Di dalam kehidupan ini, begitu banyak lika-liku yang kita alami. Mulai dari adanya tujuan hidup, munculnya permasalahan dalam menjalani kehidupan, penanganan atas permasalahan tersebut, hingga akhirnya kita mencapai titik kesuksesan atau kegagalan dalam mengarungi kehidupan ini.
Semua yang disebutkan di atas adalah proses kehidupan yang sedang kita jalani, mulai dari titik nol sampai kembali ke titik nol. Lalu, bagaimanakah seharusnya kita hidup? Apakah kita hanya sekadar hidup tanpa arah dan tujuan? Ataukah hidup yang hanya bersenang-senang dalam ketidakmanfaatan?
Oleh karena itu, menjadi seorang sufi merupakan salah satu jalan untuk menjalani kehidupan yang penuh makna ini. Lalu, apakah sufi itu? Apa saja proses yang akan dialami dalam menjalani kehidupan sebagai seorang sufi? Apa saja langkah-langkah dalam berproses menjadi seorang sufi?
Pengertian Sufi
Sufi merupakan sebutan bagi orang yang ahli dalam bidang ilmu tasawuf. Sementara itu, orang yang masih berproses menjadi ahli tasawuf disebut salik. Tasawuf sendiri merupakan gerakan Islam yang mengajarkan ilmu cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, membangun lahir dan batin, serta memperoleh kebahagiaan abadi.
Menurut Harun Nasution, tasawuf merupakan suatu disiplin ilmu yang mempelajari cara dan jalan agar seseorang dapat sedekat mungkin dengan Allah. Cara atau jalan tersebut terdapat dalam ajaran-ajaran atau konsep-konsep yang dipahami kemudian dipraktikkan. Tasawuf juga hadir bagi manusia untuk mengenal dirinya sendiri dan mengenal Tuhannya.
Ada beberapa langkah untuk menjadi seorang sufi. Menurut Imam Al-Ghazali, ada 5 langkah dalam mendalami ilmu tasawuf, antara lain:
1. Tobat
Tobat dapat diartikan sebagai bentuk pengakuan dosa antara seorang hamba dan Sang Pencipta. Di sisi lain, tobat juga berarti memohon ampunan kepada Sang Maha Segala-galanya. Dari sinilah manusia harus mengakui kesalahan dan meminta ampunan-Nya supaya jiwanya kembali bersih dan suci. Sebab, salah satu cara mendekatkan diri kepada Sang Pencipta adalah dengan menyucikan jiwa terlebih dahulu.
2. Sabar
Sabar dapat diartikan sebagai proses pengendalian diri untuk beralih dari hal-hal negatif menuju hal-hal yang bersifat positif, contohnya nafsu. Nafsu yang tidak terkontrol akan membuat jiwa ini kembali ternodai.
Maka dari itu, diperlukan kesabaran dalam berproses mengontrol hawa nafsu dalam diri, salah satunya dengan cara selalu mengingat Allah melalui zikir. Jika jiwa ini ternodai kembali, kita perlu bertobat lagi dan harus sabar dalam mengendalikan nafsu dalam diri.
3. Zuhud
Zuhud dapat diartikan sebagai proses ketika seorang salik mulai meninggalkan unsur kesenangan duniawi karena ia begitu asyik dengan Tuhannya. Pada level ini, seorang salik akan menyibukkan dirinya kepada Allah dengan cara berzikir atau mengingat Allah.
Di mana pun dan kapan pun berada, ia hanya akan ingat kepada Allah dan selalu berzikir menyebut nama-Nya.
4. Tawakal
Setelah tobat, sabar, dan zuhud, langkah keempat adalah tawakal. Tawakal dalam ilmu tasawuf diartikan sebagai penyerahan diri kepada Allah, tempat seorang salik merasakan bahwasanya wujud dirinya sudah tidak ada dan yang ada hanyalah Allah.
5. Makrifat
Ini adalah puncak dari tasawuf, tempat seorang salik akan mengetahui rahasia Allah. Bagi Imam Al-Ghazali, pengetahuan yang diperoleh melalui jalan makrifat hasilnya lebih bermutu daripada jalan biasa (kognitif semata). Sebab, makrifat menimbulkan rasa cinta yang kuat (mahabbah) dari dalam diri kepada Sang Maha Pencinta, Allah SWT.
Itulah langkah-langkah bertasawuf versi Imam Al-Ghazali. Jika belum bisa hidup sepenuhnya sebagai seorang sufi, setidaknya kita bisa hidup dengan selalu berusaha layaknya seorang sufi.
Kita menjadi pribadi yang selalu bertobat jika melakukan kesalahan, selalu sabar dalam berproses menjalani kehidupan, tidak mudah tergoda kesenangan duniawi, selalu menyerahkan diri kepada Tuhan, hingga pada akhirnya menjadi seorang yang bijaksana dalam menyikapi dan menjalani hidup.
Sebab, kita hidup bukan hanya sekadar hidup atau untuk kesenangan semata, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui pendekatan cinta kepada Sang Maha Memiliki Cinta.
Penulis: Muhammad Toha Sobirin (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Jurusan Akidah dan Filsafat Islam)
Editor: Adis Setiawan

