KULIAHALISLAM.COM – “Masa krisis adalah masa-masa untuk mawas diri, refleksi diri, dan menengok ke dalam diri; mengosongkan akhlak/perbuatan yang tercela dan mengisinya kembali dengan akhlak-akhlak yang mulia.”
Pepohonan pun ada gugurnya, lautan pun ada surutnya, dan negara-bangsa pun ada masa kehancuran serta kemundurannya. Karena itu, dalam kondisi krisis yang terpuruk, titik terendah mungkin adalah sesuatu hal yang negatif dan membuat tak berdaya. Namun, segala krisis, cobaan, dan tantangan dalam masyarakat sebenarnya bergantung pada pola pikir dan pola tindak semua manusia dalam menghadapinya.
Jika sebagian manusia menganggap cobaan sebagai suatu hal yang menakutkan dan membuat tak berdaya, hal itu akan membuat manusia diam statis dan apatis. Sebaliknya, jika manusia menganggap cobaan dan rintangan sebagai hal yang lumrah dan menyikapinya secara positif atau berbaik sangka, mereka akan melihat bahwa segala cobaan adalah bentuk kasih sayang dari Tuhan Yang Maha Bijaksana kepada makhluk-Nya. Cobaan adalah bagian dari dialektika atau proses perjalanan hidup bermasyarakat dan bernegara.
Oleh karena itu, menghadapi segala cobaan dan rintangan hidup ini seharusnya membuat masyarakat sadar diri, mawas diri, merefleksikan diri, atau menengok ke dalam diri untuk menghayati kembali arti hakikat, peran, dan tujuan umat manusia hidup di muka bumi serta dalam bermasyarakat dan bernegara.
Selain untuk kembali sadar dan mawas diri, masa-masa krisis yang kompleks dan multidimensional ini menuntut masyarakat untuk menegaskan kembali hakikatnya sebagai makhluk sosial.
Maknanya adalah segala cobaan dan rintangan tidak bisa diselesaikan hanya oleh individu atau sekelompok orang, melainkan membutuhkan peran makhluk sosial untuk bekerja sama, bersinergi, bergotong royong, dan berkolaborasi. Dengan melewati aneka cobaan tersebut bersama-sama, kita akan mampu keluar dari kondisi krisis dan menatap kondisi yang kembali normal. Dengan demikian, manusia dalam masyarakat bisa sehat walafiat, fokus, dan bersemangat dalam mewujudkan mimpi-mimpi serta tujuan di masa depan yang akan datang.
Senantiasa menengok ke dalam diri (inward looking) dan koreksi diri (self-correction). Sebab, pengetahuan yang utama adalah mengenal hakikat diri dan misi kita di dunia ini.
Kita boleh kehilangan harta benda dan apa pun. Namun, ketika kita kehilangan diri, jati diri, atau identitas diri, maka kita akan kehilangan semuanya. Karena dengan mengenal hakikat diri, kita bisa mengenal kasih Tuhan, serta mengenal dan melindungi martabat manusia.
Bukankah kita mengenal bunyi ungkapan, “Siapa yang mengenal dirinya, dialah yang mengenal Tuhannya.” Dalam setiap langkah kaki, kita selayaknya selalu bersandar pada petunjuk Allah SWT dan bersinergi dengan sesama manusia.
Selain itu, dengan mengenal hakikat diri, jati diri, atau identitas diri, kita bisa mengenal segala fenomena dan dinamika kehidupan dalam masyarakat dan negara. Hakikat diri adalah pusat jiwa raga manusia dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Sebab, memahami hakikat diri, identitas diri, atau mengenal diri akan membuat kita mampu menata hati nurani dan merawat akal budi untuk senantiasa memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT dan mengikuti petunjuk-Nya, kemudian berzikir melihat serta mengamati dinamika yang terjadi di masyarakat. Dalam konsep Islam, kita mengenal trilogi istilah, yakni habluminallah, habluminannas, dan hablum binafsih.
”Keadaan dunia atau kehidupan masa depan nanti, bergantung pada cara pandang (worldview) dan gaya hidup (way of life) umat manusia masa kini.”
Sebagian ada yang memandang dunia ibarat perahu besar yang siap berlayar mengarungi samudra lepas menuju tanjung harapan. Ada pula yang memandang dunia ibarat arena tempur tempat setiap manusia saling mempertahankan kedaulatan diri sendiri dan kedaulatan wilayahnya, sehingga memandang manusia lain sebagai ancaman yang harus ditaklukkan atau ditindas.
Di sisi lain, ada yang memandang dunia ibarat ladang sabana, tempat setiap manusia dapat menanam, menabur, dan merawat benih-benih kebajikan, lalu kemudian memanen kebahagiaan, kesabaran, kedamaian, dan kesejahteraan bagi diri sendiri dan manusia lain di lingkungan masyarakatnya.
Oleh karena itu, bagi saya, cara berpikir dan cara berperilaku yang sesuai dengan kondisi manusia dan masyarakat masa kini serta masa depan nanti adalah cara pandang yang melihat dunia atau kehidupan di atas muka bumi ini ibarat ladang sabana. Di sana, setiap manusia hidup dengan fokus dan bersemangat untuk menabur benih-benih kebaikan. Dari benih kebaikan itu, tumbuhlah taman-taman yang beraroma kebahagiaan dan kedamaian, serta menjadi sabana yang dipenuhi pepohonan yang beraneka ragam, menjulang tinggi, dan menaungi kehidupan manusianya.
Iqbal dalam bukunya yang terkenal, Membangun Kembali Pemikiran Agama Dalam Islam, mengatakan bahwa menurut pandangan Al-Qur’an, “Manusia itu bukanlah orang asing di dunia dan bumi bukanlah penjara bagi manusia, bukan tempat penyiksaan.” Bumi malah merupakan tempat terbaik bagi manusia dalam mengembangkan kemampuan rohaninya.
Apabila Al-Qur’an menurunkan kisah kejatuhan Adam dari jannah (surga), Al-Qur’an bermaksud menunjukkan kebangkitan manusia dari keadaan primitif (bersahaja) dengan naluri rendahnya, menuju kesadaran bahwa manusia memiliki pribadi yang merdeka, yang mampu untuk bersikap ragu-ragu dan mampu pula untuk membangkang (Abdul Hadi W.M., Kembali Ke Akar, Kembali Ke Sumber, hal. 319).
Filsuf dan penyair muslim, Muhammad Iqbal, menyitir ayat suci yang mengatakan, “Dan Kami telah mendirikan bagimu bumi serta di dalamnya Kami berikan hal-hal yang menegakkan kehidupan. Betapa kurangnya rasa terima kasihmu,” (QS. Al-A’raf [7]: 10). Menurut Al-Qur’an, bumi tidak diciptakan dengan sia-sia dan karenanya tidak boleh dinafikan.
Ibnu Arabi, pemikir sufi dari Spanyol, dengan tegas menyatakan bahwa dunia ini bukanlah suatu ilusi. Dunia ini nyata sebab merupakan ayat-ayat Tuhan. Oleh karena dalam diri manusia juga terbentang ayat-ayat Tuhan, maka upaya mengidentifikasikan manusia dengan dunia atau masyarakat adalah hal yang mungkin. Dengan kata lain, dunia dan masyarakat mempunyai hubungan dengan manusia, baik secara jasmani maupun secara rohani.
Pandangan Iqbal dan Ibnu Arabi tentang dunia mewakili pandangan sufi yang benar dan sesuai dengan amanat kitab suci. Iqbal malah mengutip sebuah ayat lagi dalam kitab suci, “Dan Kami telah menyebabkan engkau tumbuh dari bumi.” Dalam sebuah sajaknya, penyair sufi penulis Musyawarah Burung yang masyhur, Fariduddin Attar, menulis:
Dunia, Nak. Adalah sebuah ladang
Buat didatangi siang dan malam
Apa saja yang memancar dari martabat
Dan kekayaan iman
Semuanya diperoleh dari dunia ini.
Buah hari esok adalah kembang benih hari ini
Dan orang yang ragu akan merasakan
Buah pahit penyesalan
Dunia ialah tempat terbaik bagimu
Di dalamnya kau dapat menyiapkan bekal
Buat hari kemudian
Pergilah ke dunia, tapi jangan tenggelam oleh hawa nafsu
Dan siapkan dirimu bagi dunia lain
Jika kau berlaku demikian, dunia akan pantas bagimu
Akrabilah dunia semata demi tujuan mulia ini.
Sajak di atas ditulis sehubungan dengan peristiwa yang dialami oleh Khalifah keempat, Sayyidina Ali, seperti yang tersebut dalam kitab Nahj al-Balaghah. Amirulmukminin dikisahkan kedatangan seseorang yang mengutuk, menyumpah, dan melaknati dunia.
Dunia dikatakan oleh orang itu sebagai penuh kesalahan dan sumber kehancuran. Padahal dalam perspektif Islam, sebagaimana dikatakan Murtadha Mutahhari, hubungan manusia dengan dunia bukanlah seperti hubungan antara seorang tawanan dan penjaranya.
Hubungan manusia dengan dunia bisa diumpamakan seperti hubungan antara petani dengan ladangnya, atau antara pedagang dan pasar. Dunia merupakan sebuah sekolah bagi manusia, tempat melatih diri untuk mencapai kesempurnaan.
Halangan untuk mencapai kesempurnaan ialah hawa nafsunya, yang membuatnya demikian terikat dan terbelenggu oleh dunia (Abdul Hadi W.M., Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber, hal. 321).
Oleh: Fitrah TA
Editor: Adis

