Esai

Statistika dan Tabayyun: Seni Memeriksa Data Sebelum Percaya

3 Mins read

Kita sudah terbiasa mendengar iklan yang berbunyi “9 dari 10 dokter merekomendasikan”. Hampir tidak ada yang bertanya dokter yang mana, jumlah seluruhnya berapa, dan apakah ada yang dibayar untuk mengatakannya. Kalimat itu membuat sebagian besar dari kita langsung percaya. Hal yang sama juga sering terjadi pada survei menjelang pemilu, data kemiskinan, atau informasi yang mengatasnamakan hasil penelitian terbaru. Ketika suatu informasi disertai angka, orang biasanya lebih mudah percaya tanpa mencari tahu apakah data tersebut benar atau tidak.

​Angka memang sering membuat orang lebih mudah percaya. Sebuah pernyataan bisa terdengar lebih meyakinkan ketika disertai persentase atau grafik. Namun, angka tersebut tidak muncul begitu saja. Ada proses di baliknya, mulai dari menentukan siapa yang akan ditanya, pertanyaan yang diberikan, sampai memilih hasil yang akan ditampilkan. Kalau ada salah satu proses yang keliru, angka yang dihasilkan juga bisa ikut keliru. Sayangnya, kita sebagai pembaca sering kali tidak mengetahui hal tersebut jika tidak mau mencari tahu lebih lanjut. Menurut saya, di sinilah statistika memiliki hubungan dengan ajaran tabayyun, yaitu tidak langsung percaya pada suatu informasi sebelum memeriksa kebenarannya.

​Perintah tabayyun terdapat dalam surah Al-Hujurat ayat 6. Orang beriman diminta meneliti lebih dulu kabar yang dibawa oleh orang fasik, supaya tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena kebodohan lalu menyesal sesudahnya. Dalam banyak kitab tafsir, ayat ini dikaitkan dengan kisah Al-Walid bin Uqbah yang diutus Rasulullah saw. menarik zakat dari Bani Mushthaliq. Di tengah jalan ia ketakutan dan pulang dengan laporan bahwa mereka menolak membayar dan hendak memeranginya. Laporan itu nyaris membuat pasukan dikirim ke sana, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa satu laporan yang tidak dicek kebenarannya bisa menimbulkan masalah besar. Sekarang kita mungkin tidak berhadapan dengan pasukan, tetapi informasi yang salah tetap bisa berdampak serius. Misalnya, seseorang bisa difitnah, keputusan bisa menjadi salah, atau seseorang bisa menyebarkan berita yang ternyata tidak benar karena langsung percaya pada angka yang dilihat.

Baca...  Semangat Kebinekaan Dalam Meraih Kemajuan Bernegara

​Al-Qur’an juga mengingatkan agar kita tidak mengikuti sesuatu yang tidak kita ketahui ilmunya (QS. Al-Isra’: 36). Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi saw. menyebut bahwa orang cukup dianggap pendusta bila ia menceritakan semua yang ia dengar. Hadis ini terasa dekat dengan kebiasaan kita sekarang, karena begitu mudahnya sebuah pesan diteruskan ke puluhan orang tanpa dibaca ulang.

​Sebenarnya, umat Islam sejak dulu sudah punya cara untuk mengecek kebenaran sebuah informasi. Dalam ilmu hadis, para ulama tidak langsung percaya pada sebuah riwayat hanya karena isinya terlihat bagus. Mereka juga melihat siapa yang menyampaikan riwayat tersebut, apakah orangnya jujur, dan apakah hafalannya kuat. Dari proses inilah kemudian muncul ilmu jarh wa ta’dil. Kalau kita lihat, cara ini sebenarnya mirip dengan cara peneliti mengecek sebuah survei. Mereka perlu tahu siapa yang mengumpulkan data, bagaimana data itu dikumpulkan, dan apakah sumbernya bisa dipercaya.

​Ibn Khaldun dalam Muqaddimah juga mengingatkan agar kita tidak langsung percaya pada semua laporan sejarah. Ia pernah mengkritik penulis sejarah yang mencatat jumlah pasukan perang sampai ratusan ribu, padahal jumlah tersebut belum tentu masuk akal jika dilihat dari keadaan pada masa itu. Jadi, sebuah informasi perlu dicek lagi dengan akal dan keadaan yang sebenarnya, bukan hanya dipercaya karena sudah tertulis.

​Dari sini kita bisa melihat bahwa cara memeriksa informasi sebenarnya tidak jauh berbeda dengan cara kita membaca statistik. Kita tidak bisa langsung percaya hanya karena ada angka atau grafik yang terlihat meyakinkan. Kita perlu tahu dari mana data itu berasal, siapa yang mengumpulkannya, dan bagaimana data tersebut diperoleh. Bisa saja datanya kurang lengkap atau cara penyampaiannya membuat kita salah memahami keadaan. Karena itu, sebelum mengambil kesimpulan, sebaiknya kita periksa dulu kebenarannya. Sikap seperti ini juga sesuai dengan ajaran Islam yang mengajarkan kita untuk melakukan tabayyun sebelum mempercayai dan menyebarkan suatu informasi.

Baca...  Peradaban Negeri Tetangga : New Zealand (2)

​Menurut saya, kita juga perlu memahami bahwa hasil statistik tidak selalu bisa dianggap sebagai sesuatu yang pasti. Dalam penelitian, masih ada kemungkinan hasilnya kurang tepat atau berbeda dari keadaan sebenarnya. Karena itu, kita sering menemukan kata seperti “kemungkinan besar” atau “cenderung”, bukan langsung mengatakan bahwa sesuatu itu pasti benar. Dalam Islam juga ada pembahasan tentang hal seperti ini. Ada yaqin, yaitu sesuatu yang benar-benar diyakini, dan ada zhann, yaitu dugaan yang kuat. Jadi, sebuah data bisa saja cukup kuat untuk dijadikan dasar dalam mengambil keputusan, tetapi kita tetap tidak boleh menganggapnya sebagai kebenaran yang mutlak.

​Hal ini menurut saya juga bisa dikaitkan dengan tradisi NU. Dalam bahtsul masail, ketika menghadapi suatu masalah, para kiai tidak hanya melihat isi kitab, tetapi juga melihat keadaan dan fakta yang terjadi. Dalam ushul fikih, hal ini disebut tahqiqul manath. Contohnya dalam masalah kesehatan, kita perlu mengetahui dulu kondisi medisnya sebelum mengambil kesimpulan. Begitu juga dengan penentuan awal bulan Hijriah. Perhitungan hisab tetap diperhatikan, tetapi NU juga menggunakan rukyat sebagai dasar pengamatan.

​Dari sini kita belajar bahwa kita tidak harus langsung percaya pada semua angka, tetapi juga tidak perlu langsung menolaknya. Yang penting adalah melihat bagaimana data itu diperoleh dan apakah sumbernya bisa dipercaya. Statistik pada dasarnya hanya sebuah alat untuk membantu kita melihat dan memahami suatu keadaan. Tapi hasilnya bisa berbeda kalau data yang digunakan tidak lengkap atau hanya dipilih sesuai dengan kepentingan tertentu. Karena itu, menurut saya, dalam menggunakan data kita juga harus jujur, mulai dari mencantumkan sumber sampai mengakui kalau hasilnya masih memiliki kekurangan.

Baca...  Mengenal Hakikat Diri di Masa Pandemi

​Jadi, sebelum percaya atau membagikan suatu informasi, kita bisa membiasakan diri untuk mengecek terlebih dahulu. Misalnya, dari mana datanya, siapa yang mengumpulkan, dan apakah ada hal lain yang belum dijelaskan. Hal sederhana seperti ini bisa menjadi bentuk tabayyun yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

1 posts

About author
Penulis
Articles
Related posts
EsaiKesehatanPolitik

Politik Berkeadilan dan Demokrasi: Dari Piagam Madinah ke Kesehatan Jantung

6 Mins read
PENDAHULUAN ​Politik sering kali dianggap hanya berkaitan dengan kekuasaan, pemimpin, dan pemilihan umum. Padahal, politik sebenarnya memiliki pengaruh yang cukup besar dalam…
Esai

Dakwah Kampus dan Ormawa: Menghadirkan Inklusivitas & Keteladanan

4 Mins read
​“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan…
EsaiSejarah

Suara yang Dibungkam: Farag Fouda, Khilafah, dan Tragedi Kebebasan Berpikir

9 Mins read
Langit Kairo pada 8 Juni 1992 tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Debu kota yang padat, kebisingan klakson yang tak pernah berhenti, dan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *