Kuliahalislam.Dinasti Tulun merupakan sebuah dinasti kecil di Mesir pada abad ke-9. Dinasti ini sempat bertahan selama 37 tahun yaitu antara tahun 254- 292 H/868-905 M, dengan luas wilayahnya meliputi Mesir dan Suriah. Nama dinasti ini disandarkan kepada pendirinya yaitu Ahmad bin Tulun.
Sepanjang sejarahnya dinasti ini dipimpin oleh lima orang Khalifah yaitu Ahmad bin Tulun ( memerintah 254-270 H/868-884 M), Khumarawih (270-282 H/884-896 M, Jaisy bin Khumarawih (282-283 H/896 M, Harun bin Humarawih (283-282 H/896-905 M), dan Syaiban bin Ahmad (292 H/905 M).
Kemunculan keluarga Tulun dalam pentas sejarah islam bermula pada masa pemerintahan Khalifah al-Ma’mun ( penguasa Dinasti Abbasiyah ke-7 yang memerintah tahun 813-833 M). Pada tahun 201 H/817 M, Tulun, ayahnya Ahmad bin Tulun, seorang Turki yang berasal dari Farghanah ( daerah di Transoksania, Uzbekistan) dikirim oleh penguasa dinasti Samaniah sebagai hadiah kepada Khalifah Al-Ma’mun. Sejak masa itu keluarga Tulun mengabdi pada penguasa Dinasti Abbasiyah di Baghdad.
Pada pemerintahan Khalifah Al Mu’tasim ( Khalifah Abbasiyah ke-8 yang memerintah tahun 218-227 H/833-842 M), banyak orang Turki yang memegang jabatan tinggi dalam pemerintahan. Salah seorang diantaranya bernama Barbak, yang kemudian diangkat menjadi Gubernur Mesir.
Pada masa ini Mesir menjadi salah satu provinsi dalam wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyah. Karena itu, jabatan gubernur merupakan pelaksana tugas khalifah di tingkat provinsi. Ketika Barbak diangkat menjadi Gubernur Mesir, dia menunjuk Ahmad bin Tulun yang sebelumnya banyak-banyak jasa kepadanya sebagai wakilnya. Untuk itu pada tahun 254 H/868 M, Ahmad bin Tulun pergi ke Mesir untuk memulai tugas barunya.
Karir Ahmad bin Tulun sebagai wakil Gubernur berjalan lancar sampai kepada masa Yarjuk, pengganti Barbak yang juga orang Turki. Yarjuk bahkan mengangkat Ahmad bin Tulun sebagai menantunya. Selanjutnya, ketika Yarjuk wafat pada tahun 259 H/ 873 M, Ahmad bin Tulun menggantikan posisinya sebagai Gubernur Mesir.
Segera setelah dilantik, langkah politik pertama yang dilakukannya adalah melakukan konsolidasi pemerintahan dalam negeri.Setelah itu, dia memfokuskan perhatiannya pada masalah pembangunan ekonomi. Untuk mengacu produktivitas pertanian membuat saluran irigasi sepanjang lembah Sungai Nil dan terbukti setelah itu Mesir menjadi negara agararis yang maju.
Dalam pada itu pusat ke khalifahan Abbasiyah di Baghdad mengalami guncangan ekonomi lantaran sering terjadinya pemberontakan. Pada tahun 263 H/ 877 M, Khalifah al-Mu’tamid ( khalifah Daulah Abbasiyah ke-15 yang memerintah tahun 257-279 H/870-892 M) memerintahkan kepada Ahamd bin Tulun untuk mengirimkan hasil pajak pertaniannya ke Baghdad.
Akan tetapi, ketika sudah dapat berdiri sendiri, Ahmad bin Tulun menolak perintah khalifah Daulah Abbasiyah. Peristiwa pembangkangan ini dipandang oleh Philip K. Hitti dalam bukunya History of The Arabs sebagai titik mula berdirinya Dinasti Tulun di Mesir.
Karena sedang dalam kondisi lemah, ditambah lagi letak Mesir yang cukup jauh dari, perintah pusat tidak dapat menghukum Ahmad bin Tulun yang membangkang. Amat bin Tulun pun memanfaatkan kesempatan itu untuk memperkuat posisinya di Mesir. Setahap demi detahap ia berhasil memperoleh dukungan rakyat untuk menjadikan Mesir sebagai wilayah independen terlepas dari kekuasaan Daulah Abbasiyah di Baghdad.
Terbentuk Dinasti Tulun di Mesir dengan ibukotanya di Fustat. Dengan berdirinya dinasti ini maka pertama kalinya sejak zaman Firaun Mesir diperintah oleh bangsa Turki. Ahmad bin Tulun memerintah selama 16 tahun. Dia dikenal sebagai khalifah yang kuat di bawah dan mampu mengendalikan roda pemerintahan.
Di masanya rakyat Mesir mengalami kejayaan. Pada tahun 872 dia membangun sebuah rumah sakit di Fustat yang dipandang sebagai Rumah Sakit terbesar di Mesir sampai abad ke-15. Kelebihan rumah sakit ini terletak pada pelayanan kelilingnya semacam Puskesmas Keliling pada masa saat ini. Di dalamnya terdapat kamar-kamar untuk perawatan kaum wanita.
Kemudia ia membangun perpustakaan yang berisi buku ilmu kedokteran yang lengkap di samping menyelenggarakan kuliah-kuliah pengobatan. Setelah mendirikan rumah sakit umum pada tahun 876 dia juga membangun sebuah masjid di Fustat yang kemudian terkenal dengan nama Masjid Ibnu Tulun.
Jasa penting lainnya adalah membangun angkatan perang kekuatan sekitar 100.000 terdiri dari orang Turki dan budak Negro. Pembangunan Angkatan Perang itu dimaksudkan untuk mempertahankan kedaulatan dinastinya dan sekaligus untuk kepentingan ekspansi ke luar Mesir.
Dengan model kekuatan militer itulah dia kemudian berhasil memperoleh wilayah kekuasaannya sampai ke Suriah. Itulah untuk pertama kali Suriah tunduk pada penguasa Mesir. Sepeninggal Ahmad bin Tulun, jabatan khalifah beralih ke tangan putranya yaitu Khumarawaih.
Kepemimpinan Khumarawaih tidak sehebat ayahnya. Tidak banyak prestasi yang dapat dibuatnya selama pemerintahannya. Bahkan pada masanya, terjadi banyak konflik di antara keluarga kerajaan yang pada akhirnya melemahkan kekuatan dinasti. Keadaan ini diperburuk oleh munculnya pemberontakan yang dialami oleh kelompok Syiah Qaramitah.
Kondisi kerajaan semakin melemah di tangan penguasa Jaisy yang merupakan pengganti Khumarawaih. Pengganti Jasy yaitu Harun juga tidak mampu mengembalikan kebesaran dinasti Tulun. Melihat kondisi Dinasti Tulun, penguasa Khalifah Abbasiyah ke-17 yaitu Al Muktafi (290-296 H/902-908 M) menjadi bersemangat untuk merebut kembali bekas wilayahnya yang diduduki oleh Dinasti Tulun.
Dia segera mengirim pasukan yang dipimpin oleh Muhammad bin Sulaiman untuk menaklukkan Dinasti Tulun. Ketika itu Dinasti Tulun di bawah pemerintahan Syaiban bin Ahmad, pengganti Harun. Akhirnya pada tahun 292 Hijriyah/904 M, melalui pertempuran sengit, Syaiban bin Ahmad terpaksa menyerahkan wilayah kekuasaannya kepada Khalifah Abbasiyah. Dengan penyerahan itu berakhirlah riwayat Dinasti Tulun.