Opini

Aib Kiai, Tubuh Santri: Perlawanan Kecil dari Bilik Santri

5 Mins read

Ada pemandangan yang selalu membuat saya geli sekaligus mual: seorang kiai yang duduk di singgasana kehormatan, dikelilingi santri yang mencium tangannya dengan penuh takzim, sementara di balik dinding pesantren, tangan yang sama yang dicium itu menjelajahi tubuh yang seharusnya dilindungi.

BBC Eye baru saja membuka kotak pandora yang selama ini rapat terkunci di Lombok Tengah. Ahmad Imanuddin Sumar, si “abah” yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai representasi ilahi di bumi, ternyata menyimpan luka yang menganga bagi santriwatinya sendiri. Kisah ini bukan sekadar skandal. Ini adalah potret buram bagaimana kekuasaan spiritual di negeri ini kerap menjadi kedok paling efektif untuk melindungi predator.

Mari kita telaah narasi yang dibangun dengan sangat apik oleh tim investigasi BBC Eye. Yusron Azzahidi, santri bintang yang menaruh hormat luar biasa pada gurunya, tiba-tiba harus berhadapan dengan kenyataan pahit: abah yang ia agungkan ternyata dituduh melecehkan teman-temannya.

Telepon pada Juni 2023 itu menjadi momen paling telak dalam drama ini. Abah, dengan suara lirih yang tersendat isak, memohon, “Tutup aib gurunya nanda. Walau salah tak apa. Yang penting guru nanda selamat.” Pesan itu bukan hanya permohonan. Ia adalah manifesto budaya yang selama ini dirawat dengan sangat rapi di banyak pesantren: budaya bungkam yang dibalut dengan narasi keberkahan.

Betapa cerdiknya konstruksi ini. Seorang santri diajarkan bahwa mendurhakai guru berarti kehilangan berkah, bahwa membuka aib kiai sama dengan menjebol langit. Maka ketika pelecehan terjadi, korban bukan hanya harus menanggung trauma, tetapi juga dibebani rasa bersalah yang luar biasa jika berani bersuara. Zia, Sukma, dan santriwati lainnya bukan hanya berhadapan dengan predator seksual.

Mereka berhadapan dengan sistem yang telah menanamkan ketakutan sedemikian dalam sehingga suara mereka nyaris tidak pernah sampai ke permukaan. Ini bukan kebetulan. Ini adalah arsitektur kekuasaan yang dibangun selama puluhan tahun, di mana kiai menempati posisi setengah dewa yang tidak boleh dipertanyakan, apalagi dituntut.

Yang membuat saya semakin geram adalah tawaran abah kepada Yusron: “Demi Allah, abah bantu nanda sekolah di Mesir.” Ini adalah transaksi paling kotor dalam dunia pendidikan. Sebuah jenjang karier akademik ditawarkan sebagai alat untuk membungkam kebenaran. Kita tentu tahu, bagi banyak santri, kuliah di Mesir adalah puncak dari segala impian. Ini bukan sekadar soal pendidikan. Ini soal prestise, pengakuan, dan masa depan. Maka ketika tawaran itu datang dari seorang kiai yang tengah tersudut, ia bukan hanya menawarkan jalan tengah, ia menawarkan jalan menuju neraka moral. Yusron berdiri di persimpangan paling sulit dalam hidupnya: menghormati guru yang selama ini ia agungkan, atau membela kebenaran yang justru menghancurkan semua yang ia yakini.

Baca...  Sound Horeg, Ujian Kepekaan Sosial Seorang Muslim

Institusi yang Memilih Memeluk Pelaku

Yang lebih menyayat bukanlah perilaku bejat seorang oknum kiai. Yang jauh lebih mengerikan adalah bagaimana institusi di sekelilingnya bergerak dengan sangat cepat untuk melindungi sang pelaku. NWDI, organisasi yang menaungi ratusan pesantren, awalnya berjanji akan membantu membawa kasus ini ke polisi.

Namun demikian, janji itu menguap begitu saja, digantikan oleh manuver yang tidak pernah terbayangkan oleh para santri tersebut. Dokumen tujuh halaman yang berisi kesaksian lima santriwati itu, yang disusun dengan susah payah, tiba-tiba sudah berada di tangan abah. Tiga minggu setelah pertemuan dengan perwakilan NWDI, Yusron mendengar suara abah di rumah orang tuanya, memohon agar ia menarik tuduhan sambil menawarkan skenario kebohongan.

Jelas sekali di sini bahwa solidaritas institusional jauh lebih kuat daripada komitmen terhadap perlindungan korban. NWDI tidak sedang berusaha menegakkan keadilan. Mereka sedang berusaha menyelamatkan reputasi. Abah dilindungi bukan karena ia tidak bersalah, tetapi karena ia adalah bagian dari bangunan kekuasaan yang harus dijaga keutuhannya.

Karena itu, jika seorang kiai senior jatuh karena skandal seksual, maka kredibilitas seluruh institusi yang menaunginya juga akan terguncang. Maka jalan paling pragmatis adalah menekan korban, membungkam saksi, dan memastikan tidak ada satu pun pihak yang berani membuka mulut.

Husnan Wadi, pengacara NWDI, dengan santainya mengatakan bahwa tanda tangan pernyataan yang diminta dari Sukma adalah “untuk berubah saja”. Ini adalah kalimat yang begitu dingin, begitu birokratis, untuk sebuah persoalan yang menyangkut tubuh, martabat, dan masa depan seorang perempuan muda.

Pernyataan itu bukan untuk perubahan, melainkan untuk pemakaman kebenaran. Sukma dipaksa menandatangani sesuatu yang pada hakikatnya adalah pengkhianatan terhadap dirinya sendiri. Umi, istri sang kiai, bahkan hadir dengan kalimat-kalimat yang menusuk, “Jangan berbicara sekarang, di perjanjian itu nanda enggak bilang apa-apa.” Seolah-olah perjanjian yang dibuat dalam tekanan bisa dianggap sebagai konsensus yang sah. Ini bukan hanya kekerasan seksual. Ini kekerasan struktural yang dilakukan secara sistematis, oleh orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung.

Baca...  Konstruksi Hak Suami dalam Kitab Uqud al-Lujjayn

Fakta bahwa polisi belum melakukan tindak lanjut apa pun terhadap laporan Sukma pada Februari 2025 adalah tamparan telak bagi seluruh sistem penegakan hukum di negeri ini. Sementara itu, abah masih menjalankan aktivitas pesantrennya seperti tidak terjadi apa-apa. Ia masih bisa berdiri di mimbar, mengajar santri-santrinya, dan menerima penghormatan yang sama seperti sebelum skandal ini meledak.

Ini adalah bentuk ketidakadilan yang paling telanjang. Ketika hukum tunduk pada kekuasaan, ketika institusi agama memilih melindungi predator daripada membela korban, maka apa arti semua retorika tentang moralitas dan akhlak yang selama ini didengungkan?

Perlawanan Kecil dari Bilik Santri

Di tengah semua kegelapan itu, ada satu hal yang membuat saya sedikit bernapas lega: keberanian Yusron, Zia, Sukma, Wanda, dan Mahima. Mereka adalah santri detektif yang, dengan segala keterbatasan dan ketakutan, memilih untuk tidak diam. Yusron merekam pembicaraan dengan abah secara diam-diam.

Tentu saja, langkah ini bukan hanya tindakan cerdas, tetapi juga tindakan yang penuh risiko. Jika sampai ketahuan, ia bisa dikucilkan, dicap durhaka, dan kehilangan masa depannya. Namun ia tetap melakukannya. Ia mengetik dokumen tujuh halaman, mengumpulkan kesaksian, dan membentuk jaringan dengan mantan santri lainnya. Ini adalah perlawanan kecil yang lahir dari keputusasaan, tetapi memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang mungkin mereka bayangkan.

Joko Jumadi, pengacara yang mendampingi mereka, mengatakan bahwa rekaman-rekaman tersebut memiliki nilai pembuktian yang sangat penting. Namun, pada saat yang sama, ia juga mengakui bahwa ini hanyalah puncak gunung es. Ada 23 kasus kekerasan seksual yang telah ia tangani di NTB selama tiga tahun terakhir.

Angka itu bukanlah statistik yang bisa kita telan dengan mudah. Setiap angka adalah tubuh, adalah luka, adalah masa depan yang direnggut. Dan yang paling menyedihkan, banyak dari kasus-kasus itu tidak pernah sampai ke pengadilan karena tekanan, intimidasi, atau sekadar hilang begitu saja dalam labirin birokrasi yang tidak pernah berpihak pada korban.

Baca...  Lunturnya Marwah Diskusi Pada Diri Calon Akademisi

Ayu Masruroh, mantan santri yang aktif mendorong korban untuk bersuara, adalah salah satu dari sedikit orang yang mencoba membangun kesadaran di tengah masyarakat yang begitu keras kepala mempertahankan status quo. Ia membantu teman-temannya mendapatkan keadilan setelah mengalami kekerasan seksual di pesantren lain oleh Bechi di Jombang. Ini menunjukkan bahwa masalah ini bukanlah kasus tunggal, melainkan pola yang berulang. Pesantren, yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu dan membentuk karakter, dalam banyak kasus justru menjadi tempat paling berbahaya bagi perempuan muda. Mereka datang dengan niat suci, tetapi pulang dengan trauma yang tidak pernah mereka minta.

Kisah Yusron dan Zia yang akhirnya menikah di Kairo adalah satu-satunya titik terang dalam narasi ini. Mereka menemukan satu sama lain di tengah reruntuhan kepercayaan yang hancur. Namun jangan salah, ini bukan happy ending. Ini adalah kompromi pahit dari sebuah sistem yang gagal melindungi mereka. Mereka berdua harus meninggalkan Indonesia, mencari tempat yang lebih aman, sementara abah masih berkeliaran bebas di Lombok, masih mengajar, masih dihormati. Ini bukan keadilan. Ini adalah pelarian.

Apa yang terjadi di Lombok Tengah adalah cermin bagi seluruh pesantren di Indonesia. Selama kita masih menganggap kiai sebagai sosok yang tidak bisa disentuh, selama kita masih menempatkan keberkahan di atas kebenaran, selama kita masih mengajarkan santri untuk menutup aib guru tanpa mempertanyakan apakah aib itu adalah kejahatan, maka kasus-kasus seperti ini akan terus terjadi.

Budaya bungkam bukanlah tradisi yang harus dilestarikan. Ia adalah penyakit yang harus disembuhkan. Dan penyembuhannya tidak bisa dimulai dari kiai yang tengah tersudut. Ia harus dimulai dari keberanian santri untuk berkata, “Tidak, ini salah, dan saya tidak akan diam.”

396 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
Opini

Perempuan, Kiai, dan Keadilan yang Terbeli Kuasa

4 Mins read
Tulisan ini saya buat untuk mendukung laporan BBC Indonesia yang berjudul “Anak kiai Jombang yang dihukum penjara, diam-diam bebas lebih awal, temuan…
Opini

Sebutir Kelengkeng dan Negara yang Lupa Menelan Tanggung Jawabnya

4 Mins read
Di Poncowarno, Lampung Tengah, seorang bocah sembilan tahun bernama Reyhan Arisyah Putra pulang dari sekolah dengan cara yang tak seharusnya pernah terjadi:…
Opini

Republik Bedak Tebal: Negeri yang Rajin Merias Wajah dan Malas Mengobati Luka

5 Mins read
Ada dua wajah Indonesia. Yang pertama tampil di baliho: berbingkai, tersenyum, dan berkilau, dengan kata “emas”, “maju”, dan “sejahtera” dicetak lebih besar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *