan Perdebatan Tindakan Tuhan (Bag 2)

4 Mins read
Salah satu keyakinan dasar dalam perspektif teologi (akidah) Asy’ariyah adalah bahwa Tuhan tidak memiliki kewajiban untuk menciptakan makhluk. Tuhan memiliki kehendak mutlak;…
Keislaman

Gerakan Dan Pemikiran Muhammad Ali Pasya

3 Mins read
Kuliahalislam.Muhammad Ali Pasya lahir di Kawalla, Yunani 1765 dan wafat di Mesir tahun 1849 M. Muhammad Ali Pasya merupakan pelopor pembaharuan dan…
Keislaman

Gus Ulil: Teologi Asy’ariyah dan Tindakan-Tindakan Tuhan (1)

3 Mins read
Kita tahu bahwa salah satu klaim pandangan keagamaan (akidah) Asy’ariyah mengenai tindakan Tuhan adalah bahwa Tuhan tidak memiliki tanggung jawab moral untuk…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Berita

DPD IMM DIY 2025-2027 Resmi Dikukuhkan, Usung Transformasi Inklusif

Verified by MonsterInsights