Keislaman

Konsep Kebahagiaan Ibn Arabi dalam Perspektif Wahdatul Wujud

10 Mins read

ABSTRACT

​Happiness is a fundamental right for all living beings, not just humans. As one of the necessities of life, humans mobilize all their energy to attain happiness. To date, the concept of happiness has been widely discussed by philosophers and Sufis, who hold distinct views on its meaning. This article seeks to explore happiness according to Ibn Al-Arabi from the perspective of Wahdatul Wujud Sufism. This research employs a qualitative method, specifically library research. The data sources are obtained from written literature relevant to Ibn Al-Arabi’s thought. In the context of Wahdatul Wujud, Ibn Al-Arabi envisions happiness as bringing God into man or finding God within oneself. Consequently, one claims to have found God both in nature and within themselves.

Keywords: Happiness, Wahdatul Al-Wujud, Ibn Al-Arabi

ABSTRAK

​Kebahagiaan merupakan hak semua makhluk hidup, tak terkecuali manusia. Sebagai salah satu kebutuhan dalam kehidupan, manusia mengerahkan seluruh tenaganya untuk memperoleh kebahagiaan. Sejauh ini, pembahasan tentang kebahagiaan sudah banyak dikaji oleh para filsuf dan sufi. Keduanya memiliki pandangan yang berbeda dalam mengartikan kebahagiaan. Artikel ini berupaya mengkaji kebahagiaan menurut Ibn Al-Arabi dalam perspektif tasawuf Wahdatul Wujud. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif jenis studi pustaka (library research). Sumber data yang diperoleh peneliti berasal dari literatur kepustakaan yang relevan dengan pemikiran Ibn Al-Arabi. Dalam konsep kebahagiaan Wahdatul Wujud, Ibn Al-Arabi memandang bahwa manusia menyatukan Tuhan ke dalam dirinya atau menemukan Tuhan di dalam dirinya, sehingga mereka menyatakan telah menemukan Tuhan baik di alam maupun di dalam diri mereka sendiri.

Kata Kunci: Ibn Arabi, Wahdat Al-Wujud, Kebahagiaan

PENDAHULUAN

​Pada hakikatnya, tujuan utama manusia dilahirkan di dunia ini secara naluriah adalah untuk mendapatkan kehidupan yang bahagia. Hal ini tidak hanya sebatas penekanan, tetapi juga strategi mendalam pada jiwa manusia. Syekh Muhammad Naquib Al-Attas mengingatkan bahwa penekanan pada individu mengimplikasikan pengetahuan akal, nilai, jiwa, tujuan, dan maksud yang sebenarnya dari kehidupan ini. Sebab akal, nilai, dan jiwa adalah unsur-unsur inheren setiap individu.

​Ada begitu banyak pandangan dan pendapat mengenai kebahagiaan. Mulai dari filsuf Yunani, Sokrates, yang menyatakan bahwa budi ialah tahu. Orang yang memiliki pengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Jalan menuju kebaikan adalah jalan yang terbaik untuk mencapai kebahagiaan atau kesenangan hidup. Namun, Sokrates tidak pernah mempersoalkan definisi rinci tentang apa itu kebahagiaan, sehingga murid-muridnya memberikan pendapat mereka sendiri tentang hal tersebut. Selanjutnya, Plato, salah satu murid Sokrates, berpendapat berdasarkan ajarannya tentang ide bahwa kebahagiaan tertinggi tidak bisa diperoleh di dunia; kebahagiaan tertinggi baru bisa didapatkan ketika jiwa sudah terpisah dari jasad. Plato berpandangan bahwa kebahagiaan tertinggi hanya ada pada jiwa, bukan pada jasad. Jika jiwa masih bersatu dengan tubuh yang fana dan terikat berbagai kepentingan jasad, berarti jiwa belum benar-benar bahagia. Artinya, bagi Plato, kebahagiaan yang hakiki baru bisa dirasakan manusia di akhirat kelak.

​Berbeda dengan Plato, Aristoteles memiliki pandangan yang berlawanan. Menurut Aristoteles, hidup yang selalu berbuat baik kepada orang lain dapat dikatakan sebagai ”kebahagiaan”. Kebahagiaan adalah kebaikan intrinsik dan merupakan tujuan dalam diri manusia masing-masing. Tegasnya, kebahagiaan adalah sesuatu yang terintegrasi dan memuaskan. Selanjutnya, kebahagiaan atau kesejahteraan dapat diperoleh manusia di dunia jika manusia berusaha keras untuk mengusahakannya. Kebahagiaan adalah apa yang kita cari demi dirinya sendiri (eudaimonia). Dengan demikian, kebahagiaan bagi Aristoteles adalah tercapainya apa yang kita butuhkan di dunia ini, termasuk terpenuhinya kepentingan materi. Jadi, kebahagiaan menurut Aristoteles terkait dengan materi, sehingga kebahagiaan tertinggi bisa dicapai di dunia ini.

​Tasawuf telah memberikan sumbangan yang sangat besar dalam kehidupan spiritual dan khazanah intelektual Islam. Pengaruh tasawuf tidak hanya pada golongan elite agama, tetapi menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Tasawuf telah memengaruhi sikap hidup, moral, tingkah laku masyarakat, kesadaran estetik, sastra, filsafat, pandangan hidup, dan yang paling mutakhir adalah memengaruhi dunia sains (psikologi). Dalam perjalanan sejarahnya, tasawuf tidak luput dari kecurigaan dan kecaman keras dari golongan Islam ortodoks. Konflik yang timbul antara pro dan kontra terhadap ajaran tasawuf bisa dilukiskan sebagai konflik antara ahli tasawuf dan ahli fikih, konflik antara ahli syariat dan ahli hakikat, serta konflik antara penganut ajaran esoterik (batini) dan penganut ajaran eksoterik (zahiri). Konflik antara kedua golongan ini tidak dapat dihindarkan, lebih-lebih ketika munculnya gerakan Tasawuf Falsafi. Gerakan ini dipelopori oleh Abu Yazid Al-Bistami (w. 261/875) dengan ajaran Ittihad, kemudian ajaran Hulul yang dipopulerkan oleh Husayn ibn Mansur Al-Hallaj (w. 309/922), dan mencapai puncaknya dengan ajaran Wahdah Al-Wujud oleh Muhyi Al-Din Ibn Al-Arabi (w. 638/1240).

Baca...  Benarkah Tafsir al-Jilani Karya Syekh ‘Abd al-Qadir al-Jilani?

​Doktrin Wahdah Al-Wujud sebenarnya tidak dibuat oleh Ibn Arabi sendiri, melainkan oleh murid-muridnya yang fanatik terhadap Ibn Arabi, di antaranya Shadr Al-Din Qunawi (606 H/1210 M), Afif Al-Din Al-Tilimsani (690 H/1291 M), Sa’d Al-Din Hammuyah (649 H/1252 M), dan lain sebagainya. Adapun Ibn Arabi sendiri, sekalipun tidak pernah menggunakan istilah Wahdah Al-Wujud, dianggap sebagai pendiri doktrin tersebut karena ajaran-ajarannya mengandung ide tentang kesatuan wujud. Banyak literatur yang mengartikan atau mensinonimkan istilah Wahdah Al-Wujud dengan “panteisme“. Istilah ini secara tidak langsung memperkuat anggapan bahwa Ibn Arabi mengajarkan paham panteisme. Para pakar memiliki perbedaan penafsiran tentang Wahdah Al-Wujud; ada yang sependapat bahwa Wahdah Al-Wujud sama dengan panteisme, ada yang tidak sepakat, bahkan ada juga yang memberikan pengertian tersendiri.

METODE PENELITIAN

​Penelitian ini merupakan studi pustaka (library research). Oleh sebab itu, data yang dikumpulkan bersumber dari literatur kepustakaan yang relevan dengan pemikiran Ibn Al-Arabi. Semua data diperoleh dari berbagai sumber, baik sumber primer maupun sekunder. Sumber primer adalah buku karangan Ibn Arabi, sedangkan sumber sekunder adalah buku atau artikel tulisan orang lain tentang pemikiran Ibn Arabi melalui pendekatan hermeneutika. Analisis data merupakan upaya untuk menata dan mendeskripsikan secara sistematis guna mempermudah pemahaman terhadap objek yang sedang diteliti. Dalam menganalisis data yang telah diperoleh, peneliti menggunakan beberapa metode analisis, di antaranya sebagai berikut:

Reduksi Data

Tahap ini merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian, pengabstraksian, dan transformasi data kasar yang diambil dari buku dan artikel. Inti dari reduksi data adalah proses penggabungan dan penyeragaman segala bentuk data menjadi bentuk tulisan yang akan dianalisis.

Penafsiran Hermeneutik

Metode Hermeneutika adalah metode untuk mencari dan menemukan makna yang terkandung dalam objek penelitian berupa fenomena kehidupan manusia, melalui pemahaman dan interpretasi. Cara kerja hermeneutika adalah mencakup kosakata atau arti kata-kata baru dalam satu kalimat, serta penerapannya dalam hidup manusia. Metode hermeneutika dapat menjadikan peneliti lebih tajam dalam meneliti setiap makna yang terkandung dalam penelitian.

Komparasi

Kata “komparasi” berasal dari bahasa Inggris comparison, yaitu perbandingan. Makna dari kata tersebut menunjukkan bahwa dalam penelitian ini peneliti bermaksud mengadakan perbandingan kondisi atau pemikiran yang ada di dua tempat/sumber, apakah kedua kondisi tersebut sama, atau ada perbedaan.

PEMBAHASAN

Biografi Ibn Al-Arabi

Nama lengkapnya adalah Muhammad Ibn Ali Ibn Muhammad Ibn Al-Arabi Al-Ta’i Al-Hatimi. Ia merupakan sufi keturunan suku Arab kuno Ta’i. Ia sangat dikenal dengan nama Ibn Arabi (tanpa Al-) untuk membedakannya dengan tokoh lain, karena ada dua tokoh besar dalam dunia Islam yang memiliki nama serupa dan sama-sama berasal dari Andalusia, yaitu Abu Bakr Muhammad Ibn Abdallah Ibn Al-Arabi Al-Ma’arafitri (468-534 H/1076-1148 M), seorang pakar Hadis dan Qadhi dari Seville. Dua gelar termasyhur yang diperoleh Ibn Arabi adalah Muhyi Al-Din (Penghidup Agama) dan Al-Syaykh Al-Akbar (Doctor Maximus, Syekh Terbesar). Ia juga mendapatkan gelar Ibn Aflatun (Putera Plato) atau Sang Platonis. Ayahnya, Ali Ibn Arabi, berasal dari keluarga asli Arab Kuno dari Yaman, sedangkan ibunya berasal dari keluarga Berber dari Afrika Utara. Ayahnya merupakan seorang pegawai pemerintahan pada masa Muhammad Ibn Sa’id ibn Mardanisy (penguasa Murcia). Ibn Arabi berasal dari keluarga yang sangat terhormat, karena pamannya (dari pihak Ibu) merupakan penguasa Tlemcen, Algeria. Ketika Dinasti Al-Muwahhidun menaklukan Murcia pada 567 H/1172 M, ia sekeluarga pindah ke Seville, di mana ayahnya diangkat kembali menjadi pegawai pemerintahan atas kebaikan Abu Yakub Yusuf. Semenjak menetap di Seville pada usia delapan tahun, Ibn Al-Arabi memulai pendidikan formalnya.

​Di kota yang dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan tersebut, di bawah bimbingan sarjana-sarjana terkenal, ia mempelajari Al-Qur’an, Tafsir, Hadis, Fikih, Teologi, dan filsafat Skolastik. Seville merupakan pusat Sufisme penting dengan sejumlah guru terkemuka yang tinggal di sana. Keberhasilannya dalam pendidikan mengantarkannya pada kedudukan sebagai sekretaris Gubernur Seville. Pada periode tersebut, ia menikah dengan seorang gadis muda yang saleh bernama Maryam. Suasana kehidupan guru-guru sufi dan kesertaan para istri mereka dalam mengikuti jalan sufi adalah faktor kondusif yang mempercepat perkembangan pembentukan diri Ibn Arabi menjadi seorang sufi. Ia memasuki jalan sufi (tarekat) secara formal pada tahun 580 H/1184 M, saat berusia dua puluh tahun.

​Di antara karya yang telah dibuatnya adalah Al-Futuhat Al-Makiyyah yang ditulis pada tahun 1201 saat ia sedang menjalankan ibadah haji. Karya lainnya adalah Tarjuman Al-Asywaq yang ditulis untuk mengagumi kecantikan, ketakwaan, dan kepintaran seorang gadis sufi dari Persia. Karya lainnya, sebagaimana dilaporkan oleh Muolvi, yaitu Masyahid Al-Asrar, Mathali’ Al-Anwar Al-Ilahiyyah, Hilyat Al-Abdal, Kimiya As-Sa’adat, Muhadharat Al-Abrar, Kitab Al-Akhlaq, Majmu’ Ar-Rasa’il Al-Ilahiyyah, Mawaqi’ An-Nujum, Al-Jam’ wa At-Tafshil fi Haqa’iq Al-Tanzil, Al-Ma’rifah Al-Ilahiyyah, dan Al-Isra’ ila Maqam Al-Asna.

Baca...  Taqiyyah di Antara Sunni–Syiah: Membuka Tafsir Al Razi dan Al Kasyani

Konsep-konsep Kebahagiaan

Kebahagiaan dalam bahasa Yunani disebut dengan istilah eudaimonia. Kata ini terdiri dari dua suku kata, “eu” (baik, bagus) dan “daimon” (roh, dewa, kekuatan batin). Dengan demikian, kata “bahagia” dalam bahasa Indonesia belum cukup kuat menjelaskan maksud yang benar dari kata Yunani tersebut.

​Secara harfiah, eudaimonia artinya ”memiliki roh penjaga yang baik”. Dalam bahasa Yunani, eudaimonia berarti kesempurnaan, atau lebih tepatnya berarti “mempunyai daimon yang baik”, dan yang dimaksudkan dengan daimon adalah jiwa. Sementara itu, terdapat sebuah pandangan yang berakar dari istilah ini, yaitu Eudaimonisme.

​Eudaimonisme adalah pandangan hidup yang menganggap kebahagiaan sebagai tujuan segala tindak-tanduk manusia. Dalam eudaimonisme, pencarian kebahagiaan merupakan prinsip paling dasar. Kebahagiaan yang dimaksud tidak hanya terbatas pada perasaan subjektif seperti senang atau gembira (aspek emosional), melainkan lebih mendalam dan objektif terkait pengembangan seluruh aspek kemanusiaan suatu individu (aspek moral, sosial, emosional, rohani). Kebahagiaan juga berasal dari kata Sanskerta bhagya, yang berarti jatah yang menyenangkan atau keberuntungan. Dengan demikian, kebahagiaan berarti suatu kondisi sejahtera yang ditandai dengan keadaan yang relatif tetap, dibarengi emosi yang secara umum gembira, mulai dari sekadar rasa suka sampai dengan kegembiraan menjalani kehidupan, serta adanya keinginan alamiah untuk melanjutkan keadaan ini. Dalam perspektif ini, bahagia pada dasarnya berkaitan dengan kondisi kejiwaan manusia.

​Berikut ini merupakan konsep-konsep kebahagiaan menurut para tokoh:

a) Plato: Sangat dipengaruhi tradisi spiritualis, bahwa ketika manusia sudah merasakan kebahagiaan di dunia, maka otomatis manusia akan dapat merasakan kebahagiaan di akhirat.

b) Aristoteles: Pemaksimalan potensi yang terdapat di dalam diri manusia dan diarahkan ke luar dirinya dengan melakukan keutamaan-keutamaan. Jadi tidak hanya sebatas gerak ke dalam setelah impresi-impresi, tetapi ada tahap kontemplasi dan aktualisasi diri terhadap masyarakat.

c) Al-Ghazali: Kebahagiaan terbungkus oleh kenikmatan yang terbagi menjadi dua, yaitu kenikmatan dunia dan kenikmatan ukhrawi (akhirat).

d) Al-Farabi: Kebahagiaan adalah hidup bersama dalam mencapai kebahagiaan (kolektif).

Wahdat Al-Wujud

a. Sejarah Singkat Istilah Wahdat Al-Wujud

Doktrin Wahdat Al-Wujud biasanya selalu dikaitkan dengan Ibn Al-Arabi karena tokoh tersebut sering dianggap sebagai pencetusnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika selama ini anggapan umum menyatakan istilah Wahdat Al-Wujud berasal dari atau diciptakan oleh Ibn Al-Arabi. Kajian ilmiah tentang sufisme yang banyak dilakukan oleh para orientalis maupun sarjana Muslim selama beberapa dasawarsa tidak mempersoalkan anggapan yang telah lama berlaku ini.

​Meskipun doktrin Wahdat Al-Wujud terhubung dengan aliran Ibn Al-Arabi, doktrin yang senada telah diajarkan beberapa sufi jauh sebelum Ibn Al-Arabi. Ma’ruf Al-Karkhi (w. 200/815), seorang sufi terkenal di Baghdad yang hidup empat abad sebelum Ibn Al-Arabi, dianggap pertama kali mengungkap syahadat dengan kata: ”tiada sesuatu pun dalam wujud kecuali Allah”. Abu Al-Abbas (hidup pada abad ke-10) mengungkapkan kata-kata yang hampir sama: ’Tiada sesuatu pun dalam dua dunia kecuali Tuhanku. Segala sesuatu yang ada (mawjudat), segala sesuatu selain wujud-Nya, adalah tiada (ma’dum).’ Khwaja Abdallah Ansari (w. 481/1089) menyatakan bahwa “tauhid orang-orang terpilih” adalah doktrin “Tiada sesuatu pun selain Dia” (Laysa ghayrahu ahad). Jika diberi pertanyaan: ”Apa tauhid itu?,” ia menjawab: ”Tuhan, dan tidak ada yang lain. Yang lain adalah kebodohan (hawas).”

​Penelitian pertama kali tentang sejarah istilah Wahdat Al-Wujud yang dilakukan oleh W.C. Chittick menunjukkan bahwa Sadr Al-Din Al-Qunawi (w. 673/1274) menggunakan istilah ini setidaknya sebagai suatu istilah teknis yang independen. Istilah ini muncul secara wajar dalam pembicaraan tentang wujud Tuhan dan keesaan-Nya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Al-Qunawi adalah orang pertama yang menggunakan istilah Wahdat Al-Wujud. Pendapat ini membatalkan dugaan Ibrahim Madkur dan Su’ad Al-Hakim bahwa Ibn Taimiyah adalah orang pertama yang menggunakan istilah Wahdat Al-Wujud. Al-Qunawi menggunakan istilah tersebut untuk memberitahu bahwa keesaan Tuhan, sesuai dengan ide dari Ibn Al-Arabi, tidak mencegah keanekaan penampakan-Nya. Meskipun Esa dalam zat-Nya atau dalam hubungan-Nya dengan tanzih-Nya, wujud adalah banyak sekali dalam penampakan-Nya atau dalam hubungan dengan tasybih-Nya.

b. Pengertian Wahdat Al-Wujud

Secara etimologi (bahasa), Wahdat Al-Wujud terdiri dari dua kata yakni Wahdat dan Al-Wujud. Wahdat artinya tunggal atau kesatuan, sedangkan Wujud berarti ada, keberadaan, atau eksistensi. Sedangkan secara terminologi (istilah), Wahdat Al-Wujud berarti bersatunya Tuhan dengan alam atau dengan perkataan lain Tuhan merupakan hakikat alam. Dengan demikian, secara radikal istilah Wahdat Al-Wujud berarti paham yang menyamakan Tuhan dengan alam semesta. Paham ini mengakui tidak ada perbedaan antara Tuhan dengan makhluk; kalaupun ada, maka hanya kepada Tuhan kita meyakini bahwa Tuhan itu adalah totalitas, sedangkan makhluk merupakan bagian dari totalitas tersebut. Tuhan (Allah SWT) menampakkan diri pada apa saja yang ada di alam semesta ini; semuanya merupakan penjelmaan-Nya, tidak ada sesuatu apa pun di alam ini kecuali hanyalah Dia.

Baca...  Mu'awiyah bin Abi Sufyan: Khalifah Pertama Dinasti Umayyah dan Pembentuk Peradaban Islam

​Kata “wujud”, terutama dan lebih khusus bagi Ibn Al-Arabi, hanyalah untuk menyebut Tuhan. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, satu-satunya wujud adalah wujud Tuhan; tidak ada wujud lainnya selain wujud Tuhan. Ini berarti, apa pun selain Tuhan tidak mempunyai wujud hakiki. Secara pemikiran dapat disimpulkan, kata wujud tidak dapat diberikan kepada segala sesuatu selain Tuhan (ma siwa Allah), termasuk alam dan segala sesuatu yang ada di dalamnya.

c. Pemikiran Ibn Al-Arabi

Secara historis, jelas ada pergeseran atau perkembangan pada sistem pemikiran Ibn Arabi. Awalnya, ia cenderung kepada Aristotelian ketika menyatakan bahwa eksistensi adalah patokan segala sesuatu. Kemudian, ia berubah menjadi Platonis ketika menyatakan bahwa wujud yang sebenar-benarnya bukan pada sesuatu yang terlihat nyata dan konkret ini, tetapi pada yang transenden dan itu hanya satu, yakni Tuhan. Terakhir, pemikirannya berkembang menjadi kolaborasi Platonis dan Aristotelian, yakni bahwa realitas adalah percampuran antara yang transenden dan nyata (Wahdat Al-Wujud), meski dengan pemikiran khas Ibn Arabi. Gagasan orisinal Ibn Arabi adalah pemikiran kesatuan realitas (Wahdat Al-Wujud), walaupun dasar-dasarnya diambil dari berbagai sumber, antara lain pemikiran Ittihad (penyatuan manusia dengan Tuhan) Al-Hallaj.

​Perbedaan pemikiran Al-Hallaj dan Ibn Arabi dapat dibandingkan sebagai berikut: (1) Dalam teori Al-Hallaj, persoalan yang ditekankan hanya soal hubungan antara Tuhan (Al-Lahut) dan manusia (Al-Nasut), bahwa sifat kemanusiaan hadir pada Tuhan dan sifat ketuhanan hadir pada manusia. Sedangkan dalam teori Ibn Arabi menjadi lebih luas, yakni hubungan antara Tuhan (Al-Haqq) dan semesta (Al-Makluq). (2) Dalam teori Al-Hallaj masih ada dualisme manusia dan Tuhan. Dalam Ibn Arabi, dualisme tersebut lebur—kecuali dualisme semu dan nisbi—yang ada hanya keesaan realitas, yakni keesaan dengan dua wajah seperti satu mata uang, meski dua realitas tersebut tetap berbeda dan tidak sederajat. Konsep Wahdah Al-Wujud Ibn Arabi ini selangkah lebih berani dibandingkan dengan gagasan emanasi Al-Farabi, karena di dalam emanasi masih ada jarak dan perbedaan antara Tuhan dan makhluk, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, sementara dalam Wahdah Al-Wujud tidak ada lagi jarak di antara keduanya. Namun demikian, bukan berarti semesta identik dengan Tuhan. Alam hanyalah perwujudan dari asma-asma-Nya. Sebagaimana yang telah diikrarkan di dalam syahadat La ilaha illa Allah, yaitu pengakuan bahwa makhluk bukanlah Tuhan, melainkan keberadaan-Nya juga tidak bisa disamakan dengan selain-Nya, sehingga tidak ada satu pun wujud yang bisa mandiri dan lepas dari-Nya.

KESIMPULAN

​Pada hakikatnya, tujuan manusia yang dilahirkan di dunia ini secara naluriah tidak menolak untuk mendapat kehidupan yang layak atau mendapatkan kebahagiaan. Ada begitu banyak konsep kebahagiaan, mulai dari filsuf Yunani Sokrates sampai filsuf Muslim Al-Farabi. Dalam pandangan Wahdat Al-Wujud Ibn Al-Arabi, kebahagiaan adalah kondisi di mana tidak ada batasan lagi antara manusia dengan Tuhan. Paham ini menyamakan Tuhan dengan alam semesta dan mengakui tidak ada perbedaan esensial antara Tuhan dengan makhluk. Kalaupun ada pembedaan, kita meyakini bahwa Tuhan adalah totalitas, sedangkan makhluk merupakan bagian dari totalitas tersebut. Tuhan (Allah SWT) menampakkan diri pada apa saja yang ada di alam semesta ini, dan semuanya merupakan penjelmaan-Nya. Dengan meyakini segala sesuatu adalah manifestasi Tuhan, orang-orang yang telah menemukan Tuhan dalam alam dan dirinya sendiri adalah mereka yang telah menyingsingkan tabir pemisah, sehingga mereka menyatakan telah menemukan Tuhan baik di alam maupun di dalam diri mereka.

DAFTAR PUSTAKA

​Al Mundzir, Mohammad Darwis. “Makna Kebahagiaan Menurut Aristoteles (Studi Atas Etika Nikomachea).” Institut Agama Islam Negeri Tulungagung, 2015.

​Anwar, Rosihan. Akhlak Tasawuf. Bandung: CV Pustaka Setia, 2010.

​Arrasyid. “Konsep Kebahagiaan Dalam Tasawuf Modern Hamka.” Refleksi, Vol.19 (2019): 198–220.

​Hasanah, Uswatun. “Konsep Wahdat Al-Wujud Ibn Arabi Dan Manunggaling Kawulo Lan Gusti Ranggawarsita (Studi Komparatif).” Universitas Islam Negeri Walisongo, 2015.

​Noer, Kautsar Azhari. Ibn Al-Arabi Wahdat Al-Wujud Dalam Perdebatan. Jakarta: Paramadina, 1995.

​Nur, Muhammad. Wahdah Al-Wujud Ibn ’Arabi Dan Filsafat Wujud Mulla Shadra. Makassar: Chamran Press, 2012.

​Putri, Endrika Widdin. “Konsep Kebahagiaan Perspektif Al-Arabi.” Thaqafiyyat, Vol.19 (2018): 95–111.

​Rusfian, Effendi. Filsafat Kebahagiaan. Yogyakarta: CV Budi Utama, 2017.

​Siradj, Said Aqil. Biografi Ibn Arabi. Cilangkap, Depok – Jawa Barat: Keira Publishing, 2015.

​Soleh, Khudori. Filsafat Islam Dari Klasik Hingga Kontemporer. Jakarta: Ar-Ruzz Media, 2016.

2 posts

About author
Prodi Tasawuf dan Psikoterapi, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Articles
Related posts
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya Ulumuddin: Cara Ampuh Mengobati Sifat Pelit

2 Mins read
Kita tahu bahwa penyebab utama manusia memiliki sifat pelit adalah cinta yang berlebihan terhadap harta dunia. Harta sering kali menjadi sumber penyakit,…
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Hakikat Sifat Dermawan: Ngaji Ihya Ulumuddin Bersama Gus Ulil

2 Mins read
Sudah maklum bahwa dalam hal kebutuhan hidup duniawi, manusia cenderung mementingkan diri sendiri. Banyak yang tidak menyadari bahwa pada hakikatnya manusia adalah…
Keislaman

Etika Muslim di Ruang Publik Media Sosial

2 Mins read
Ruang publik saat ini tidak lagi hanya terdiri dari mimbar podium dan ruang rapat, tetapi juga meluas ke media sosial—tempat setiap individu…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Keislaman

Tanda-tanda Munafik dalam Islam: Ciri, Bahaya, dan Balasannya

Verified by MonsterInsights