Seorang ahli ilmu pernah mengisahkan bahwa sebagian sahabat Nabi saw. merasa sedih jika saat bangun tidur melihat keluarganya memiliki kekayaan. Sebaliknya, jika tidak memiliki apa pun, mereka justru merasa gembira dan bahagia.
Melihat hal itu, seseorang bertanya kepada para sahabat, “Orang-orang biasanya bersedih ketika tidak memiliki harta dan bahagia saat memilikinya, tetapi mengapa kalian justru sebaliknya?”
Mereka menjawab, “Jika aku bangun tidur dan keluargaku tidak memiliki apa pun, aku bahagia karena merasa memiliki teladan dalam diri Nabi Muhammad saw. Namun, jika keluargaku memiliki sesuatu (harta), aku sedih karena merasa tidak lagi mengikuti jejak kesederhanaan beliau.”
Gus Ulil (Ulil Abshar Abdalla) menjelaskan bahwa sikap ini sangat kontras dengan “ulama pencinta dunia” (ulama al-su’). Mereka justru didera kecemasan luar biasa saat kehilangan harta. Karena terlalu mencintai kekayaannya, mereka justru merasa cemas dan sedih ketika dituntun menuju jalan kemakmuran yang hakiki (akhirat).
Mengabaikan Rasa Syukur
Inilah ciri para pendahulu yang saleh (salafush shalih); mereka memiliki kebajikan yang jauh lebih besar. Kepada para ulama pencinta dunia, dikatakan: “Demi Allah! Apakah kalian merasa setara dengan para sahabat itu? Kalian sangat jauh dari rupa mereka. Kalian sombong dalam kekayaan, membual dalam kemakmuran, dan hanya bersenang-senang dalam kebahagiaan sembari mengabaikan rasa syukur.”
“Kalian telah diberkahi kelimpahan, namun putus asa di saat sulit. Kalian tidak rida atas cobaan dan ketetapan Allah. Kalian membenci kemiskinan dan muak dengan kekurangan. Kalian menumpuk harta hanya karena takut miskin.”
Ketidakpercayaan terhadap jaminan rezeki Allah SWT adalah seburuk-buruk persangkaan dan termasuk dosa besar. Nabi Muhammad saw. telah bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling buruk di antara umatku adalah mereka yang hidup dalam kemewahan dan tubuh mereka tumbuh darinya.”
Kehilangan Akhirat Demi Kenikmatan Dunia
Sebagian ulama berkata bahwa pada Hari Kiamat nanti, sekelompok orang datang menuntut pahala. Namun, mereka justru diberitahu: “Kamu telah menghabiskan bagianmu di dunia dan menikmatinya dalam kelalaian. Kamu kehilangan kebahagiaan akhirat demi kenikmatan dunia. Sungguh, itu adalah penyesalan dan malapetaka!”
Harta yang dikumpulkan hanya untuk status sosial, kesombongan, dan perhiasan duniawi akan membawa pelakunya bertemu Allah SWT dalam keadaan murka. Namun, banyak yang tidak peduli karena sudah tenggelam dalam syahwat duniawi.
Mungkinkah Anda merasa senang di dunia karena lebih mencintai harta daripada Allah Yang Maha Kuasa? Jika Anda membenci pertemuan dengan Allah, ketahuilah bahwa Allah pun lebih membenci pertemuan dengan Anda.
Nabi saw. bersabda: “Barang siapa berduka atas harta duniawi yang terlewatkan, maka ia akan semakin dekat dengan api neraka sejauh perjalanan satu bulan (ada yang menyebut satu tahun).” Banyak orang lebih meratapi kehilangan materi daripada merisaukan jarak mereka dengan azab Allah. Bahkan, ada yang tega menyimpangkan agama demi keuntungan materi. Padahal, jika rasa cinta dunia sudah memenuhi hati, maka rasa takut akan akhirat akan lenyap.
Tanggung Jawab Harta di Akhirat
Ulama memperingatkan bahwa setiap kesedihan atas urusan dunia dan kegembiraan atas perolehan materi akan dimintai pertanggungjawaban. Sering kali manusia menganggap dosa sebagai beban ringan, namun menganggap kehilangan harta sebagai musibah besar.
Banyak yang rela menyembunyikan kesalahan dari sesama manusia karena takut dihina, tetapi tidak malu dipandang rendah oleh Allah SWT. Seolah-olah penilaian hamba lebih penting daripada penilaian Sang Khalik.
Bagaimana mungkin seseorang berbicara di hadapan orang berakal dengan membawa nama para sahabat sebagai dalil, sementara tujuannya hanya untuk meraup dunia? Sungguh jauh perbandingannya. Para sahabat lebih menjauhi perkara yang halal karena takut syubhat, sementara orang zaman sekarang justru berani mendekati yang haram.
Gus Ulil menegaskan, begitulah perilaku ulama su’ (ulama jahat). Mereka memang berilmu, namun pengetahuannya digunakan sebagai alat mengejar popularitas, harta, dan jabatan. Mereka mengikuti hawa nafsu, memutarbalikkan fakta, dan menjerumuskan umat demi keuntungan pribadi. Secara umum, mereka menyalahgunakan agama untuk kepentingan duniawi semata. Wallahu a’lam bisshawab.

