Seni musik merupakan seni yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan semua orang. Hampir semua orang di dunia ini menyukai musik. Bagaimana tidak, dalam kehidupan sehari-hari pun kita selalu mendengarkan musik atau tak sengaja mendengarnya dari orang lain. Mulai dari musik rock, jazz, pop, religi, dan masih banyak jenis musik lainnya.
Musik sendiri juga dipandang sebagai kebutuhan ekspresif manusia dalam mengungkapkan perasaan, emosi, atau jalan kehidupan yang ia jalani. Setiap jiwa manusia memiliki sistem alunan musik berupa irama, melodi, serta ritme.
Irama yang tercermin di dalam diri manusia meliputi fisik dan mental. Secara fisik, manusia memiliki ritme berupa denyut nadi, tarikan napas, ataupun kedipan mata, serta irama dalam logat berbicara dan cara berjalan.
Secara mental pun manusia memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, yang membentuk dan memengaruhi irama kerja serta cara berpikir yang terstruktur secara melodis dan harmonis, mengibaratkan keras lunaknya sebuah irama musik.
Demikian pula dengan kondisi emosi yang memengaruhi aliran darah dan detak jantung. Emosi marah akan membuat detak jantung menjadi lebih kencang.
Di dalam agama, musik pun dijadikan sebagai sesuatu yang sakral, yang dapat membuat pendengarnya menjadi lebih religius dan merasakan ketenangan spiritualitas di dalam diri. Islam pun demikian. Agama ini memanfaatkan musik sebagai sarana untuk berdakwah menyebarkan ajaran Islam.
Di sisi lain, musik juga menjadi sarana untuk mengungkapkan isi hati seorang hamba kepada Dia, Sang Pemilik Cinta. Contohnya, seorang sufi mengungkapkan apa yang ia rasakan melalui syair atau nada dari musik yang ia ciptakan.
Islam memiliki pandangan tersendiri terhadap musik. Ada pandangan yang memperbolehkan dan ada pula yang melarangnya. Musik dikatakan terlarang jika menyebabkan kelalaian menuju Tuhan serta menimbulkan kecintaan terhadap dunia secara berlebihan, sehingga spiritualitas dalam diri menurun. Atas dasar itulah sebagian pandangan dalam Islam melarang musik.
Namun, Islam juga menjadikan musik sebagai tangga menuju hadirat Tuhan, karena musik dapat membuat hati seseorang menjadi tenang.
Contohnya seperti pembacaan Al-Qur’an (tilawah), nyanyian religius berupa salawat, serta rangkaian doa suci. Musik bagi Islam merupakan gema panggilan Tuhan kepada manusia untuk kembali kepada-Nya, sekaligus sarana manusia untuk kembali ke sumber spiritualnya.
Keharmonisan musik bergantung pada kondisi spiritual pembuat dan pendengarnya. Semakin tinggi spiritualitas dalam diri seseorang, semakin tinggi pula kualitas musik yang ia buat maupun dengarkan.
Seyyed Hossein Nasr mengatakan bahwasanya:
”Musik berfungsi untuk menenteramkan pikiran dari beban kemanusiaan dan menghibur tabiat manusia. Bagi sementara orang, musik merupakan godaan karena ketidaksempurnaan mereka. Bagi yang lain, musik merupakan sebuah peringatan.”
Musik juga berperan sebagai media pemenuhan kepentingan bagi manusia. Di sinilah kemudian musik memiliki peran dan fungsi yang signifikan terhadap kondisi diri manusia. Seperti halnya alam, ketika manusia mengalami disharmonisasi dalam dirinya—baik secara fisik, mental, maupun spiritual—ia akan berusaha membentuk keharmonisan baru melalui musik.
Musik juga dapat direspons secara fisik dan mental oleh manusia. Musik masuk ke tubuh melalui indra pendengaran, yaitu telinga, lalu dilanjutkan menuju otak, hingga akhirnya hati menerima, sehingga hal tersebut dapat memengaruhi kinerja tubuh maupun pikiran.
Jika musik ditujukan untuk ketenangan, musik tersebut akan ditafsirkan oleh tubuh dan pikiran sebagai ketenangan. Namun, jika musik tersebut dihayati sebagai kesedihan, tubuh dan pikiran pun akan meresponsnya sebagai kesedihan.
Sebaliknya, jika musik dijadikan sebagai pembakar semangat, tubuh atau pikiran akan meresponsnya dengan energi penuh untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Jikalau musik dijadikan alat atau jalan menuju Tuhan, akan timbul ketenangan-ketenangan di dalam pikiran dan hati.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga diri agar tetap stabil dan tenang, karena setiap jiwa memiliki tingkat spiritualitas masing-masing. Pada akhirnya, spiritualitas tersebut akan memengaruhi cara kerja dan aktivitas kita sehari-hari.
Penulis: Muhammad Toha Sobirin (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Jurusan Akidah dan Filsafat Islam)
Editor: Adis Setiawan

