Keislaman

Review Buku Futuwwah Dimensi Sosial Tasawuf Karya Rizqa Ahmadi

3 Mins read

Assalamu’alaikum wr. wb.

1. Gambaran Isi Buku

Futuwwah: Dimensi Sosial Tasawuf merupakan buku yang mengupas tentang tasawuf dari sudut pandang yang lebih luas dibandingkan pemahaman tasawuf yang sering diasosiasikan hanya dengan aspek spiritual semata. Melalui berbagai tema yang saling berkaitan, penulis buku ini menghadirkan pembahasan mengenai hubungan tasawuf dengan kehidupan sosial, pendidikan, kepemimpinan, psikologi, disabilitas, ekologi, hingga warisan budaya Nusantara. Buku ini berupaya menunjukkan bahwa nilai-nilai tasawuf memiliki relevansi yang kuat dalam menjawab berbagai persoalan kemanusiaan dan sosial kontemporer melalui konsep futuwwah yang menekankan akhlak mulia, tanggung jawab sosial, keberanian moral, dan pengabdian kepada sesama.

2. Tinjauan Objektif terhadap Buku Ini

  • a. Isi dan Gagasan Menurut pandangan saya, kelebihan utama buku ini terletak pada keberhasilannya menghubungkan konsep klasik tasawuf dengan berbagai isu modern. Penulis tidak membatasi tasawuf pada ruang ibadah dan ritual semata, tetapi memperluasnya ke ranah sosial yang lebih konkret. Pembahasan mengenai tasawuf, psikologi tasawuf, ekologi, disabilitas, dan warisan sufisme Nusantara menunjukkan upaya serius untuk menjadikan tasawuf sebagai perspektif yang hidup dan kontekstual. ​Argumen yang dibangun oleh penulis relatif konsisten, yaitu bahwa nilai-nilai tasawuf dapat menjadi landasan etis dalam kehidupan bermasyarakat. Pendekatan ini membuat buku terasa relevan bagi pembaca masa kini yang mencari hubungan antara spiritualitas dan realitas sosial. ​Buku ini menjelaskan bahwa futuwwah sebagai etika sosial tasawuf merupakan jalan untuk mewujudkan spiritualitas yang aktif, humanis, inklusif, dan bertanggung jawab terhadap manusia, masyarakat, budaya, serta lingkungan hidup.
  • b. Alur dan Sistematika Menurut pandangan saya, buku ini tersusun secara tematik dengan alur yang relatif runtut. Setiap bagian membahas satu tema tertentu yang kemudian dihubungkan dengan konsep futuwwah dan tasawuf sosial. ​Model penyusunan dari penulis sangat memudahkan pembaca dalam memahami keterkaitan antara tasawuf dan berbagai bidang kehidupan. Meskipun demikian, beberapa bagian memiliki karakter yang lebih berupa esai reflektif dibandingkan pembahasan akademik yang sistematis. Hal ini bukan kekurangan, melainkan ciri khas penulisan yang membuat buku ini lebih mudah diakses oleh pembaca umum.
  • c. Penokohan Buku ini termasuk kategori pemikiran keislaman dan bukan karya fiksi, sehingga unsur penokohan tidak muncul dalam bentuk tokoh cerita. Namun demikian, berbagai tokoh yang dikutip—baik tokoh sufi klasik, pemikir Islam, maupun akademisi kontemporer—berfungsi sebagai representasi gagasan yang memperkaya argumentasi. ​Oleh karena itu, buku ini berhasil menampilkan tokoh-tokoh tersebut secara proporsional sebagai sumber inspirasi intelektual tanpa menjadikan satu tokoh tertentu sebagai pusat narasi yang dominan.
  • d. Pemilihan Judul Menurut pandangan saya, judul buku ini cukup representatif terhadap isi. Kata “futuwwah” sendiri memiliki keterkaitan dengan makna kesatriaan, kemurahan hati, keberanian moral, dan pengabdian sosial. Hal tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh pembahasan. Judul buku ini juga memiliki nilai akademik sekaligus daya tarik intelektual karena mengangkat istilah yang belum terlalu populer di kalangan pembaca umum, namun memiliki makna yang kaya dalam tradisi tasawuf itu sendiri.
  • e. Cover Buku Cover buku ini memiliki karakter visual yang kuat dan simbolik. Ilustrasi utama menampilkan figur kesatria yang berkuda—yang juga menjadi ciri khas seni tradisional Nusantara—sedang berhadapan dengan sosok bayangan gelap. Pemilihan cover ini menarik karena selaras dengan judul buku “Futuwwah” yang dalam tradisi tasawuf sering dikaitkan dengan kesatriaan, keberanian moral, perjuangan melawan hawa nafsu, serta pengabdian kepada masyarakat. ​Penggunaan unsur seni Nusantara menjadi nilai tambah karena merepresentasikan salah satu gagasan penting buku, yakni dialog antara tradisi tasawuf Islam dan warisan budaya lokal. Latar pegunungan, awan, dan lanskap alam memperkuat kesan syahdu sekaligus sosial yang menjadi inti pembahasan buku.
  • f. Teknik Penulisan Bahasa yang digunakan sangat bagus dan mudah dipahami oleh pembaca. Hal yang unik adalah penulis berupaya menjembatani istilah-istilah akademik dengan bahasa yang membumi. Di samping itu, terdapat kosakata lokal yang menantang pembaca untuk berpikir dalam mengeksplorasi makna dari bahasa lokal tersebut. ​Oleh karena itu, buku ini sangat cocok dibaca oleh mahasiswa bidang studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Tasawuf, Akidah dan Filsafat, ilmu sosial, serta bidang lainnya. Buku ini juga disarankan bagi peneliti yang tertarik pada kajian Islam kontemporer, kalangan santri di pondok pesantren, serta masyarakat umum yang ingin menambah wawasan tentang ilmu tasawuf.
Baca...  Korupsi dalam Perspektif Alqur’an

3. Kritik dan Saran

  1. ​Beberapa tema, seperti bagian pembahasan 13 sampai 16, memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan lebih mendalam dengan dukungan data empiris dan studi kasus yang lebih luas.
  2. ​Saran untuk edisi berikutnya adalah mempertegas peran futuwwah sebagai jembatan yang menghubungkan kesalehan ritual (syariat dan tasawuf) dengan kemaslahatan sosial dalam masyarakat modern.

Quote Natijah

​“Tasawuf memiliki dimensi sosial yang inheren, dan konsep futuwwah merupakan bentuk aktualisasi nilai-nilai spiritual Islam yang mampu menjawab berbagai persoalan kemanusiaan kontemporer melalui penguatan etika, solidaritas sosial, kepedulian ekologis, penghormatan terhadap martabat manusia, dan pembangunan peradaban yang berkeadaban.”

​Dengan demikian, saya ucapkan terima kasih kepada Dr. Rizqa Ahmadi, Lc., M.A. yang telah memberikan saya kesempatan untuk mereview buku ini. Semoga buku ini menjadi ladang pahala bagi penulis dan bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. Amin ya rabbal alamin.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

1 posts

About author
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Prodi: Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Articles
Related posts
Keislaman

Menavigasi Kegelisahan Zaman lewat Moderasi Beragama Quraish Shihab

4 Mins read
Pendahuluan: Kegelisahan Zaman dan Krisis Keberagaman ​Masyarakat modern saat ini sedang menghadapi paradoks yang sangat unik. Di satu sisi, akses terhadap pengetahuan…
KeislamanSejarah

Hegemoni Quraisy: Peran Qushayi bin Kilab dalam Sejarah Makkah

4 Mins read
Dr. Sayid al-Qimni menjelaskan bahwa Qushayi adalah seorang diktator Makkah. Namun, ada beberapa pendapat yang kurang sependapat, sebab penyifatan itu kurang tepat…
KeislamanSejarah

Hegemoni Quraisy: Peran Qushayi bin Kilab Pendiri Makkah

6 Mins read
Selama 150 tahun, ada perbedaan antara harapan dan kenyataan; antara menanam benih di muka bumi dan menuai tanaman serta buah-buahan; antara memasang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *