Keislaman

​Tafsir Surah Al-Hajj Ayat 1–2: Kedahsyatan Kiamat & Relevansi Modern

3 Mins read

Teks dan Terjemahan

​يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ . يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلu مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ

​Artinya: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya guncangan hari Kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar. Pada hari kamu melihatnya (guncangan itu), semua perempuan yang menyusui melupakan anak yang disusuinya, setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Akan tetapi, azab Allah itu sangat keras.”

​Surah Al-Hajj ayat 1–2 merupakan salah satu ayat yang menggambarkan secara kuat kedahsyatan Hari Kiamat. Allah SWT menyeru seluruh manusia untuk bertakwa dan memperingatkan bahwa guncangan pada hari tersebut adalah peristiwa yang sangat besar (Kementerian Agama RI, 2019). Gambaran Al-Qur’an mengenai manusia yang kehilangan kendali, ibu yang melupakan anaknya, serta kondisi psikologis yang menyerupai orang mabuk menunjukkan betapa dahsyatnya peristiwa tersebut.

​Sabab Nuzul

​Para ulama tafsir menjelaskan bahwa QS. Al-Hajj ayat 1–2 turun sebagai peringatan umum kepada manusia, khususnya masyarakat Arab yang saat itu meragukan adanya kebangkitan setelah kematian. Orang-orang musyrik Mekah menganggap bahwa manusia yang telah hancur menjadi tanah tidak mungkin dihidupkan kembali (At-Tabari, 2001). Maka dari itu, Allah menurunkan ayat ini untuk menegaskan bahwa Hari Kiamat pasti terjadi dan jauh lebih dahsyat daripada segala peristiwa di dunia.

​Dalam beberapa riwayat, ketika Nabi Muhammad SAW membacakan ayat ini kepada para sahabat, mereka merasakan ketakutan yang sangat mendalam. Namun, Nabi kemudian menenangkan mereka dengan menjelaskan bahwa rahmat Allah tetap luas bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa (Ibnu Katsir, 1999).

Baca...  Benarkah Ada Malaikat di Pundak Kita? Begini Kata Quraish Shihab

​Munasabah Ayat

​Hubungan QS. Al-Hajj dengan surah sebelumnya, QS. Al-Anbiya, sangat erat dalam membingkai tema hari akhir. Pada bagian akhir QS. Al-Anbiya, ditegaskan bahwa setiap manusia akan menerima balasan atas amalnya. QS. Al-Hajj kemudian membuka penjelasan secara lebih detail mengenai suasana Hari Kiamat tersebut.

​Selain itu, hubungan antara ayat 1 dan ayat 2 juga sangat kuat. Ayat pertama memerintahkan manusia untuk bertakwa karena dahsyatnya guncangan kiamat, sedangkan ayat kedua menjelaskan secara rinci bentuk kondisi manusia saat peristiwa itu terjadi. Dengan demikian, ayat pertama bersifat umum (ijmali), sedangkan ayat kedua memberikan gambaran konkret (tafshili).

​Kajian Kosa Kata dan Tafsir

​Beberapa istilah penting dalam ayat ini antara lain:

  • ​Yā ayyuhan-nās yang berarti “wahai manusia”, menunjukkan bahwa seruan ini bersifat universal untuk seluruh umat manusia (At-Tabari, 2001).
  • ​Ittaqū rabbakum yang berarti perintah untuk bertakwa, yaitu dengan menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
  • ​Zalzalatus-sā‘ah yang berarti guncangan besar Hari Kiamat.
  • ​Tadhhalu kullu murdi‘atin ‘ammā arda‘at menggambarkan seorang ibu menyusui yang sampai melupakan anaknya sendiri akibat ketakutan yang luar biasa.

​Menurut Ibnu Katsir (1999), ayat ini menegaskan bahwa Hari Kiamat adalah peristiwa nyata yang wajib diimani, sehingga manusia harus mempersiapkan diri dengan iman serta amal saleh. Sementara itu, At-Tabari (2001) menjelaskan bahwa seruan yang ditujukan kepada seluruh manusia mengindikasikan sifat universal dari peringatan ini tanpa terkecuali.

​Asy-Sya’rawi (1991) menambahkan bahwa ayat ini sebenarnya merupakan bentuk kasih sayang Allah agar manusia segera sadar sebelum terlambat. Guncangan yang disebutkan tidak hanya bersifat fisik (kosmis), tetapi juga guncangan psikologis yang membuat manusia kehilangan kendali atas dirinya. Sejalan dengan hal tersebut, Sayyid Qutb (1992) menyatakan bahwa Al-Qur’an menghadirkan suasana kiamat secara hidup (vivid) sehingga mampu menggugah kesadaran spiritual manusia. Tujuan utama ayat ini adalah menyentuh hati manusia agar segera kembali kepada Allah.

Baca...  Sejarah Tafsir Al-Qur'an: Dari Masa Nabi hingga Era Kitab

​Hikmah dan Relevansi dalam Kehidupan Modern

​QS. Al-Hajj ayat 1–2 sangat relevan dengan dinamika kehidupan modern yang penuh ketidakpastian. Meskipun manusia saat ini merasa lebih aman karena kemajuan teknologi, berbagai bencana besar seperti gempa bumi, banjir, kebakaran hutan, hingga pandemi global membuktikan bahwa manusia tetaplah makhluk yang penuh keterbatasan.

​Pandemi COVID-19 menjadi contoh nyata bagaimana tatanan dunia bisa berubah secara drastis dalam waktu singkat (Kementerian Agama RI, 2019). Selain itu, krisis sosial, peningkatan gangguan kesehatan mental, serta konflik global—seperti ketegangan geopolitik yang berdampak luas pada stabilitas ekonomi berbagai negara (Kompas.com, 2025)—menunjukkan bahwa kehidupan modern juga penuh dengan “guncangan” dalam manifestasi yang lain.

​Gaya hidup materialistis, tekanan media sosial, dan ketidakstabilan ekonomi sering kali membuat manusia kehilangan arah hidup. Dalam kondisi yang serbaterombang-ambing ini, ayat tersebut hadir sebagai pengingat bahwa satu-satunya pegangan yang kokoh adalah ketakwaan kepada Allah SWT.

​Kesimpulan

​QS. Al-Hajj ayat 1–2 adalah peringatan keras sekaligus penuh kasih sayang dari Allah SWT kepada seluruh manusia mengenai kedatangan Hari Kiamat yang penuh kedahsyatan. Gambaran tentang seorang ibu yang melupakan bayinya serta manusia yang tampak seperti mabuk menunjukkan betapa masifnya guncangan tersebut.

​Para mufasir seperti Ibnu Katsir, At-Tabari, Asy-Sya’rawi, dan Sayyid Qutb menegaskan bahwa ayat ini mengandung pesan utama tentang pentingnya ketakwaan, keimanan, dan amal saleh sebagai bekal mutlak menghadapi kehidupan akhirat.

​Dalam konteks modern, ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia sangat rapuh dan dapat berubah kapan saja. Oleh karena itu, manusia tidak boleh hanya bergantung pada kekuatan materi dan teknologi, melainkan harus menjadikan iman dan takwa sebagai fondasi utama. Kesiapan terbaik dalam menghadapi segala bentuk “guncangan”, baik di dunia maupun di akhirat kelak, adalah dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Baca...  Pengaruh Media Sosial Terhadap Pemahaman Akidah Gen-Z dan Solusi Pendidikan Islam

​Daftar Pustaka

​Asy-Sya’rawi, Muhammad Mutawalli. (1991). Tafsir Asy-Sya’rawi. Kairo: Akhbar al-Yaum Press.

​At-Tabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir. (2001). Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān. Beirut: Mu’assasah al-Risalah.

​Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (1999). Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

​Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan Tafsirnya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

​Kompas.com. (2025). “Menakar Untung Rugi Konflik Israel-Iran bagi Indonesia.” Diakses dari https://money.kompas.com/

​Sayyid Qutb. (1992). Fī Ẓilāl al-Qur’ān. Kairo: Dar al-Syuruq.

Related posts
KeislamanPendidikan

Urgensi Pembelajaran SKI dalam Membentuk Literasi Sejarah Gen Z

7 Mins read
Pendahuluan ​Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) memegang posisi sentral dalam lingkungan pendidikan Islam karena tidak hanya memuat kronologi masa lalu, melainkan…
KeislamanPendidikan

Menanamkan Nilai Toleransi SKI SD/MI lewat Piagam Madinah dan Pancasila

5 Mins read
​Indonesia ialah rumah besar bagi ratusan suku, bahasa, dan keyakinan. Di tengah keragaman yang begitu luas dan indah ini, menanamkan benih toleransi…
KeislamanPendidikan

Transformasi Pembelajaran SKI SD/MI: Membumikan Moderasi Beragama

4 Mins read
​Pendahuluan ​Indonesia merupakan ruang hidup bersama yang ditakdirkan berdiri di atas keanekaragaman suku, ras, budaya, dan agama. Keberagaman ini adalah kekayaan sosial…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
KeislamanSejarah

Sejarah Tafsir Al-Qur'an: Dari Masa Nabi hingga Era Kitab