Ketika sebuah novel yang telah menjadi semacam kitab bagi generasi pembacanya diangkat ke layar lebar, pertanyaan pertama yang muncul bukanlah “apakah filmnya bagus”, tetapi “apakah film ini setia pada roh ceritanya”. Laut Bercerita (2026) hadir dengan beban itu.
Leila S. Chudori, penulis novelnya, telah menulis sebuah karya yang tidak sekadar bercerita tentang aktivis yang hilang, melainkan merawat ingatan kolektif atas luka yang belum selesai. Yosep Anggi Noen, sutradara yang dikenal lewat pendekatan sinematiknya yang tidak konvensional, tampaknya menyadari bahwa adaptasi ini bukan pekerjaan mudah.
Film ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada 29 Oktober 2026. Reza Rahadian dipercaya memerankan Biru Laut Wibisono, sementara Dian Sastrowardoyo tampil sebagai Kasih Kinanti. Keduanya didukung oleh nama-nama senior seperti Christine Hakim dan Arswendy Beningswara yang berperan sebagai orang tua Laut, serta Yunita Siregar sebagai Asmara Jati, adik Laut. Kombinasi ini setidaknya memberi sinyal bahwa produksi tidak main-main dalam urusan akting.
Namun demikian, perlu dicatat sejak awal: film ini bukan sekadar drama keluarga yang menguras air mata, meski elemen itu ada. Ia adalah upaya untuk memindahkan ingatan sejarah ke medium yang lebih luas jangkauannya. Pertanyaannya kemudian, berhasilkah ia?
Ketika Ingatan Menjadi Tontonan
Latar cerita film ini adalah masa akhir Orde Baru, sekitar tahun 1990-an, dengan Yogyakarta dan Jakarta sebagai panggung utamanya. Biru Laut digambarkan sebagai mahasiswa sastra yang kritis, bergabung dengan kelompok diskusi dan pergerakan bernama Winatra bersama Kinan, Bram, dan kawan-kawan lain. Mereka menyuarakan kritik terhadap rezim yang represif, memperjuangkan kebebasan berekspresi, dan membela rakyat kecil, hal-hal yang pada masa itu bukan tanpa risiko.
Risiko itu berujung pada tragedi. Akibat rencana kelompoknya yang bocor, Laut bersama sejumlah rekannya diculik, disekap, dan disiksa oleh pasukan rahasia yang menganggap mereka subversif. Laut kemudian hilang tanpa kabar.
Di sinilah film mulai bergeser: paruh kedua menyoroti penderitaan keluarga yang ditinggalkan. Bapak dan Ibu, diperankan dengan penuh kendali oleh Arswendy Beningswara dan Christine Hakim, menjadi representasi dari penantian yang tak berkesudahan. Sementara Asmara Jati, adik Laut, tumbuh menjadi perempuan yang menolak menerima ketidakjelasan sebagai jawaban akhir.
Yang menarik dari film ini adalah caranya menghadirkan penyiksaan. Adegan-adegan itu tidak dieksploitasi untuk sekadar mengejutkan penonton, tetapi ditempatkan sebagai bagian dari narasi yang lebih besar tentang bagaimana kekuasaan bekerja melalui teror.
Reza Rahadian memikul beban emosional yang berat di sini, dan ia melakukannya dengan intensitas yang terukur dan tidak berlebihan, namun cukup untuk membuat penonton merasakan kedalaman penderitaan yang dialami Laut.
Satu hal yang perlu diapresiasi, film ini tidak terjebak pada romantisme heroik yang berlebihan. Para aktivis digambarkan sebagai manusia biasa dengan keraguan, ketakutan, dan dinamika kelompok yang tidak selalu harmonis.
Ada momen ketika mereka saling mencurigai, seperti kecurigaan terhadap Naratama yang dianggap pengkhianat karena karakternya yang ambisius dan sering meremehkan orang lain. Barulah setelah Naratama ikut ditangkap dan disekap bersama mereka, kebenaran terungkap: Gusti Suroso-lah yang sebenarnya membocorkan rencana kelompok. Detail semacam ini memberi lapisan pada cerita, menunjukkan bahwa pengkhianatan tidak selalu datang dari tempat yang paling jelas.
Yang tidak kalah pentingnya perlu diakui, bahwa memindahkan novel setebal dan sekompleks Laut Bercerita ke dalam format film selalu melibatkan kompromi. Novelnya sendiri terbagi menjadi dua babak besar: babak pertama dengan sudut pandang Biru Laut (1991-1998), dan babak kedua melalui sudut pandang Asmara Jati (2000-2007).
Film ini tampaknya berusaha menjaga keseimbangan antara keduanya, meski tidak bisa menghindari penyederhanaan. Beberapa tokoh pendukung dari novel, seperti Alex, Daniel, dan Sunu, mungkin tidak mendapat porsi yang setara dengan versi aslinya. Ini bukan cacat fatal, tetapi patut dicatat bagi penonton yang berharap adaptasi seratus persen setia.
Tentu saja, yang jelas, film ini berhasil menghadirkan dimensi kemanusiaan yang menjadi inti cerita. Penderitaan keluarga, terutama adegan sang ayah yang tetap menyiapkan empat piring di meja makan meski Laut tak pernah kembali, adalah salah satu momen paling menghantui dalam film ini. Detail kecil semacam itu berbicara lebih lantang daripada dialog-dialog panjang tentang keadilan.
Antara Keadilan dan Pembungkaman
Salah satu kekuatan utama Laut Bercerita adalah kemampuannya menghubungkan masa lalu dengan masa kini tanpa terkesan menggurui. Film ini tidak hanya bercerita tentang apa yang terjadi pada akhir 1990-an, tetapi juga tentang bagaimana peristiwa itu terus bergema hingga awal 2000-an, ketika keluarga korban penculikan aktif bergabung dengan lembaga swadaya masyarakat untuk menuntut keadilan. Asmara Jati bersama Ratih Anjani, kekasih Laut, menjadi wajah dari generasi yang menolak menerima pembungkaman sejarah.
Di sinilah sebenarnya relevansi film ini terasa paling kuat. Isu orang hilang paksa bukanlah masa lalu yang sudah selesai. Aksi Kamisan yang masih berlangsung hingga hari ini adalah bukti bahwa luka itu belum pulih. Film ini, dengan segala keterbatasannya sebagai karya fiksi, berfungsi sebagai pengingat bahwa ada nama-nama yang belum ditemukan, ada keluarga yang masih menunggu, dan ada keadilan yang belum ditegakkan.
Sebagai sebuah karya sinematik, Laut Bercerita tidak luput dari kekurangan. Beberapa transisi antar babak terasa kurang mulus, dan ada momen ketika film tampak berusaha terlalu keras untuk memasukkan terlalu banyak informasi dalam waktu terbatas. Durasi menjadi tantangan tersendiri ketika harus mencakup rentang waktu lebih dari satu dekade dengan dua sudut pandang berbeda. Penonton yang belum membaca novelnya mungkin akan merasa beberapa bagian terasa terburu-buru, terutama di paruh kedua.
Namun, kekurangan ini tidak menghapus pencapaian film secara keseluruhan. Laut Bercerita berhasil menjadi lebih dari sekadar adaptasi novel populer. Ia adalah undangan untuk mengingat, dan pada saat yang sama, sebuah peringatan bahwa melupakan bukanlah pilihan yang bisa diterima. Di tengah lanskap perfilman Indonesia yang sering kali menghindari topik-topik sensitif semacam ini, keberadaan film ini patut diapresiasi.
Pertanyaannya adalah, apakah film ini berhasil membuat kita peduli pada mereka yang hilang? Jawabannya iya.

