Keislaman

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Jenis-jenis dan Keutamaan Kedermawanan

3 Mins read

Anda tahu bahwa antara kedermawanan dan kepelitan sama-sama memiliki tingkatan. Derajat paling tingginya kedermawanan adalah memberikan hartanya kepada orang yang butuh (mendahulukan kepentingan orang lain). Di sinilah letak tinggi derajatnya dermawan.

Gus Ulil mengatakan bahwa memberikan sesuatu kepada orang lain yang Anda sendiri masih membutuhkan akan terasa sangat berat. Berbeda dengan memberikan sesuatu yang Anda sendiri tidak terlalu membutuhkannya.

Sementara kepelitan adalah ia tidak mau memberikan hartanya kepada orang yang butuh, sekalipun orang yang butuh mau meninggal. Tak hanya itu, terkadang seseorang yang sangat pelit, jangan membantu antar sesama, kepada dirinya sendiri saja sudah pelit. Misalnya, ia sakit akan tetapi tidak mau berobat, padahal kaya raya.

Inilah kategori pelit “gas pol” kata Gus Ulil. Orang yang pelit biasanya senang terhadap sesuatu akan tetapi tidak mau membeli karena eman pada uang (hanya suka melihat). Ia lebih suka ketika ada gratisan seperti diajak makan sama teman.

Dengan demikian, tak heran jika Allah memuji orang-orang yang dermawan (sebagian dari sahabat-sahabat nabi). Dalam al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 9 dinyatakan: “Dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr [59]: 9).

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Siapa saja yang menyukai sesuatu, kemudian ia menahan keinginannya itu dan mengutamakan orang lain atas dirinya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.”

Sayyidatina Aisyah berkata, “Rasulullah Saw. tidak makan sampai kenyang selama tiga hari berturut-turut. Kalau kami mau, kami bisa makan sampai kenyang, tetapi kami lebih mengutamakan beliau daripada kami.”

Suatu malam ada tamu yang sowan kepada nabi akan tetapi nabi tidak mempunyai suguhan. Tiba-tiba salah seorang sahabat anshar datang dan mengetahui bahwa nabi tidak punya suguhan. Sontak ia langsung pergi mengajak tamu itu kerumahnya.

Baca...  Hakikat Sifat Dermawan: Ngaji Ihya Ulumuddin Bersama Gus Ulil

Sesampainya dirumahnya ia kemudian memerintahkan istrinya untuk mematikan lampu dan memberikan suguhan kepada tamunya nabi. Menariknya, sahabat anshar itu mengikuti gerakan tangan makannya tamu, padahal ia tidak makan (pura-pura makan), sebab makanan atau suguhannya hanya satu.

Keesokan harinya, nabi kemudian memanggil sang sahabat dan berkata, “Sungguh heran Allah terhadap tindakan-tindakan (perlakuan) kamu kepada tamu itu tadi malem.” Atas kejadian ini akhirnya turunlah ayat al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 9.

Syahdan. Sahl Al-Tustari, salah seorang wali yang hidup pada abad ke 3 hijriyan bercerita, suatu waktu Nabi Musa berdoa, “Wahai Tuhanku! Tunjukkanlah sebagian tingkatan-tingkatan derajat Nabi Muhammad Saw. dan umatanya.” Allah Swt. menjawab, “Wahai Musa! Sesungguhnya engkau tidak akan mampu untuk mendengarkan kemulian Muhammad, akan tetapi Aku akan menunjukkan sebagian tingkatannya yang agung dan mulia itu.”

Sahl Al-Tustari melanjutkan ceritanya, “Akhirnya Allah Swt. menyingkapkan kerajaan langit untuk membuka kemuliaan derajat Nabi Muhammad Saw. dan Nabi Musa melihat akan tingkatan-tingkatannya hingga tubuhnya mati saking kuatnya cahaya derajat Nabi Muhammad Saw.”

Nabi Musa kemudian berkata, “Kemuliaan apa yang Engkau bisa menyampaikan Muhammad kepada derajat ini?” Allah Swt. menjawab, “Aku memberikan khusus kepada Muhammad karena akhlaknya diantara nabi-nabi yang lain. Dan diantara akhlak itu adalah sifat kedermawanan.”

Allah berfirman lagi, “Wahai Musa! Jika ada seorang hamba mempunyai sifat dermawan, maka Aku malu mau menghisab dia di akhirat kelak. Inilah derajat yang membuat umat Muhammad lebih unggul dari umat sebelumnya.”

Dikisahkan, Abdullah bin Ja’far pergi ke kebun dan dia mampir ke kebun kurmanya seseorang. Beliau kemudian melihat budak anak kecil berkulit hitam yang sedang bekerja di dalam kebun itu. Tiba-tiba anak itu disamperin anjing dan memberikan makanan berkali-kali, padahal anak itu butuh makan.

Baca...  Paralelisme Arsitektur Brutalisme dengan Al Munqidh Min Ad Dhalal Al Ghazali, Kesederhanaan Ihya Ulumuddin dan Filosofi Gemah Ripah Loh Jinawi

Karena tertarik kepada perbuatan anak itu, akhirnya Abdullah menghampirinya dan berkata, “Berapa makanan kamu setiap hari.” Dijawab, “Ya sepeti kamu lihat, satu roti ini.” Abdullah berkata lagi, “Kenapa engkau memberi makan anjing itu, padahal makanan kamu cuma satu.” Dijawab, “Di sini bukan daerah anjing, lalu siapa yang mau mengurus anjing itu? Anjing itu datang dari tempat yang sangat jauh dan kelaparan.”

Abdullah bertanya lagi, “Lalu kamu makan apa hari ini?” Dijawab, “Ya terpaksa aku tidak makan.” Abdullah berkata lagi, “Aku ini sering dikritik orang lain karena dermawan, ternyata ada orang yang lebih dermawan dari saya.” Akhirnya Abdullah membeli kebunnya beserta perkakasnya dan memerdekan budak anak kecil itu. Setelah dibeli kebun itu diberikan lagi kepada anak itu sebagai modal.

Sayyidina Umar bercerita, suatu ketika dihadiahkan kepada seorang laki-laki kepala kambing. Laki-laki itu kemudian berkata, “Saudara aku lebih butuh dari aku.” Akhirnya, si laki-laki itu mengasih kepala kambing ke saudaranya. Namun, sesampainya di rumah saudaranya ia berkata, “Tetangga aku lebih membutuhkan kepala kambing ini.” Dan begitu seterusnya sampai melewati tujuh rumah. Dan setelah sampai ke rumah ke delapan (penerima pertama kepala kambing) baru diterima. Wallahu a’lam bisshawab.

216 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Kritik Haris Al-Muhasibi kepada Ulama Pencinta Dunia

2 Mins read
Suatu ketika, Imam Haris Al-Muhasibi berkata kepada ulama-ulama jahat pencinta dunia (ulama su’). Katanya, “Celakalah kamu, wahai orang yang tertipu! Apa alasanmu…
KeislamanNgaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad

Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad fi al-I’tiqad: Kriteria Menuduh Kafir Menurut Al-Ghazali

2 Mins read
Kaidah bolehnya menuduh kafir menurut Al-Ghazali adalah ketika seseorang tidak percaya kepada Nabi Muhammad SAW dan ajaran-ajarannya. Pertanyaannya, siapa sajakah mereka? Pertama,…
KeislamanNgaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad

Bahaya Mengkafirkan Kelompok: Ngaji Al-Iqtishad fi Al-I’tiqad Gus Ulil

2 Mins read
Sudah semestinya mengkafirkan seseorang atau kelompok tertentu tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Jika muncul pernyataan, “Sesungguhnya golongan ini kafir,” tentu istilah ini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
KeislamanNgaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad

Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Doktrin Politik Sunni (Imamah)

Verified by MonsterInsights