BeritaSUMU

SUMU Catalyst: Strategi Membangun Bisnis Tahan Krisis di Tengah Ketidakpastian

2 Mins read

​Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) melalui program SUMU Catalyst bersama Center for Quality, Resilience and Sustainability (CQRS) Indonesia menggelar webinar bertajuk “Situasi Boleh Krisis, Tapi Bisnis Harus Mampu Bertahan” pada Senin (24/8/2026).

​Webinar yang membahas strategi dan implementasi Sistem Manajemen Kelangsungan Usaha (SMKU) atau Business Continuity Management (BCM) tersebut menghadirkan Yuliasman Chaniago, Founder CQRS Indonesia, sebagai narasumber. Ia juga merupakan pendiri Sikabu Global Ventures (investasi), ObrolBisnis Media Network (media dan komunikasi), mauapa.id (lokapasar dan direktori UMKM), serta Krowde (media sosial berbasis video dan streaming).

​Dalam pemaparannya, Yuliasman Chaniago menekankan bahwa manajemen risiko dan business continuity management merupakan dua hal yang berbeda. Manajemen risiko berfokus pada upaya mencegah dan mengendalikan gangguan, sementara BCM berperan memastikan dampak risiko bisa dikendalikan dengan memastikan fungsi bisnis prioritas tetap berjalan ketika gangguan tersebut benar-benar terjadi.

​“Ketahanan bisnis bukan sekadar memiliki prosedur ketika krisis terjadi, tetapi membangun kapabilitas agar organisasi mampu tetap beroperasi ketika kondisi normal terganggu,” ujarnya.

​Krisis Tidak Selalu Bisa Dicegah, tetapi Dampaknya Bisa Dipersiapkan

​Yuliasman menjelaskan bahwa organisasi modern menghadapi berbagai gangguan yang memiliki kemungkinan relatif rendah, tetapi dapat menimbulkan dampak sangat besar. Karena itu, perusahaan perlu mempersiapkan mekanisme kelangsungan usaha yang tidak hanya bertumpu pada dokumen, melainkan benar-benar diuji dan terintegrasi dengan pengambilan keputusan bisnis.

​Salah satu aspek penting yang dibahas adalah kecepatan respons. Dalam kondisi krisis, organisasi tidak selalu membutuhkan keputusan yang sempurna, melainkan keputusan yang cukup cepat untuk mencegah situasi berkembang di luar kendali. Materi webinar menekankan bahwa respons yang memadai dalam waktu 30 menit jauh lebih bernilai dibandingkan respons sempurna yang baru dilakukan beberapa jam kemudian.

Baca...  KKN UINSA Margorejo RW 3 Gelar Jalan Sehat Bersama Anak Rumah Ilmu Al Hijrah

​BCM Harus Menjadi Tanggung Jawab Bisnis, Bukan Hanya Divisi IT

​Pembahasan juga menyoroti pentingnya pembagian peran dan akuntabilitas dalam membangun ketahanan organisasi.

​Dalam model yang dipaparkan, unit bisnis menjadi pemilik risiko dan kelangsungan operasional, fungsi SMKU korporat berperan menyediakan standar dan metodologi, sementara audit internal memberikan jaminan independen.

​Sementara itu, untuk organisasi yang kompleks, pendekatan model hibrida dinilai lebih optimal karena standar dan perangkat dapat disediakan secara terpusat, sedangkan eksekusi serta rencana kelangsungan usaha tetap menjadi tanggung jawab unit bisnis.

​Hal tersebut menjadi penting karena gangguan bisnis tidak selalu bermula dari persoalan teknologi. Gangguan dapat memengaruhi fungsi kritis, proses operasional, teknologi dan data, hingga rantai pasok dan vendor.

​Dari BIA hingga Respons Krisis

​Webinar juga membahas pentingnya Business Impact Analysis (BIA) untuk mengidentifikasi fungsi dan proses bisnis yang kritis, termasuk ketergantungan terhadap teknologi, data, serta pihak ketiga. Salah satu indikator penting yang perlu ditentukan adalah Recovery Time Objective (RTO), yang bukan sekadar angka teknis, melainkan keputusan manajemen mengenai batas kerugian yang masih dapat ditoleransi sebelum suatu fungsi dipulihkan.

​Selain itu, peserta diajak memahami perbedaan antara tanggap darurat, manajemen krisis, manajemen kelangsungan usaha, dan pemulihan bencana IT. Keempatnya memiliki fokus berbeda, namun harus terintegrasi agar organisasi mampu menghadapi gangguan secara menyeluruh.

​Mendorong Pengusaha Muhammadiyah Lebih Resilien

​Melalui SUMU Catalyst, SUMU terus menghadirkan ruang pembelajaran dan penguatan kapasitas bagi pelaku usaha Muhammadiyah. Webinar ini menjadi bagian dari upaya mendorong pelaku usaha tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi risiko, gangguan operasional, dan kondisi krisis.

​Pada akhirnya, ketahanan bisnis tidak cukup dibangun melalui dokumen atau keberadaan seorang manajer khusus. Materi webinar menegaskan bahwa resiliensi sejati lahir ketika kapabilitas menghadapi krisis telah terinstitusionalisasi dan menjadi bagian dari DNA organisasi.

Baca...  SUMU Open Recruitment Koordinator Daerah untuk Memperkuat Jaringan Menuju 30 Ribu Anggota

​Melalui SUMU Catalyst, SUMU berkomitmen untuk terus memperluas akses terhadap pengetahuan, jejaring, dan praktik bisnis yang dapat membantu pengusaha Muhammadiyah tumbuh sekaligus lebih siap menghadapi berbagai ketidakpastian di masa depan.

​[Media dan Publikasi Serikat Usaha Muhammadiyah/Soleh]

130 posts

About author
Media dan Publikasi Serikat Usaha Muhammadiyah.
Articles
Related posts
Berita

KBIHU Labbaik RSML menggelar Medical Check-Up Bagi Calon Jamaah Haji 2027

1 Mins read
KULIAHALISLAM  – Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Labbaik RS Muhammadiyah Lamongan menggelar kegiatan Medical Check-Up (MCU) bagi para calon jamaah…
BeritaMuhammadiyahSUMU

​SUMU Batam Dorong UMKM Tertib Finansial Lewat Business Forum

2 Mins read
​Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) Kota Batam terus mendorong peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui penguatan literasi dan tata kelola bisnis. Upaya tersebut diwujudkan…
Berita

Wakil Bupati Buleleng Lepas Mahasiswa Penerima Beasiswa PERGUNU ke UAC Mojokerto

1 Mins read
​Wakil Bupati Buleleng didampingi Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Buleleng, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buleleng, dan Ketua Tanfidziyah Pengurus…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *