Opini

Tertawa di Ujung Kematian: Paradoks Tangis dan Tawa Manusia

6 Mins read

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang menangis saat lahir dan tertawa di hadapan absurditas hidup, bahkan hingga detik-detik akhir eksistensinya. Keduanya, tangis dan tawa, bukanlah emosi yang saling bertolak belakang, melainkan dua sisi dari mata uang yang sama: cara kita bertahan menghadapi kenyataan yang rapuh.

Tangis menandai keterkejutan kita saat pertama kali menghirup dunia yang fana, sementara tawa adalah bentuk perlawanan paling jujur ketika maut dan penderitaan datang mendekat. Ketika hidup menghimpit tanpa celah, tawa menjadi katup pengaman agar jiwa tidak pecah. Ia adalah cara kita menertawakan takdir yang sering kali di luar kendali.

Namun, pada akhirnya, di ujung perjalanan, tawa dan tangis melebur. Keduanya membuktikan satu hal paling mendasar: bahwa kita pernah sungguh-sungguh hidup, merayakan kerapuhan, dan menerima kefanaan dengan kepala tegak.

Syahdan. Ada satu bait syair yang, meski hanya terdiri dari dua baris, menyimpan kedalaman renungan yang tak habis dikupas. Syair ini dikutip oleh Syekh Abdul Qadir bin Milal Huais dalam karyanya, “Ulumul Qur’an wa Ushulut Tafsir Bayan al-Ma’ani”, jilid 1, halaman 207. Dikatakan:

وَلَدَتْكَ أُمُّكَ يَاابْنَ آدَمَ بَاكِيًا # وَالنَّاسُ حَوْلَكَ يَضْحَكُونَ سُرُورًا

فَاجْهَدْ لِنَفْسِكَ أَنْ تَكُونَ إِذَا بَكَوْا # فِي يَوْمِ مَوْتِكَ ضَاحِكًا مَسْرُورًا

Artinya: “Wahai anak Adam, engkau dilahirkan oleh ibumu dalam keadaan menangis, sementara orang-orang di sekelilingmu tertawa berbahagia. Maka berjuanglah sungguh-sungguh untuk dirimu sendiri, agar kelak ketika mereka menangis di hari kematianmu, engkaulah yang justru tertawa berbahagia.”

Dua baris ini bukan sekadar nasihat keagamaan yang lewat begitu saja di telinga. Ia adalah cermin yang memantulkan seluruh arsitektur kehidupan manusia: dari mana kita datang, ke mana kita akan pergi, dan apa yang semestinya kita perbuat di antara dua titik itu.

Setiap manusia, tanpa kecuali, memulai perjalanannya di dunia dengan tangisan. Tidak ada bayi yang lahir sambil tersenyum. Fenomena ini begitu universal sehingga kita nyaris tidak pernah mempertanyakannya lagi: ia dianggap sebagai hal yang wajar, bahkan sepele.

Namun, jika direnungkan lebih dalam, tangisan pertama seorang bayi sesungguhnya adalah pernyataan eksistensial yang paling jujur: sebuah jiwa baru saja dilemparkan ke dalam dunia yang asing, penuh cahaya yang menyilaukan, udara yang menyesakkan, dan ruang yang tak terbatas setelah sembilan bulan berada dalam kehangatan yang terbatas dan aman.

Yang menarik untuk direnungkan bukan hanya tangisan itu sendiri, tetapi kontras yang menyertainya. Bait syair di atas dengan cermat menempatkan dua respons emosional yang berlawanan dalam satu momen yang sama: yang lahir menangis, sementara yang menyambut tertawa gembira. Ironi ini bukan kebetulan sastra semata. Ia adalah gambaran filosofis tentang perbedaan cara pandang terhadap satu peristiwa yang sama.

Baca...  Kesalehan Digital, Sebuah Keniscayaan Zaman

Bagi si bayi, kelahiran adalah kehilangan: kehilangan kehangatan rahim, kehilangan kepastian, kehilangan dunia yang selama ini menjadi satu-satunya realitas yang ia kenal. Namun, bagi orang-orang di sekelilingnya, kelahiran adalah perolehan hadirnya kehidupan baru, harapan baru, kelanjutan garis keturunan.

Di sinilah kita mulai menyadari bahwa makna sebuah peristiwa sangat bergantung pada sudut pandang mana ia dipandang dan pada rentang waktu mana ia dinilai. Tangisan bayi bukanlah penderitaan yang hakiki, melainkan penderitaan sesaat yang justru menjadi pertanda datangnya kehidupan yang panjang. Dalam logika ini tersimpan pesan pertama: bahwa kesulitan di awal tidak selalu berarti keburukan, sebagaimana kegembiraan di awal tidak selalu berarti kebaikan yang bertahan lama.

Tawa sebagai Selubung Ketidaktahuan

Jika tangisan bayi adalah kejujuran naluriah terhadap keterasingan yang baru dialami, maka tawa orang-orang di sekelilingnya justru berpijak pada sesuatu yang lebih rapuh: harapan, proyeksi masa depan, dan (jika kita jujur) ketidaktahuan.

Mereka tertawa bukan karena mengetahui apa yang akan terjadi pada bayi tersebut sepanjang hidupnya, melainkan karena kegembiraan atas kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terwujud.

Inilah yang membuat syair ini begitu tajam sebagai kritik filosofis terhadap cara manusia memahami kebahagiaan. Kita cenderung merayakan permulaan tanpa benar-benar memikirkan bagaimana perjalanan itu akan berakhir.

Sebuah pernikahan dirayakan dengan gegap gempita tanpa jaminan akan bertahan. Sebuah proyek dimulai dengan optimisme tanpa kepastian hasil. Sebuah kelahiran disambut dengan sukacita tanpa mengetahui jalan hidup seperti apa yang akan ditempuh anak tersebut: akankah ia tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebaikan, ataukah sebaliknya?

Tawa di awal kehidupan, dalam kerangka pemikiran ini, sesungguhnya adalah tawa yang berpijak pada ketidaktahuan kolektif. Ia adalah ekspresi kegembiraan manusia yang secara alami cenderung berfokus pada kemungkinan-kemungkinan positif, sembari menepikan kesadaran bahwa setiap kelahiran juga adalah awal dari sebuah perjalanan menuju kematian yang pasti.

Filsafat eksistensialis Barat menyebut fenomena ini sebagai upaya manusia untuk “melarikan diri” dari kesadaran akan kefanaan (mortality): kecenderungan untuk menunda pengakuan bahwa setiap yang lahir pasti akan mati.

Membalik Posisi Tangis dan Tawa

Anda tahu! Bagian paling tajam dari bait ini terletak pada baris kedua, yang berfungsi sebagai poros pembalikan seluruh makna. Jika baris pertama menggambarkan kondisi awal (tangis pribadi berhadapan dengan tawa kolektif), maka baris kedua mengajukan sebuah tawaran, bahkan tantangan: bagaimana jika posisi ini dibalik di akhir kehidupan?

Ajakan untuk “berjuang” (al-ijtihad) yang disebutkan dalam bait ini bukanlah anjuran yang pasif. Kata “ijtihad” dalam tradisi keilmuan Islam mengandung makna pengerahan seluruh daya upaya secara maksimal, bukan sekadar usaha ala kadarnya.

Baca...  Seporsi Adab: Belajar Kepemimpinan dari TGH Abdul Ghany Masjkur

Ini menunjukkan bahwa pembalikan posisi tangis dan tawa di akhir kehidupan bukanlah sesuatu yang terjadi secara otomatis atau kebetulan, melainkan hasil dari sebuah perjuangan panjang, sadar, dan penuh kesungguhan sepanjang rentang kehidupan yang diberikan.

Di sinilah letak keindahan struktural dari syair ini: ia membangun sebuah dialektika waktu yang utuh. Tesis pertama adalah kondisi kelahiran: tangis pribadi versus tawa orang lain. Antitesis yang diperjuangkan adalah kondisi kematian yang terbalik: tawa pribadi versus tangis orang lain.

Sintesisnya adalah keseluruhan rentang kehidupan itu sendiri yang menjadi ruang bagi manusia untuk menentukan ke arah mana pembalikan itu akan terjadi. Manusia, dalam kerangka ini, bukan makhluk yang pasif menerima nasib, melainkan agen aktif yang diberi ruang dan waktu untuk membentuk makna akhir dari kisah hidupnya sendiri.

Kematian sebagai Cermin, Bukan Sekadar Akhir

Ada godaan untuk membaca bait ini semata-mata sebagai nasihat moral sederhana: berbuat baiklah agar orang-orang mendoakanmu dan bersedih atas kepergianmu, sementara engkau sendiri berbahagia menyambut kematian.

Namun, pembacaan yang lebih dalam menuntut kita untuk mempertanyakan: mengapa justru kematian yang dijadikan titik ukur, bukan pencapaian duniawi seperti harta, jabatan, atau ketenaran?

Jawabannya terletak pada sifat kematian yang tidak bisa dimanipulasi. Berbeda dengan kesuksesan duniawi yang bisa direkayasa, dipoles, atau bahkan dipalsukan di hadapan publik, kematian adalah momen di mana seluruh topeng sosial terlepas.

Tangisan yang tulus dari orang-orang yang ditinggalkan tidak bisa dibeli dengan uang atau dipaksakan melalui kekuasaan. Ia lahir dari kesan mendalam yang ditinggalkan oleh seseorang selama hidupnya; dari kebaikan yang pernah diberikan, dari keteladanan yang pernah ditunjukkan, dari jejak yang benar-benar mengubah kehidupan orang lain.

Dengan demikian, kematian dalam bait ini berfungsi sebagai semacam ujian akhir yang jujur, sebuah cermin yang memantulkan kembali keseluruhan kualitas hidup seseorang tanpa bisa direkayasa.

Inilah yang membuat gagasan “tertawa di hari kematian” menjadi begitu radikal: ia menuntut agar kebahagiaan sejati manusia tidak digantungkan pada pengakuan sesaat semasa hidup, melainkan pada kejernihan hati saat menghadapi ajal: ketenangan yang hanya mungkin dicapai jika seseorang telah menjalani hidupnya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Antara Motivasi Spiritual dan Bahaya Fatalisme

Meskipun pesan yang dikandung bait ini begitu indah dan menggugah, penting bagi kita untuk membacanya secara kritis, bukan sekadar menerimanya secara mentah-mentah. Ada beberapa hal yang perlu dicermati agar pemaknaan terhadap syair ini tidak jatuh pada penyederhanaan yang keliru.

Pertama, ada risiko bahwa gagasan “berjuang demi kebahagiaan di hari kematian” bisa disalahpahami sebagai ajakan untuk hidup dengan orientasi yang terlalu berfokus pada kematian itu sendiri, sehingga mengabaikan kegembiraan dan makna hidup di dunia yang juga penting untuk dijalani dengan penuh syukur.

Baca...  Bunga Mawar dan Tanah Lembut: Antara Jeritan Pendosa dan Bayangan Kesalehan

Kesadaran akan kefanaan seharusnya menjadi pendorong untuk hidup lebih bermakna, bukan menjadi beban yang membuat manusia hidup dalam ketakutan dan kecemasan berlebihan terhadap kematian.

Kedua, tolok ukur “tangisan orang lain” sebagai indikator kebaikan seseorang juga perlu dikritisi lebih jauh. Tidak semua orang yang ditangisi banyak orang saat wafat adalah orang yang benar-benar baik secara hakiki, karena tangisan bisa lahir dari berbagai motif: kehilangan sosok yang berkuasa, kehilangan sumber ekonomi, atau sekadar formalitas sosial.

Sebaliknya, banyak pula orang saleh yang wafat dalam kesunyian, tanpa banyak yang menangisinya; namun kualitas ruhaninya tidak diragukan. Maka, tangisan orang lain semestinya dipahami sebagai simbol atau metafora dari jejak kebaikan, bukan sebagai satu-satunya parameter objektif untuk menilai kualitas hidup seseorang.

Ketiga, penting untuk tidak menjadikan bait ini sebagai alat untuk menghakimi orang lain, menilai siapa yang “akan tertawa” dan siapa yang “akan menangis” di akhirat, karena itu adalah ranah yang sepenuhnya berada di luar jangkauan pengetahuan manusia.

Fungsi utama syair ini semestinya diarahkan ke dalam, sebagai bahan muhasabah atau introspeksi diri, bukan sebagai instrumen untuk menilai dan menghakimi perjalanan spiritual orang lain.

Ruang di Antara Dua Tangisan

Kehidupan manusia dapat dipahami sebagai ruang yang terbentang di antara dua kemungkinan tangisan: tangisan kelahiran yang telah pasti terjadi dan tangisan kematian yang masih menjadi misteri, apakah ia akan menjadi tangisan kesedihan yang tulus dari orang-orang yang kehilangan sosok berharga, ataukah justru tangisan yang kosong tanpa makna mendalam.

Di antara dua titik itulah seluruh drama kehidupan manusia berlangsung: pilihan-pilihan kecil yang diambil setiap hari, nilai-nilai yang dipegang teguh atau justru dikhianati, kebaikan yang ditanam atau justru diabaikan.

Syair yang dikutip oleh Syekh Abdul Qadir bin Milal Huais ini, pada hakikatnya, bukan sekadar untaian kata indah untuk dihafalkan, melainkan undangan untuk merenung secara mendalam tentang arah hidup yang tengah kita tempuh.

Ia mengajak setiap insan untuk keluar sejenak dari rutinitas dan bertanya pada diri sendiri: jika hari ini adalah hari terakhir, tangisan seperti apa yang akan ditinggalkan? Dan lebih penting lagi, ketenangan seperti apa yang telah dipersiapkan untuk menyambut kepergian itu sendiri?

Hemat penulis, barangkali di situlah letak kebijaksanaan sejati dari bait sederhana ini. Bahwa kehidupan tidak diukur dari seberapa meriah tawa yang menyambut kedatangan kita, melainkan dari seberapa tulus air mata yang mengiringi kepergian kita, dan seberapa tenang hati kita sendiri saat menghadapinya. Wallahu a’lam bisshawab.

357 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
FilsafatOpini

Plato vs Dunia Konten: Gua yang Tak Pernah Benar-Benar Kita Tinggalkan

7 Mins read
Lebih dari dua ribu tiga ratus tahun silam, dalam kitab ketujuh Republik, Plato menuturkan sebuah kisah tentang manusia-manusia yang terbelenggu sejak lahir…
OpiniPolitik

Diskriminasi Berstempel Negara: Ketika Hutan Adat Berpindah Tangan ke Ormas

8 Mins read
Sudah mafhum bahwa sebuah cara pandang yang tidak pernah dituliskan dalam undang-undang mana pun tampaknya diam-diam menjadi asas dasar tata kelola agraria…
KeislamanOpini

Jejak yang Ditinggalkan dan Cakrawala yang Dituju: Merenungi Ajakan Imam Syafi’i untuk Merantau

8 Mins read
Ada satu bait yang berulang kali digumamkan santri-santri di pesantren-pesantren tua, dibisikkan orang tua kepada anaknya yang hendak berangkat ke kota, dan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *