Sudah mafhum bahwa ada kegelisahan yang jarang diakui terang-terangan: orang enggan belajar karena takut gagal mengamalkan. Ia membayangkan ilmu sebagai amanat berat, lalu memutuskan lebih aman tidak memikulnya sama sekali. Kedengarannya rendah hati, padahal di balik sikap itu bersembunyi kekeliruan logika yang serius.
Seorang laki-laki pernah membawa kegelisahan semacam ini kepada sahabat Nabi, Abu Hurairah ra. Kisahnya dicatat dalam “Bughyatul Mustarsyidin”, bunyinya seperti ini:
قَالَ رَجُلٌ لِأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَأَخَافُ أَنْ أُضَيِّعَهُ، فَقَالَ: كَفَى بِتَرْكِكَ الْعِلْمَ إِضَاعَةً
Artinya: “Seorang laki-laki berkata kepada Abu Hurairah ra: “Aku ingin belajar ilmu, tetapi aku takut menyia-nyiakannya.” Beliau menjawab: “Cukuplah engkau meninggalkan ilmu itu sebagai bentuk penyia-nyiaan.”
Jawaban itu pendek, tetapi telak. Abu Hurairah tidak berceramah panjang. Ia hanya membalik premis si penanya: yang ditakuti sebagai risiko ternyata sudah terjadi lewat keputusan untuk tidak memulai.
Logika yang Terbalik
Mari periksa cara berpikir sang penanya. Ia khawatir ilmunya kelak tersia-sia, entah karena lupa, lalai, atau tidak diamalkan. Solusi yang ia pilih: jangan belajar. Padahal, jika ilmu itu tidak pernah masuk, tidak ada yang bisa dijaga, dan tidak ada pula yang bisa diselamatkan dari kelalaian. Ia mengobati kekhawatiran akan kehilangan harta dengan cara tidak pernah bekerja.
Bandingkan dengan petani yang takut panennya gagal lalu memutuskan tidak menanam. Sawahnya aman dari hama, tetapi ia pasti kelaparan. Kegagalan yang dihindarinya hanyalah kegagalan yang mungkin, sedangkan kerugian yang dipilihnya adalah kerugian yang pasti. Itulah yang dimaksud Abu Hurairah: meninggalkan belajar bukan jalan menghindari penyia-nyiaan, melainkan bentuk paling sempurna darinya.
Al-Qur’an menempatkan ilmu pada kedudukan yang tidak bisa ditawar. Allah SWT berfirman:
اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَآءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَآئِمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ
Artinya: “(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar [39]: 9).
Pertanyaan retoris itu menutup ruang bagi anggapan bahwa tidak tahu adalah posisi netral dan aman. Orang yang tidak tahu bukan sedang berdiri di tempat yang steril dari dosa. Ia justru paling rentan salah melangkah karena tidak punya pegangan untuk membedakan.
Takut yang Salah Alamat
Rasa takut tidak selalu buruk. Para ulama justru menempatkan khasyyah, rasa gentar kepada Allah, sebagai buah ilmu. Allah SWT berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَ ۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ
Artinya: “Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Fatir [35]: 28).
Ayat ini memberi petunjuk menarik. Takut yang sehat lahir sesudah belajar, bukan sebelumnya. Ilmu menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab, dan kesadaran itu melahirkan kehati-hatian. Orang yang takut sebelum belajar sebenarnya sedang memakai rasa takut sebagai alasan, bukan sebagai pendorong.
Di zaman ini, wujudnya mudah dikenali. Ada yang berkata, “Saya belum layak belajar agama, takut nanti tahu tapi tidak bisa mengamalkan.” Ada pula mahasiswa yang menunda membaca kitab karena merasa belum siap secara mental, sementara timeline media sosialnya diisi potongan ceramah lima belas detik yang justru membentuk pemahaman agamanya. Ia merasa menjaga diri dari ilmu, padahal diam-diam sedang belajar dari sumber yang paling serampangan. Kekosongan tidak pernah benar-benar kosong; selalu ada yang mengisinya.
Ketakutan itu juga sering menyamar sebagai kerendahan hati. Padahal tawadhu sejati tidak berbunyi, “Saya tidak pantas belajar.” Tawadhu sejati berbunyi, “Saya perlu belajar karena saya belum tahu.” Yang pertama menutup pintu, yang kedua membukanya.
Ilmu Dijaga dengan Terus Belajar
Lalu bagaimana menjaga ilmu agar tidak tersia-sia? Jawabannya tidak rumit: dengan terus belajar, mengamalkan sedikit demi sedikit, dan mengajarkannya. Imam al-Ghazali dalam “Ayyuhal Walad” mengingatkan bahwa ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu tidak akan bermanfaat. Dua-duanya dituntut sekaligus, tidak satu pun boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan yang lain. Nabi SAW bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
Perhatikan kata kerjanya: menempuh jalan. Hadis ini berbicara tentang proses, bukan tentang hasil sempurna. Yang dijanjikan kemudahan adalah mereka yang melangkah, bukan mereka yang menunggu merasa layak. Kita tidak diminta menjadi ahli sebelum berangkat. Kita hanya diminta berangkat.
Ada pula pelajaran praktis yang bisa dipetik. Pertama, mulailah dari yang kecil dan konsisten. Satu halaman kitab setiap hari lebih bermanfaat daripada semangat besar yang padam dalam seminggu. Kedua, amalkan apa yang sudah diketahui sebelum menuntut tambahan; ilmu yang diamalkan cenderung lebih awet melekat. Ketiga, dekatkan diri dengan majelis dan guru, sebab ilmu yang dijaga bersama lebih kuat daripada ilmu yang dipegang sendirian. Keempat, ajarkan meski sedikit. Mengajar adalah cara tercepat menguji sekaligus mengikat pemahaman.
Kita juga perlu jujur bahwa kekhawatiran si penanya tidak sepenuhnya tanpa dasar. Ada ilmu yang membuat pemiliknya congkak, ada gelar yang membuat orang berhenti mendengar. Namun penawarnya bukan meninggalkan ilmu, melainkan mendampinginya dengan adab. Para ulama salaf mendahulukan belajar adab sebelum belajar ilmu justru karena mereka paham risiko itu. Mereka tidak berhenti di tengah jalan; mereka memperbaiki bekal perjalanan.
Dari sini kita tahu bahwa nasihat Abu Hurairah bekerja seperti cermin. Ia memperlihatkan bahwa orang yang menolak belajar demi menghindari kelalaian sedang melakukan kelalaian itu sendiri, hanya dengan jalan yang lebih halus dan lebih mudah dibenarkan. Takut menyia-nyiakan ilmu adalah perasaan yang baik, asal diarahkan ke tempat yang benar: bukan untuk menunda belajar, melainkan untuk menjaga ilmu setelah kita memilikinya.
Maka, jika hari ini ada keinginan untuk belajar, sekecil apa pun, jangan biarkan kekhawatiran memadamkannya. Ilmu tidak menuntut kita sempurna sebelum memulai. Ia hanya menuntut kita mau datang, duduk, mendengar, dan bersedia diperbaiki. Sisanya, kehati-hatian, amal, dan keikhlasan, tumbuh sepanjang jalan.

