KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Menuju Kebahagiaan Akhirat (1)

2 Mins read

Diskusi mengenai tema “mencela dunia” sebenarnya tidak lagi menjadi topik yang populer di zaman sekarang. Pasalnya, kitab Ihya’ Ulumuddin mengajarkan untuk mencela atau memandang kritis kekayaan, justru di saat orang-orang sedang berlomba-lomba mencintainya. Meskipun Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa kekayaan mengandung mashlahat (kebaikan) dan mafsadat (bahaya), Gus Ulil menekankan bahwa kekayaan memang harus dipandang secara kritis.

​Oleh karena itu, kita harus berhati-hati terhadap dunia. Dunia tidak hanya memiliki aspek positif, tetapi juga menyimpan aspek negatif yang sangat membahayakan dan dapat menjauhkan manusia dari Tuhan. Lalu, bagaimana cara menimbang mashlahat dan mafsadat dunia ini?

​Tidak diragukan lagi, satu-satunya cara untuk menilai dunia adalah dengan melihat tujuan utama kehidupan itu sendiri. Tujuan utama manusia selama hidup di dunia adalah untuk mencapai kebahagiaan di akhirat (sa’adatul akhirah). Tolok ukurnya adalah apakah kehidupan di dunia ini dapat mengantarkan kita pada tujuan tersebut atau tidak.

​Lantas, bagaimana kita bisa mendapatkan kebahagiaan ini?

​Manusia adalah makhluk yang unik dan berbeda dari makhluk lainnya. Namun, sifat hedonis dan materialistis juga merupakan bagian dari fitrah manusia. Pada dasarnya, naluri manusia menyukai keindahan dan kesenangan. Sementara itu, alam dunia tidak stabil dan selalu berubah, sehingga memengaruhi apa yang ada di dalamnya, termasuk perubahan pada tubuh dan pikiran manusia.

​Di era modern saat ini, kebahagiaan sering didefinisikan sebagai kemampuan seseorang menjalani pekerjaan dengan baik untuk memperoleh harta benda dan posisi yang tinggi. Orang-orang zaman sekarang percaya bahwa memiliki banyak harta dan kedudukan tinggi memungkinkan mereka hidup tenang tanpa bergantung pada orang lain. Bahkan dengan harta, orang saat ini merasa memiliki status sosial yang berbeda di masyarakat.

Baca...  Jamaluddin Al Kubro: Misteri Penyebar Islam dan Jejaknya di Nusantara

Harta di Urutan Terendah

​Padahal, menurut Al-Ghazali, anggapan tersebut tidak benar. Harta bukanlah sumber kebahagiaan abadi. Bahkan dalam hierarki kebahagiaan, harta berada di urutan terendah. Berikut adalah urutannya:

Pertama, cara utama mencapai kebahagiaan akhirat adalah dengan memperoleh keutamaan yang bersifat jiwa atau rohani (fadha’il al-nafsiyah). Keutamaan ini meliputi ilmu pengetahuan dan kemuliaan akhlak. Ini adalah jalan utama dan tingkatan tertinggi untuk meraih kebahagiaan di akhirat kelak.

Kedua, keutamaan jasmani (fadha’il al-badaniyyah), yaitu kesehatan dan keselamatan badan. Kita akan sulit mencapai kebahagiaan di akhirat jika kondisi badan terus-menerus sakit.

Ketiga, sarana eksternal atau sesuatu yang ada di luar tubuh kita (fadha’il al-kharijah), seperti harta benda dan sebab-sebab lainnya. Di sinilah Al-Ghazali menegaskan bahwa harta (dirham dan dinar) termasuk sarana yang paling rendah derajatnya.

​Ketiga poin di atas adalah jalan untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Hal ini menunjukkan bahwa dunia tidak selamanya buruk. Ada sisi dunia yang justru mengundang manusia untuk dekat dengan Tuhannya. Dunia menjadi berharga bukan karena dirinya sendiri, melainkan karena digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi (akhirat).

​Mengapa dinar dan dirham dianggap sebagai jenis harta yang paling rendah? Jawabannya adalah karena keduanya berfungsi sebagai pelayan, bukan yang dilayani. Dinar dan dirham pun tidak memiliki pelayan di bawahnya. Hal ini berbeda dengan badan yang melayani roh, namun badan masih memiliki pelayan berupa makanan, minuman, kendaraan, dan sebagainya.

​Sebagai contoh; kasur, bantal, dan AC diperlukan untuk melayani tubuh agar nyaman saat tidur. Sementara harta (uang) tidak memiliki “asisten”. Intinya, dinar dan dirham adalah pelayan murni. Tidak ada lagi tingkatan di bawahnya.

Baca...  Pemimpin Islam: Meneladani Kepemimpinan Rasulullah

​Al-Ghazali mengingatkan kita tentang rendahnya nilai intrinsik dirham dan dinar. Inilah alasan mengapa uang masuk dalam kategori kekayaan paling rendah. Lantas, mengapa jiwa lebih mulia daripada dunia?

​Gus Ulil menjelaskan bahwa meskipun dunia itu mulia, ada yang jauh lebih mulia darinya, yaitu ilmu pengetahuan dan moralitas. Singkatnya, jiwa selalu bekerja untuk hal-hal yang luhur. Orang yang melayani sesuatu yang mulia, pasti akan ikut menjadi mulia.

​Jika jiwa manusia berfokus pada hal-hal luhur—seperti ilmu dan akhlak—alih-alih sekadar mengejar dunia (dirham dan dinar), maka manusia tersebut akan menjadi mulia. Inilah kunci terpenting dalam menemukan jalan kebahagiaan akhirat. Dengan kata lain, orang yang tidak memiliki pengetahuan dan moralitas tidak akan dapat mencapai kebahagiaan hakiki di akhirat.

197 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
Keislaman

Teologi Asy’ariyah Menurut Gus Ulil: Kehendak Bebas dan Tindakan Tuhan (3)

5 Mins read
Menurut pandangan Asy’ariyah, klaim ketiga menunjukkan bahwa Tuhan dapat memberi penyakit kepada hewan yang tidak bersalah. Ini adalah salah satu aspek penting…
Keislaman

Hakikat Taqiyah Dalam Islam

3 Mins read
Kuliahalislam.Taqiyah artinya adalah menjaga diri, berlindung, menghindari atau menjauhkan diri dari setiap jenis bahaya. Taqiyah merupakan sebuah doktrin dalam lingkungan aliran Syiah…
Keislaman

Maulana Yusuf Sultan Kesultanan Banten II

2 Mins read
Kuliahalislam.Sultan Maulana Yusuf (Banten, 1553-1580). Ia merupakan Sultan Banten yang kedua (1570-1580), pengganti ayahnya yaitu Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570). Sultan Maulana Yusuf…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Filsafat

Manikeisme: Teologi Dualistik Kuno dan Relevansinya di Zaman Modern

Verified by MonsterInsights