BeritaSUMU

Pengusaha Muslim Berkemajuan: Buka Bersama SUMU Bogor Raya

1 Mins read

BOGOR – Suasana hangat penuh ukhuwah mewarnai kegiatan Buka Bersama dan Tausiyah Ramadhan yang diselenggarakan oleh Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) Bogor Raya di Kantor Pusat Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI), Bogor, pada Ramadhan 1447 H.

​Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan spiritual dan ekonomi bagi para pengusaha muslim, profesional, serta komunitas muslim di wilayah Bogor Raya.

​Rangkaian acara dimulai pukul 16.00 WIB dengan registrasi peserta, dilanjutkan pembukaan dan tilawah Al-Qur’an oleh Alfarisi Alhafidz yang menambah kekhidmatan suasana. Ketua SUMU Bogor Raya, Anang Yudi Riswanto, S.T., M.M., dalam sambutannya menegaskan pentingnya membangun jejaring pengusaha muslim yang solid dan berorientasi pada kemaslahatan.

​“Kita ingin menghadirkan pengusaha muslim yang tidak hanya kuat secara bisnis, tetapi juga memiliki kepedulian sosial serta kontribusi nyata bagi umat dan bangsa,” ujarnya.

​Puncak acara diisi oleh tausiyah Ramadhan yang disampaikan oleh Prof. Dr. K.H. Didin Hafidhuddin, M.S., dengan tema “Membentuk Pengusaha Muslim yang Maju dan Berkemajuan.” Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa kemajuan umat harus dibangun di atas fondasi spiritual yang kokoh.

​Beliau mengutip riwayat Ibnu Abbas R.A. saat meminum air zam-zam yang memohon tiga hal: ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan kesehatan (kesembuhan).

​“Tiga hal ini adalah pilar peradaban. Ilmu membimbing arah, rezeki menopang kemandirian, dan kesehatan menjaga produktivitas,” jelas K.H. Didin Hafidhuddin.

​Menurutnya, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, membentuk akhlak mulia, serta menguatkan aspek spiritual, intelektual, sosial, dan emosional. Pendidikan, lanjutnya, tidak sekadar mencetak manusia cerdas, tetapi juga menyucikan jiwa dan menyiapkan umat menghadapi tantangan zaman.

​Terkait ekonomi, beliau menegaskan bahwa Islam mendorong umatnya menjadi pelaku usaha yang mandiri dan produktif dengan tetap menjaga prinsip kehalalan.

Baca...  23 Tahun Perjalanan Lazismu Mengabdi, Merajut Asa untuk Kesejahteraan Semua

​“Bisnis bukan semata mencari keuntungan, melainkan bagian dari amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah,” tegasnya.

​Ia juga mengingatkan bahwa pengusaha muslim ideal harus memiliki karakter amanah, jujur, kreatif, ulet, produktif, serta tidak lalai dari ibadah. Selain itu, kolaborasi antarpengusaha menjadi kunci membangun ekosistem ekonomi umat yang berkeadilan.

​“Orang-orang beriman itu saling menolong. Karena itu, kita perlu membangun jaringan yang saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan,” pesannya.

​Acara ditutup dengan doa bersama, shalat Maghrib berjamaah, buka puasa, dan sesi networking yang mempererat sinergi antaranggota. Melalui momentum Ramadhan ini, SUMU Bogor Raya berharap lahir lebih banyak pengusaha muslim yang mampu menyeimbangkan ilmu, rezeki halal, dan akhlak demi keberkahan dunia dan akhirat.

(Media dan Publikasi Serikat Usaha Muhammadiyah/Soleh)

87 posts

About author
Media dan Publikasi Serikat Usaha Muhammadiyah.
Articles
Related posts
Berita

Atasi Polusi Sampah, KKN UINSA Kenalkan Rocket Stove di Lamongan

1 Mins read
LAMONGAN — Masalah pengelolaan sampah di tingkat pedesaan menjadi perhatian serius mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA)…
Berita

SUMU Jakarta dan UAI Jajaki Kolaborasi Strategis Berbasis AI

3 Mins read
Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) Jakarta melakukan audiensi dan penjajakan kerja sama strategis dengan Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) sebagai langkah awal membangun…
BeritaSUMU

Kopdar SUMU Pekalongan Raya 2026: Sinergi UMKM & Pengusaha

2 Mins read
PEKALONGAN – Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan, Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata PDM Kabupaten Pekalongan, serta…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Membenci Karakter dari Sifat Kikir