KeislamanPendidikanTokoh

Profil Prof. Dr. Tono Saksono Ilmuwan Astronomi Indonesia

3 Mins read

Profil Akademik

​Profesor Tono Saksono merupakan lulusan S1 dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), Jakarta. Ia kemudian melanjutkan pendidikan S2 di Ohio University dan menuntaskan studi doktoralnya di University of London. Saat ini, beliau menjabat sebagai Ketua Islamic Science Research Network Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (ISRN UHAMKA), Jakarta, yang memelopori riset fajar global di Indonesia.

​Riset dan Instrumentasi

​Tercatat ia telah melakukan riset fajar di sejumlah negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, Inggris, Turki, dan Mesir. Hingga saat ini, jaringan risetnya telah mencakup 60 negara.

​Instrumentasi riset yang digunakan cukup beragam, meliputi:

  • ​SQM (Sky Quality Meter)
  • ​Kamera DSLR
  • All Sky Camera
  • Drone Camera
  • Camera Gadget
  • Web Camera

​Hasil risetnya didokumentasikan dalam bentuk paper, buku, video, dan ceramah. Perkembangan penelitiannya dipublikasikan secara berkala melalui video (saat ini mencapai 100 video) yang diunggah ke YouTube dan dapat diakses secara terbuka.

​Publikasi Buku

​Tono Saksono telah menghasilkan dua buku yang merangkum proses, data, analisis, algoritma, serta kesimpulan riset fajar di Indonesia dan dunia:

  1. “Evaluasi Awal Waktu Subuh & Isya (Perspektif Sains, Teknologi, dan Syariah)” (UHAMKA Press, 2019): Buku ini ditulis dalam bahasa Indonesia dan berfokus pada data fajar serta Isya di Indonesia.
  2. “Premature Dawn: The Global Twilight Pattern” (Suara Muhammadiyah, 2020): Buku ini ditulis dalam bahasa Inggris bersama Syamsul Anwar (Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Buku ini mencakup data fajar dunia dan saat ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab serta sedang dalam proses penerbitan.

​Kedua buku ini menggambarkan keseluruhan proses, metode, instrumentasi, dan kesimpulan riset Tono Saksono dan ISRN selama beberapa tahun terakhir (sejak Maret 2017).

Baca...  Nabi Sya'ya Dalam Riwayat Ibnu Katsir

​Temuan Ilmiah dan Polemik

​Dalam kesimpulannya, Tono Saksono menyatakan bahwa waktu Subuh di Indonesia saat ini terlalu cepat sekitar 28 menit. Berdasarkan pengujiannya, waktu Subuh sesungguhnya baru hadir pada kedalaman matahari -13,4 derajat di bawah ufuk timur, dan terkini ia menetapkan pada kedalaman -13,0 derajat.

​Sebagai perbandingan, waktu Subuh di Indonesia saat ini ditetapkan pada kedalaman matahari -20 derajat (menurut Kementerian Agama) dan -18 derajat (menurut Muhammadiyah). Tono Saksono juga mengkritisi nilai kedalaman fajar yang digunakan berbagai lembaga dunia, seperti:

  • ​ISNA (-17,5 derajat)
  • Muslim World League (-18 derajat)
  • ​Umm al-Qura University (-18,5 derajat)
  • Egyptian General Authority of Survey (-19,5 derajat)
  • ​University of Islamic Science Karachi (-18 derajat)
  • ​Malaysia (-18 derajat)

​Menurutnya, nilai dip yang ditetapkan lembaga-lembaga tersebut tidak berdasar pada kajian ilmiah dan akademik, sehingga tidak semestinya digunakan lagi.

​Dalam risetnya, Tono Saksono bersikap independen tanpa tekanan atau kepentingan tertentu. Sikap kritisnya bahkan ia tunjukkan meskipun tercatat sebagai anggota MTT PP Muhammadiyah; ia tidak sungkan berbeda pendapat dan mengkritisi keputusan Musyawarah Nasional Tarjih ke-31 yang menetapkan dip Subuh -18 derajat. Ia beralasan bahwa data dan analisis ISRN menggunakan metode yang kredibel sehingga dianggap valid. Sayangnya, saat putusan -18 derajat disepakati, ia tidak menggunakan hak dissenting opinion, yang dinilai sebagian pihak kurang sejalan dengan posisinya sebagai anggota di dalam organisasi tersebut.

​Respons dan Tantangan

​Tono Saksono secara terbuka menerima segala bentuk keberatan dan diskusi atas temuannya. Ia secara konsisten mengkritisi ketetapan Kementerian Agama, namun hingga kini belum ada respons, konfirmasi, atau diskusi yang terbangun, kendati Kementerian Agama pernah membantah adanya perubahan awal waktu Subuh melalui rilis media. Padahal, simpulan penelitian ISRN berbasis pada data dan metode ilmiah, sehingga seyogianya dijawab dengan data dan pengujian yang setara, bukan dengan narasi apologis atau sinis.

Baca...  Asal Usul Melayu di Nusantara

​Di kalangan pengkaji waktu Subuh di tanah air, penelitian Tono Saksono dan ISRN sering dipandang skeptis, terutama oleh kalangan yang berafiliasi dengan Kementerian Agama. Marak tanggapan di media sosial yang bersifat opini tanpa analisis ilmiah komprehensif. Praktis, belum ada periset di Indonesia yang mampu mengimbangi standar ilmiah yang dilakukan ISRN, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Seringkali, tanggapan atas penelitian ISRN bersifat apologis dan enggan menerima hasil riset orang lain. Ada kecenderungan bahwa riset fajar di tanah air dengan hasil di luar -20 derajat (misalnya -13,4 derajat atau -17 derajat) langsung ditolak dengan alasan pengaruh polusi cahaya, sinar bulan, atau faktor lainnya.

​Padahal, nilai kedalaman fajar yang didapat Tono Saksono dan ISRN bervariatif, dengan rentang antara -7 derajat hingga -16,6 derajat. Simpulan terkini (-13,0 derajat) merupakan rerata dari nilai tersebut. Perlu dicatat, sejumlah data ISRN juga menunjukkan nilai -18 derajat, namun jumlahnya sangat kecil sehingga dikategorikan sebagai outlier (blunder) dalam statistik dan harus diabaikan.

​Metode penarikan simpulan nilai dip model ini berbeda dengan yang diterapkan periset fajar lainnya di Indonesia, termasuk OIF UMSU. Gambar di bawah ini menunjukkan variasi nilai kedalaman fajar hasil riset Tono Saksono dan ISRN yang terbentang antara -7 derajat hingga -18 derajat.

(Sumber: OIF UMSU dan berbagai sumber)

231 posts

About author
Redaktur Kuliah Al Islam
Articles
Related posts
Keislaman

Hukum Penambangan Pasir Laut untuk Reklamasi

3 Mins read
Selain sebagai hamparan air biru yang indah, lautan kita adalah sistem pendukung kehidupan yang mahakampleks. Saat ini, perdebatan mengenai penambangan pasir laut…
OpiniPendidikan

Adab yang Hilang: Pentingnya Adab kepada Guru untuk Bangsa

4 Mins read
Kita bedah kasus viral yang bikin geram. Seorang murid di belakang punggung gurunya, bukan mengangkat jari telunjuk untuk bertanya, tapi jari tengah…
Pendidikan

Tes IQ dan Kesuksesan: Benarkah Angka Menentukan Nasib?

3 Mins read
Dalam ruang-ruang kelas dan meja wawancara kerja, sebuah angka sering kali menjadi momok yang menghantui: skor Tes IQ. Selama hampir satu abad,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
OpiniPendidikan

Adab yang Hilang: Pentingnya Adab kepada Guru untuk Bangsa

Verified by MonsterInsights