KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Tanggung Jawab Harta dalam Islam: Ngaji Ihya Ulumuddin Gus Ulil

2 Mins read

Pada pengajian Ihya’ Ulumuddin episode ke-429, Gus Ulil menjelaskan lima pokok tanggung jawab dalam mengelola harta yang harus dipatuhi oleh setiap pemiliknya.

​Pertama, memahami maksud penciptaan harta. Kita harus mengerti mengapa harta diciptakan. Jika paham tujuannya, kita tidak akan menimbunnya secara berlebihan. Kedua, memastikan asal-usul harta. Sangat penting memastikan harta didapat dari jalan yang halal. Gus Ulil mencontohkan bagaimana ulama terdahulu sangat berhati-hati menghindari pemberian penguasa karena khawatir berasal dari hasil menjarah rakyat.

​Ketiga, mengukur kadar harta. Artinya, mengambil secukupnya untuk kebutuhan hidup seperti rumah, pakaian, dan makanan tanpa berlebihan. Keempat, pengeluaran yang bijak. Seseorang harus berhemat dan menggunakan harta hanya untuk apa yang memang menjadi haknya.

​Kelima, memperbaiki niat. Saat mengambil atau memberikan harta, niatkanlah demi ibadah. Jika kebutuhan sudah tercukupi, alihkan kelebihan harta tersebut kepada mereka yang membutuhkan.

​Hakikat Makna Zuhud

​Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. pernah berkata:

قال علي رضيَ اللهُ عنهُ : لو أنَّ رجلاً أخذ جميع ما في الأرض وأراد به وجه الله تعالى .. فهو زاهدٌ ، ولو أنه ترك الجميع ولم يرد به وجه الله تعالى .. فليس بزاهد

“Seandainya seseorang mengambil seluruh kekayaan yang ada di bumi hanya karena mengharapkan rida Allah SWT, maka dia adalah seorang yang zuhud. Sebaliknya, seandainya ia meninggalkan seluruh dunia namun tidak mengharapkan rida Allah, maka ia bukanlah seorang yang zuhud.”

​Gus Ulil menekankan bahwa zuhud bukanlah ketiadaan harta, melainkan kesucian hati dari keterikatan duniawi. Bukankah Nabi Sulaiman as. tetap tergolong orang yang zuhud di tengah gemerlap kekuasaannya?

​Oleh karena itu, orang kaya bisa menjadi zuhud jika hatinya tidak terikat pada hartanya. Sebaliknya, orang miskin bisa jadi tidak zuhud jika hatinya terus-menerus meratapi kemiskinannya atau silau pada dunia. Di sinilah pentingnya niat. Niatkan segala kondisi hanya karena Allah agar bernilai akhirat. Rasulullah SAW bersabda:

Baca...  Mengapa Orang Paling Alim Bisa Jadi Predator Paling Berbahaya?

​إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى…

“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim).

​Zuhud adalah konsep menjauhi keterikatan dunia, bukan sekadar mengisolasi diri. Seseorang yang zuhud tidak akan larut dalam kegembiraan saat memiliki harta, dan tidak pula tenggelam dalam kesedihan saat kehilangan.

​Bahaya Menjadi Kaya Tanpa Ilmu

​Gus Ulil mengingatkan agar kita tidak sekadar ikut-ikutan ingin kaya tanpa memiliki ilmunya. Mengambil pembenaran dari kisah sahabat Nabi yang kaya raya tanpa memahami dasar spiritualnya adalah kekeliruan besar. Tanpa ilmu, seseorang hanya meniru tampilan luar tanpa mampu menyikapi harta dengan benar.

​Orang seperti ini ibarat anak kecil yang meniru pawang ular. Jika asal pegang, ia akan dipatuk. Harta, layaknya ular, bisanya bisa menjadi obat namun juga bisa membunuh. Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali memberi perumpamaan:

هي دنيا كحية تنفث السم * وإن كانت المجسة لانت

“Dunia ini bagaikan ular yang menyemburkan bisa, meskipun sentuhannya terasa lembut.”

​Antara Orang Kaya dan Fakir

​Mana yang lebih utama: orang kaya yang bersyukur atau orang fakir yang sabar? Ulama berbeda pendapat. Sebagian menyebut orang kaya yang bersyukur lebih utama karena hartanya bermanfaat bagi orang lain (manfaat sosial). Sedangkan pahala fakir yang sabar cenderung hanya untuk dirinya sendiri.

​Namun, ulama lain berpendapat fakir yang sabar lebih utama karena harta bagi orang kaya adalah fitnah (ujian) yang sewaktu-waktu bisa melalaikan dari Tuhan. Kesimpulannya, sikapi dunia sewajarnya, jangan berlebihan, dan jadikan ilmu sebagai penuntunnya. Wallahu a’lam bisshawab.

428 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

Menanam Iman Lewat Keteladanan: Mengapa Anak Lebih Meniru Orang Tua

8 Mins read
​Pendahuluan ​Seorang ibu menegur putranya yang berumur tujuh tahun karena belum menunaikan shalat Asar. “Shalat itu wajib, Nak, ayo segera berwudhu,” ujarnya….
KeislamanPendidikan

Menghidupkan Nilai Keimanan Lewat Refleksi Diri Anak SD

3 Mins read
​Masa sekolah dasar adalah fase ketika anak mulai menyusun penilaian tentang dirinya sendiri. Di kelas-kelas awal, anak biasanya tumbuh percaya diri dan…
KeislamanPendidikan

Peran Guru Akidah Akhlak dalam Menumbuhkan Iman Anak di Era Digital

8 Mins read
Pendahuluan ​Perkembangan teknologi digital telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan anak-anak. Saat ini, anak dapat dengan mudah mengakses berbagai informasi melalui internet,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Opini

Melindungi atau Mengancam? Refleksi Kekerasan Oknum Aparat