Dalam lanskap sejarah politik dan peradaban manusia, kekuasaan sering kali diperlakukan sebagai puncak keberhasilan personal sekaligus instrumen pamer kekuatan. Para penguasa di belakangan zaman kerap membentengi diri mereka dengan hierarki yang ketat, kemewahan yang mencolok, serta jarak sosial yang membentang lebar antara mereka dengan rakyat yang dipimpin.
Kekuasaan, ketika tidak diikat oleh kesadaran spiritual yang utuh, cenderung mengalihkan hakikat manusia dari seorang hamba menjadi sesosok yang merasa berada di atas hukum dan martabat kemanusiaan itu sendiri.
Namun, dalam jejak kebudayaan Islam, terdapat rekaman-rekaman sejarah yang menyuguhkan paradoks menakjubkan: seorang pemimpin tertinggi yang justru memilih untuk meruntuhkan tembok hierarki tersebut demi menjaga kemurnian jiwanya.
Salah satu fragmen sejarah yang amat menyentuh dan sarat makna kepemimpinan ini diabadikan oleh Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari dalam mahakarya literatur sufistik dan akhlaknya, “Irsyad al-Ibad ila Sabilir Rasyad”.
Pada jilid pertama halaman 256, beliau memetik sebuah narasi otentik tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz, seorang penguasa Dinasti Umayyah yang kekuasaannya membentang luas dari perbatasan Tiongkok hingga ke daratan Eropa, namun hatinya senantiasa tunduk di hadapan kebenaran dan keadilan universal. Teks Arabnya berbunyi begini:
وحكي أن عمر بن عبد العزيز قال يوماً لجاريته، روحيني أنام فروحته فنام فغلبها النوم فنامت، فلما انتبه أخذ المروحة وجعل يروحها ؛ فلما انتبهت ورأته يروحها صاحت، فقال لها عمر : إنما أنت بشر مثلي أصابك من الحرّ ما أصابني، فأحببت أن أروحك كما روحتيني.
رقم الجزء : ١ رقم الصفحة : ٢٥٦
Kisah tersebut diawali oleh sebuah momen yang sangat personal dan domestik. Suatu hari, di tengah teriknya cuaca yang menyengat, Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang merasa lelah meminta bantuan kepada seorang pelayan perempuannya. Beliau berkata, “Kipasilah aku agar aku bisa tidur.” Pelayan itu pun menjalankan tugasnya dengan patuh. Hembusan angin dari kipas genggam tersebut perlahan-lahan mengantarkan sang Khalifah ke dalam tidur yang lelap.
Namun, rasa lelah akibat cuaca panas dan tugas harian ternyata tidak hanya dialami oleh sang penguasa. Setelah Khalifah tertidur, rasa kantuk yang amat sangat tak tertahankan menguasai sang pelayan. Tubuhnya yang letih menyerah pada alam bawah sadar, hingga akhirnya ia ikut tertidur lelap di dekat tempat tidur pemimpinnya, dengan kipas yang terkulai dari genggamannya.
Tak berapa lama kemudian, Khalifah Umar terbangun. Dalam tradisi kekuasaan yang otoriter atau budaya feodalisme yang kaku, pemandangan seorang pelayan yang tertidur saat bertugas (terlebih di hadapan penguasa) mungkin akan dianggap sebagai bentuk kelalaian berat yang memancing amarah atau hukuman. Namun, apa yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz justru berbanding terbalik secara ekstrem dengan ekspektasi duniawi.
Melihat pelayannya tertidur karena kelelahan, Umar tidak membangunkan, apalagi memarahinya. Dengan lembut, beliau mengambil kipas dari tangan pelayan tersebut, lalu perlahan-lahan mengibaskannya ke arah sang pelayan yang sedang terlelap.
Ketika pelayan itu terbangun dan mendapati bahwa sosok yang dihadapinya (pemimpin tertinggi seluruh kaum muslimin saat itu) sedang mengipasinya, ia terperanjat hebat dan berteriak ketakutan karena merasa telah melanggar batas etika pengabdian.
Di sinilah letak puncak keindahan pesan moral tersebut. Dengan tenang dan penuh kehangatan, Umar bin Abdul Aziz menenangkan pelayannya seraya mengucapkan kalimat yang abadi dalam sejarah kearifan, “Sesungguhnya engkau adalah manusia seperti diriku. Engkau merasakan panas sebagaimana aku merasakannya. Karena itu, aku ingin mengipasimu sebagaimana engkau telah mengipasiku.”
Dekonstruksi Feodalisme melalui Kesadaran Kemanusiaan
Kalimat pendek yang diucapkan oleh Umar bin Abdul Aziz di atas bukanlah sekadar kalimat pemanis atau pembenaran atas tindakan spontannya. Pernyataan tersebut adalah sebuah manifestasi filsafat kemanusiaan dan kepemimpinan yang sangat mendasar. “Engkau adalah manusia seperti diriku” adalah sebuah pengakuan jujur akan kesetaraan biologis, eksistensial, dan spiritual antara seorang raja dan seorang pelayan.
Di mata Umar, jabatan sebagai khalifah tidak serta-merta mengubah struktur biologisnya menjadi lebih tahan terhadap rasa panas, tidak pula mengangkat derajat kemanusiaannya menjadi lebih mulia di hadapan Tuhan melebihi pelayannya.
Rasa panas yang membakar kulitnya adalah rasa panas yang sama yang membakar kulit pelayannya. Rasa lelah yang menuntut istirahat pada dirinya adalah rasa lelah yang sama yang melumpuhkan kesadaran pelayannya.
Tindakan Umar mengipasi balik pelayannya adalah aksi dekonstruksi terhadap budaya feodal yang sering kali mengisap empati dari diri seorang penguasa. Feodalisme mengajarkan bahwa rakyat atau bawahan ada untuk melayani, sementara penguasa ada semata-mata untuk dilayani. Sebaliknya, paradigma kepemimpinan Islam yang dihayati oleh Umar bin Abdul Aziz berdiri di atas fondasi khadimul ummah: bahwa seorang pemimpin sejatinya adalah pelayan bagi rakyatnya.
Dengan kata lain, ketika beliau mengipasi pelayannya, beliau sedang mempraktikkan konsep resiprositas atau timbal balik berbasis kasih sayang: jika engkau telah meringankan bebanku, maka sudah menjadi kewajibanku untuk meringankan bebanmu.
Relevansi Kepemimpinan di Era Modern
Jika kita menarik kisah sejarah ini ke dalam konteks era modern, relevansinya terasa begitu menohok. Saat ini, dunia kerap disuguhi oleh kepemimpinan yang berjarak, birokratis, dan tidak jarang narsistik.
Jabatan politik, posisi eksekutif, atau status sosial sering kali dipandang sebagai alat untuk mengamankan keistimewaan (privilege), meraih kekebalan dari kritik, dan menuntut penghormatan tanpa batas dari orang-orang di tingkat bawah. Krisis kepemimpinan modern sejatinya adalah krisis empati dan hilangnya kesadaran akan kesetaraan kemanusiaan. Banyak pemimpin dewasa ini yang berjarak dari realitas kehidupan masyarakatnya.
Mereka tidak lagi merasakan “panas” yang dirasakan oleh rakyat di tingkat akar rumput: baik itu panasnya beban ekonomi, ketidakadilan hukum, maupun kesulitan hidup sehari-hari. Ketika pemimpin kehilangan kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan oleh bawahannya, maka kebijakan yang dilahirkan akan cenderung dingin, kaku, dan acuh tak acuh.
Sikap Umar bin Abdul Aziz menawarkan sebuah koreksi mendalam. Beliau mengajarkan bahwa kerendahan hati (tawadhu’) bukanlah tanda kelemahan, melainkan puncak dari kekuatan karakter.
Seorang pemimpin yang memiliki kerendahan hati tidak akan merasa terhina ketika melakukan pekerjaan yang dianggap “rendah” oleh masyarakatnya. Justru, dalam kerendahan hati itulah terpancar kewibawaan sejati yang tidak bisa dibeli dengan anggaran negara atau dipaksakan melalui protokol kekuasaan.
Kekuasaan yang Fana dan Akhlak yang Abadi
Kisah dalam kitab “Irsyad al-Ibad” ini ditutup dengan sebuah perenungan filosofis yang sangat tajam: Jabatan akan berakhir, kekuasaan akan sirna, tetapi akhlak yang mulia akan terus dikenang sepanjang masa.
Sejarah telah membuktikan kebenaran kalimat tersebut secara berulang-ulang. Berapa banyak penguasa besar dalam sejarah dunia yang membangun istana megah, menaklukkan wilayah yang luas, dan mengumpulkan kekayaan tak terhitung jumlahnya, namun hari ini nama mereka hanya diingat sebagai catatan kaki yang kelam atau bahkan dilupakan sama sekali?
Kekuasaan Dinasti Umayyah itu sendiri pada akhirnya runtuh dan tergilas oleh roda zaman. Wilayah kekuasaan yang dulu membentang luas kini telah terpecah menjadi berbagai negara modern dengan sistem yang berbeda. Istana-istana tempat para raja berkuasa kini banyak yang telah menjadi reruntuhan atau sekadar museum tempat wisatawan melintas.
Namun, mengapa kisah Umar bin Abdul Aziz mengipasi pelayannya masih terus dibaca, diajarkan, dan dirawat hingga hari ini, ratusan tahun setelah peristiwa itu terjadi? Jawabannya terletak pada keabadian nilai akhlak. Kekuasaan politik memiliki tanggal kedaluwarsa; ia terikat oleh waktu, usia, dan dinamika geopolitik.
Sebaliknya, nilai-nilai kebaikan seperti kerendahan hati, keadilan, empati, dan penghormatan terhadap martabat manusia adalah nilai-nilai universal yang melampaui batas-batas zaman dan geografi. Ketika Syekh Zainuddin Al-Malibari memasukkan kisah ini ke dalam kitabnya, tujuannya bukan sekadar memberikan wawasan sejarah (tarikh), melainkan untuk mendidik jiwa (tarbiyatun nufus).
Tanpa disadari, beliau ingin mengingatkan setiap pembaca (baik mereka seorang penguasa, ulama, pejabat, maupun rakyat biasa) bahwa nilai sejati seorang manusia tidak diukur dari seberapa banyak orang yang bertekuk lutut di hadapannya, melainkan dari seberapa besar kepedulian dan kelembutan hatinya terhadap sesama makhluk.
Meneladani Spirit ke-Umar-an dalam Kehidupan Sehari-hari
Memahami kisah ini tidak boleh berhenti pada taraf kekaguman historiografis belaka. Nilai-nilai yang dicontohkan oleh Umar bin Abdul Aziz harus membumi dan diartikulasikan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang, dalam skala tertentu, adalah pemimpin: baik memimpin sebuah negara, perusahaan, keluarga, atau setidaknya memimpin dirinya sendiri.
Dalam ruang lingkup kerja modern, misalnya, kepemimpinan berbasis empati ini dapat diwujudkan melalui kesediaan seorang atasan untuk mendengarkan keluh kesah bawahannya, mengapresiasi kerja keras mereka tanpa mengambil alih kreditnya, serta tidak memperlakukan pekerja sekadar sebagai instrumen produksi semata. Seorang pemimpin yang baik adalah ia yang siap “mengipasi” timnya (memberikan perlindungan, kenyamanan, dan dukungan) ketika timnya sedang mengalami titik lelah dalam mencapai tujuan bersama.
Dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, spirit ini mengajar kita untuk meruntuhkan ego sosial. Tidak ada tempat bagi kesombongan berdasarkan status ekonomi, pendidikan, atau keturunan.
Ketika kita berinteraksi dengan orang-orang yang secara struktural berada di bawah kita (seperti pekerja rumah tangga, pengemudi, atau petugas kebersihan), kita diingatkan oleh ucapan Umar, “Sesungguhnya engkau adalah manusia seperti diriku.” Mereka memiliki rasa lelah yang sama, rasa lapar yang sama, serta martabat kemanusiaan yang sama mulianya di hadapan Sang Pencipta.
Syahdan. Kisah kecil tentang sebuah kipas genggam di kamar seorang khalifah telah memberikan pelajaran yang jauh lebih besar daripada ribuan pidato politik tentang keadilan. Umar bin Abdul Aziz telah menunjukkan bahwa puncak tertinggi dari sebuah kekuasaan adalah ketika penguasanya mampu menundukkan egonya sendiri di hadapan prinsip kemanusiaan.
Pada akhirnya, kita semua sedang berjalan menuju titik akhir yang sama. Seluruh atribut duniawi yang kita banggakan (jabatan yang mentereng, gelar yang panjang, serta kekayaan yang melimpah) akan tanggal satu per satu saat kita meninggalkan dunia ini. Yang tersisa dan akan terus bergetar dalam ingatan zaman hanyalah jejak-jejak kebaikan dan akhlak yang pernah kita tanam di hati orang lain.
Sebagaimana pesan abadi dari kisah ini, kekuasaan memang akan sirna ditelan masa, tetapi kemuliaan akhlak akan tetap menyinari jalan sejarah, menjadi petunjuk bagi generasi demi generasi yang merindukan kepemimpinan yang sejati. Wallahu a’lam bisshawab.

