SejarahTokoh

Gerakan Pembaruan Islam Muhammad bin Abdul Wahab dalam Analisis Prof. Dr. Harun Nasution

4 Mins read

​Prof. Dr. Harun Nasution merupakan salah satu intelektual Muslim terkemuka di bidang filsafat, sekaligus tokoh pembaruan Islam di Indonesia. Harun Nasution lahir di Kota Pematangsiantar, Sumatra Utara, pada tanggal 23 September 1919 dan wafat di Jakarta pada tanggal 18 September 1998. Harun Nasution merupakan putra dari Abdul Jabbar Ahmad yang menjadi qadi dan penghulu di Pematangsiantar.

​Pada tahun 1938, ia melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Mesir dan tamat pada tahun 1940. Kemudian pada tahun 1952, Harun Nasution menyelesaikan studi sosial dengan gelar Sarjana Muda dari Universitas Amerika di Kairo. Selanjutnya, ia dipilih menjadi diplomat di Kedutaan Republik Indonesia di Brussel. Ia banyak mewakili Indonesia di sana, terutama karena menguasai bahasa Belanda, Prancis, dan Inggris, serta penguasaannya terhadap masalah politik luar negeri Indonesia saat itu.

​Karena pengaruh komunis yang semakin kuat di Indonesia, ia memutuskan keluar dari kedutaan karena anti-komunisme. Kemudian, ia melanjutkan studi di ad-Dirasat al-Islamiyah, Mesir. Studinya di Mesir tidak dilanjutkan karena tidak ada biaya. Selanjutnya, ia menerima beasiswa dari Institute of Islamic Studies McGill di Montreal, Kanada. Ia berhasil meraih gelar Magister dan Doktor dalam bidang studi Islam pada Universitas McGill dengan disertasi yang berjudul “The Place of Reason in ‘Abduh’s Theology: Its Impact on His Theological System and Views”.

​Pada tahun 1969, Harun Nasution kembali ke tanah air dan menjadi dosen di IAIN Jakarta, kemudian menjadi Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta selama 11 tahun, dan terakhir menjadi Dekan Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Harun Nasution dikenal sebagai intelektual yang banyak memperhatikan pembaruan dalam Islam di bidang filsafat, teologi, mistisisme, dan hukum.

​Gerakan Pembaruan Islam Muhammad bin Abdul Wahhab di Arabia

Baca...  Menakar Riyadhah: Nalar Etis dan Sufistik ala Kiai Zuhri Zaini

​Prof. Dr. Harun Nasution dalam bukunya “Pembaruan dalam Islam” menyebutkan bahwa pada abad kesembilan belas di Arabia timbul aliran Wahabiah. Pencetusnya adalah Muhammad bin Abdul Wahhab (1703–1787). Ia berasal dari Nejd di Arabia. Setelah menyelesaikan pelajarannya di Madinah, ia pergi merantau ke Basrah dan tinggal di kota ini selama empat tahun. Selanjutnya, ia pindah ke Baghdad dan menikah dengan seorang wanita kaya. Lima tahun kemudian, setelah istrinya meninggal dunia, ia pindah ke Kurdistan, selanjutnya ke Hamadan dan ke Isfahan.

​Di Isfahan, ia sempat mempelajari filsafat dan tasawuf. Setelah bertahun-tahun dalam pengembaraan, ia akhirnya kembali ke tempat kelahirannya di Nejd. Pemikiran yang dicetuskan Muhammad bin Abdul Wahhab untuk memperbaiki kedudukan umat Islam timbul bukan sebagai reaksi terhadap suasana politik seperti yang terdapat dalam Kerajaan Mughal dan Dinasti Turki Utsmani, melainkan sebagai reaksi terhadap paham tauhid yang terdapat di kalangan umat Islam waktu itu.

​Kemurnian paham tauhid mereka telah dirusak oleh ajaran-ajaran tarekat yang semenjak abad ketiga belas memang tersebar luas di dunia Islam. Di setiap negara yang dikunjunginya, Muhammad bin Abdul Wahhab melihat kuburan-kuburan syekh tarekat bertebaran di tiap kota. Sebagian umat Islam pergi naik haji dan meminta pertolongan dari syekh atau wali yang dikuburkan di dalamnya untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan mereka. Ada yang meminta pertolongan supaya diberi anak dan ada pula yang meminta supaya diberi jodoh.

​Syekh atau wali yang telah meninggal dunia itu dipandang sebagai orang yang berkuasa untuk menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi manusia di alam ini. Karena pengaruh tarekat ini, permohonan dan doa tidak langsung lagi dipanjatkan kepada Allah, melainkan melalui syafaat syekh atau wali tarekat yang dipandang sebagai orang yang dapat mendekati Tuhan.

Baca...  Rohana Kudus Tokoh Pergerakan Wanita Indonesia

​Ahmad Amin berkata, “Bagi mereka, Tuhan menyerupai raja dunia zalim yang untuk memperoleh belas kasihannya harus didekati melalui orang-orang besar dan berkuasa yang ada di sekitarnya.”

​Muhammad bin Abdul Wahhab melihat kemurnian tauhid bukan hanya dirusak karena memuja para syekh atau wali saja, melainkan paham animisme juga masih memengaruhi keyakinan umat Islam. Syirik adalah dosa terbesar dalam Islam dan dosa yang tidak dapat diampuni Tuhan. Soal tauhid memang merupakan ajaran yang paling dasar dalam Islam, oleh karena itu tidak mengherankan kalau Muhammad bin Abdul Wahhab memusatkan perhatian pada soal ini. Ia berpendapat:

  • ​Yang boleh dan harus disembah hanyalah Tuhan, dan orang yang menyembah selain dari Tuhan telah menjadi musyrik.
  • ​Kebanyakan orang Islam bukan lagi penganut paham tauhid yang sebenarnya karena mereka meminta pertolongan bukan lagi dari Tuhan, melainkan dari syekh atau wali dan dari kekuatan gaib. Orang Islam yang demikian juga telah menjadi musyrik.
  • ​Menyebut nama Nabi, syekh, atau malaikat sebagai pengantara doa juga merupakan syirik.
  • ​Bernazar kepada selain Tuhan juga syirik.
  • ​Memperoleh pengetahuan selain dari Al-Qur’an, hadis, dan qiyas merupakan kekufuran.
  • ​Tidak percaya kepada qada dan qadar Tuhan merupakan kekufuran.

​Semua hal di atas ia anggap bidah, dan bidah adalah kesesatan. Untuk melepaskan umat Islam dari kesesatan ini, ia berpendapat bahwa umat Islam harus kembali kepada Islam yang asli, yaitu Islam yang dipraktikkan pada masa Nabi, sahabat, serta tabiin sampai pada abad ketiga Hijriah.

​Kepercayaan dan praktik-praktik lain yang timbul sesudah zaman itu bukanlah ajaran asli dari Islam dan harus ditinggalkan. Dengan demikian, taklid dan patuh kepada pendapat ulama sesudah abad ketiga tidak dibenarkan.

Baca...  Sejarah Tafsir Al-Qur'an: Dari Masa Nabi hingga Era Kitab

​Pendapat dan penafsiran ulama tidaklah merupakan sumber dari ajaran-ajaran Islam. Sumber yang diakuinya hanyalah Al-Qur’an dan hadis. Untuk memahami ajaran-ajaran yang terkandung dalam kedua sumber itu digunakan ijtihad. Baginya, pintu ijtihad tidak tertutup. Sama halnya dengan Syah Waliullah dari India, Muhammad bin Abdul Wahhab juga merupakan pengikut Ibnu Taimiyah.

​Muhammad bin Abdul Wahhab bukan hanya seorang teoritikus, melainkan juga pemimpin yang aktif berusaha mewujudkan pemikirannya. Ia mendapat dukungan dari Muhammad bin Saud dan putranya, Abdul Aziz, di Nejd. Paham-paham Muhammad bin Abdul Wahhab mulai tersiar dan golongannya bertambah kuat sehingga pada tahun 1773 mereka dapat menduduki Riyadh.

​Pada tahun 1787, Muhammad bin Abdul Wahhab wafat, tetapi ajarannya tetap hidup dengan mengambil bentuk aliran yang disebut Wahabiyah.

​Pada tahun 1802, pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab menyerang padang pasir Karbala karena di kota ini terdapat makam Imam Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Beberapa tahun kemudian, mereka menyerang kota suci Madinah dan menghancurkan kubah-kubah yang ada di atas kuburan. Hiasan-hiasan yang ada di kuburan Nabi dirusak. Kiswah sutra yang menutupi Ka’bah juga dirusak karena semua itu dianggap bidah.

​Sultan Mahmud II, penguasa Dinasti Turki Utsmani, memberi perintah kepada Khedive Muhammad Ali di Mesir supaya menghancurkan gerakan Wahabi. Ekspedisi yang dikirim dari Mesir dapat membebaskan Madinah dan Mekkah pada tahun 1813 (meskipun sebelumnya kota-kota ini sempat jatuh ke tangan Wahabiah pada kurun 1804 dan 1806).

​Pemikiran-pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab yang mempunyai pengaruh besar adalah:

  • ​Hanya Al-Qur’an dan hadislah yang merupakan sumber asli dari ajaran-ajaran Islam. Pendapat ulama bukan merupakan sumber.
  • ​Taklid kepada ulama tidak dibenarkan.
  • ​Pintu ijtihad terbuka.
262 posts

About author
Redaktur Kuliah Al Islam
Articles
Related posts
EsaiKisahSejarah

Pesona di Antara Dua Cinta: Refleksi atas Syair Najmuddin Umar bin Muhammad An-Nasafi

8 Mins read
Sastra, dalam segala bentuknya, adalah cermin paling jujur dari jiwa manusia. Ia tidak hanya merekam apa yang terlihat, tetapi juga apa yang…
OpiniSejarah

Empat Muqaddimah, Empat Cermin Zaman: Dari Krisis Peradaban hingga Krisis Epistemik

6 Mins read
Kita tahu ada sesuatu yang ganjil dalam tradisi keilmuan Islam klasik: sejumlah pembukaan kitab (yang semestinya hanya berfungsi sebagai pengantar) justru tumbuh…
OpiniSejarah

Tragedi Masalembo: Dari Tampomas II ke Virgo Transport 8

4 Mins read
Perairan Masalembo kembali menuntut korban. KM Virgo Transport 8 terbalik di Laut Jawa pada Minggu dini hari, 13 September 2026, membawa 243…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *