Tokoh

Edward Said: Orientalisme Upaya Melanggengkan Kolonialisme dan Imperialisme Barat

2 Mins read

Penulis: Muhammad Rizky Shorfana*

​Orientalisme merupakan suatu tradisi keilmuan dan disiplin ilmu yang mengkaji segala hal yang berkaitan dengan Timur dari perspektif Barat. Para orientalis mengkaji dunia Timur tidak serta-merta karena dorongan diri sendiri yang haus akan ilmu pengetahuan, melainkan membawa misi tersembunyi. Lantas, seperti apakah misi yang dibawa oleh para orientalis dalam mengkaji dunia Timur? Simak terus tulisan ini.

​Salah satu tokoh yang berani membongkar dan mengkritik orientalisme adalah Edward Said. Ia adalah seorang intelektual Palestina-Amerika yang meletakkan dasar-dasar teori kritis dalam bidang pascakolonialisme. Ia tumbuh besar di Palestina dan Kairo sebelum akhirnya memutuskan pindah ke Amerika Serikat mengikuti sang ayah.

​Kritik Edward Said yang paling terlihat dalam karyanya, Orientalisme, adalah cara kerja orientalisme itu sendiri. Ia melihat bahwa gaya berpikir dan paradigma yang digunakan peneliti Barat dalam pengkajian ketimuran selalu memunculkan sosok “dunia lain” di mata Eropa. Peradaban Barat dipandang sebagai pusat dunia, pusat pengetahuan, dan lain sebagainya. Sementara itu, budaya Timur—termasuk Islam di dalamnya—selalu dikaitkan dengan peradaban “yang kurang sempurna”, bahkan dianggap keterbelakang.

​Menurut Edward Said, ketika orang-orang Barat mengkaji peradaban Timur, mereka tidak memberikan makna, asosiasi, maupun konotasi yang sebenarnya. Malahan, para orientalis tersebut seolah-olah memberikan kesan negatif. Mereka menggambarkan dunia Timur, khususnya negara-negara di wilayah Timur Tengah, sebagai budaya yang keras, terbelakang, dan suka berperang. Hal ini menimbulkan bias bagi para pembaca karya orientalis sehingga menilai peradaban Timur sebagai peradaban yang tertinggal.

​Oleh karena itu, bagi Edward Said, kajian orientalisme bukanlah kajian yang objektif, melainkan memiliki tujuan tersendiri. Contohnya ketika para orientalis mempelajari agama Islam secara mendalam. Mereka mengkaji hal tersebut bukan hanya untuk mendapatkan hasil yang orisinal dan objektif, melainkan agar dapat memengaruhi umat Islam untuk mengikuti gaya berpikir ala Barat yang sekuler dan liberal. Dengan demikian, mereka dapat merusak agama Islam dari dalam.

Baca...  Menjalani Kehidupan Layaknya Sufi Versi Imam Al Ghazali

​Selain itu, hal yang memicu kritik Edward Said adalah kebiasaan para orientalis yang sering mengabaikan pandangan dan suara masyarakat Timur itu sendiri. Para orientalis cenderung memosisikan diri sebagai otoritas tertinggi dalam memahami dan menggambarkan dunia Timur, sementara perspektif dan pengalaman asli masyarakat Timur sering kali diabaikan, bahkan dianggap tidak valid.

​Lebih parahnya lagi, menurut Edward Said, pada akhir abad ke-19 M, tujuan utama proyek orientalisme Barat semakin mengarah pada kolonialisme dan imperialisme. Ia berpendapat bahwa orientalisme adalah instrumen kekuasaan yang digunakan Barat untuk membenarkan kolonialisme dan imperialisme mereka, sekaligus memperkuat jurang pemisah antara oriental dan occidental yang memihak kepada Barat.

​Hal tersebut membawa dampak yang sangat besar bagi bangsa Timur. Salah satunya pada faktor sosial budaya, di mana kolonialisme dapat menyebabkan perubahan signifikan di negara-negara jajahan. Budaya dan tradisi lokal tergeser oleh budaya kolonial yang didominasi penjajah. Bahkan, dampak yang lebih parah adalah bergesernya bahasa, agama, sistem pendidikan, serta pola pikir masyarakat yang dijajah.

​Maka dari itu, karya Edward Said yang berjudul Orientalisme dapat menjadi bahan refleksi bagi kita agar menyadari bahaya orientalisme yang dibawakan oleh bangsa Eropa. Dengan menyadari bahaya tersebut, kita dapat membentengi diri dari pengaruh-pengaruh negatif yang disebarluaskan oleh para orientalis Barat.

​Kendati demikian, Edward Said juga mengakui bahwa tidak semua orientalis itu buruk dan membawa misi untuk melanggengkan kolonialisme serta imperialisme Barat. Terdapat pula orientalis yang memang benar-benar ingin mendalami pengetahuan tentang negara-negara Timur. Penelitian mereka membawa pengaruh positif yang dapat kita rasakan manfaatnya dalam perkembangan peradaban dunia Timur, termasuk peradaban Islam.

​*) Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Baca...  Haedar Nashir, Membaca Pemaknaan Hidup Bersama Sang Filsuf
3 posts

About author
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Articles
Related posts
EsaiHukumTokoh

Andaikan Natsir dan Burhanudin Harahap Masih Ada di Antara Kita

4 Mins read
Bayangkan seorang mantan perdana menteri pulang ke rumah kontrakan sederhana selepas turun dari kursi kekuasaan, tanpa iring-iringan, tanpa fasilitas berlebih, dan tanpa…
FilsafatOpiniTokoh

Nalar Kritis Freirean di Tengah Algoritma AI

8 Mins read
Dalam karya monumental “Pedagogy of the Oppressed” (1970), Paulo Freire melontarkan kritik menohok terhadap model pendidikan konvensional yang ia sebut sebagai banking…
EsaiFilsafatTokoh

Paulo Freire dan Humanisasi Pendidikan: Menyingkap Mitos Netralitas, Merawat Kesadaran Kritis

6 Mins read
Pendidikan sering kali didengungkan dalam wacana umum sebagai benteng netral: sebuah institusi luhur yang berdiri bebas dari kepentingan politik, transaksi ekonomi, maupun…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *