A. Pendahuluan
Pendidikan Agama Islam pada jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) memiliki posisi yang sangat strategis dalam membina landasan moral dan keimanan anak sejak dini. Mata pelajaran Akidah Akhlak tidak hanya dirancang untuk menyampaikan pengetahuan dogmatis keagamaan, melainkan berfokus pada pembentukan kepribadian holistik peserta didik yang mencakup ranah kognitif (pemahaman nilai), afektif (penghayatan rasa keagamaan), dan psikomotorik (pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari) (Supiani & Barni, 2024). Pada usia sekolah dasar, anak berada pada periode keemasan perkembangan (golden age) dan fase pembentukan pola perilaku dasar.
Tantangan pendidikan karakter di era kontemporer semakin kompleks seiring dengan pesatnya perkembangan arus teknologi informasi. Siswa SD/MI saat ini tumbuh di tengah lingkungan digital yang menyediakan akses tanpa batas terhadap media sosial, permainan elektronik, dan tayangan internet. Tanpa pendampingan moral yang kuat, anak-anak sangat rentan mengadopsi contoh perilaku kurang terpuji yang diserap dari media digital atau lingkungan pergaulan sekitarnya, seperti perkataan tidak santun, tindakan perundungan (bullying), rasa malas, hingga sikap tidak jujur. Kondisi ini menegaskan perlunya peran aktif dari guru PAI dan Akidah Akhlak dalam merancang strategi pembelajaran yang kontekstual, komunikatif, dan berbasis keteladanan.
B. Hakikat Akhlak Terpuji (Mahmudah) dan Akhlak Tercela (Mazmumah)
a. Akhlak Terpuji (Mahmudah)
Akhlak mahmudah adalah segala bentuk sifat, tutur kata, dan tindakan terpuji yang terwujud secara spontan berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Nabi untuk membina hubungan baik dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan baik sesama manusia (hablum minannas) (Harahap et al., 2022). Indikator utama penerapan akhlak mahmudah di sekolah meliputi:
- Kesantunan dan sopan santun (budaya 5S: Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun).
- Tawakal dan ketaatan beribadah (pembiasaan doa harian).
- Kedisiplinan dan kerajinan (salat Dhuha dan Dzuhur berjamaah).
- Tolong-menolong (kegiatan piket bersama).
- Rendah hati (tawadhu’).
- Dermawan (infak Jumat).
- Tanggung jawab dan kejujuran (tidak mencontek).
- Toleransi antarteman.
b. Akhlak Tercela (Mazmumah)
Akhlak mazmumah merupakan perilaku buruk yang menyimpang dari norma agama dan sosial. Pada anak usia SD/MI, perilaku mazmumah umumnya lahir dari proses imitasi (peniruan) terhadap lingkungan yang kurang sehat atau keterbatasan kontrol emosi (Riski & Karimah, 2024). Bentuk-bentuk yang sering dijumpai antara lain:
- Berbohong/Dusta: Pernyataan yang tidak sesuai dengan kebenaran untuk menghindari sanksi atau mencari keuntungan pribadi.
- Sombong dan Iri Hati: Sikap membanggakan diri sendiri secara berlebihan serta merasa tidak senang jika melihat teman lain meraih prestasi atau memiliki barang baru.
- Suka Mengganggu dan Perundungan (Bullying): Mengganggu ketenangan kelas, mengejek fisik atau nama orang tua teman, hingga melakukan tindakan intimidasi verbal maupun fisik.
- Malas Belajar dan Membolos: Enggan mengerjakan tugas, terlambat masuk sekolah, atau sengaja meninggalkan jam pelajaran tanpa izin.
- Kurang Sopan dan Penentang: Bersikap tidak sopan saat berbicara kepada guru, membangkang nasihat kebajikan, serta melanggar tata tertib sekolah.
- Berkhianat dan Mencontek: Mengambil hak teman tanpa izin, tidak menepati janji, serta bersikap tidak jujur saat evaluasi belajar.
Faktor Pemicu Munculnya Akhlak Mazmumah pada Anak SD/MI:
- Pola Asuh Keluarga Kurang Optimal: Kurangnya bimbingan agama dan contoh perilaku baik dari orang tua di rumah.
- Pengaruh Teman Sebaya (Peer Group): Keinginan untuk diterima dalam kelompok teman dapat mendorong anak meniru perilaku negatif.
- Paparan Media Digital Tanpa Filter: Penggunaan media digital tanpa pengawasan dapat membuat anak terpapar tayangan kekerasan, bahasa kasar, dan konten yang tidak sesuai dengan nilai moral.
- Pembelajaran Terlalu Tekstual: Pembelajaran agama yang hanya berfokus pada hafalan tanpa pemahaman makna dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
C. Strategi dan Metode Pembelajaran Efektif
Internalisasi nilai-nilai akhlak pada anak SD/MI membutuhkan metodologi yang variatif dan kontekstual:
- Keteladanan (Uswah Hasanah): Guru dan pendidik bertindak sebagai role model konsisten yang memperlihatkan tutur kata santun, kejujuran, dan kedisiplinan ibadah secara nyata.
- Metode Pembiasaan (Habituation): Karakter terbentuk melalui pengulangan rutin seperti penyambutan 5S di gerbang sekolah, doa bersama, salat Dhuha/Dzuhur berjamaah, dan piket kelas (Parihin et al., 2022).
- Metode Cerita (Storytelling) & Ibrah: Memanfaatkan narasi bermakna seperti kisah Nabi Muhammad SAW (kejujuran/al-Amin), Nabi Yusuf a.s. (kesucian diri), Nabi Sulaiman a.s. (tanggung jawab), serta Nabi Ismail a.s. & Nabi Ibrahim a.s. (keikhlasan) (Cahyono et al., 2026).
- Nasihat (Mau’izhah) & Reward/Punishment Edukatif: Teguran pribadi yang persuasif tanpa mempermalukan anak, diiringi apresiasi serta sanksi edukatif (seperti menambah hafalan Al-Qur’an).
- Media Pembelajaran Interaktif: Pemanfaatan animasi interaktif berbasis Discovery Learning, infografis digital, dan kuis interaktif untuk menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan.
D. Kolaborasi Lingkungan dan Evaluasi Pembelajaran
a. Sinergi Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat
Internalisasi akhlak mulia memerlukan ekosistem pendidikan yang padu. Sekolah dan orang tua harus menyelaraskan pola pembinaan melalui buku penghubung karakter, pertemuan berkala parenting, serta komunikasi aktif mengenai perkembangan anak (Ambarsari & Darmiyati, 2022).
b. Evaluasi Pembelajaran Akhlak secara Holistik
Evaluasi tidak boleh hanya bertumpu pada tes kognitif tertulis. Penilaian mencakup aspek proses dan perubahan sikap nyata melalui kuis/pertanyaan lisan konseptual, observasi perilaku harian, serta penilaian diri dan antarteman (self & peer assessment).
E. Kesimpulan
Pengenalan akhlak terpuji (mahmudah) dan pencegahan akhlak tercela (mazmumah) pada siswa SD/MI merupakan langkah esensial dalam membangun generasi muda yang berkarakter Islami dan berintegritas. Keberhasilannya bergantung pada kombinasi terpadu antara keteladanan (uswah hasanah), pembiasaan rutin (habituation), narasi cerita (storytelling), nasihat edukatif, media interaktif, serta sinergi erat antara sekolah, rumah, dan masyarakat (Ambarsari & Darmiyati, 2022; Cahyono et al., 2026; Harahap et al., 2022; Parihin et al., 2022; Riski & Karimah, 2024; Supiani & Barni, 2024).
DAFTAR PUSTAKA
Ambarsari, D., & Darmiyati, A. (2022). Implementasi pembelajaran akidah akhlak dalam membentuk karakter siswa di MI Tarbiyatussibyan Telukjambe Timur Karawang. Jurnal Education and Development, 10(1), 371–378.
Cahyono, E. N., Asy’ari, H., & Ashari. (2026). Strategi Pembentukan Karakter Peserta Didik Dalam Pembelajaran Akidah Akhlak Melalui Cerita di MI Darul Hikmah Gondang Mojokerto. Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (JITK), 4(2), 109–124.
Harahap, M. R., Lubis, M. S., & Baharuddin, I. (2022). Penerapan Akhlak Terpuji di Lingkungan Sekolah. Forum Paedagogik, 13(1), 117–128.
Parihin, P., Rusandi, H., Hidayah, N., & Wijayanti, H. N. (2022). Metode Pembiasaan dalam Pembinaan Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah. Journal of Millenial Education, 1(1), 11–22.
Riski, & Karimah, U. (2024). Optimalisasi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mengatasi Akhlak Mazmumah Siswa Sekolah Dasar. Az-Zakiy: Journal of Islamic Studies, 2(1), 31–43.
Supiani, & Barni, M. (2024). Akidah Akhlak: Karakteristik dan Pembelajarannya. Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan, 6(4), 1003–1007.

