Keindahan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada pesan-pesannya, tetapi juga pada cara pembacaannya yang menjadi suatu tradisi yang terus dijaga sejak masa Rasulullah. Namun pernahkah kalian mendengar Al-quran dibacakan dengan cara yang terdengar sedikit berbeda, tetapi masih terasa begitu indah dan juga khidmah ketika mendengarnya.
Perbedaan dalam cara membaca Al-Qur’an adalah salah satu contoh dari ”keberagaman qira’at” yaitu variasi cara membaca Al-qur’an yang shahih dan memiliki sanad yang jelas hingga Rasulullah SAW.
Sayangnya orang awam seringkali menganggap perbedaan ini tidak konsisten atau mengira adanya kekeliruan saat membacanya. Namun ragam qira’at ini bukanlah suatu kesalahan dalam cara baca Al-Qur’an, melainkan salah satu bentuk keluasan dan keindahan Al-Qur’an yang telah diajarkan sejak zaman Rasulullah.
Apa itu qira’at? Makna etimologis dan terminologis
Secara etimologis lafadz qira’at merupakan bentuk masdar dari asal kata qara’a-yaqra’u-qira’atan-wa qur’anan yang memiliki arti “ bacaan”. Dalam makna asalnya kata ini juga mempunyai arti “mengumpulkan” atau “menghimpun”, yaitu proses menyusun huruf-huruf dan kata-kata hingga menjadi sebuah ucapan yang tersusun rapi dan memiliki makna. Sedangkan secara terminologi ulama memberikan definisi yang berbeda.
Misalnya, Manna’ al-Qathan mengatakan bahwa qiraat adalah salah satu madzhab atau metode pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang dipilih oleh salah satu imam, dan menjadi ciri khas yang membedakannya dari imam lain yang diriwayatkan melalui sanad yang shahih hingga nabi Muhammad.(Muarif dkk., 2022)
Menurut Imam al-Zarkasy dalam al-Burhan fi ‘ulum Al-Qur’an mendefinisikan qira’at sebagai berikut:
اختلاف ألفاظ الوحى المذكور في كتابة الحروف أوكيفيتها من تخفيف وتثقيل وغيرهما
“Qiraat adalah perbedaan lafadz-lafadz Al-Qur’an, baik menyangkut huruf-hurufnya maupun cara pengucapan huruf-huruf tersebut, seperti : takhfif, tasqil dan lain-lain”.
Pengertian qira’at yang disebutkan Imam al-Zarkasy diatas menunjukkan bahwa perebedaan qira’at hanya berlaku untuk lafal tertentu dalam Al-Qur’an. Banyak kata atau bacaan dalam Al-Qur’an yang tidak mengalami perbedaan qiraat dan dibaca dengan cara yang sama oleh semua imam qira’at. (Jamal dkk., 2020)
Perbedaan pengertian dari para ulama ini menunjukkan keluasan pemaknaan qira’at. Tetapi tetap dalam arti yang sama, semua pengertian menegaskan bahwa qira’at adalah cara membaca al-quran sebagaimana yang telah diajarkan nabi muhammad saw, dan diriwayatkan secara terjaga melalui jalur periwayatan yang shahih.
Mengapa ada perbedaan qira’at?
Perbedaan qira’at muncul bukan secara tiba-tiba, melainkan lahir dari perjalanan panjang sejarah turunnya dan tersebarnya Al-Qur’an sejak zaman nabi Muhammad SAW. Pada masa itu masyarakat arab terdiri dari berbagai suku yang memiliki perbedaan dialek. Nabi SAW. Membacakan ayat-ayat sesuai dengan kemampuan bahasa setiap kabilah untuk memudahkan mereka membaca dan menghafalkan Al-Qur’an. Inilah yang kemudian disebut sebagai “sab’ah al-ahruf” yaitu jenis dialek yang diperbolehkan dalam membaca Al-Qur’an pada awal masa islam.(Roziqin, 2023)
Selain perbedaan dialek, variasi bacaan juga muncul dari para sahabat nabi yang belajar langsung dari nabi. Imam al-zarkasyi dalam al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an menjelaskan bahwa para sahabat seperti ubay bin ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Tsabit, dan Ali bin Abi Thalib memiliki riwayat bacaan yang kemudian diwariskan kepada murid-muridnya.
Ketika agama islam mulai menyebar ke syam, irak, mesir, dan afrika utara. Masing- masing daerah memilki ulama dan perawi qira’at yang menjaga serta mengajarkan bacaan yang mereka terima melalui sanad yang terpercaya.
para ulama mulai memilih dan menyusun qira’at yang memiliki sanad yang shahih dan dapat dipertanggung jawabkan. Dari Proses ini menghasilkan qira’at yang dikenal sampai sekarang seperti qira’at Imam Nafi’, Ibn Katsir, Abu ‘Amr, Ibn ‘Amir, ‘Ashim, Hamzah, dan Al-Kisa’i . para imam tersebut bukanlah membuat bacaan baru, melainkan menjaga bacaan yang sudah diajarkan sejak zaman nabi SAW dan para sahabat. Dari sinilah lahir qira’at yang dikenal hingga sekarang sebagai qira’at sab’ah, qira’at ‘asyaroh dan qira’at arba’ah asyrah.(Ridho & Hariyanto, 2024)
Perbedaan qira’at bukan pertentangan, melainkan keindahan bahasa
Bagi beberapa orang perbedaan bacaan dapat menimbulkan pertanyaan, apakah perbedaan itu tidak menimbulkan perbedaan makna? Maka jawabannya adalah tidak.
Para ahli qira’at setuju bahwa semua perbedaan tersebut saling melengkapi dan berada dalam koridor makna yang benar. Qira’at justru memperkaya penafsiran Al-Qur’an. Dengan kata lain perbedaan Qira’at adalah simfoni bahasa yang saling melengkapi bukan pertentangan. Setiap Qira’at menunjukkan sisi yang berbeda dari keindahan Al-Qur’an, tetapi semuanya bermuara pada satu kebenaran yang sama.
Oleh karena itu, keragaman qira’at ini harus kita pandang sebagai kekayaan ilmiah dan rahmat. Ia memberikan kita lensa yang lebih banyak dan berwarna untuk menatap kedalaman makna Al-Qur’an.
Alih-alih memicu perdebatan, ia justru mengajarkan kita akan keindahan toleransi dalam ijtihad, kedalaman ilmu para ulama, dan kebijaksanaan Allah SWT yang menurunkan firman-Nya dalam ragam bacaan yang semuanya bersumber dari satu sumber wahyu: “Bacalah Al-Qur’an dengan tujuh huruf (dialek), karena ia adalah obat penawar.” (HR. Bukhari).
Inilah bukti bahwa Islam menghargai perbedaan selama ia berdiri di atas jalur ilmu dan sanad yang shahih, semuanya bermuara untuk semakin mempermudah dan memperindah interaksi umat dengan Kalamullah.
Referensi
Jamal, K., Putra, A., & Hermanto, E. (2020, November). PENGANTAR ILMU QIRA’AT. KALIMEDIA.
Muarif, S., Hidayati, A., & Halimah, H. (2022). MAKNA QIRAAT AL-QUR’AN DAN KAIDAH SISTEM QIRAAT YANG BENAR. MUSHAF JOURNAL: Jurnal Ilmu Al Quran dan Hadis, 2(Vol. 2 No. 2 (2022): Agustus), 214. https://doi.org/10.54443/mushaf.v2i2.35
Ridho, M. T., & Hariyanto, A. (2024). Konsep Sab’atuAḥrufDan Relasinya Dengan Qira’at Sab’ah (Tinjauan Sosio-Historis). 31 Desember 2024, 9(Jil. 9 No. 2 (2024)).
Roziqin, A. K. (2023). SEJARAH DAN PROSES KODIFIKASI QIRAAT SAB’AH: MELACAK WARISAN PENTING DALAM TRADISI MEMBACA AL-QUR’AN. 1 Juni 2023, Vol. 6 No. 2(Vol. 6 No. 2 (2023): Juni), 215–216. https://doi.org/10.35132/albayan.v6i2.432

