Seseorang jarang bersyukur atas napas yang lancar, sampai ia terserang sesak. Kaki yang kuat baru dihargai ketika harus berjalan dengan tongkat. Kantong yang tebal baru dikenang ketika dompet tinggal menyisakan struk. Manusia pandai menghitung kekurangan, tetapi lamban membaca anugerah yang sudah lama menempel di tubuhnya.
Imam Al-Ghazali merangkum kegelisahan lama ini dalam satu kalimat pendek yang tajam dalam kitab “Bughyah al-Mustarsyidin” yang berbunyi:
أربع لا يعرف قدرها إلا أربعة: لا يعرف قدر الحياة إلا الموتى، ولا قدر الصحة إلا السقم، ولا قدر الشباب إلا الهرم، ولا قدر الغنى إلا أهل الفقر
Artinya: “Empat perkara yang nilainya tidak dikenali kecuali oleh empat golongan. Nilai kehidupan tidak dikenali kecuali oleh mereka yang telah kehilangan kehidupan. Nilai kesehatan tidak dikenali kecuali oleh orang yang sakit. Nilai masa muda tidak dikenali kecuali oleh orang yang telah renta. Dan nilai kekayaan tidak dikenali kecuali oleh orang yang hidup dalam kekurangan.” (Bughyah al-Mustarsyidin hlm 6).
Pelajaran yang Selalu Datang Terlambat
Kalimat itu bukan ajakan untuk bermuram. Ia diagnosis tentang cara kerja kesadaran manusia. Pikiran kita dirancang untuk memperhatikan yang bermasalah dan mengabaikan yang berjalan mulus. Jantung berdetak ribuan kali tanpa pernah kita ucapi terima kasih. Perhatian baru terbit ketika ada yang berdenyut tidak wajar.
Karena itu, syukur sering berubah menjadi urusan musiman. Ia hadir di acara selamatan, di mimbar Jumat, atau saat musibah mengetuk pintu, lalu pulang begitu keadaan membaik. Padahal Al-Qur’an sudah memperingatkan bahwa nikmat Allah tidak mungkin dihitung tuntas. Allah SWT berfirman:
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَـغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl [16]: 18).
Ayat ini memuat sindiran halus. Manusia yang tidak sanggup menghitung nikmat tetap saja rajin menghitung keluhan. Kita hafal cicilan, tenggat, dan gaji teman sebaya, tetapi tidak ingat kapan terakhir kali berterima kasih atas mata yang masih awas dan perut yang masih bisa mencerna.
Al-Ghazali sengaja memilih empat nikmat dasar, yaitu hidup, sehat, muda, dan kaya, sebab keempatnya sama-sama terasa “biasa” selama masih dimiliki. Nikmat yang paling besar justru paling mudah dilupakan. Orang kaya raya tidak membayangkan hari ketika ia kehabisan. Anak muda tidak percaya bahwa lututnya kelak akan bergetar saat menaiki tangga. Orang sehat memperlakukan tubuhnya seperti mesin yang tak bakal rusak. Kesadaran tentang nilai baru singgah setelah kehilangan, dan pada saat itu harganya sudah mahal sekali.
Empat Nikmat, Empat Guru yang Pahit
Kehidupan paling jarang disyukuri karena ia terasa seperti hak, bukan hadiah. Kita merencanakan lima tahun ke depan seakan umur ada dalam genggaman. Al-Ghazali menunjuk golongan yang paling tahu harga hidup, yaitu mereka yang sudah kehilangannya. Para penghuni kubur sudah tidak bisa lagi bersujud, bersedekah, atau meminta maaf. Orang yang masih bernapas sebenarnya sedang memegang modal yang tak ternilai, hanya saja ia memperlakukannya seperti uang receh.
Kesehatan baru diperhatikan ketika sudah berubah jadi urusan rumah sakit. Banyak orang menukar tidur dengan target, makan teratur dengan rapat, dan olahraga dengan “nanti kalau sempat”. Mereka mengumpulkan uang dengan mengorbankan tubuh, lalu membelanjakan uang itu untuk memulihkan tubuh. Hitungannya tidak pernah menguntungkan. Orang sakit paham betul bahwa mimpi terbesar seseorang di ranjang perawatan sering kali sederhana: bisa bangun pagi, berjalan ke dapur, dan menyeduh teh sendiri.
Masa muda adalah nikmat yang paling licin. Ia terasa panjang saat dijalani dan terasa singkat saat dikenang. Energi, rasa penasaran, dan keberanian mencoba adalah modal yang tidak bisa dibeli kembali. Namun, banyak anak muda justru menghabiskannya untuk menggulir layar, menonton hidup orang lain, dan menunda hal-hal yang bermakna. Orang tua yang menatap foto lamanya sering menyimpan penyesalan yang sama: bukan karena dulu kurang bersenang-senang, melainkan karena dulu kurang sungguh-sungguh. Kekuatan mudah dipakai untuk hal sepele ketika kita menyangkanya tak akan habis.
Kekayaan, nikmat keempat, punya sifat yang berbeda. Ia tidak sekadar dilupakan, tetapi sering salah dibaca. Orang yang berkecukupan mudah mengira bahwa hartanya adalah hasil kecerdasannya semata, padahal rezeki berjalan lewat banyak pintu yang tidak ia kendalikan: kesehatan untuk bekerja, kesempatan, keluarga yang mendukung, dan kondisi zaman. Hanya orang yang pernah hidup kekurangan yang tahu bahwa sepiring nasi hangat dan listrik yang menyala bukan hal sepele. Kefakiran mengajarkan satu pelajaran yang tidak bisa diberikan kuliah mana pun: bahwa cukup itu mewah.
Dari Merenung ke Merawat
Jika semua ini berhenti sebagai bahan renungan, kita hanya mengulang kebiasaan lama, yaitu mengangguk di pengajian lalu lupa di perjalanan pulang. Rasulullah SAW sudah memberi peringatan yang lebih lugas:
نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس: الصحة والفراغ
Artinya: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari).
Kata “tertipu” di sana patut dicermati. Nabi tidak mengatakan manusia “lupa” begitu saja, tetapi “tertipu”. Seolah-olah ada transaksi yang tampak murah padahal merugikan: kita menyangka waktu dan tubuh akan selalu tersedia, lalu membayarnya dengan kelalaian. Dalam hadis lain beliau memberi resep yang terasa seperti daftar prioritas darurat:
اغتنم خمسا قبل خمس: شبابك قبل هرمك، وصحتك قبل سقمك، وغناك قبل فقرك، وفراغك قبl شغلك، وحياتك قبل موتك
Artinya: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim).
Perhatikan pola keduanya. Ajaran ini tidak meminta kita membenci dunia, juga tidak meminta kita menunggu musibah supaya sadar. Ia meminta kita bergerak lebih dulu, yaitu memakai nikmat ketika masih ada. Syukur dalam pengertian ini adalah kerja, bukan sekadar ucapan. Syukur atas sehat berarti menjaga pola hidup dan memakai tenaga untuk kebaikan. Syukur atas muda berarti berani belajar dan berkarya, bukan sibuk menunda. Syukur atas harta berarti mengelolanya dengan jujur dan membaginya kepada yang kekurangan. Syukur atas hidup berarti menyelesaikan urusan hati yang menggantung, seperti pamit yang belum diucapkan, maaf yang tertahan, dan salam yang tak kunjung dikirim.
Budaya kita sedang bergerak ke arah yang berlawanan. Layar ponsel menyodorkan potret hidup orang lain yang tampak serba lebih: lebih kaya, lebih bugar, lebih bahagia. Perbandingan yang tak pernah berhenti itu mengikis rasa cukup. Kita jadi pemburu yang tidak sempat menikmati hasil buruan. Sementara itu, kultur kerja yang memuja kesibukan membuat istirahat terkesan seperti dosa kecil, padahal tubuh yang dirawat adalah amanah, bukan peralatan sekali pakai. Orang rela lembur sampai tumbang, lalu terkejut ketika tumbang betulan.
Mungkin kita perlu membiasakan satu latihan sederhana: membayangkan kehilangan sebelum benar-benar kehilangan. Bukan untuk menakut-nakuti diri, melainkan untuk menajamkan pandangan. Tanyakan pada diri sendiri, seandainya besok kaki ini tak bisa melangkah, apa yang menyesal belum saya lakukan hari ini? Seandainya tabungan habis, apa yang sempat saya syukuri ketika masih penuh? Latihan semacam itu membuat hari biasa terasa berharga, dan membuat kita menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar “biasa” dalam hidup yang masih bernapas.
Syahdan. Al-Ghazali tidak sedang mengajari kita cara meratapi masa lalu. Ia menawarkan jalan pintas yang jarang diambil: belajar dari kehilangan orang lain sebelum kita sendiri mengalaminya. Orang yang sakit, renta, miskin, dan wafat sudah menuliskan pelajarannya. Tinggal kita mau membaca atau menunggu giliran menjadi penulisnya.

