Esai

Dinamika Perkembangan Islamic Studies

2 Mins read

Dinamika perkembangan Islamic studies. Pada tulisan singkat ini, penulis hendak menelisik tentang sejarah Islamic studies, menguraikan sejarah awal perkembangan studi Islam yang dilakukan oleh orientalis. Tujuan teologis menjadi misi terpenting, karena untuk mempertahankan ajaran teologis Kristen. Bahkan sebagai alat politik untuk hegemoni Barat atas Timur (Islam), hal ini dikuatkan dengan diangkatkanya C. Snouck Hugronje oleh Belanda sebagai seorang yang ahli agama Islam untuk menduduki daerah jajahannya.

Pada dasarnya motif orientalis melakukan kajian terhadap Islam sebagaimana dikutip dari Bernard Lewis dalam buku “Islamic Studies” karya Richard Martin ada dua alasan. Motif pertama ingin mempelajari lebih luas lagi literatur-literatur Islam klasik yang terjaga dalam bahasa Arab. Motif kedua memotivasi pemeluk Kristen terpelajar untuk melawan Islam.

Identifikasi motif ini ditegaskan lebih keras oleh Edward W. Said dalam bukunya “Orientalism”. Dia menyebutkan bahwa orang-orang yang melabeli dirinya orientalis, lalu melakukan kajian terhadap dunia Timur secara bengis, subjektif, irasional, dan sebagainya.

Setelah itu, pada abad berikutnya yakni abad 19, Islamic Studies mengalami perkembangan dengan menjadikan sebagai kajian problematika ketimuran, pada abad 20 adanya usaha di kalangan muslim untuk memisahkan antara Islamic Studies dengan Oriental Studies.

Menurut C. Martin fase perkembangan Islamic Studies terpecah menjadi 4 fase, yaitu Pertama, pada tahun 800-1100 M muncul banyak polemik teologis baik dari kalangan Kristen maupun Yahudi. Kedua, fase dimana terjadinya perang salib pada tahun 1100-1500 M, pada fase ini Islamic Studies menjadi alat misionaris istilah yang sering dipakai oleh umat Kristen untuk menyebarluaskan ajaran Kristen.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ini memilliki arti “orang yang melakukan penyebaran warta Injil kepada orang lain yang belum mengenal Kristus. Hal  ini ditandai dengan seorang biarawan Cluny di Prancis. Pada fase ini pihak Gereja dengan gencar-gencarnya memerintahkan para rahib dan pasukan salib untuk menerjemahkan al-Qur’an dan teks-teks Islam dengan dalih menghancurkan Islam.

Baca...  Inilah Syarat Diterimanya Qira’at

Ketiga, masa reformasi tahun 1500-1650 M yang beriringan dengan pergeseran paradigma keagamaan bangsa Eropa terhadap Kristen, tentunya mengalami pengaruh besar terhadap pengetahuan dan diskursus wacana Islamic Studies.

Keempat, masa renaisans pada tahun 1650-1900 M, menunjukkan kesarjanaan Eropa yang baru dalam memandang Islam, dorongan lain yang membuat pergerakan ini adalah tumbuhnya pelayaran dan ekspansi perdagangan melalui Mediterania.

Dalam buku Prof. Amin Abdullah dengan judul ”Multidisiplin, Interdisiplin, dan Transdisiplin”, mengemukakan bahwa akar dari Islamic Studies perkembang dari ‘Ulum al-Diin (Religious Knowledge) yang merujuk kepada ilmu-ilmu agama Islam yaitu: aqidah dan syari’ah dengan menggunakan ilmu bahasa dalam mengungkapkannya.

Kemudian atas kajiannya terhadap aqidah dan syari’ah muncul kluster-kluster keilmuan Islam, seperti fikih, tafsir, hadis, kalam, dan seterusnya. Setelah seluruh kluster ilmu-ilmu Islam terkodifikasi dan disusun secara sistematis dengan melibatkan  thinking history approach (pendekatan sejarah pemikiran) dengan melibatkan kesejarahannya (origin, change, dan development), maka secara akademik ‘Ulum al-Din berkembang menjadi “al-Fikr al-Islamiy”.

Perbedaannya bahwa Islamic Thought/al-Fikr al-Islamiy telah memiliki struktur ilmu, rangkaian keilmuan yang kokoh, dan bersifat komprehensif tentang Islam. Sedangkan ‘Ulum al-Din hampir  selalu menekankan satu pengetahuan tentang Islam (Abdullah, 2020, pp. 38–39).

Namun pada akhirnya perkembangan studi Islam terkhusus yang dilakukan para orientalis mampu menghidupkan kembali asa dan motivasi untuk selalu melestarikan serta meninjau kembali kajian-kajian tentang Islam. Begitu pun sumbangsih yang diberikan orientalis sangat nampak terlihat dari hasil usaha mereka dalam meneliti Islam. Di sana berkembang keilmuan filologi, linguistik, sosio-politik, dan sebagainya. Sehingga Islamic Studies yang awalnya bersifat teologis mitos menjadi Islam progressif.

27 posts

About author
Dosen STAI Syubbanul Wathon Magelang
Articles
Related posts
Esai

Tafsir Al-Qur’an Digital di Indonesia: Inovasi atau Masalah?

3 Mins read
Transformasi digital yang berlangsung secara masif dalam dua dekade terakhir telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali praktik keagamaan. Di…
Esai

Kuliah, Organisasi, atau Kerja? Cara Bijak Menentukan Prioritas

2 Mins read
Menjadi mahasiswa di era sekarang bukan hanya soal datang ke kelas dan mengerjakan tugas. Banyak mahasiswa dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit:…
Esai

​Iqra' tapi Guru Tak Digaji: Refleksi Kesejahteraan Guru Hardiknas 2026

3 Mins read
Pada tanggal 2 Mei 2026, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional yang ke-118. Angka tersebut bukan sekadar hitungan tahun; ia adalah cermin seberapa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *