KisahTokoh

Mengenang Mukhlis Fathurrohman, Wakil Rektor III IIM Surakarta

1 Mins read

Dunia pendidikan, khususnya Institut Islam Mamba’ul Ulum (IIM) Surakarta, tengah berduka. Kepergian Bapak Mukhlis Fathurrohman, M.S.I., bukan sekadar kehilangan seorang Wakil Rektor III, melainkan kehilangan sosok guru, mentor, dan panutan yang selama ini mengayomi dengan kelembutan.

​Empat bulan yang lalu, saya memiliki kesempatan berharga untuk menimba ilmu dari beliau. Dalam ingatan saya, beliau adalah sosok dosen yang karismatik, dengan aura wajah yang teduh dan selalu dihiasi senyuman. Beliau adalah potret pendidik yang utuh; bukan hanya menuntut mahasiswa untuk cemerlang di ruang kelas, tetapi juga aktif mendorong kami untuk berkembang di luar kampus.

​Mentor yang Mengutamakan Nalar Kritis

​Bagi Bapak Mukhlis, pendidikan bukanlah proses yang terkungkung oleh tembok ruang kelas. Beliau selalu menekankan pentingnya berorganisasi sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mengasah nalar kritis dan menciptakan ruang diskusi yang kompeten.

​Beliau dikenal sebagai pendidik yang sangat penyabar. Selama berinteraksi dengan mahasiswa, hampir tidak pernah sekalipun beliau menampilkan wajah amarah. Pendekatannya yang hangat membuat mahasiswa merasa nyaman untuk berdialog, bahkan beliau kerap membuka ruang dan peluang bagi calon mahasiswa untuk bergabung di IIM Surakarta. Keberadaannya di berbagai acara kemahasiswaan IIM Surakarta selalu menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berkontribusi.

​Warisan Intelektual

​Dedikasi Bapak Mukhlis dalam dunia akademik tidak perlu diragukan. Salah satu bukti konkret kontribusinya adalah buku berjudul Metodologi Studi Islam. Buku tersebut menjadi pegangan penting bagi kami, mahasiswa IIM Surakarta, khususnya bagi mahasiswa semester satu. Melalui karya tersebut, pemikiran-pemikiran beliau akan terus hidup, menjadi jembatan ilmu bagi generasi-generasi setelah kami.

​Selamat Jalan, Sang Pengayom

​Kini, sosok yang selalu menggaungkan semangat kemajuan kampus tercinta ini telah berpulang ke Rahmatullah. Beliau mengembuskan napas terakhir pada hari Minggu, 19 April 2026, tepat pukul 23.40 WIB. Pemakaman beliau dilaksanakan keesokan harinya, Senin, 20 April 2026, pada pukul 11.00 WIB.

Baca...  Sejarah Baitul Mal Masa Umar bin Khattab dan Pengelolaannya

​Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam, tidak hanya bagi para mahasiswa, tetapi juga bagi rekan sejawat, staf, dan seluruh keluarga besar IIM Surakarta. Beliau adalah sosok yang mampu merangkul siapa saja—mulai dari kalangan organisasi mahasiswa, karyawan, hingga sesama dosen.

​Selamat jalan, Bapak Mukhlis Fathurrohman. Dedikasi, nasihat, dan karya yang Bapak tinggalkan akan selalu terpatri di hati dan ingatan kami. Semoga ilmu yang Bapak ajarkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

Penulis: Ahmad Zuhdy Alkhariri

Tulisan ini disusun sebagai bentuk penghormatan terakhir atas dedikasi almarhum Bapak Mukhlis Fathurrohman, M.S.I., semasa hidupnya sebagai pendidik dan akademisi di IIM Surakarta.

69 posts

About author
Direktur Lembaga Pers dan Penerbitan PC IPNU Kabupaten Sukoharjo, Pengurus PC GP Ansor Kabupaten Sukoharjo.
Articles
Related posts
EsaiFilsafatTokoh

Teo-Humanisme Pluralistik dalam Diskursus Filsafat Gus Dur

6 Mins read
Diskursus mengenai pemikiran Islam modern di Indonesia sering kali terjebak dalam dikotomi rigid antara tradisi teks klasik (turats) dan modernitas Barat. Namun,…
ArtikelSejarahTokoh

Memoar Singkat, Ancaman, dan Misteri Gugurnya Baharuddin Lopa

7 Mins read
“Terlalu banyak orang yang ketakutan jika saya diangkat menjadi Jaksa Agung, sehingga logis jika orang ramai-ramai memotongi saya agar tidak menjadi Jaksa…
KisahOpiniSejarahTokoh

Lentera di Ujung Pulau: Refleksi Teologis dan Sosiologis KH. Syarfuddin Abdus Shomad

7 Mins read
Narasi besar tentang penyebaran Islam di Nusantara sering kali berpusat pada kota-kota besar, pesisir utara Jawa, atau pusat-pusat kesultanan yang megah. Kita…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
OpiniPendidikan

Adab yang Hilang: Pentingnya Adab kepada Guru untuk Bangsa