Esai

Menyebarkan Bahasa Arab Ciri Teroris?

1 Mins read

KULIAHALISLAM.COM – Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Hal itu menyebabkan banyaknya transportasi laut yang harus menempuh perjalanan melewati perairan Indonesia untuk efektivitas ekspedisi mereka. Selanjutnya, banyak dari pedagang atau pelancong yang berhenti terlebih dahulu di Indonesia untuk berkunjung atau berdagang.

​Masuknya bahasa Arab ke Indonesia seiring dengan masuknya Islam antara abad ke-7 hingga abad ke-8 M melalui para pedagang yang berasal dari Arab serta Persia. Selanjutnya, Islam mulai berkembang di Indonesia pada abad ke-11 hingga abad ke-12. Hal ini berarti usia bahasa Arab di Nusantara telah mencapai 12 abad.

​Menyebarnya bahasa Arab di Indonesia bersamaan dengan menyebarnya Islam di Nusantara. Hal itu dikarenakan bahasa Arab merupakan bahasa kitab suci agama Islam, yakni Al-Qur’an. Sebagaimana dalam firman-Nya:

​”Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an berbahasa Arab agar kalian memahami.” (QS. Yusuf Ayat 2)

​Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang paling jelas, paling terang, paling luas, dan paling banyak perbendaharaan kata-katanya untuk mengungkapkan berbagai pengertian guna meluruskan jiwa manusia.

​Bahasa Arab disebut juga sebagai bahasa yang mendapat garansi serta proteksi Ilahi. Bahasa Arab menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dalam sejarah perkembangan dunia Islam. Dalam sekian banyak bahasa yang terdapat di dunia, bahasa Arab dianggap sebagai bahasa yang paling banyak menyandang atribut.

​Bahasa Arab sering disebut juga sebagai bahasa umat Islam, serta bahasa warisan budaya ilmu. Zaman dahulu cukup banyak cendekiawan Muslim di Tanah Air yang melahirkan karya buku berbahasa Arab, di antaranya Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Beliau layak menempati posisi sebagai tokoh utama kitab kuning Indonesia karena hasil karyanya menjadi rujukan utama berbagai pesantren di Tanah Air, bahkan di luar negeri.

Baca...  Hak Pendidikan: Manusia Produktif dan Pluralistik

​Selain Syekh Nawawi, masih banyak lagi ulama Tanah Air yang membuat karya tulis dengan menggunakan bahasa Arab, di antaranya pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Banyak buku-bukunya yang ditulis dengan bahasa Arab. Karena memang kala itu para ulama menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa keilmuan, akhirnya banyak penuntut ilmu di Tanah Air yang menguasai bahasa tersebut.

​Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa Arab adalah bahasa santri, bahasa pelajar, dan bahasa keilmuan. Para ulama terdahulu pasti fasih berbahasa Arab. Bukan malah dituduh sebagai indikasi terorisme, itu adalah logika yang sangat ngawur dan mengada-ada. Mereka, para buzzer yang bahasanya memecah belah itulah yang lebih tepat disebut teroris.

​Penulis: Naufal Abdul Afif (Penulis adalah alumni Pondok Modern Muhammadiyah Darul Arqam Patean, Kendal)

16 posts

About author
Redaktur Kuliah Al Islam
Articles
Related posts
EsaiKeislaman

Perkembangan Teknologi Keuangan dalam Perspektif Filsafat Ilmu dan Etika Ekonomi Islam

2 Mins read
​Perkembangan teknologi yang pesat sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari, mengubah hal-hal yang membutuhkan banyak tenaga dan waktu menjadi lebih praktis. Kemudahan ini…
Esai

Sejarah Bilal bin Rabah: Menguatkan Akidah & Karakter Siswa SD

3 Mins read
Pendahuluan ​Masa usia sekolah dasar (SD/MI) merupakan fase emas sekaligus masa transisi yang sangat menentukan dalam pembentukan kepribadian anak. Pada usia ini,…
EsaiKisahSejarah

Pesona di Antara Dua Cinta: Refleksi atas Syair Najmuddin Umar bin Muhammad An-Nasafi

8 Mins read
Sastra, dalam segala bentuknya, adalah cermin paling jujur dari jiwa manusia. Ia tidak hanya merekam apa yang terlihat, tetapi juga apa yang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *