Opini

Banjir Jember dan Kerusakan Lingkungan: Analisis Penyebab Utama

3 Mins read

​Beberapa hari lalu, akun TikTok Jember 24 Jam mengunggah video banjir bandang. Dalam rekaman itu, tampak banjir menenggelamkan rumah-rumah warga di Jember. Kondisi jembatan jebol dan warga pun kelimpungan mengamankan barang-barangnya dari rumah. Tak berselang lama, Jawa Pos memberitakan bahwa bencana banjir bandang itu menenggelamkan sejumlah wilayah di Jember.

​Bencana banjir yang melanda Kabupaten Jember pada (25/12/2025) itu terjadi karena luapan Sungai Bedadung, Kalijompo, Rembangan, Mayang, Gila, dan Sungai Dinoyo. Jika mendengar pernyataan dari BPBD Jember, banjir yang menerjang warga itu akibat hujan deras yang disertai angin kencang. Namun, memahami penyebab banjir di Kabupaten Jember tidak sesederhana itu.

​Penyebab utama terjadinya banjir di Jember adalah kerusakan lingkungan dan pencemaran sungai yang selama ini diabaikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, terutama Pemerintah Kabupaten Jember. Sungai dibiarkan rusak dan gunung terus dikeruk atas nama kegiatan ekonomi. Itulah penyebab terjadinya banjir yang sebenarnya.

​Sialnya, pemerintah tidak serius dalam mengatasi kerusakan lingkungan yang setiap tahun terjadi. Buktinya, setiap tahun Jember menjadi langganan banjir, tetapi pemerintah tidak serius menanganinya. Hal ini dapat kita buktikan lewat respons Pemerintah Kabupaten Jember ketika banjir. Mereka hanya memberikan imbauan bahwa saat ini Jember sedang menghadapi “cuaca ekstrem”.

​Padahal, jika kita melihat dengan saksama, cara mengatasi bencana seperti banjir itu tak cukup sekadar dengan peringatan “cuaca ekstrem”. Ada langkah lebih progresif yang harus dilakukan supaya bencana banjir tidak lagi menimpa warga Jember. Namun, cara serupa terus berulang. Pemerintah Jember seolah belum bertobat dan belum menjadikan banjir sebagai penanda bahwa hal ini juga disebabkan oleh kebijakan yang tidak berpihak kepada lingkungan; sungai dibiarkan tercemar, pembalakan hutan, serta penambangan ilegal.

Baca...  Adab yang Hilang: Pentingnya Adab kepada Guru untuk Bangsa

Kerusakan Lingkungan

​Mari kita lihat bersama penyebab terjadinya banjir dari kondisi kerusakan lingkungan di Jember. Jika hanya melihat penyebab terjadinya banjir sebatas menurunnya daya tampung Sungai Bedadung atau Kalijompo, kita tidak akan pernah menemukan akar masalah penyebab terjadinya banjir di Jember.

​Masalah utamanya bersumber dari hulu, yang kemudian mengirim air dengan sangat dahsyat ke perumahan warga. Saya berikan contoh pada kondisi Sungai Bedadung hari ini. Temuan Ecological Observation & Wetland Conservation (Ecoton) menunjukkan Sungai Bedadung sudah tercemar limbah plastik. Kondisinya saat ini sangat memprihatinkan. Sungai yang dulunya menjadi sumber penghidupan warga, kini airnya tak lagi jernih dan bau busuk menyengat, sementara warga sekitar hanya bisa mengeluh. Pemerintah setempat pun seolah tutup telinga melihat ini.

​Ini masih tentang pencemaran sungai. Belum lagi soal aktivitas tambang yang menjadi penyumbang terjadinya kerusakan lingkungan. Di Kabupaten Jember, beberapa kali ditemukan penambang ilegal mengeruk Gunung Sadeng dan lereng Gunung Argopuro. Akibatnya, ketika hujan deras, tanah longsor terjadi karena kontur tanah sudah rusak. Pertanyaannya, mau sampai kapan kerusakan lingkungan ini dibiarkan? Apakah menunggu bencana ini seperti yang menimpa masyarakat Aceh dan Sumatera dulu?

​Bukan sesuatu yang berlebihan jika saya mengatakan bahwa banjir terjadi akibat ulah pemerintah yang salah urus. Pemkab Jember selama ini lalai mengawasi aktivitas tambang ilegal yang beroperasi di Jember. Banjir yang melanda Jember bukan hanya terjadi tahun ini, melainkan sudah sejak tahun 2006 bencana banjir menenggelamkan beberapa daerah di Jember. Namun, setiap pergantian kekuasaan, mereka masih saja belum menyadari sebab-musabab utama terjadinya banjir.

Menjaga Alam

​Melihat situasi Jember hari ini, barangkali kita harus yakin dengan kalimat, “menjaga alam sama halnya menjaga anak cucu kita”. Ungkapan ini berangkat dari tinjauan kritis teori Deep Ecology, yang mana dalam hal mengatasi masalah lingkungan hidup, manusia tidak lagi diposisikan sebagai pusat moral. Semua kehidupan di muka bumi tidak melulu soal kepentingan manusia atau komunitas tertentu. Kita harus menyesuaikan antara kegiatan manusia dengan masa depan alam.

Baca...  Krisis Kebersamaan Generasi Muda: Perspektif Sosiologi dan Islam

​Apa yang dilakukan manusia wajib selaras dengan alam. Di sinilah pentingnya menjaga alam atau lingkungan sekitar seperti sungai dan pegunungan. Sebab, merawat dan memelihara lingkungan mirip dengan merawat sebuah rumah tangga. Jika rumah tangga ingin harmonis tanpa dendam di kemudian hari, posisikan alam ini sebagai bagian dari keluarga kita bersama.

​Dalam pandangan Etika Lingkungan, bencana banjir yang terjadi di Jember tak lain akibat dari aktivitas manusia yang lalai menjaga lingkungan. Solusi untuk mengatasi bencana seperti banjir wajib dimulai dengan kebijakan yang mampu memperlakukan lingkungan secara adil dan berimbang antara kebutuhan manusia dan alam. Alam jangan hanya dijadikan tempat eksploitasi semata.

​Dalam kondisi seperti ini, saatnya kita mengubah arah pandang kita mengenai lingkungan. Jika sebelumnya bumi Jember hanya dijadikan pusat kekayaan manusia tanpa mempertimbangkan masa depan lingkungan, saatnya beralih bahwa alam juga sebagian dari hidup kita dan generasi Jember ke depan. Dengan menjaga ekosistem lingkungan dan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan alam, barangkali bencana seperti banjir akan teratasi.

​Penulis teringat perkataan Franklin D. Roosevelt, “Sebuah bangsa yang merusak tanahnya akan merusak dirinya sendiri. Hutan adalah paru-paru bumi kita, membersihkan udara dan memberikan kekuatan segar bagi rakyat kita.”

340 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
KeislamanOpini

Gema Cinta di Meja Maulid: Refleksi Filosofis dan Kritis atas Tradisi Penyambutan Sang Nabi

4 Mins read
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sering kali terjebak dalam perdebatan normatif yang kaku, tereduksi menjadi sekadar perdebatan hukum formal antara bid’ah dan…
KeislamanOpini

Ontologi Keadilan Kosmis: Etika Kepemimpinan Ekologis Umar bin Khattab

5 Mins read
“Keadilan sejati tidak hanya berhenti pada kesejahteraan manusia, tetapi juga merentang luas, mencakup perlindungan bagi setiap jiwa yang bernapas di bumi.” Wacana…
OpiniPolitik

Counter-Fire: Solusi Ekstrem Atasi Krisis Asap Kalimantan

5 Mins read
Kalimantan, paru-paru dunia yang menyimpan kekayaan biodiversitas tropis purba, kini terjebak dalam lingkaran setan bencana ekologis yang berulang tanpa ujung penyelesaian yang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Keislaman

Menyingkap Hakikat Wahyu dari Allah