Keislaman

Gus Ulil: Dalil Iman Orang yang Taklid

4 Mins read

Sudah mafhum bahwa orang-orang yang terdidik sering kali mengabaikan iman orang awam (yang tidak terpelajar). Bagaimana tidak? Orang awam dalam agama hanyalah “taklid” dan mengikuti perintah guru, imam, atau orang lain.

​Al-Ghazali menyatakan bahwa iman orang awam umumnya sah. Dia juga mengatakan bahwa iman mereka mungkin lebih dalam meresap ke dalam jiwa dan hati seseorang dibandingkan dengan iman orang yang terlalu rasional dan terlalu intelektualistik.

​Menurut Gus Ulil, Al-Ghazali membela orang awam secara tidak langsung. Mengapa demikian? Karena agama menjadi rumit dan jauh dari kehidupan sehari-hari akibat terlalu sering dibahas oleh orang-orang terpelajar.

​Kita tahu bahwa Al-Ghazali, seorang intelektual, pemikir, dan ulama terkemuka, menulis tentang Islam dan menguraikannya dengan uraian-uraian yang “canggih”. Namun, Al-Ghazali sadar betul bahwa sebagian besar orang awam mengerti agama seperti yang diajarkan oleh gurunya.

​Jika dilihat dari perspektif yang berbeda, pernyataan Gus Ulil, “Saya pernah menulis tentang dua jenis beragama, ya: beragama ala kaum intelek dan beragama ala orang awam,” adalah contoh dari dua model beragama yang berbeda.

​Namun, Gus Ulil menyatakan dengan jelas bahwa, “Orang awam, ya, menghayati agama sebagai ajaran hidup yang dilakoni dalam kehidupan sehari-hari. Agama itu laku dalam kehidupan sehari-hari dan dihayati sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.”

​Berbeda dengan akademisi. Mereka mendekati agama dengan berbagai cara dan teorinya sangat kompleks. Ironisnya, sebagian besar pendekatan para sarjana tidak masuk ke dalam hati. Hal itu tidak dapat meresap.

​Anda tahu, agama atau keberagamaan ala orang intelek masih diperlukan bagi kita. Ini bukan berarti hal tersebut tidak penting. Justru sangat penting bagi kita, karena jika tidak ada agama yang dapat dipahami secara intelektual, kaum terdidik tidak akan tertarik pada agama tersebut.

​Oleh karena itu, dalam situasi seperti ini, agama harus diterangkan secara kognitif sebab ada sebagian orang yang benar-benar membutuhkannya; dengan kata lain, ada kebutuhan untuk beragama secara kognitif. Namun, sebagian besar dari mereka adalah orang awam. Kita tidak boleh mengabaikan atau memandang rendah keberagamaan orang-orang awam.

Baca...  Interpretasi Alqur'an tentang Ajaran Kristen: Memahami Persepsi dan Dialog Agama

​Mengenai iman orang taklid, sekali lagi, Al-Ghazali menulis semacam “pledoi” atau pembelaan terhadap iman orang-orang awam yang didasarkan pada taklid dalam bagian ini.

​Itu sebabnya, tidak semua orang dapat berpikir secara mandiri. Orang-orang tertentu tidak memiliki cukup waktu untuk mempertimbangkan, berpikir, dan merenungkan, hingga mereka akhirnya mengikuti jalan orang-orang yang mereka yakini.

​Ketika Kanjeng Nabi Muhammad saw. menjelaskan Islam dan iman kepada orang Arab pada zaman itu, beliau tidak menjelaskan sifat-sifat Allah Swt. dengan cara yang sama seperti yang dijelaskan oleh orang mutakallimun (ahli teologi), apalagi oleh ahli Ilmu Kalam, karena Ilmu Kalam muncul jauh setelah Kanjeng Nabi wafat.

​Ilmu Kalam Tidak Ada pada Masa Nabi

​Ilmu Kalam tidak ada pada zaman Nabi. Akibatnya, menjelaskan sifat-sifat Allah seharusnya sederhana. Allah Swt. adalah Mahakuasa dan Mahatahu, misalnya. Bagaimana sifat sejati Allah Swt.? Itu adalah pertanyaan yang sama.

​Pembicaraan-pembicaraan seperti ini terjadi setelah wafatnya Nabi. Menurut Al-Ghazali, ketika Kanjeng Nabi menjelaskan sifat-sifat Allah Swt., beliau tidak pernah mengikuti pendapat para ahli kalam.

​Selain itu, Nabi tidak pernah menerangkan sifat-sifat Allah Swt. dengan kata-kata yang sama dengan istilah ahli kalam. Dengan kata lain, penjelasan Nabi sangat sederhana. Ini tidak berarti bahwa perkembangan ilmu Islam tidak dianggap signifikan. Al-Ghazali hanya ingin mengatakan bahwa iman orang-orang sederhana (yang tidak mengikuti rumus-rumus teolog) tidak boleh diremehkan atau direndahkan begitu saja.

​Dalam kebanyakan kasus, orang-orang yang masuk Islam pada masa lalu bukan karena mereka memiliki keyakinan rasional. Sebaliknya, mereka masuk Islam karena ketakutan, sering kali karena mengharapkan rezeki atau ghanimah dari orang Islam. Karena keadaan yang sulit, mereka memiliki iman. Namun, beberapa orang menjadi beriman karena contoh para ulama yang menarik perhatian publik.

Baca...  Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Cara Mengobati Penyakit Ujub

​Singkatnya, hanya segelintir orang yang benar-benar masuk Islam karena ketundukan hati. Kebanyakan orang masuk Islam hanya karena ikut-ikutan pada masa lalu. Selain itu, hampir tidak ada yang baru masuk Islam setelah belajar teologi secara mendalam. Teologi hanya berkaitan dengan pikiran, bukan hati.

​Orang-orang yang Menganut Agama

​Mengenai teologi, istilah “teologi” sebenarnya tidak ditemukan di Islam, tetapi digunakan dalam agama Kristen atau Katolik. Ilmu Kalam adalah satu-satunya disiplin ilmu yang diakui oleh agama Islam yang sepadan. Disebut Ilmu Kalam karena kalamullah (firman Allah) adalah pembahasan utama tentang Ilmu Ketuhanan dalam Islam.

​Masih tentang orang-orang yang menganut agama Islam. Gus Ulil mengatakan bahwa meskipun sebagian orang masuk Islam karena belajar teologi (mempelajari dan membaca keterangan para sarjana teologi), motivasi lain menurut Al-Ghazali adalah emosional atau politik.

​Bahkan, ceramah (mauidzah al-hasanah) yang menyentuh emosi kadang-kadang menjadi alasan orang masuk Islam. Ayat-ayat Al-Qur’an sendiri sebenarnya banyak mengandung mauidzah al-hasanah, akan tetapi sangat jarang ayat yang menjelaskan (atau berbau) teologi rasional.

​Sudah mafhum, setelah Fathu Makkah seperti yang diceritakan Surah An-Nasr:

​اِذَاجَآءَ نَصْرُاللّٰهِ وَالْفَتْحُ وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا

​Artinya: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat.” (QS An-Nasr [110]: 1–3).

​“Agama Muhammad ini secara politik menang; jika saya tidak masuk Islam tentu tak akan kebagian ghanimah,” katanya, menyatakan bahwa semua orang Arab saat itu “melek” politik. Dari sini jelas bahwa pengaruh sosial-politik, bukan kekuatan satu dalil, yang mendorong orang untuk masuk Islam.

​Komentar Al-Ghazali terhadap Ilmu Kalam

​Ilmu Kalam yang dikembangkan oleh para ahli kalam kemudian dirumuskan secara canggih seperti kaidah-kaidah ahli kalam, bukan untuk membuat seseorang semakin dekat dengan agama. Menurut Al-Ghazali, Ilmu Kalam seperti itu justru akan membuat orang awam semakin takut.

Baca...  Sumber Pengetahuan yang Sebenarnya

​Dalam Ilmu Kalam, jelas lebih banyak keterampilan jidal atau perdebatan, daripada membuat hati tenang dan masuk Islam. Kita tahu bahwa Ilmu Kalam ditulis untuk melindungi orang awam dari pandangan yang membuat mereka ragu terhadap keyakinan mereka. Oleh karena itu, Ilmu Kalam bersifat “polemik”.

​Ini menunjukkan bahwa “eksklusivisme” akan secara otomatis muncul jika Ilmu Kalam digunakan di luar proporsinya. Akibatnya, keyakinan yang melekat di kalangan mereka adalah “siapa pun yang tidak mengerti ilmu ini, misalnya, maka dilarang untuk berbicara agama”.

​Bukan karena benar, tetapi karena membuatnya terlihat menarik sehingga orang awam tidak bisa mengendalikannya. Tak terkecuali, Ilmu Kalam ini juga kadang-kadang akan memicu sikap menentang terhadap kebenaran. Jika orang lain mengatakan kebenaran kepadanya, ia akan merasa malu. Ini merupakan salah satu aspek dari penyakit ilmu itu.

​“Seseorang yang merasa dirinya penuh dengan ilmu, justru ketika diberikan kucuran ilmu oleh orang lain, maka ilmunya akan tumpah.” Ini senada dengan ajaran Buddha Zen (salah satu aliran Buddha Mahayana). Dia tidak dapat menerimanya karena pikiran-pikirannya sudah penuh dengan keyakinan yang sudah ada sejak lama.

​Kita seharusnya menerima kebenaran dari orang lain, kata Gus Ulil. Untuk menjadi “bodoh”, kita harus belajar, tetapi setelah belajar, kita tidak boleh merasa pintar atau paling benar.

​Terakhir, Gus Ulil menyatakan bahwa kemenangan dalam debat jarang memengaruhi lawannya untuk mengubah “mazhab”. Sekali lagi, orang akan datang kepada kita karena ada dorongan emosional atau kucuran (hidayah/inspirasi), daripada karena alasan rasional semata.

​Apakah argumen dan dalil yang rasional itu tidak penting? Jawabannya: sangat penting. Karena tindakan manusia sangat kompleks (akal berfungsi setelah pilihan emosional dibuat), tidak perlu menggunakan dalil dan argumen rasional untuk segalanya. Wallahualam bishawab.

190 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
Keislaman

Tuhan sebagai Sumber Pengetahuan Terpercaya: Perspektif Epistemologi Islam

4 Mins read
Sebagai makhluk theomorfis, manusia memiliki sesuatu yang agung di dalam dirinya, yaitu akal, kehendak bebas (free will), dan kemampuan berbicara. Akal membawa…
Keislaman

Di Balik Mukjizat Isra Mi'raj: Pesan Penghiburan Bagi Hati yang Luka

4 Mins read
Mari kita selami kisah agung Isra Mi’raj. Bukan sekadar perjalanan kilat, melainkan sebuah oase di tengah gurun kesedihan, sebuah pelukan Ilahi yang…
Keislaman

Berdirinya Dan Runtuhnya Kesultanan Riau

2 Mins read
Kuliahalislam.Kesultanan Riau merupakan Kesultanan yang terletak di Kepulauan Riau. Kesultanan ini adalah pecahan sekaligus lanjut dari Kesultanan Johor-Riau (Kesultanan Johor) yang berpusat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Keislaman

Luqtah (Barang Temuan) Dalam Fiqih Islam

Verified by MonsterInsights