Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi telah mengubah lanskap ekonomi dan bisnis secara drastis. Salah satu bentuk nyata dari inovasi ini adalah hadirnya platform perdagangan elektronik (e-commerce) serta sistem pembayaran digital yang semakin praktis. Kemudahan akses melalui ponsel pintar, promo diskon yang terus berganti, hingga fitur bayar nanti (paylater) membuat transaksi jual beli dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja.
Namun, kemudahan ini memicu perilaku impulsive buying, yaitu membeli barang secara mendadak tanpa rencana atau kebutuhan nyata, hanya karena tergiur tampilan produk atau momen tertentu. Hal itu bermula dari ketidakmampuan dalam membedakan antara “kebutuhan” dan “keinginan”. Kebutuhan adalah suatu kondisi untuk memenuhi barang atau jasa yang wajib dipenuhi agar bisa bertahan hidup, sedangkan keinginan hanyalah hal yang tidak terlalu penting, yang biasanya didorong oleh tren atau rasa ingin tahu (Fear of Missing Out / FOMO) (Chubb Life Indonesia, n.d.).
Secara filosofis, konsumen dituntut untuk bersikap realistis dan selektif dalam membedakan kebutuhan primer dan keinginan impulsif. Maka dari itu, esai ini bertujuan untuk meninjau kebiasaan belanja online agar tidak terjebak dalam pemborosan, selaras dengan sindiran populer in this economy yang menuntut kita untuk berhati-hati dalam manajemen keuangan.
Secara ilmu ekonomi bisnis, platform e-commerce dibuat untuk membantu bisnis menjual produk dan jasa secara online. Platform e-commerce menggunakan konsep personalisasi, yaitu menganalisis data perilaku konsumen dari riwayat pencarian hingga pembelian, yang kemudian diolah menjadi algoritma rekomendasi. Pelaku bisnis memanfaatkan strategi ini untuk menciptakan pengalaman berbelanja yang personal dan persuasif.
Fitur-fitur seperti penawaran berbatas waktu (flash sale), pengingat keranjang belanja, hingga promosi tanggal kembar sengaja dirancang untuk memicu reaksi psikologis FOMO. Inovasi teknologi ini membawa dampak besar melalui terciptanya pasar yang lebih efisien dan mendorong volume transaksi secara masif.
Namun, jika ditinjau dari sudut pandang filsafat, esensi dari sebuah transaksi ekonomi sejatinya terletak pada pemenuhan nilai kegunaan (aksiologi). Filsafat mengajarkan kita untuk mempertanyakan kembali hakikat nilai suatu barang bagi kehidupan manusia melalui tiga sudut pandang:
- Ontologi: Mempertanyakan hakikat nilai barang, di mana kebutuhan (needs) bersifat wajib dan objektif seperti makanan pokok, tempat tinggal, dan pendidikan. Sebaliknya, keinginan (want) bersifat subjektif dan sering kali didorong oleh gengsi, emosi, serta keinginan sesaat.
- Epistemologi: Menelaah proses atau cara algoritma e-commerce memengaruhi pola pikir konsumen dalam mengambil keputusan belanja, mempersempit pilihan, menciptakan efek kedekatan psikologis, serta merangsang dorongan belanja emosional melalui personalisasi data (Google, 2026).
- Aksiologi: Menilai dampak dari perilaku konsumsi. Perilaku realistis memberikan dampak positif berupa situasi dan keuangan yang lebih terkontrol serta kesehatan mental yang terjaga, sementara konsumerisme memicu dampak negatif berupa gaya hidup penuh gengsi dan pemborosan.
Kesimpulannya, perkembangan platform e-commerce memang sangat menguntungkan karena membuat segalanya menjadi praktis, cepat, dan mudah (Google, 2026). Namun, secanggih apa pun teknologinya, jika seseorang tidak bersikap realistis, hal itu justru dapat memicu impulsive buying.
Oleh karena itu, kita harus mampu membedakan: mana kebutuhan yang esensial, ataukah sekadar keinginan yang tidak ada habisnya? (Chubb Life Indonesia, n.d.). Kunci utamanya ada pada kontrol diri (mindful consumption), supaya teknologi yang canggih ini menjadi alat yang menguntungkan, alih-alih mengontrol keuangan kita.
Daftar Pustaka
- Chubb Life Indonesia. (n.d.). Ini 7 perbedaan kebutuhan dan keinginan yang penting diketahui. Diakses pada 23 Oktober 2026, dari https://www.chubb.com/id-id/articles/personal/perbedaan-kebutuhan-dan-keinginan-yang-penting-diketahui.html
- Google. (2026). Proses atau cara algoritma e-commerce mempengaruhi cara berpikir konsumen dalam mengambil keputusan belanja [Hasil pencarian Google]. Diakses pada 23 Oktober 2026, dari https://www.google.com/search?q=proses+atau+cara+algoritma+e-commerce+mempengaruhi+cara+berpikir+konsumen+dalam+mengambil+keputusan+belanja

