Ketika berbicara tentang Al-Qur’an, banyak orang langsung memikirkan sisi ibadahnya, seperti dibaca dalam salat, dihafalkan, dan dijadikan pedoman hidup. Namun, ada satu sisi Al-Qur’an yang sering luput dari perhatian, padahal sangat menarik untuk dikaji, yaitu tantangan intelektual yang diajukan kepada manusia.
Tantangan itu sederhana, tetapi sekaligus berat: “Jika Al-Qur’an diragukan berasal dari Allah, maka datangkanlah satu surah saja yang sebanding dengannya.”
Tantangan ini bukan sekadar retorika semata. Ia diucapkan secara terbuka dalam Al-Qur’an dan ditujukan kepada seluruh umat manusia. Menariknya, tantangan tersebut tidak dibatasi oleh waktu. Artinya, siapa pun, kapan pun, dan dengan kemampuan apa pun, dipersilakan mencoba. Meskipun demikian, hingga hari ini tantangan itu tetap berdiri kokoh tanpa jawaban yang benar-benar mampu menandinginya.
Konteks Sejarah: Al-Qur’an di Tengah Pakar Bahasa
Untuk memahami mengapa satu surah Al-Qur’an begitu sulit ditandingi, kita perlu melihat konteks sejarah turunnya kitab suci ini. Al-Qur’an tidak turun di tengah masyarakat yang buta bahasa. Justru sebaliknya, ia turun di lingkungan bangsa Arab yang terkenal sangat fasih.
Pada masa itu, syair dan pidato bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas sosial. Seorang penyair hebat bisa mengangkat martabat kabilahnya, sementara pidato yang buruk bisa menjatuhkan kehormatan. Oleh karena itu, ketika Nabi Muhammad menyampaikan Al-Qur’an dengan bahasa Arab, respons awal sebagian orang Quraisy adalah menganggapnya sebagai karya sastra biasa.
Namun, anggapan ini segera goyah. Bahasa Al-Qur’an terdengar asing sekaligus memikat. Ia tidak mengikuti pola syair Arab yang dikenal (bahr), tetapi juga tidak sama dengan prosa biasa. Ada ritme, tekanan makna, dan kekuatan pesan yang sulit dijelaskan dengan ukuran sastra konvensional.
Beberapa tokoh Quraisy bahkan mengakui keistimewaan ini. Al-Walid bin Al-Mughirah, salah satu ahli bahasa dan sastra Arab terkemuka saat itu, pernah mengatakan bahwa Al-Qur’an memiliki keindahan yang tidak menyerupai ucapan manusia. Meski ia tetap menolak Islam, pengakuan tersebut menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada kualitas bahasa Al-Qur’an, melainkan pada sikap ideologis mereka.
Memahami Konsep I’jaz Al-Qur’an
Dalam kajian Ulumul Qur’an, fenomena ketidaksanggupan manusia ini dibahas dengan istilah I’jaz Al-Qur’an. I’jaz secara sederhana berarti ketidakmampuan manusia untuk menandingi Al-Qur’an. Ketidakmampuan ini bukan karena manusia tidak berusaha, melainkan karena Al-Qur’an memiliki susunan dan karakteristik yang berada di luar jangkauan kebiasaan bahasa manusia.
Yang menarik, I’jaz Al-Qur’an tidak hanya terletak pada keindahan bunyi atau pilihan kata. Banyak orang keliru mengira bahwa meniru Al-Qur’an cukup dengan membuat kalimat berima atau terdengar “ke-Arab-araban”. Padahal, inti dari i’jaz justru terletak pada kesesuaian antara bahasa dan makna. Setiap kata dalam Al-Qur’an ditempatkan pada posisi yang tepat dan memiliki fungsi yang sangat jelas.
Teori Nazhm: Rahasia Presisi Kalimat
Ulama balaghah seperti Abdul Qahir Al-Jurjani menjelaskan bahwa keajaiban Al-Qur’an terletak pada susunan kalimatnya, bukan sekadar pada kata yang berdiri sendiri. Menurutnya, sebuah kata baru bermakna kuat ketika ia berada dalam hubungan yang tepat dengan kata lain. Inilah yang disebut dengan Nazhm.
Dalam Al-Qur’an, susunan ini sangat presisi. Mengubah satu kata saja sering kali membuat makna keseluruhan menjadi timpang.
Contoh sederhananya bisa dilihat pada surah-surah pendek. Surah Al-Kautsar, misalnya, hanya terdiri dari tiga ayat. Namun, di dalamnya terdapat penghiburan psikologis bagi Nabi Muhammad, perintah ibadah yang jelas, sekaligus sindiran tajam terhadap orang-orang yang meremehkannya. Pesan yang padat seperti ini sangat sulit ditiru, karena peniruan manusia biasanya hanya menghasilkan kalimat indah tanpa kedalaman makna.
Sebuah Tantangan Abadi
Upaya untuk menandingi Al-Qur’an sebenarnya bukan hal baru. Sejak masa awal Islam, selalu ada orang yang mencoba membuat “surah tandingan”. Namun, karya-karya tersebut tidak pernah bertahan lama, tidak diakui secara luas, bahkan sering kali dijadikan contoh kegagalan sastra. Hal ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada kurangnya usaha, tetapi pada ketidakmampuan menghadirkan kualitas yang setara.
Di sinilah letak keunikan tantangan Al-Qur’an. Tantangan itu tidak memaksa orang untuk beriman secara buta, tetapi mengajak mereka untuk berpikir kritis. Al-Qur’an seolah berkata, “Jika ini buatan manusia, maka seharusnya manusia mampu menirunya.” Ketika upaya itu selalu gagal, pertanyaan tentang asal-usul Ilahiah Al-Qur’an justru semakin menguat.
Oleh sebab itu, I’jaz Al-Qur’an tidak bisa dipahami hanya sebagai klaim keagamaan sepihak. Ia adalah fakta yang berlangsung sepanjang sejarah. Tantangan itu disampaikan secara terbuka, diwariskan lintas generasi, dan tetap tidak terjawab. Dalam konteks inilah para ulama menjadikan i’jaz sebagai salah satu bukti kerasulan Nabi Muhammad SAW.
Pada akhirnya, ketidakmampuan manusia menandingi satu surah Al-Qur’an bukan berarti manusia tidak cerdas atau tidak kreatif. Justru sebaliknya, semakin maju ilmu bahasa dan sastra, semakin jelas perbedaan antara karya manusia dan Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak hanya indah untuk didengar, tetapi juga kokoh untuk dikaji dan dalam untuk direnungkan. Di situlah makna I’jaz Al-Qur’an yang sesungguhnya: mukjizat yang tidak hanya dikenang, tetapi terus teruji sepanjang masa.

