Dalam Islam, kita mengenal rukun iman dan rukun Islam. Meyakini Allah saja tidak cukup tanpa kalimat syahadat. Syahadat adalah bagian dari rangkaian ibadah ritual serta perbaikan moral yang menjadi tuntunan dalam ajaran Islam. Seseorang dapat dianggap muslim jika sudah bersyahadat, baik dalam ucapan maupun tindakan.
Pertanyaannya adalah, bagaimana urgensi dan implikasi kalimat syahadat yang sesungguhnya? Bagaimana jika seseorang sudah mengimani Allah tanpa mengucapkan syahadat?
Dalam konteks rukun Islam, sebagian orang Islam sendiri banyak yang tidak paham tentang rukun tersebut; mereka tidak paham apa itu syahadatain. Orang zaman dahulu mengajari anaknya syahadat dan maknanya (saya sendiri merasakannya), namun sekarang kewajiban ini mulai sirna. Zaman seolah sudah terbalik.
Salah satu indikatornya adalah ketika seseorang baru belajar syahadat saat hendak menikah. Akibatnya, ia terbata-bata membacanya. Terkait hal ini, M. Quraish Shihab berkomentar bahwa jangankan memahami maknanya, disuruh membaca teksnya saja masih terbata-bata.
Syahdan. Syahadat disebut pertama kali dalam rukun Islam. Begitu juga kepercayaan terhadap keesaan Allah disebutkan pertama kali dalam rukun iman. Lantas, apa bedanya poin pertama di rukun iman “percaya pada Allah” dan rukun Islam “syahadat”?
Bedanya adalah yang satu berada dalam hati, sementara yang satunya lagi termanifestasi dalam ucapan dan tindakan. Anda sudah dinilai Allah percaya pada-Nya dan keesaan-Nya, akan tetapi Anda belum dinilai muslim oleh manusia kecuali jika sudah mengucapkan syahadat.
Jadi, sebenarnya ucapan syahadatain itu adalah untuk kepentingan Anda sendiri agar mendapatkan hak-hak sebagai seorang muslim di mata hukum manusia (sosial). Terlepas dari apakah hati Anda benar-benar percaya atau tidak, secara formal Anda sudah dinilai muslim melalui ucapan tersebut.
Substansi Syahadat
Lalu, apa sebenarnya substansi syahadat? Ada pertanyaan di kalangan para filsuf yang sangat menggelitik: “Adakah sesuatu yang wujud?” Ada yang berpendapat tidak ada, sebab semuanya hanyalah khayalan.
Jika Anda tidur kemudian bermimpi, apakah mimpi itu ada wujudnya atau tidak? Jawabannya, tidak ada wujudnya. Hidup di dunia ini pun dianggap bak mimpi oleh sebagian kalangan tasawuf. Mereka berpendapat bahwa tidak ada yang benar-benar wujud kecuali Allah.
Dahulu, saat materialisme belum merasuk ke dalam jiwa, banyak orang yang memercayai hal demikian. Di kalangan filsuf Barat, ada yang menganut prinsip “Cogito, Ergo Sum” (Aku berpikir maka aku ada). Islam pun mengakui bahwa alam ini memiliki wujud.
Sementara itu, dalam syahadat, logikanya berkembang: “Aku bersaksi maka aku ada, dan sekaligus ada wujud selain saya.” Quraish Shihab menjelaskan bahwa ketika Anda berkata, “Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah,” secara tidak langsung Anda mengakui adanya wujud lain di luar diri Anda.
Hal yang sering terlupakan ketika mengucapkan syahadat adalah: apakah Anda sadar bahwa di samping Anda ada orang lain? Apakah Anda sadar ada wujud lain di sekitar Anda? Karena itu, sebenarnya syahadatain semestinya mengajarkan manusia untuk juga memelihara lingkungan dan sesama.
Tuhan tidak membutuhkan kesaksian manusia. Sekali lagi, ucapan syahadatain hanyalah untuk manusia supaya orang lain tahu bahwa kita muslim. Jika sudah bersyahadat, pertanyaannya adalah apakah tindakan kita menunjukkan perilaku muslim atau tidak? Jadi, ini bukan sekadar urusan lisan.
Lalu bagaimana praktik hidup kita dengan syahadat?
Pertama, kita tidak diajarkan untuk berkata, “Asyhadu annallaha waahidun” (Aku bersaksi bahwa Allah itu satu), melainkan kita diajarkan mengucapkan, “Asyhadu an laa ilaaha illaa Allah”. Ada proses menafikan (meniadakan) dahulu baru menetapkan.
Bukan hanya di kalangan ulama, bahkan di kalangan cendekiawan pun berlaku prinsip bahwa jika ingin mencapai kebenaran, Anda harus mengosongkan pikiran dari segala prasangka atau ide lama. Carilah dengan jernih, baru Anda akan menemukannya. Jika tidak, Anda akan menjadi subjektif dan mudah dipengaruhi.
Kedua, menyingkirkan yang buruk dengan menetapkan yang baik (at-takhalli muqaddamun ‘alat tahalli). Menyingkirkan keburukan harus lebih utama daripada sekadar menghiasi diri dengan kebaikan.
Wallahu a’lam bisshawab.

