KeislamanTafsir

Benarkah Tafsir Ibadiyah Eksklusif? Bedah Kitab Hamyan Al Zad

3 Mins read

Ketika membicarakan kitab tafsir dalam tradisi Islam, nama-nama besar seperti Al-Tabari, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, atau Fakhruddin Al-Razi tentu menjadi deretan yang paling akrab di telinga. Namun, di balik populernya tafsir-tafsir berhaluan Sunni tersebut, sebenarnya terdapat banyak karya tafsir lain yang tak kalah penting dan kaya secara intelektual. Sayangnya, karya-karya ini kurang mendapat tempat di tengah arus besar sejarah penafsiran.

​Salah satu karya monumental tersebut hadir dari komunitas Ibadiyah, yakni kitab Hamyan al-Zad ila Dar al-Ma’ad buah tangan Muhammad bin Yusuf Athfisy. Tafsir Ibadiyah ini jarang dibicarakan di lingkungan akademik Indonesia, bahkan banyak umat Islam yang belum pernah mendengar namanya. Akibatnya, muncul stigma bahwa tafsir Ibadiyah bersifat eksklusif dan tidak relevan bagi umat Islam di luar kelompok tersebut. Namun, benarkah demikian?

​Mengenal Muhammad bin Yusuf Athfisy dan Latar Belakangnya

​Muhammad bin Yusuf Athfisy lahir pada tahun 1827 M di Aljazair, tepat ketika negerinya berada dalam tekanan kolonialisme Prancis. Kondisi politik yang penuh konflik ini menjadi latar belakang yang mengasah ketajaman pemikirannya. Ia tumbuh menjadi ulama Ibadiyah yang sangat produktif dan dihormati, serta menguasai berbagai bidang ilmu seperti fikih, teologi, dan tafsir.

​Berbeda dari stereotip yang sering mengaitkan Ibadiyah dengan Khawarij yang ekstrem, Athfisy justru menampilkan wajah Ibadiyah yang moderat, rasional, dan terbuka terhadap dialog ilmu pengetahuan. Melalui karyanya, ia berupaya memosisikan Ibadiyah bukan sebagai kelompok pinggiran, melainkan sebagai bagian integral dari keberagaman umat Islam dunia.

​Makna Iman dalam Hamyan Al Zad

Hamyan al-Zad, yang secara harfiah berarti “Perbekalan Berharga Menuju Negeri Akhirat”, menjadi bukti keseriusan Athfisy dalam membawa umat Islam pada kesadaran spiritual. Bagi Athfisy, Al-Qur’an bukan sekadar teks untuk dipahami secara akademik, melainkan pedoman hidup yang menuntut komitmen nyata pada kebaikan dan penghambaan kepada Allah. Oleh karena itu, tafsir ini sangat menekankan aspek moral.

Baca...  Sayyidah Khadijah Binti Khuwailid Cinta Pertama Nabi Muhammad SAW

​Athfisy meyakini bahwa iman bukan sekadar ucapan lisan atau keyakinan dalam hati semata, tetapi harus termanifestasi dalam bentuk amal dan ketundukan pada kehendak Tuhan. Dalam menjelaskan ayat-ayat tentang iman, Athfisy memberikan perhatian besar terhadap konsistensi akhlak.

​Hal ini tercermin jelas ketika ia membahas Q.S. Al-Anfal ayat 2 yang menggambarkan ciri orang beriman: hati yang bergetar saat nama Allah disebut, bertambahnya iman saat mendengar ayat-ayat-Nya, dan keteguhan tawakal. Pendekatan tafsir Ibadiyah pada ayat ini menunjukkan definisi iman yang menyatu utuh antara keyakinan dan perilaku. Menurut Athfisy, jika seseorang berakal sehat mengaku muslim tetapi terus membangkang aturan Tuhan, maka status iman dalam dirinya telah runtuh. Meski pandangan ini terkesan ketat, hal ini justru menegaskan komitmen Ibadiyah pada integritas keislaman.

​Posisi Moderat Ibadiyah: Antara Sunni dan Khawarij Ekstrem

​Salah satu isu teologis yang sering diperdebatkan adalah status pelaku dosa besar. Dalam hal ini, Athfisy menawarkan pandangan yang unik:

  1. Arus Utama Sunni: Menganggap pelaku dosa besar tetap mukmin meski imannya berkurang.
  2. Khawarij Ekstrem: Memvonis pelaku dosa besar langsung kafir dan kekal di neraka.
  3. Posisi Ibadiyah (Athfisy): Mengambil jalan tengah (tawasuth). Pelaku dosa besar bukan lagi mukmin sempurna, tetapi juga tidak dianggap kafir musyrik (keluar dari Islam).

​Nasib akhir pelaku dosa besar sepenuhnya bergantung pada rahmat Allah dan apakah ia bertaubat atau tidak sebelum wafat. Posisi moderat inilah yang sering terabaikan ketika masyarakat melabeli Ibadiyah sebagai aliran ekstrem tanpa memahami kedalaman teologi mereka.

​Hukum Allah sebagai Identitas Iman

​Athfisy sangat menekankan hukum Allah sebagai pedoman hidup mutlak. Ketika menafsirkan Q.S. Al-Maidah ayat 44 tentang mereka yang tidak berhukum pada syariat Allah, ia bersikap tegas bahwa pembangkangan secara sadar terhadap hukum Allah dapat menghilangkan status iman.

Baca...  Nabi Sya'ya Dalam Riwayat Ibnu Katsir

​Pandangan ini menegaskan bahwa iman tidak dapat dipisahkan dari komitmen menjalankan syariat. Ia khawatir jika iman hanya dianggap sebagai “pernyataan batin”, umat Islam akan terjebak pada kesalehan palsu—menjadi muslim secara identitas KTP, tetapi kosong dari pengamalan nilai.

​Mungkin sikap tafsir ini terasa keras bagi pembaca modern. Namun, dalam konteks sosial-keagamaan era Athfisy, pesan tersebut adalah bentuk perlawanan moral terhadap kolonialisme dan degradasi spiritual umat. Ia ingin menegaskan bahwa kekuatan Islam terletak pada keteguhan iman dalam tindakan, bukan sekadar jumlah populasi atau budaya.

​Membuka Ruang Dialog: Ibadiyah Tidak Menutup Diri

​Meski tegas dalam akidah, Hamyan al-Zad sama sekali tidak menunjukkan sikap menutup diri (eksklusif) terhadap tradisi umat Islam lainnya. Athfisy kerap mengutip pendapat ulama Sunni seperti Al-Qurthubi, Al-Tabari, dan Al-Baghawi.

​Ia tidak ragu membandingkan argumentasi dari berbagai mazhab, lalu menyajikan pandangan Ibadiyah sebagai tawaran alternatif. Sikap ini membuktikan bahwa keberagaman tafsir adalah kekayaan intelektual yang diakui dan dihargai. Hamyan al-Zad tidak bermaksud memisahkan diri, melainkan menunjukkan kontribusi berharga tafsir Ibadiyah dalam khazanah studi Al-Qur’an.

​Jika ada anggapan bahwa tafsir ini eksklusif, hal itu lebih disebabkan oleh kurangnya literasi umat Islam terhadap karya-karya Ibadiyah, bukan karena substansi tafsirnya yang tertutup. Mempelajari karya ini justru akan membuka wawasan kita tentang keberagaman internal Islam yang menjadi anugerah sejarah.

​Kesimpulan: Relevansi Hamyan Al Zad Hari Ini

​Athfisy mengingatkan kita bahwa iman memerlukan bukti nyata dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah dunia modern yang serba permisif—di mana agama kerap dikerdilkan menjadi sekadar simbol atau retorika publik—Hamyan al-Zad hadir sebagai peringatan moral. Ia mengajak kita untuk tidak membiarkan iman menjadi kata tanpa makna.

Baca...  Doktrin Al-Wa’du wa Al-Wa’id dalam Tafsir Al-Kasysyaf: Memahami Keadilan Tuhan

​Pada akhirnya, melabeli Hamyan al-Zad sebagai tafsir yang eksklusif adalah persepsi yang lahir dari ketidaktahuan. Karya ini adalah undangan terbuka bagi siapa saja, baik Sunni maupun aliran lain, untuk menyelami spiritualitas, ketegasan moral, dan kesucian akidah. Membaca tafsir Athfisy menantang kita untuk tidak sekadar menjadi muslim dalam data sensus, melainkan menjadi muslim dalam prinsip, perbuatan, dan komitmen.

Related posts
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya Ulumuddin: Cara Ampuh Mengobati Sifat Pelit

2 Mins read
Kita tahu bahwa penyebab utama manusia memiliki sifat pelit adalah cinta yang berlebihan terhadap harta dunia. Harta sering kali menjadi sumber penyakit,…
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Hakikat Sifat Dermawan: Ngaji Ihya Ulumuddin Bersama Gus Ulil

2 Mins read
Sudah maklum bahwa dalam hal kebutuhan hidup duniawi, manusia cenderung mementingkan diri sendiri. Banyak yang tidak menyadari bahwa pada hakikatnya manusia adalah…
Keislaman

Etika Muslim di Ruang Publik Media Sosial

2 Mins read
Ruang publik saat ini tidak lagi hanya terdiri dari mimbar podium dan ruang rapat, tetapi juga meluas ke media sosial—tempat setiap individu…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Keislaman

Turats Arab Islam dan Hassan Hanafi (2)

Verified by MonsterInsights