Filsafat

Perspektif Orang Jenius & Akal Nadhori

3 Mins read

Orang jenius pun berasal dari berpikirnya sendiri tanpa intervensi orang lain. Apakah orang jenius punya gaya hidup serba mewah? Terkadang orang jenius mempunyai ambisi tersendiri untuk mengatur pola hidupnya. Apabila ia melakukan hal-hal yang nyentrik, itu pun berasal dari pola pikirnya sendiri yang tak memikirkan penampilan, layaknya seorang sufi, atau dalam istilah ilmu tauhid disebut khariqul adat (di luar kebiasaan).

​Orang jenius hanya berpikir tentang makna cinta dan akalnya saja dengan cara kritis, mantiq (logika), maupun sains, padahal hal tersebut juga bersifat metafisika atau batin. Meski terbilang aneh dan introvert—seakan tidak mempunyai arah tujuan—ia sebenarnya lebih mementingkan masa depan yang cerah dan ilmu pengetahuan. Sifat orang jenius terkadang menyukai hal-hal di luar nalar manusia namun memiliki makna tersembunyi. Ia memikirkan ide dan gagasannya tentang kondisi serta situasi yang dihadapi. Kadang ia suka bersembunyi dan penuh misteri.

​Orang jenius memiliki tingkat kesadaran yang tinggi dan pemikiran yang matang, sehingga ia bisa menghasilkan ide cemerlang atas temuannya. Otaknya selalu berontak dan berinteraksi secara drastis maupun sistematis.

​Meskipun memiliki kecerdasan di atas rata-rata, orang jenius terkadang dianggap bodoh oleh sebagian manusia, bahkan dianggap gila. Padahal tidak demikian. Ia memikirkan masa depan untuk perubahan dan kemajuan demi mencapai tujuan hidupnya. Meski memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, ia mampu menganalisis dan membaca fenomena dari sudut pandang serta pengamatan yang berbeda.

​Hobi orang jenius beragam; ada yang membaca, menulis, melukis, pandai berbicara, berkreasi, dan lainnya. Contohnya Leonardo da Vinci, seorang pelukis terkenal sekaligus ilmuwan. Pada dasarnya, pengetahuan tanpa membaca akan sulit menangkap hal-hal yang terlupakan atau kurangnya informasi. Mungkin saja ia memberikan pemikirannya lewat pengalaman atau pengamatan yang ia cari, atau terkadang dari interaksi sosialnya yang tinggi.

Baca...  Hidup yang Baik Menurut Schopenhauer: Mengubah Pesimisme Menjadi Ketenangan

​Apakah orang berotak jenius pernah melakukan kesalahan dan lupa? Menjadi jenius sebenarnya adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa untuk dapat berpikir jernih dan cepat menyerap ilmu. Akan tetapi, tidak semua orang jenius selalu benar dalam pemikirannya. Bisa jadi ia salah karena hanya berpikir secara liar tanpa meneliti terlebih dahulu, atau hanya berdasarkan imajinasi. Maka dari itu, orang jenius pun banyak membaca buku dan menimbang kembali pemikirannya. Ia juga memiliki sifat lupa yang manusiawi, namun tingkat IQ-nyalah yang menjadikannya luar biasa dibanding yang lain.

​Kejeniusan secara nadhori (berpikir) adalah hal mengasah otak agar semakin tajam dan jernih guna mencapai tujuan utama dalam menjalani kehidupan. Kejeniusan seseorang terletak pada sikap mau berusaha mencari hal-hal baru dan menemukan ide untuk masa depan. Mungkin terdengar terlalu frontal atau terlalu jujur dalam menghadapi tindakan yang bersifat umum maupun rahasia, namun itu sebenarnya adalah sebuah kebaikan. Bukankah ilmu pengetahuan memang harus disampaikan?

​Perspektif umum sering menganggap orang jenius itu seperti orang alim; banyak pengetahuan dan memiliki attitude yang baik. Namun, itu hanyalah asumsi. Tak semua jenius memiliki pengetahuan yang sangat luas; mereka juga memiliki kekurangan dan keterbatasan. Sifatnya pun ’arodh (aksidental), gampang berubah-ubah, serta tidak selalu sama dalam dimensi waktu dan tempat. Seperti halnya dinding dan batu bata yang lama-kelamaan termakan usia, ia akan terkikis seiring waktu atau zaman karena faktor hudusil alam (kebaruan alam).

​Manusia dimuliakan karena memiliki akal. Bahkan para malaikat pun diperintahkan oleh Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam AS karena keistimewaan akal tersebut. Manusia berakal berpikir tentang ciptaan-Nya dan memiliki pengetahuan tentang alam semesta, seperti astronomi, kosmologi, Big Bang, galaksi, benda langit, atmosfer, dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut telah diterangkan dalam Al-Qur’an. Banyak pemikir dan ilmuwan hebat yang mengambil rujukan dari Al-Qur’an, seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Imam Ghazali, Ibnu Rusyd, Al-Biruni, dan Al-Hasan Ibnu al-Haytham. Mereka mempelajari dan memahaminya hingga menjadi karya luar biasa yang bermanfaat bagi umat manusia. Modal utama dalam beragama Islam adalah mempunyai akal yang sempurna untuk berpikir.

Baca...  Gus Ulil: Teologi Asy’ariyah dan Kebebasan Mutlak Tindakan Tuhan Bagian 5

​Akal sangat penting bagi manusia untuk menjalani kehidupan sehari-hari, meski tingkat kecerdasan tiap orang tidak sama. Kecerdasan tersebut bersumber secara nadhori, bukan secara dhoruri (aksiomatis) yang didapat tanpa berpikir. Sebab, manusia adalah makhluk yang berpikir, beradab, dan memiliki aturan hukum masing-masing.

​Jika tak memiliki upaya (effort) dalam berpikir untuk mencapai ilmu pengetahuan yang hakiki, kita perlu ditempa terlebih dahulu dengan berbagai tantangan agar hasilnya maksimal dan tepat sasaran. Jika tidak, kita akan terjerembap pada situasi ilusi atau fatamorgana yang menyengsarakan. Teruslah berpikir bijak agar mencapai tujuan cinta yang hakiki dan damai sejahtera.

​Maka berpikirlah. Apakah kita sudah berpikir?

1 posts

About author
Kang Thohir aktif menulis puisi, cerpen, dan karya lainnya, serta gemar membaca buku untuk memperluas wawasan.
Articles
Related posts
Filsafat

Hidup yang Baik Menurut Schopenhauer: Mengubah Pesimisme Menjadi Ketenangan

4 Mins read
Filsafat sering dianggap sebagai upaya manusia untuk mencari terang dalam kegelapan hidup. Namun, bagi Arthur Schopenhauer, terang justru ditemukan dengan cara menatap…
FilsafatPendidikan

Cahaya yang Terbelah, Hikayat Mani dan Bayang Gnostisisme di Panggung Zaman

3 Mins read
KULIAHALISLAM.COM- Dalam panggung sejarah pemikiran manusia, jarang ada sosok yang sedemikian ambisius sekaligus kontroversial seperti Mani. Pada abad ke-3 Masehi, di tanah…
Filsafat

Manikeisme: Teologi Dualistik Kuno dan Relevansinya di Zaman Modern

3 Mins read
Sejarah intelektual selalu dihiasi oleh upaya memahami fenomena ontologis yang mengandung segelintir pertanyaan mendasar: Mengapa kejahatan selalu mengiringi manusia? Dan mengapa kebaikan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Keislaman

Gelar Haji: Antara Tradisi, Warisan Kolonial, dan Kemurnian Ibadah