Pendakian gunung kini telah bertransformasi dari sebuah aktivitas penjelajahan alam yang sakral menjadi salah satu tren gaya hidup populer di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda (Lestari, 2021). Istilah Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut ketinggalan zaman mendorong banyak orang berlomba-lomba mendaki gunung demi konten media sosial, status sosial, atau sekadar mengikuti arus tren (Satio et al., 2026). Sayangnya, euforia sesaat ini sering kali mengorbankan hal yang jauh lebih esensial: kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan kelestarian nilai-nilai adab Islam selama berada di alam bebas.
Alam raya, termasuk gunung, lembah, dan hutan, bukanlah sekadar arena rekreasi hampa makna (Mudana, 2017). Dalam pandangan Islam, alam adalah ciptaan Allah SWT yang senantiasa bertasbih dan memegang peranan penting dalam ekosistem kehidupan (Mafaza et al., 2025). Ketika pendakian dilakukan hanya karena FOMO tanpa dibekali kesadaran ekologis dan adab Islami, yang tersisa di puncak-puncak gunung bukanlah kenangan indah, melainkan kerusakan dan tumpukan sampah.
Menjaga Kebersihan: Bagian dari Iman yang Terabaikan
Pemandangan umum yang kerap dijumpai di jalur pendakian modern hari ini sangat memprihatinkan. Botol plastik air mineral, bungkus mi instan, tisu basah, hingga sisa makanan berserakan di sepanjang jalur setapak hingga area perkemahan (camping ground). Para pendaki FOMO sering kali membawa berbagai logistik demi kebutuhan konten estetik, namun enggan repot membawa kembali sampah mereka turun ke bawah (leave no trace).
Padahal, Islam menempatkan kebersihan dan kelestarian lingkungan sebagai bagian fundamental dari keimanan. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim:
“Kebersihan adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim)
Membuang sampah sembarangan di gunung bukan hanya pelanggaran terhadap etika pendakian, melainkan juga bentuk pengrusakan terhadap ciptaan Allah (fasad fil ardh). Ketika seorang pendaki meninggalkan sampah non-organik di alam, ia sedang menanam dosa jariyah karena sampah tersebut merusak tanah, mencemari sumber air pegunungan, dan membahayakan satwa liar yang memakannya (Hasibuan, 2016).
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 56:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56)
Mengotori gunung demi kepuasan ego pribadi dan validasi media sosial adalah bentuk pengkhianatan nyata terhadap amanah penjagaan alam (khalifatullah fil ardh) (Mafaza et al., 2025).
Runtuhnya Adab dan Etika di Alam Bebas
Selain masalah sampah, fenomena kecanduan dan dorongan FOMO dalam mendaki gunung juga melahirkan krisis adab (Iriani, 2024; Satio et al., 2026). Gunung yang dulunya disikapi dengan rasa takjub, ketenangan, dan zikir kepada Sang Pencipta, kini kerap berubah menjadi bising dan hilang kesakralannya.
Beberapa bentuk pelanggaran adab yang sering terjadi akibat pendakian instan antara lain:
- Memutar Musik Terlalu Keras: Menggunakan speaker portabel dengan volume tinggi di tengah hutan atau puncak gunung tidak hanya mengganggu ketenangan pendaki lain yang ingin menikmati keheningan alam, tetapi juga mengusik habitat satwa liar.
- Berbuat Sombong dan Berkata Kotor: Banyak pendaki pemula yang mengabaikan adab bertutur kata, merasa hebat karena berhasil mencapai puncak, hingga berpacaran tanpa rasa malu di ruang publik alam terbuka.
- Merusak Vegetasi dan Memetik Bunga Sembarangan: Demi mendapatkan foto terbaik untuk Instagram atau TikTok, tanaman langka seperti edelweis dipetik secara paksa, padahal tumbuhan tersebut dilindungi dan memiliki masa tumbuh yang sangat lambat.
Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam memperlakukan alam. Beliau melarang umatnya berbuat sewenang-wenang—bahkan dalam keadaan perang sekalipun dilarang menebang pohon buah-buahan atau merusak lingkungan tanpa hajat yang darurat. Alam raya diciptakan Allah dengan penuh keteraturan, dan manusia diwajibkan untuk menjaganya dengan kelembutan serta rasa hormat.
Kembali ke Esensi: Mendaki dengan Kesadaran Spiritual
Mendaki gunung sebenarnya adalah sarana tadabbur alam yang luar biasa (Lestari, 2021). Berjalan menapaki terjalnya jalur pendakian, menyaksikan luasnya bentang alam dari ketinggian, dan merasakan udara dingin seharusnya membuat manusia semakin tawadhu (rendah hati) di hadapan kebesaran Allah SWT.
Seharusnya, seorang Muslim yang mendaki gunung merenungkan kebesaran Sang Pencipta sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Ali ‘Imran ayat 191:
“…(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'” (QS. Ali ‘Imran: 191)
Jika pendakian dilakukan hanya karena FOMO, niatnya bergeser dari ibadah dan tafakkur menjadi pamer (riya’) serta kesia-siaan. Akibatnya, adab diabaikan, kebersihan dikotori, dan ego mendominasi perjalanan.
Kesimpulan
FOMO mendaki gunung telah menciptakan tren semu yang merusak alam dan melunturkan adab. Gunung bukanlah tempat untuk melampiaskan ambisi konten semata, melainkan ruang terbuka hijau yang menuntut rasa hormat, penjagaan kebersihan, serta keluhuran akhlak (Mudana, 2017).
Sudah saatnya para pendaki, khususnya generasi muda Muslim, mengembalikan esensi pendakian yang bersih dan beradab. Bawalah sampahmu turun ke bawah, jaga perkataan dan perilaku, serta hormati alam sebagai wujud cinta kepada Sang Pencipta. Sebab, puncak tertinggi yang sejati bukanlah saat kaki menginjak titik tertingginya, melainkan saat kita mampu menjaga kehormatan diri, adab, dan kelestarian alam ciptaan-Nya.
Referensi
- Al-Qur’an Al-Karim (Surah Al-A’raf: 56, Surah Ali ‘Imran: 191).
- Hadis Riwayat Muslim.
- Hasibuan, R. (2016). Analisis dampak limbah/sampah rumah tangga terhadap pencemaran lingkungan hidup. Jurnal Ilmiah Advokasi, 4(1), 42-52.
- Iriani, E. (2024). Kecanduan Olahraga Mendaki Gunung Pada Dewasa Awal (Doctoral dissertation, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).
- Lestari, A. P. (2021). Kegiatan mendaki gunung sebagai media pendidikan karakter. Jurnal Geografi Geografi Dan Pengajarannya, 19(1), 63-72.
- Mafaza, V., Khobir, A., Zahra, F. D., & Firdaus, M. J. F. (2025). Peran ekoteologi dalam pendidikan Islam: Belajar menjaga alam sebagai amanah Tuhan. Hikmah: Jurnal Studi Pendidikan Agama Islam, 2(4), 161-178.
- Mudana, G. (2017). Mendaki gunung yang disucikan: Perspektif pariwisata, lingkungan, dan kebudayaan. Proceeding TEAM.
- Satio, D. A., Fallah, A. H. N., Setiawan, A., & Kuncoroyakti, Y. A. (2026). Analisis isi komentar pada media sosial YouTube Fiersa Besari “Pendaki Fomo?”. Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner, 2(03), 2226-2233.

