Opini

​Pura-Pura Kesurupan: Bedah Fenomena Mistik dari Sisi Psikologi & Islam

3 Mins read

Di tengah masyarakat kita, pemandangan seseorang mendadak terkulai, berteriak dengan suara asing, atau melakukan gerakan-gerakan aneh di luar kendali sering kali langsung diasosiasikan dengan satu narasi dominan: kesurupan makhluk gaib. Suasana langsung tegang, orang-orang berkumpul, dan si “korban” mendadak menjadi pusat perhatian. Namun, bagi mereka yang melihat dengan kepala dingin, nalar kritis, iman yang kuat, serta pisau analisis ilmiah, fenomena ini sering kali mengundang senyum getir. Pertanyaannya: apakah itu benar-benar interaksi supranatural, atau sekadar teater sosial berkedok mistis?

​Jika ditelisik lebih dalam melalui lensa psikologi, sosiologi, dan pandangan Islam, fenomena “pura-pura kesurupan” atau drama mistis buatan ini sebenarnya menyimpan pola yang sangat klise dan mudah terbaca.

​1. Kacamata Psikologis: Pelarian, Sugesti, dan Haus Perhatian

​Dari sudut pandang psikologi, apa yang tampak sebagai kerasukan sering kali merupakan manifestasi dari mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang keliru atau bentuk perilaku mencari perhatian (attention-seeking behavior) yang ekstrem.

​Manusia memiliki batasan ketahanan mental. Ketika seseorang menghadapi tekanan hidup yang berat—seperti stres akademik, masalah keluarga, gangguan finansial, kecemasan sosial, atau rasa frustrasi yang tidak bisa diungkapkan secara verbal—jiwa sering kali mencari jalan pintas untuk melarikan diri. Di sinilah fenomena histeria massa (mass hysteria) bekerja. Seseorang secara tidak sadar (atau bahkan sadar) mengadopsi peran “orang yang tidak berdaya” karena dikuasai entitas lain. Dengan cara ini, ia mendapatkan dua hal secara instan: perhatian penuh dari lingkungan dan kebebasan dari tuntutan tanggung jawab untuk sementara waktu.

​Selain itu, faktor sugesti memegang peranan besar. Di lingkungan yang masih mempercayai mitos secara berlebihan, alam bawah sadar seseorang terkondisikan bahwa ketika ia menjerit atau bertingkah aneh di tengah kerumunan, ia akan dimaklumi dan dilindungi. Akibatnya, alih-alih menyelesaikan akar masalah psikologisnya, mereka memilih “panggung kesurupan” sebagai pelarian mental.

Baca...  Bahaya Menilai Tanpa Konteks di Media Sosial

​2. Kacamata Sosiologis: Panggung Sosial dan Pencarian Status

​Bergeser ke ranah sosiologi, perilaku ini erat kaitannya dengan dinamika kelompok dan stratifikasi sosial di masyarakat mikro. Di dalam sebuah komunitas kecil—baik di lingkungan sekolah, universitas, tempat kerja, maupun pedesaan—individu yang merasa terpinggirkan atau kurang mendapatkan pengakuan sosial sering kali mengalami apa yang disebut sebagai relative deprivation (perasaan tertinggal atau tidak dianggap penting).

​Ketika seseorang sulit mencuri perhatian melalui prestasi, kemampuan intelektual, atau kontribusi positif, mereka kerap beralih ke jalur pintas: mencari status lewat jalur mistis. Menjadi “orang yang dipilih untuk kerasukan” atau “orang yang bisa melihat hal gaib” memberikan mereka kekuasaan sosial semu secara instan. Orang-orang yang tadinya mengabaikan mereka, kini mendadak berkerumun, mendengarkan, bahkan takut dan segan. Dalam sosiologi, drama ini dilihat sebagai siasat kultural untuk memegang kendali atas atensi massa tanpa harus berusaha keras secara produktif.

​3. Pandangan Islam: Menjaga Akal Sehat dan Menolak Kebodohan

​Lantas, bagaimana Islam memandang fenomena ini?

​Agama Islam adalah agama yang menjunjung tinggi akal sehat (‘aql). Al-Qur’an dan Sunnah menempatkan akal sebagai syarat utama taklif (pembebanan hukum).

​Meskipun eksistensi bangsa jin diakui dalam teologi Islam, para ulama besar sangat berhati-hati dan bersikap skeptis terhadap klaim-klaim manipulatif semacam ini. Islam melarang umatnya bersikap gampang percaya pada takhayul, dukun, atau drama mistis yang tidak berdasar. Bahkan, para sahabat Nabi dan ulama salaf dengan tegas mendustakan orang-orang yang gemar mengaku-ngaku melihat hal gaib atau kerasukan tanpa landasan yang valid.

​Pura-pura kesurupan atau mencari sensasi dengan mengatasnamakan dunia gaib adalah bentuk kemunduran berpikir yang bertentangan dengan semangat tauhid. Islam mengajarkan umatnya untuk menghadapi masalah hidup dengan ikhtiar nyata, doa yang benar, dan tawakal, bukan dengan bersembunyi di balik drama kesurupan palsu yang hanya menebar kebodohan dan ketakutan semu di tengah masyarakat.

Baca...  Makna Spiritual Pengampunan Nabi Adam Berkat Nur Muhammad

​Kesimpulan

​Fenomena pura-pura kesurupan pada akhirnya bukanlah tentang dunia lain yang penuh misteri, melainkan cerminan dari kerapuhan mental dan siasat sosial sebagian manusia yang kehausan akan validasi. Ketika ilmu psikologi membongkar motif bawah sadarnya, sosiologi menelanjangi panggung pencitraan sosialnya, dan Islam menegaskan prinsip akal sehatnya, drama-drama mistis murahan ini kehilangan kesaktiannya.

​Di era modern yang menuntut rasionalitas dan ketajaman berpikir, sudah saatnya kita berhenti memberikan panggung kepada sandiwara semacam itu. Masalah hidup diselesaikan dengan ilmu dan ikhtiar nyata, bukan dengan akting kesurupan di sudut ruangan.

​Referensi

​Biantoro, O. F. (2021). Fenomena Kesurupan dalam Agama Islam. Al-Jadwa: Jurnal Studi Islam, 1(1), 102–115.

​Harimurti, A., Sunardi, S., Patria, M. P., Widodo, Y. H., Sari, D. P., & Astuti, R. S. (2024). Psikologi Berhampiran Budaya. Sanata Dharma University Press.

​Husna, R., & Tadzkiroh, N. (2024). Histeria dan Gangguan Jin dalam Islam: Mengurai Fenomena Kesurupan dari Sudut Pandang Al-Qur’an. Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society, 5(2), 292–312.

​Irkani, S. (2018). Fenomena Kesurupan dalam Persepsi Psikolog dan Peruqyah. Jurnal Studia Insania, 6(2), 108–120.

​Muniroh, A. A. Z. S. M. (2024). Analisis Komparatif Faktor Penyebab Fenomena Kesurupan dalam Perspektif Teologi Islam dan Psikologi: Studi Kasus di Sekolah Menengah Kejuruan. Inspirasi (Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam), 8(2), 152–171.

​Pasmawati, H. (2018). Fenomena Gangguan Kesurupan. El-Afkar, 7(1), 1–13.

​Sukarno, M. B. (2020). Fenomena Simbolik Kesurupan dalam Pementasan Tari Kuda Lumping sebagai Simbol Counter Hegemoni Ideologi Agama. SAGACITY: Journal of Theology and Christian Education, 1(1), 1–18.

11 posts

About author
Alumni Studi Agama-agama Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, ia aktif dalam pembuatan jurnal artikel ilmiah yang beberapa karyanya terpublikasi di beberapa kampus di Indonesia. Kajian penulis sering kali berbagai hal terutama Agama, Ekologi dan Budaya dan Ia Bekerja Freelance seperti Script Writer.
Articles
Related posts
Opini

Zakat dan Wakaf: Strategi Utama Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Umat

2 Mins read
Penulis: Romy Al Jimar (Anggota Rumah Berdaya 21) Editor: Adis Setiawan ​Zakat dan wakaf merupakan instrumen penting dalam ekonomi Islam yang memiliki…
Opini

Indonesia di Ruang Gawat Darurat

3 Mins read
Demokrasi Indonesia hari ini ibarat kendaraan yang mesinnya masih menyala, tetapi setirnya mulai sulit dikendalikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Indeks Demokrasi…
KisahOpini

Menonton Luka, Menolak Lupa: Catatan Film Laut Bercerita

3 Mins read
Ketika sebuah novel yang telah menjadi semacam kitab bagi generasi pembacanya diangkat ke layar lebar, pertanyaan pertama yang muncul bukanlah “apakah filmnya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *