Esai

Penyesatan Opini : Gagal Paham tentang Bahasa Arab

2 Mins read
Penyesatan opini ( Sumber gambar : dokumen penulis)

KULIAHALISLAM.COM–Lagi-lagi kita dibuat gagal paham. Ada pengamat politik (kalau menurut ketua MUI KH. Cholil Nafis sih bukan pengamat tapi penyesat), eks politisi partai berkuasa, membuat kriteria ciri-ciri radikal dan teroris. Diantaranya adalah menyebarkan atau memperbanyak bahasa Arab. 

Tentu pernyataan ini bikin heboh seluruh jagat media sosial. Saya tunggu klarifikasi (biasanya sih begitu), akhirnya muncul juga. Setelah dibaca beritanya, ternyata klarifikasinya hanya ingin menunjukkan bahwa pendapat itu bukan hanya pendapat pribadinya. Artinya, sah-sah saja.

Buat yang menyampaikan sih merasa sah-sah saja itu wajar. 


Tapi kita bisa membaca ada gaya-gaya penyesatan opini di sini. Di mana berita—atau pernyataannya di dalam webinar Media Medcom itu terdapat penyesatan opini? Dia membuat kriteria yang tidak spesifik atau khas pada sekolah yang dituduhkan berkiblat kepada Taliban itu. 

Kalau dia menuduh suatu sekolah itu berkiblat ke Taliban dan ciri teroris adalah Berbahasa Arab, logikanya semua orang Arab, pesantren-pesantren, termasuk pesantren Pak wapres dan bapak-bapak pejabat kita adalah teroris. 

Kalau dia ambil satu ciri—yang bukan khas, yang dilakukan sekolah itu ya tentu banyak sekali ciri-ciri teroris.

Misalnya, ada seorang teroris tertangkap. Setelah ditanya asal muasalnya, ternyata di pernah kuliah di Kampus X. Maka bisa jadi pengamat atau penyesat ini akan mengatakan Kampus X mengajarkan terorisme.


Kalau dia alumni SMA Y maka dia akan menganalisis, SMA Y mengajarkan terorisme. Sampai ke TK dulu dia belajar. Mungkin juga ciri-ciri fisiknya, termasuk merk celana dalam yang dipakai mungkin dijadikan ciri-ciri. 

Itulah kalau kata mas Rahmat M Jayaatmadja, “Pintar itu ada batasnya. Bodoh itu tidak berbatas.” Kalau saya sih menganggap dia bukan bodoh ya. Tapi memang ingin melakukan penyesatan opini. Makanya penting baca buku lama Pak Adian Husaini berjudul Penyesatan Opini. 

Dan jangan lupa dengan ayat: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS Al-Hujurat: 6).

Intinya, kalau ada berita atau pernyataan dari orang fasik, harus check & recheck, teliti kebenarannya dan segera bantah jika keliru. Lho, kan sumber berita ini muslim/muslimah pak? Asal muasal turunnya ayat ini (asbabun nuzul) juga terjadi pada orang muslim. 

Suatu ketika Nabi SAW mengutus Walid bin Uqbah menarik zakat di kaum Bani Mustaliq yang telah memeluk Islam. Namun ketika sampai ke kampung Bani Mustaliq ia lari ketakutan melihat warga Bani Mustaliq mendatanginya. Ia mengira akan dibunuh, padahal mereka datang hendak menyerahkan zakat. 

Walid pulang dan melaporkan kepada Nabi SAW bahwa Bani Mustaliq tidak mau membayar zakat dan malah hendak membunuhnya. Mendengar laporan itu Nabi Muhammad SAW bersiap-siap mengirim pasukan ke Bani Mustaliq untuk menaklukkan mereka.

Tapi sebelum terjadi, datang utusan Bani Mustaliq membantah berita yang disampaikan Walid. Lalu turunlah ayat ini membenarkan pernyataan utusan Bani Mustaliq dan menyebut Walid sebagai fasik atau pembohong. 

Dalam Islam, sumber berita atau sumber omongan itu penting, sebagaimana sudah dicontohkan para muhaditsin (ahli hadis) bahwa para perawi hadis (pembawa informasi kata dan perbuatan Nabi Muhammad SAW) harus benar-benar orang yang jauh dari sifat fasik.

Mereka adalah orang-orang yang adil.

Kalau urusan hadis Nabi Muhammad SAW sifat-sitaf para perawi sudah diverifikasi oleh para ahli hadis, maka tugas kita yang memahami unsur-unsur berita memverifikasi informasi di media sosial, bukan saja soal menyampaikan kebenaran berita tapi juga motif apa yang terkandung di balik penyesatan opini yang dilakukannya.


Oleh : Ustaz Budi Handrianto 

Baca...  Dari Sekolah ke Palestina: Antara Gelaja Egosentris Lembaga & Menghidupkan Visi Peradaban
2576 posts

About author
Kuliah Al Islam - Mencerdaskan dan Mencerahkan
Articles
Related posts
Esai

Etika Interaksi Lawan Jenis dalam Islam di Organisasi Kampus

5 Mins read
Organisasi kampus sering dipahami sebagai ruang belajar yang melampaui batas-batas ruang kelas. Di dalamnya, mahasiswa ditempa bukan hanya untuk berpikir kritis dan…
Esai

Tafsir Al-Qur’an Digital di Indonesia: Inovasi atau Masalah?

3 Mins read
Transformasi digital yang berlangsung secara masif dalam dua dekade terakhir telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali praktik keagamaan. Di…
Esai

Kuliah, Organisasi, atau Kerja? Cara Bijak Menentukan Prioritas

2 Mins read
Menjadi mahasiswa di era sekarang bukan hanya soal datang ke kelas dan mengerjakan tugas. Banyak mahasiswa dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit:…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *