KeislamanOpini

Dialektika Akal dan Ilmu: Mengurai Hirarki Epistemologi dalam Hasyiyah Al-Bajuri

5 Mins read

Dalam khazanah pemikiran Islam, percakapan mengenai sarana pencapaian kebenaran tidak pernah selesai pada tataran permukaan. Sepanjang sejarah peradaban Islam, para cendekiawan dan ulama tidak hanya sibuk mengumpulkan pengetahuan, tetapi juga terus-menerus menguji instrumen yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan tersebut. Di antara ranah kajian epistemologis yang paling memikat adalah perdebatan mengenai hirarki keutamaan antara akal (aql) dan ilmu (ilm).

Pertanyaan ini sepintas tampak sederhana: Mana yang lebih utama, daya nalar yang memproses hakikat, atau pengetahuan yang menjadi hasil sekaligus hakikat itu sendiri? Namun, ketika pertanyaan ini masuk ke dalam arena perdebatan mazhab teologi dan fikih, ia memicu sublimasi pemikiran yang melintasi batas-batas logika, bahasa, hingga metafisik.

Salah satu monumen intelektual yang merangkum perdebatan anggun ini adalah kitab “Hasyiyah al-Bajuri ala Syarh Ibn Qasim al-Ghazzi” karya Syekh Ibrahim al-Bajuri (1792-1860 M), seorang Syaikhul Islam dari Universitas Al-Azhar.

Dalam karya monumental tersebut, Al-Bajuri mengabadikan silang pendapat antara dua poros utama Mazhab Syafi’i pada abad ke-10 Hijriah: Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Syamsuddin ar-Ramli. Perbedaan pandangan kedua pilar mazhab ini bukan sekadar silat lidah akademis, melainkan representasi dari dua sudut pandang besar dalam memandang eksistensi manusia dan Tuhan.

Teks dan Tinjauan Literer

Untuk memahami kedalaman perdebatan ini, mari kita cermati nukilan teks asli dari “Hasyiyah al-Bajuri” (Jilid 1, Halaman 69) beserta artikulasi terjemahannya:

وهل أفضل من العلم أو العلم أفضل منه فقال ابن حجر بالاولو لانه منبعه وأسه والعلم يجرى منه مجرى النور من الشمس والرؤية من العين وقال الرملي بالثاني وهو المعتمد لاستلزامه له ولان الله يوصف بالعلم لا بالعقل

“Lalu ditanyakan: “Manakah yang lebih utama, akal atau ilmu? Ataukah ilmu lebih utama daripada akal?” Maka Ibnu Hajar al-Haitami berpendapat bahwa akal lebih utama, karena akal merupakan sumber dan fondasinya. Sedangkan ilmu kedudukannya terhadap akal seperti cahaya yang berasal dari matahari dan seperti penglihatan yang berasal dari mata.”

“Adapun Syamsuddin ar-Ramli berpendapat bahwa ilmu lebih utama. Pendapat inilah yang dijadikan pegangan (mu’tamad), karena ilmu mengandung (mensyaratkan adanya) akal. Selain itu, Allah disifati dengan sifat ilmu, bukan dengan sifat akal.”

Nukilan singkat ini menyimpan benang-benang epistemologis yang sangat rapat. Di satu sisi, Ibnu Hajar al-Haitami memandang masalah ini melalui kacamata kausalitas dan fungsionalitas epistemis. Di sisi lain, Syamsuddin ar-Ramli meneropongnya melalui kacamata ontologis dan teologis-transendental.

Baca...  Ketegangan Malaysia-AS: Ujian Kedaulatan Multipolar

Argumen Ibnu Hajar al-Haitami: Akal sebagai Matahari dan Wadah Primordial

Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengambil posisi yang menempatkan akal di puncak keutamaan. Alasan utamanya bertumpu pada konsep al-manba’ (sumber) dan al-ass (fondasi). Bagi Al-Haitami, akal adalah instrumen primordial. Tanpa adanya instrumen penerima dan pemroses, keberadaan ilmu menjadi tidak relevan bagi manusia.

Al-Haitami menggunakan dua analogi estetis yang sangat kuat untuk memperjelas argumentasinya. Pertama, matahari dan cahaya (al-Majjra an-Nur min asy-Syams). Matahari adalah entitas independen yang memancarkan cahaya. Cahaya tidak akan pernah ada tanpa keberadaan matahari. Dalam hierarki eksistensi, entitas yang memancarkan (pemberi sebab) secara logis lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan apa yang dipancarkan (akibat).

Kedua, mata dan penglihatan (ar-Ru’yah min al-Ain). Mata adalah organ, sedangkan penglihatan adalah daya atau fungsi dari organ tersebut. Tanpa keberadaan mata yang sehat, fungsi penglihatan mustahil terwujud.

Dalam kerangka berpikir ini, akal dipandang sebagai sarana potensial (potentiality) yang melahirkan aktualitas berupa ilmu. Akal adalah wadah tempat kebenaran disingkapkan. Jika akal rusak atau tidak ada, maka ilmu tidak akan menemukan tempat berlabuh.

Oleh karena itu, dari sudut pandang proses pencapaian dan mekanisme kognitif manusia, posisi Ibnu Hajar al-Haitami sangat rasional dan intuitif: akal adalah akar, sedangkan ilmu adalah buahnya. Akar secara alamiah mendahului dan menopang kehidupan buah.

Argumen Syamsuddin ar-Ramli: Ilmu sebagai Puncak Hakikat dan Sifat Ilahi

Namun, Mazhab Syafi’i tidak berhenti pada pandangan epistemis manusia semata. Imam Syamsuddin ar-Ramli hadir dengan pandangan yang kemudian ditetapkan sebagai pendapat yang resmi dan dipegang (al-mu’tamad). Ar-Ramli menggeser sudut pandang dari sekadar proses kognisi manusia menuju hakikat substansial dan teologis.

Ar-Ramli memajukan dua argumen filosofis-teologis yang sangat kokoh: pertama, prinsip istilzam (inklusivitas/implikasi mutlak). Ar-Ramli menyatakan bahwa ilmu lebih utama karena ilmu secara otomatis mengandung (mensyaratkan) keberadaan akal. Seseorang tidak mungkin memiliki ilmu tanpa memiliki akal. Keberadaan ilmu adalah bukti final bahwa akal telah bekerja dengan sempurna.

Dalam logika klasik, sesuatu yang mencakup entitas lain beserta kesempurnaannya (ilmu) memiliki derajat lebih tinggi daripada instrumen yang baru berupa potensi (akal). Akal tanpa ilmu adalah potensi yang menganggur atau bahkan bisa tersesat, sedangkan ilmu adalah wujud nyata dari tercapainya fungsi akal. Ilmu adalah tujuan (ghayah), sementara akal adalah sarana (wasilah). Dalam kaidah metafisika, tujuan selalu lebih mulia daripada sarana.

Baca...  Hakikat Mukminat Menurut Ahli

Kedua, argumen teologis penyifatan Allah. Ini adalah puncak dari argumentasi Ar-Ramli yang meruntuhkan pandangan antroposentris. Dalam teologi Islam (kalam), khususnya akidah Asy’ariyah dan Maturidiyah, Allah SWT disifati dengan Sifat Ilm (Maha Mengetahui).

Allah adalah Al-Alim (Yang Maha Mengetahui), dan Ilmu merupakan salah satu Sifat Wajib bagi Allah yang bersifat Qadim (tanpa permulaan) dan Baqi (abadi). Sebaliknya, Allah tidak pernah disifati dengan sifat Aql (akal), dan tidak boleh dinamai sebagai Al-Aqil (Yang Berakal). Mengapa demikian?

Secara etimologis, kata “aql” berasal dari akar kata “aqala” atau “al-iqaal”, yang berarti “tali pengikat” atau “penghalang”. Akal dinamakan demikian karena ia bertugas menahan, mengikat, dan membatasi dorongan hawa nafsu atau membatasi pemikiran agar tidak keluar dari jalur logika. Akal mencakup proses berpikir yang membutuhkan waktu, pertimbangan, abstraksi, dan usaha pencarian dari tidak tahu menjadi tahu.

Sifat-sifat ini, proses, keterbatasan, pengikatan, dan usaha mengindikasikan kekurangan (naqsh) dan keterciptaan (huduts). Allah Maha Suci dari segala bentuk keterbatasan, proses berpikir, atau kebutuhan akan instrumen kognitif. Pengetahuan Allah (Ilmullah) bersifat intuitif-langsung, menyeluruh, meliputi segala sesuatu tanpa didahului oleh ketidaktahuan dan tanpa membutuhkan proses penalaran.

Oleh karena itu, karena Ilmu adalah Sifat Kesempurnaan Ilahi (Sifat Kamal) yang melekat pada Dzat Allah, sedangkan Akal adalah alat kognitif makhluk yang terbatas, maka Ilmu secara ontologis jauh lebih utama dan mulia daripada Akal.

Mengapa Pandangan Ar-Ramli Menjadi Mu’tamad?

Ditetapkannya pendapat Imam ar-Ramli sebagai pendapat mu’tamad dalam pilar mazhab menunjukkan kecenderungan epistemologi Islam yang tidak pernah melepaskan diri dari sains teologis.

Jika kita menganalisis kedua pendapat ini secara komparatif, Ibnu Hajar al-Haitami memandang hubungan ini dari bawah ke atas (bottom-up/antroposentris). Beliau melihat bagaimana manusia bertolak dari potensi akalnya menuju pencapaian ilmu.

Syamsuddin ar-Ramli memandang hubungan ini dari atas ke bawah (top-down/theosentris). Beliau melihat nilai suatu entitas dari sejauh mana entitas tersebut berhubungan dengan Dzat dan Sifat Allah SWT.

Pendapat Ar-Ramli dianggap lebih unggul (rajih) karena berhasil mengangkat perdebatan ini dari sekadar psikologi kognitif manusia menuju metafisika transendental. Ilmu bukan sekadar hasil olah pikir otak manusia, melainkan pancaran dari Sifat Ilahi yang dititipkan kepada makhluk-Nya. Ketika manusia memperoleh ilmu yang benar, ia sedang menyerap sebagian kecil dari sifat yang dicintai oleh Sang Maha Mengetahui.

Baca...  Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Kisah-kisah Orang Pelit

Relevansi Kontemporer: Di Antara Intelek Tanpa Arah dan Informasi Tanpa Makna

Perdebatan dalam “Hasyiyah al-Bajuri” ini menemukan aktualitasnya kembali di era modern. Saat ini, dunia menyaksikan lompatan besar dalam kapasitas kecerdasan artifisial (AI) dan pemrosesan logika. Manusia masa kini memiliki “akal instrumental” yang sangat canggih: mampu memproses data dengan kecepatan luar biasa. Namun, apakah melimpahnya kemampuan pemrosesan itu otomatis menghasilkan Ilmu dalam artian yang hakiki?

Hari ini, kita sering kali terjebak pada pengagungan terhadap “alat” (akal instrumental, algoritma, logika rasional semata) namun kehilangan “hakikat” (ilmu yang membebaskan dan membawa kebijaksanaan). Akal yang dilepaskan dari orientasi keilmuan yang hakiki kerap kali hanya menghasilkan sophistry (silat lidah tanpa arah), manipulasi informasi, atau kecanggihan teknologi yang destruktif.

Pelajaran penting dari pemikiran Imam ar-Ramli adalah warning agar manusia tidak berhenti pada pengagungan terhadap instrumen bernalar (akal). Akal adalah pintu masuk, tetapi Ilmu yang membimbing pada pengenalan (ma’rifat) terhadap Al-Haqq (Kebenaran Mutlak) adalah tujuannya. Akal tanpa bimbingan ilmu yang bersumber dari Cahaya Ilahi hanyalah potensi yang dapat menyesatkan pemiliknya.

Bagaimana pun erdebatan antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Syamsuddin ar-Ramli dalam “Hasyiyah al-Bajuri” bukanlah benturan yang bertujuan meruntuhkan salah satunya. Ini adalah dialektika intelektual yang saling memperkaya.

Melalui Ibnu Hajar, kita diajar untuk merawat akal, mengasah logika, dan menghargai potensi kognitif sebagai sarana awal membedakan yang haq dan yang batil. Tanpa akal yang sehat, syariat tidak dapat difahami dan ilmu tidak dapat diserap.

Namun, melalui Syamsuddin ar-Ramli, kita diingatkan untuk senantiasa rendah hati. Bahwa di atas indahnya proses bernalar, ada Ilmu sebagai puncak pencapaian: sebuah kemuliaan yang menyambungkan ruh manusia dengan Sifat Maha Mengetahui Sang Pencipta.

Akal adalah lentera di tangan pejalan malam, sedangkan Ilmu adalah cahaya matahari yang membukakan seluruh pemandangan alam semesta. Lentera itu sangat penting untuk melangkah, tetapi keberadaan cahayalah yang membuat perjalanan itu bermakna. Wallahu a’lam bisshawab.

288 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
Keislaman

Adzan dan Ritme Kehidupan Muslim di Kawasan Bekasi

5 Mins read
Bekasi berkembang sebagai kawasan tempat bertemunya banyak pola kehidupan. Ada masyarakat yang bekerja di kawasan industri, pedagang yang memulai aktivitas sejak pagi,…
KeislamanOpini

Membedah Enam Pilar Kebijaksanaan Yahya bin Mu’adz dalam Kitab Minhajul Muta’allim

6 Mins read
Dalam lanskap peradaban modern yang terus melaju dengan kecepatan tinggi, manusia sering kali mendapati dirinya berada di persimpangan jalan eksistensial. Kita hidup…
KeislamanOpini

Menyelami Enam Nasihat Ahli Hikmah Dalam Kitab Tanbihul Ghafilin

5 Mins read
Manusia hari ini hidup di tengah belantara peradaban yang bergerak sangat cepat, riuh, dan penuh persaingan. Perkembangan teknologi dan lompatan peradaban tak…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *