Menuntut ilmu merupakan sesuatu yang tidak asing bagi kalangan umat Muslim karena hal tersebut dibenarkan dalam ajaran agama dan menjadi salah satu jalan untuk beribadah kepada Allah SWT.
Terdapat sebuah hadis yang menyatakan bahwa menuntut ilmu diwajibkan bagi laki-laki dan perempuan sejak lahir sampai ke liang lahat. Hal ini menegaskan bahwasanya mencari ilmu tidak ada kata terlambat dan tidak memandang usia.
Hadis tersebut secara tidak kita sadari memberikan arti bahwa menuntut ilmu harus dilandasi dengan pendidikan yang demokratis, maksudnya pendidikan tanpa pilih kasih dan menerapkan pembelajaran yang moderat.
Konteks menuntut ilmu di sini juga wajib didasarkan pada tiga aspek, yaitu keteguhan niat, keikhlasan, dan kejujuran. Keteguhan niat menjadi cikal bakal yang menentukan apa yang akan kita dapatkan nantinya.
Jika niat hanya untuk kesenangan duniawi, seorang Muslim tidak akan mendapatkan wanginya surga di hari kiamat. Namun, jika diniatkan semata-mata untuk mencari rida-Nya, ia akan mendapatkan kesenangan duniawi maupun akhirat.
Keikhlasan di sini bermakna hablum minallah yang menunjukkan kebenaran dalam ketaatan. Sementara itu, kejujuran diarahkan untuk menyucikan keangkuhan jiwa manusia serta menjadi tonggak dari berbagai hal.
Imam Syafi’i juga berpendapat bahwasanya menuntut ilmu bagi seorang Muslim lebih utama daripada ibadah salat sunah. Hal demikian dikarenakan ilmu akan mendatangkan kebahagiaan dan kebaikan, serta membuat kebijaksanaan tumbuh di dalam diri orang yang mencintai ilmu pengetahuan.
Ilmu akan mengubah segalanya: orang yang dulunya lemah menjadi kuat, orang yang hina di hadapan Allah atau manusia menjadi mulia, dan orang yang tersesat menjadi selamat.
Keutamaan seorang Muslim yang berilmu akan mendatangkan banyak kebaikan. Mempelajari ilmu merupakan salah satu bentuk kepatuhan kepada Allah, mencari ilmu adalah sarana peribadatan, dan mengingatnya merupakan bentuk penyucian diri.
Mengkaji ilmu adalah bentuk perjuangan, mendiskusikan ilmu menjadi ajang untuk menjalin silaturahmi, dan mengajarkan ilmu merupakan salah satu bentuk kepedulian untuk melaksanakan ajaran hablum minannas.
Dalam konteks menuntut ilmu, prosesnya tidak akan bisa lepas dari dua peran utama, yaitu pendidik dan peserta didik. Kedua pihak ini saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan.
Etika Seorang Pendidik
Seorang pendidik menjadi subjek penting dalam keberlangsungan peserta didik saat menuntut ilmu. Pendidik yang baik adalah pendidik yang mengedepankan etika dalam pribadinya.
- Pertama, seorang pendidik harus bisa meluruskan niatnya dalam proses pembelajaran, yaitu semata-mata untuk mencari rida Allah. Jika seorang pendidik memiliki sedikit saja niat yang salah, hal itu akan mengotori niat sucinya dan berdampak pada proses belajar mengajar.
- Kedua, pendidik harus memiliki karakter dan perilaku terpuji karena hal ini sangat memengaruhi perkembangan peserta didik. Ada sebuah istilah yang menyebutkan bahwa seorang pendidik itu digugu lan ditiru (digugu dan ditiru).
- Ketiga, menanamkan prinsip tidak vulgar dalam menggunakan ilmunya. Pendidik harus bisa menanamkan hal-hal positif dengan apa yang dikuasainya dan tidak bersikap semena-mena dengan kekuatan ilmu yang dimiliki.
Dalam Al-Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 159, ditekankan bahwasanya seorang pendidik harus bisa mengedepankan sikap lemah lembut. Hal ini sangat berpengaruh dalam proses mengajar. Jika pendidik memiliki sikap keras dan berhati kasar, peserta didik akan menjauhkan diri, baik secara lahiriah maupun batiniah.
Seorang pendidik harus bisa memaafkan untuk dapat menarik hati peserta didik dan selalu bertawakal kepada-Nya dalam setiap urusan. Dalam proses mengajar, pendidik harus menerapkan etika, di antaranya: mendidik secara bertahap, peduli terhadap keadaan peserta didik, tidak menyembunyikan ilmu yang diketahuinya, serta menunjukkan semangat dan keseriusan ketika melakukan proses belajar mengajar.
Etika Peserta Didik
Proses menuntut ilmu tidak hanya bergantung pada pendidik; tanpa adanya peserta didik, proses ini tidak akan berlangsung. Peserta didik yang baik dalam proses belajar juga memiliki etika yang harus diutamakan.
- Pertama, peserta didik harus bisa membersihkan hatinya dari hal-hal yang dapat menodai niatnya dalam belajar.
- Kedua, dapat menghilangkan hal-hal yang dapat mengganggu belajar, seperti mengurangi kegiatan yang tidak bermanfaat, bersikap prihatin dalam menjalani proses hidup, dan makan seadanya.
- Ketiga, memiliki sikap rendah hati karena hal ini menjadi salah satu jembatan untuk bisa menyerap ilmu pengetahuan.
- Keempat, peserta didik harus bisa menampilkan perilaku terpuji dan menggunakan akal sehatnya dengan baik.
- Kelima, harus hormat kepada gurunya, selalu menatapnya penuh dengan kemuliaan, serta mencari rida Allah dan gurunya sehingga dapat menyerap ilmu dengan baik serta bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.
Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 66–68 menjelaskan bahwasanya peserta didik harus memiliki seorang guru untuk bisa mencapai ilmu yang benar. Ketika sudah memiliki guru, peserta didik harus memiliki sikap sabar dalam memahami ilmu yang disampaikan.
Maksud sabar di sini mencakup banyak aspek dalam proses mencari ilmu, yaitu sabar menghadapi segala rintangan hidup, sabar untuk bisa memahami ilmu dengan baik, sabar dalam ketersediaan finansial, dan sabar menikmati proses yang ada. Dengan kesabaran dan kerendahan hati yang dipupuk, ilmu akan meresap dengan baik.
Pendidik dan peserta didik wajib memiliki hubungan batiniah dan lahiriah yang baik karena akan memengaruhi kelancaran hidup keduanya. Hal ini dapat dilakukan dengan saling menghormati dan mendoakan.
Keduanya juga harus menanamkan sikap tidak saling merendahkan dan tidak menanyakan hal yang sulit/memojokkan. Dengan ilmu, pendidik dan peserta didik dapat mengimplementasikan konsep Ulul Albab dengan baik sehingga menjadi makhluk ciptaan Allah yang sempurna wujud dan pengetahuannya (Insan Kamil).
Rujukan:
Nawawi, Imam. (2021). Buku “Adab di Atas Ilmu” Terj. Adab al-Alim wa al-Muta’alim. Yogyakarta: Diva Press.
Oleh: Achfan Aziz Zulfandika
Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah, UIN Raden Mas Said Surakarta. Penggiat di UKM LPM Dinamika.

