Opini

Kesadaran yang Mengorganisir: Pelajaran dari 28 Oktober

3 Mins read

Dengan tiga jari terangkat di udara, massa yang berkumpul meneriakkan lima tuntutan substansial: penanggulangan bencana, APBN yang berpihak pada rakyat, pendidikan gratis, pemberantasan KKN, serta pemulihan kebebasan berpendapat.

Pemandangan itu bukan sekadar ritual politik musiman. Ia adalah bahasa tubuh kolektif yang menyimpan sejarah panjang. Dengan kata lain, dari gestur tiga jari yang populer dalam gerakan reformasi 1998 hingga simbol solidaritas yang terus dipinjam berbagai generasi. Namun, di balik gestur yang sama, ada sesuatu yang bergeser: cara massa memaknai tuntutan mereka.

Lima tuntutan itu sendiri layak dicermati karena jangkauannya yang luas. Penanggulangan bencana menyentuh soal tata kelola negara di level paling dasar: bagaimana anggaran disiapkan, bagaimana peringatan dini bekerja, bagaimana korban dipulihkan. APBN pro rakyat mempertanyakan arah belanja negara: untuk siapa anggaran itu sesungguhnya bekerja.

Pendidikan gratis mengingatkan bahwa konstitusi menjanjikan pendidikan bagi semua, bukan hanya bagi yang mampu membayar. Pemberantasan KKN menyoroti penyakit lama birokrasi yang tak kunjung sembuh. Sementara kebebasan berpendapat menyentuh ruang publik yang makin sempit, dari pembatasan demonstrasi hingga tekanan digital terhadap suara kritis.

Tentu saja yang menarik, lima tuntutan itu tidak lahir dari kekosongan. Ia merangkum kegelisahan yang telah lama mengendap: soal bencana yang kerap ditangani secara reaktif, soal anggaran yang lebih berpihak pada proyek ketimbang warga, soal biaya pendidikan yang membebani keluarga, soal korupsi yang berulang, dan soal ruang berekspresi yang kian terbatas. Dalam pengertian itu, tiga jari di udara bukan sekadar simbol. Ia adalah ringkasan dari ketidakpuasan yang terorganisir.

Sadar dan Mengorganisir

Ada dua kata kunci penting dari gerakan 28 Oktober kemarin: sadar dan mengorganisir. Keduanya bukan sekadar slogan, melainkan tahapan yang saling bergantung. Kesadaran tanpa organisasi mudah menguap menjadi euforia sesaat; organisasi tanpa kesadaran mudah berubah menjadi mesin tanpa arah.

Baca...  Biopolitik Piring Kosong: Ironi di Balik Runtuhnya Makan Bergizi Gratis

Kita tahu, sejarah gerakan sosial di Indonesia berulang kali membuktikan hal ini; gelombang protes yang besar namun tak terorganisir sering berakhir tanpa perubahan struktural, sementara organisasi yang rapi namun kehilangan kesadaran kritis cenderung menjadi birokrasi baru yang jauh dari rakyat.

Kesadaran, inilah yang menjadi titik mula dari setiap perubahan. Kesadaran bukan sekadar tahu bahwa ada masalah; ia adalah kemampuan menghubungkan satu persoalan dengan persoalan lain, melihat pola di balik peristiwa, dan memahami bahwa kondisi yang ada bukan takdir yang harus diterima.

Ketika seorang warga menyadari bahwa bencana bukan semata soal curah hujan, melainkan soal tata ruang dan anggaran, kesadarannya telah berubah menjadi analisis. Ketika seorang mahasiswa memahami bahwa pendidikan gratis bukan utopia melainkan soal prioritas anggaran, ia telah bergerak dari keluhan menuju gagasan.

Namun, kesadaran yang tidak diorganisir mudah terserak. Di sinilah mengorganisir menjadi kata kunci kedua. Mengorganisir berarti membangun struktur (sekecil apa pun) yang memungkinkan kesadaran bertahan, tumbuh, dan bekerja. Ia bisa berbentuk forum warga, serikat pekerja, komunitas kampus, atau jaringan solidaritas lintas isu. Mengorganisir juga berarti belajar mendengarkan, berbagi peran, dan merawat keberlanjutan. Tanpa dimensi ini, energi protes hanya menjadi ledakan yang cepat padam.

Kombinasi sadar dan mengorganisir inilah yang membedakan gerakan yang berdaya dari kerumunan yang sekadar ramai. Gerakan yang berdaya tahu apa yang diperjuangkan, tahu siapa yang berjuang, dan tahu bagaimana perjuangan itu dilanjutkan esok hari. Artinya, bukan hanya di panggung, tetapi juga di ruang-ruang kecil kehidupan sehari-hari.

Ruang Diskusi sebagai Panggung Kesadaran

Semua ruang diskusi, tulisan, hingga panggung-panggung mimbar di dalam maupun luar ruangan sebenarnya bertumpu pada satu tujuan: membangun kesadaran. Ruang-ruang itu, dari kelas dan warung kopi hingga media sosial dan mimbar terbuka, adalah infrastruktur tak terlihat dari sebuah gerakan. Di sanalah pengalaman pribadi diolah menjadi pengetahuan bersama, keluhan diterjemahkan menjadi tuntutan, dan tuntutan dipertajam menjadi agenda.

Baca...  Beras dan Teatrikalitas Kebijakan: Membedah Retorika Karitatif di Panggung Kekuasaan

Namun, ruang kesadaran hari ini menghadapi tekanan yang tidak ringan. Algoritma media sosial memecah perhatian, hoaks mengaburkan fakta, dan polarisasi membuat percakapan berhenti pada saling tuduh.

Di sisi lain, ruang fisik juga tak selalu ramah: pembatasan berkumpul, intimidasi terhadap suara kritis, dan rasa lelah yang melanda banyak orang membuat kesadaran sulit dirawat. Karena itu, membangun kesadaran hari ini menuntut lebih dari sekadar semangat. Ia menuntut ketekunan, literasi, dan kemampuan merawat percakapan yang jujur di tengah kebisingan.

Pada titik inilah gerakan 28 Oktober memberikan pelajarannya. Tiga jari di udara bukan akhir dari perjalanan, melainkan pembuka. Lima tuntutan yang diteriakkan bukan daftar belanja politik, melainkan cermin dari kesadaran yang mulai tertata.

Syahdan. Tugas berikutnya bukan menambah teriakan, melainkan merawat kesadaran itu agar tetap hidup di ruang diskusi, di tulisan, di panggung, dan di kehidupan sehari-hari. Sebab perubahan yang bertahan selalu dimulai dari kesadaran yang tidak hanya hadir, tetapi juga terorganisir.

452 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
Opini

Efisiensi yang Salah Alamat

2 Mins read
Wacana untuk “menurunkan gaya hidup” kembali mencuat di ruang publik. Namun, ajakan itu terasa janggal ketika dihadapkan pada realitas belanja negara yang…
KeislamanOpini

Ulama di Era Konten

5 Mins read
Pertanyaan “ulama kok ngonten?” kerap terdengar seperti gugatan. Nadanya seolah ulama yang tampil di layar ponsel sedang turun derajat, dari penjaga ilmu…
Opini

Sumpah yang Tak Boleh Usang

3 Mins read
Setiap 28 Oktober, linimasa media sosial dipenuhi ucapan selamat. Upacara digelar, poster dibagikan, ikrar dibacakan kembali. Setelah itu hidup berjalan seperti biasa….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *