Keingintahuan manusia terhadap apa yang terjadi sebelum keberadaannya di Bumi merupakan dorongan eksistensial yang telah ada sepanjang sejarah peradaban. Sejak masa purba hingga era eksplorasi modern, pertanyaan mengenai apakah ada kehidupan lain sebelum spesies manusia diciptakan senantiasa membakar imajinasi para filsuf, sejarawan, saintis, dan ilmuwan agama.
Dalam tradisi literatur Islam abad pertengahan, diskursus ini menemukan wadah yang sangat kaya melalui genre kosmologi, sejarah purbakala, dan pengkajian narasi keajaiban alam (ajaib). Salah satu karya paling monumental yang sering kali menjadi rujukan sekaligus bahan perdebatan dalam diskursus ini adalah kitab “Akhbar az-Zaman” yang dinisbatkan kepada cendekiawan Muslim abad ke-10 M, Syaikh Abul Hasan Ali bin Al-Husain bin Ali Al-Mas’udi.
Narasi tentang adanya makhluk-makhluk unik dan aneh yang mendahului keberadaan Nabi Adam AS di muka bumi membuka ruang diskusi yang mendalam. Penggambaran entitas-entitas ini tidak hanya menghadirkan dimensi fantastis, tetapi juga merefleksikan cara pandang ilmiah dan kosmologis intelektual Muslim pada zamannya.
Sekurang-kurangnya, dalam tulisan ini, penulis akan menguraikan, mendekonstruksi, serta membedah secara holistik teks klasik mengenai makhluk pra-Adam tersebut, melacak akar metodologis dan historisnya, serta menarik relevansi filosofis dan teologis bagi iman manusia modern.
Mengenal Sosok Al-Mas’udi dan Potret Kitab Akhbar az-Zaman
Untuk memahami narasi tentang makhluk pra-Adam secara proporsional, langkah awal yang tak boleh diabaikan adalah mengenali sosok pengarang serta konteks historiografis karyanya. Syaikh Abul Hasan Ali bin Al-Husain bin Ali Al-Mas’udi (283-346 H/896-956 M) adalah seorang geografer, sejarawan, musafir, dan polimatik Muslim ternama dari Bagdad.
Itu sebabnya, tak heran jika Barat kerap menjulukinya sebagai “Herodotus Bangsa Arab” karena pengembaraannya yang amat luas menembus batas-batas geografis: mulai dari Persia, India, Sri Lanka, wilayah pesisir Afrika Timur, hingga Laut Kaspia.
Al-Mas’udi hidup pada zaman keemasan peradaban Islam (Islamic Golden Age), suatu era di mana tradisi pencarian ilmu pengetahuan memadukan pengamatan empiris di lapangan dengan kajian teologis dan penyerapan warisan filsafat Yunani, Persia, serta India. Karya terbesarnya yang amat masyhur adalah “Muruj adz-Dzahab wa Ma’adin al-Jauhar” (Padang Emas dan Tambang Permata). Namun, beliau juga menulis kitab bertajuk “Akhbar az-Zaman wa Man Abadahul Hadthan” (Berita Zaman dan Mereka yang Dibinasakan oleh Peristiwa Masa Lalu).
Kitab “Akhbar az-Zaman” dikenal sebagai karya yang menggabungkan sejarah purbakala, geografi spekulatif, kosmologi, folklor, serta kisah-kisah keajaiban dunia. Dalam historiografi Islam, karya jenis ini berfungsi bukan sekadar sebagai catatan empiris, melainkan juga sebagai ensiklopedia pengetahuan universal yang merekam memori kolektif peradaban-peradaban masa lalu, mitologi kosmologis, serta pemikiran astronomis yang berkembang saat itu. Mengartikan karya ini secara literal tanpa memahami genre literatur ajaib akan menjerumuskan pembaca pada kesalahpahaman metodologis.
Bedah Teks: Narasi Dua Puluh Delapan Umat dan Kosmologi Bulan
Mari kita amati secara mendalam petikan teks Arab beserta terjemahannya dari kitab “Akhbar az-Zaman” yang menjadi fokus tulisan ini. Di dalam kitab itu dikatakan:
يقال إنه كانت الجملة ثمانيًا وعشرين أمة بأزاء المنازل العالية التي يحلها القمر، لأنه المستولي عندهم لتدبير العالم الأرضي بإذن الله تعالى جل ذكره خلقت من أمزجة مختلفة أصلها الماء والهواء والنار والأرض، فهي متباينة الخلق ومنها أمة طوال خفاف زرق ذات أجنحة كلامهم فرقعة، ومنها أمة أبدانهم كأبدان الاسد ورؤوسهم رؤس الطير لها شعور وأذناب طوال كلامهم دوي، ومنها امة لها وجهان قدامها وخلفها وأرجل كثيرة وكلامهم كلام الطير
“Dikatakan bahwa jumlah keseluruhannya ada dua puluh delapan umat, sebanding dengan kedudukan-kedudukan tinggi yang ditempati oleh bulan, karena menurut mereka bulan berperan sebagai yang mengatur urusan dunia bumi dengan izin Allah Swt. Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Mereka diciptakan dari campuran unsur yang berbeda, yang asalnya adalah air, udara, api, dan tanah. Karena itu, bentuk dan jenis mereka pun beragam.”
“Di antaranya ada suatu umat yang bertubuh panjang, ringan, berwarna biru, dan memiliki sayap, sedangkan cara berbicara mereka seperti bunyi letupan. Di antaranya ada umat yang tubuhnya seperti tubuh singa dan kepala mereka seperti kepala burung, memiliki rambut dan ekor yang panjang, dan suara mereka seperti suara gemuruh. Dan di antaranya ada umat yang memiliki dua wajah, satu di bagian depan dan satu di bagian belakang, memiliki banyak kaki, dan cara bicara mereka seperti suara burung.”
Secara tidak langsung, teks di atas memuat beberapa prinsip penting kosmologi Abad Pertengahan yang sangat menarik untuk dibedah secara filosofis dan ilmiah. Pertama, angka 28 dan stasiun bulan (manazil al-Qamar). Penulis menyebutkan bahwa terdapat 28 umat makhluk pra-Adam. Angka ini secara eksplisit dikaitkan dengan 28 manazil al-qamar (28 posisi atau stasiun orbit Bulan dalam ilmu astronomi tradisional).
Dalam sains kuno (yang dipengaruhi oleh sistem Ptolemaik dan astrologi Islam), bulan dianggap sebagai benda langit terdekat dengan Bumi yang memancarkan pengaruh fisik maupun simbolis terhadap perubahan musim, pasang surut air laut, hingga pertumbuhan makhluk hidup di alam bawah (alam as-sufli). Penjajaran 28 umat dengan 28 stasiun bulan mencerminkan pandangan kosmologis bahwa struktur kehidupan biologis di Bumi memiliki harmonisasi numerik dengan tata surya.
Kedua, konsep empat unsur dasar (al-Anasir al-Arba’ah). Teks tersebut mencatat bahwa umat-umat ini diciptakan dari variasi racikan (amzijah) empat unsur utama: air, udara, api, dan tanah. Ini adalah manifestasi nyata dari filsafat alam peripatetik (Aristotelian) yang diserap secara meluas oleh para cendekiawan Muslim abad pertengahan.
Menurut teori ini, seluruh materi di alam bawah tercipta dari kombinasi empat elemen tersebut dengan komposisi yang berbeda-beda. Keanekaragaman fisik makhluk dipahami sebagai konsekuensi logis dari dominasi unsur tertentu, misalnya, unsur udara dan api menghasilkan makhluk yang ringan dan bersayap, sementara unsur tanah menghasilkan makhluk yang fisik yang padat dan berat.
Tipologi Fisik dan Bahasa: Imajinasi atau Pertanda Hayat?
Poin paling mencolok dari kutipan kitab “Akhbar az-Zaman” adalah deskripsi morfologi fisik serta modus komunikasi dari umat-umat pra-Adam tersebut. Al-Mas’udi merinci tiga variasi bentuk makhluk secara sangat kontekstual.
Pertama, umat bersayap biru dan berbahasa letupan (furqa’ah). Makhluk ini digambarkan bertubuh panjang, berbobot ringan, berwarna biru, dan berbulu atau bersayap. Cara mereka berkomunikasi bukanlah bahasa berartikulasi seperti manusia, melainkan berupa bunyi letupan atau gesekan. Karakteristik ini mencerminkan dominasi elemen udara dan api dalam komposisi tubuh mereka.
Kedua, umat hibrida berbadan singa dan berkepala burung. Penggambaran makhluk berbadan singa, berkepala burung, berambut, berekor panjang, dan bersuara gemuruh (dawi) sangat mirip dengan figur mitologis Griffin yang dikenal dalam peradaban Mesopotamia dan Persia kuno. Dalam kosmologi klasik, gabungan antara raja darat (singa) dan raja udara (burung) melambangkan kekuatan, kecepatan, dan daya tahan fisik yang luar biasa.
Ketiga, umat berwajah dua dan berkaki banyak. Makhluk dengan dua wajah (satu di depan, satu di belakang), yang memiliki banyak kaki dan bersuara seperti kicauan burung, menunjukkan ide tentang persepsi visual omnidireksional (mampu melihat segala arah tanpa berbalik) serta mobilitas yang sangat tinggi. Bahasa mereka yang digambarkan seperti suara burung memperkuat kesan eksotisme nonmanusia.
Pertanyaannya adalah mengapa deskripsi semacam ini muncul dalam literatur klasik Islam? Apakah ini sekadar khayalan imajinatif para penulis masa lalu, ataukah refleksi dari penemuan fosil purbakala yang diinterpretasikan melalui kacamata pengetahuan zaman itu?
Dalam studi sejarah sains, ada hipotesis menarik bahwa penemuan tulang belulang dinosaurus atau megafauna purba oleh masyarakat kuno sering kali diinterpretasikan sebagai sisa-sisa makhluk ajaib yang pernah mendiami Bumi sebelum manusia. Tanpa adanya metodologi paleontologi modern, para sejarawan Abad Pertengahan merekonstruksi bentuk makhluk-makhluk tersebut menggunakan kerangka berpikir kosmologis yang mereka miliki.
Dilema Epistemologis: Antara Sejarah Empiris, Isra’iliyyat, dan Kritik Khaldunian
Ketika berhadapan dengan narasi sejarah klasik seperti yang tertulis dalam “Akhbar az-Zaman”, pemikir Muslim modern perlu bersikap kritis dan metodologis. Dalam keilmuan Islam, tidak semua teks sejarah memiliki bobot otoritas yang sama dengan teks hukum atau akidah. Terdapat perbedaan mendasar antara khabar shahih (berita yang terverifikasi) dengan khabar aja’ib (narasi keajaiban kolektif) atau isra’iliyyat (cerita-cerita yang bersumber dari tradisi Ahli Kitab terdahulu).
Sosiolog dan sejarawan Muslim terbesar abad ke-14 M, Ibnu Khaldun, dalam karya masterpiece-nya “Muqaddimah”, meletakkan dasar-dasar kritik sejarah (naqd al-khabar). Ibnu Khaldun secara tegas mengingatkan para sejarawan agar tidak menelan bulat-bulat narasi-narasi aneh, fantastis, dan tidak masuk akal yang sering disisipkan oleh penulis sejarah terdahulu. Ibnu Khaldun menekankan pentingnya menguji sebuah berita sejarah dengan hukum alam, rasionalitas, dan kaidah kebiasaan sosial (qanun al-adah).
Meskipun Al-Mas’udi adalah seorang ilmuwan besar, beliau sering kali memasukkan narasi-narasi lisan dan cerita rakyat yang beredar di berbagai kawasan dunia untuk menjaga kelengkapan catatan etnografisnya.
Oleh karena itu, narasi mengenai 28 umat pra-Adam dengan ciri-ciri fisik ajaib tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai doktrin keagamaan yang wajib diyakini kebenarannya secara harfiah (dogma teologis). Narasi tersebut lebih tepat diposisikan sebagai warisan khazanah kosmologi kuno dan etnografi spekulatif yang merekam cara manusia abad pertengahan memahami rahasia masa lalu Bumi.
Diskursus Keberadaan Makhluk Sebelum Adam dalam Akidah Islam
Lantas, bagaimana ajaran Islam memandang gagasan bahwa ada kehidupan atau makhluk sebelum Nabi Adam AS? Jika kita merujuk pada Al-Qur’an dan riwayat-riwayat tafsir yang diakui, isu mengenai eksistensi kehidupan sebelum manusia memang memiliki pijakan naratif yang kuat, terutama ketika membahas peristiwa penciptaan Adam dalam Surah Al-Baqarah ayat 30:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَالَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).
Pertanyaan malaikat “Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah yang akan membuat kerusakan dan mengalirkan darah?” menjadi bukti analitis yang sangat menarik bagi para mufasir (ahli tafsir). Para ulama seperti Ibnu Abbas, Ibnu Katsir, dan Al-Qurtubi menjelaskan bahwa pernyataan malaikat tersebut lahir dari pengalaman atau pengamatan mereka terhadap makhluk yang menghuni bumi sebelum Adam.
Dalam riwayat-riwayat klasik tafsir, makhluk-makhluk pra-Adam tersebut sering diidentifikasi sebagai kelompok Al-Jinn (bangsa Jin) serta entitas-entitas sebelumnya yang disebut dengan istilah Al-Hinn, Al-Binn, Al-Tinn, dan Al-Rimm.
Dikisahkan bahwa mereka mendiami bumi ribuan tahun sebelum manusia, namun karena saling berbuat zalim, merusak ekosistem bumi, dan menumpahkan darah, Allah mengutus pasukan malaikat untuk mengusir mereka ke pulau-pulau terpencil dan lautan luas. Barulah setelah itu, Allah menciptakan Nabi Adam AS sebagai manusia pertama dan khalifah baru di bumi.
Dengan demikian, keberadaan kehidupan biologis atau bernyawa sebelum Nabi Adam secara teologis adalah hal yang sangat mungkin dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Hanya saja, rincian fisik seperti yang dituliskan dalam “Akhbar az-Zaman” (berwajah dua, berkaki banyak, atau bersuara letupan) merupakan domain ghayb (hal gaib) yang rincian spesifiknya tidak ditegaskan oleh dalil qath’i (teks yang mutlak otentik), sehingga kita tidak diwajibkan untuk membenarkan ataupun mendustakannya secara mutlak.
I’tibar Teologis: Menembus Batas Takjub Menuju Puncak Keimanan
Bagian penutup dari kutipan yang kita kaji menyajikan sebuah kesimpulan yang amat mendalam dan sarat akan nilai spiritual: “Dari kisah-kisah tentang makhluk sebelum Nabi Adam AS ini, kita diingatkan bahwa alam Allah sangat luas, penuh dengan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas. Namun pada akhirnya, semua riwayat dan gambaran ini tidaklah menjadi tujuan untuk diyakini secara pasti, melainkan untuk membuka cakrawala renungan tentang betapa agungnya ciptaan Allah SWT.”
Inilah esensi utama (core wisdom) dari seluruh penjelajahan kosmologis ini. Ketika membaca kisah-kisah kuno tentang rahasia penciptaan, seorang penuntut ilmu hendaknya tidak terjebak dalam dua jurang ekstrem: ekstrem pertama adalah menolak semua hal secara arogan hanya karena belum terjangkau oleh sains hari ini, dan ekstrem kedua adalah percaya secara buta (taklid) terhadap setiap cerita fantastis tanpa verifikasi ilmiah dan teologis.
Tujuan utama ditunjukkannya keajaiban-keajaiban ciptaan, baik yang ada di langit, di bumi, maupun dalam catatan sejarah masa lalu, adalah sarana i’tibar (pengambilan pelajaran). Dalam filsafat tauhid, Allah SWT memiliki nama-nama indah seperti Al-Khaliq (Maha Pencipta), Al-Bari’ (Maha Mengadakan dari Tiada), dan Al-Musawwir (Maha Membentuk Rupa). Kekuasaan Allah tidak terbatas hanya pada bentuk-bentuk biologis manusia, hewan, dan tumbuhan yang kita lihat hari ini.
Alam semesta berumur sekitar 13,8 miliar tahun, sedangkan Bumi berumur sekitar 4,5 miliar tahun. Keberadaan spesies manusia (Homo sapiens) di Bumi, jika dibandingkan dengan skala waktu geologis Bumi, hanyalah sekedipan mata.
Menyadari kenyataan ini, baik melalui sains modern maupun narasi kosmologi klasik, seharusnya meruntuhkan sikap kesombongan manusia (anthropocentrism). Manusia bukanlah satu-satunya fokus penciptaan di alam semesta yang maha luas ini, melainkan salah satu dari sekian banyak ciptaan Allah yang diberi amanah kekhalifahan.
Implikasi Bagi Pembaca Modern
Mengkaji ulang tulisan Syaikh Al-Mas’udi dalam kitab “Akhbar az-Zaman” memberikan kita dua pelajaran berharga sekaligus: pelajaran sejarah intelektual dan pelajaran spiritual. Secara intelektual, kita diajak menghargai khazanah literatur klasik Islam yang begitu kaya, berani menjelajahi batas-batas kosmologi, serta berupaya memahami rahasia alam semesta pada zamannya. Para ilmuwan Muslim masa lalu telah menunjukkan keterbukaan fikiran yang luar biasa dalam mendokumentasikan pengetahuan dan narasi dari berbagai kebudayaan dunia.
Namun, secara spiritual, membaca narasi makhluk pra-Adam mengarahkan hati kita pada kesadaran ketauhidan yang murni. Pengetahuan tentang masa lalu yang gaib tidak disajikan untuk memuaskan sensasionalisme atau rasa penasaran spekulatif semata, melainkan untuk mempertebal rasa tunduk dan kagum (khasyah) kepada Pencipta Seluruh Alam (Rabb al-Alamin).
Syahdan. Pengetahuan sejati adalah pengetahuan yang membuahkan keimanan dan kehendak untuk berbuat kebaikan. Kisah-kisah kosmologi masa lalu mengingatkan kita bahwa dunia ini fana, peradaban demi peradaban berganti, dan pada akhirnya hanya keagungan Allah SWT yang abadi. Wallahu a’lam bisshawab.

