Esai

Pati Unus: Kisah Pangeran Sabrang Lor dan Perjuangan Melawan Portugis

2 Mins read

Pati Unus, yang dikenal luas dengan julukan Pangeran Sabrang Lor, merupakan salah satu tokoh sentral dalam sejarah Kerajaan Demak. Ia adalah putra dari Raden Patah, pendiri kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Pati Unus naik takhta sebagai Sultan Demak II pada tahun 1518.

​Dikenal karena keberaniannya yang luar biasa, ia memimpin serangkaian serangan besar-besaran terhadap Portugis yang kala itu menguasai Malaka. Tindakan ini bukan sekadar upaya militer, melainkan cerminan semangat juang dan nasionalisme awal dalam menjaga kedaulatan Nusantara. Meski serangannya sering kali terbentur pertahanan Portugis yang canggih, ambisi Pati Unus untuk menjadikan Demak sebagai kekuatan maritim utama tetap melegenda hingga kini.

​Asal-usul dan Gelar Pangeran Sabrang Lor

​Pati Unus lahir sekitar tahun 1480-an dari pasangan Raden Patah dan Dewi Murtasimah (yang juga dikenal sebagai Asyiqah atau Solekha). Sebagai pewaris takhta, ia mewarisi semangat ayahnya dalam menegakkan ajaran Islam dan memperkuat posisi Kerajaan Demak yang sebelumnya merupakan bagian dari wilayah Majapahit.

​Seiring meredupnya pengaruh Majapahit, Demak berkembang menjadi pusat kekuatan baru. Namun, hubungan kedua kerajaan ini sempat memanas. Di bawah kepemimpinan Pati Unus, armada Demak bergerak menyerang sisa-sisa kekuatan Majapahit melalui jalur laut Sedayu. Peperangan ini berlangsung selama kurang lebih enam tahun hingga akhirnya Demak berhasil memenangkan kendali penuh. Salah satu bukti kemenangan ini adalah diboyongnya tiang Keraton Majapahit yang kini menjadi bagian dari serambi Masjid Agung Demak.

​Gelar Pangeran Sabrang Lor sendiri didapatkan karena keberaniannya menyeberang (sabrang) ke utara (lor) menuju Malaka untuk memerangi penjajah di usia yang sangat belia, yakni 17 tahun.

​Ekspedisi Jihad Melawan Portugis (1513)

​Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511 menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dan syiar Islam di Nusantara. Merespons hal tersebut, Pati Unus memimpin ekspedisi jihad pada tahun 1513. Ia berhasil menggalang aliansi besar dengan kekuatan dari Cirebon dan Jepara.

Baca...  Visi Hidup Untuk Apa?

​Meski secara militer belum berhasil merebut Malaka karena ketertinggalan teknologi persenjataan, ekspedisi ini memiliki makna simbolis yang mendalam. Pati Unus menunjukkan kepada dunia bahwa kerajaan-kerajaan di Nusantara mampu bersatu melawan kolonialisme demi menjaga harga diri bangsa.

​Serangan Kedua dan Gugurnya Sang Pangeran (1518)

​Pada tahun 1518, Pati Unus kembali melancarkan serangan kedua. Kali ini, persiapan dilakukan lebih matang dengan melibatkan mata-mata dari kalangan pedagang Jawa di Malaka. Ia mengerahkan sekitar 100 kapal yang dilengkapi dengan meriam besar untuk mengepung benteng A Famosa.

​Sayangnya, takdir berkata lain. Dalam pertempuran sengit tersebut, armada Demak mengalami kerusakan parah akibat meriam artileri Portugis yang lebih modern. Pati Unus gugur sebagai syuhada di medan laga. Gugurnya sang sultan mengakhiri ambisi Demak untuk merebut Malaka secara langsung, namun namanya abadi sebagai simbol perlawanan tanpa gentar.

​Warisan Perjuangan bagi Nusantara

​Pati Unus meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi sejarah Indonesia:

  1. ​Persatuan Nusantara: Ia membuktikan bahwa koalisi antar-kerajaan adalah kunci utama dalam menghadapi ancaman asing.
  2. ​Simbol Keberanian: Perjuangannya menginspirasi kerajaan Islam lain, seperti Aceh dan Makassar, untuk terus konsisten melawan dominasi Barat di masa-masa berikutnya.
  3. ​Pelajaran Strategi: Kekalahannya memberikan pelajaran bagi generasi penerus tentang pentingnya modernisasi militer dan penguasaan teknologi teknologi maritim.

​Hingga saat ini, nama Pati Unus tetap harum sebagai sosok pemimpin muda yang berani mengorbankan segalanya demi kedaulatan agama dan tanah air.

3 posts

About author
Mahasiswa
Articles
Related posts
EsaiFilsafatTokoh

Paulo Freire dan Humanisasi Pendidikan: Menyingkap Mitos Netralitas, Merawat Kesadaran Kritis

6 Mins read
Pendidikan sering kali didengungkan dalam wacana umum sebagai benteng netral: sebuah institusi luhur yang berdiri bebas dari kepentingan politik, transaksi ekonomi, maupun…
EsaiKeislamanSejarah

Mengarungi Samudra Kosmologi Klasik: Menyingkap Narasi Makhluk Pra-Adam dalam Kitab Akhbar az-Zaman Karya Al-Mas’udi

8 Mins read
Keingintahuan manusia terhadap apa yang terjadi sebelum keberadaannya di Bumi merupakan dorongan eksistensial yang telah ada sepanjang sejarah peradaban. Sejak masa purba…
EsaiKeislamanTokoh

Jejak Sanad Sufisme dan Pemikiran Syekh Nawawi Al-Bantani Menurut Gus Kautsar

6 Mins read
Bagi komunitas santri, khususnya di pesantren-pesantren tradisional seperti  Pesantren Al-Falah Ploso, sosok Mahaguru Syekh Nawawi al-Bantani bukan sekadar nama besar yang tertulis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
ArtikelBeritaKisah

Fajar Tauhid di Admiralty: Memulai Ramadhan dengan Nafas Ekologis dan Energi Kuantum