KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Menggugat Fetisisme Dunia: Pembacaan atas Dialektika Sufistik Gus Ulil Abshar Abdalla dalam Ngaji Ihya’ Ulumuddin

10 Mins read

Ada sebuah kepalsuan mendasar yang saban hari dirayakan oleh peradaban modern: anggapan bahwa keteraturan materi, pencapaian karier, dan kemewahan fisik adalah muara dari kebahagiaan sejati. Manusia bertarung dari waktu ke waktu, menguras daya emosional, pikiran, hingga kesehatan fisiknya semata-mata untuk mengumpulkan pecahan-pecahan duniawi.

Padahal, jika kita berani menatap realitas dengan jujur, dunia hanyalah arena yang senantiasa berubah, penuh kerapuhan, dan secara bertahap mengikis usia kita menuju muara tunggal yang pasti: kematian.

Suatu waktu, seorang ahli hikmah mengutarakan keheranannya dengan kalimat yang amat menohok akan kepalsuan tersebut: “Sungguh aku heran terhadap orang yang sudah tahu bahwa kematian itu benar-benar terjadi, namun mereka masih bergembira. Mereka tahu bahwa api neraka benar adanya, lalu bagaimana mungkin mereka bisa tenang dan tertawa?” Ahli hikmah itu meratapi kebutaan spiritual yang menimpa mayoritas manusia.

Kita semua tahu secara sadar bahwa dunia terus berputar, fana, dan tidak pernah menawarkan keabadian. Namun, mengapa hati manusia tetap terpaut begitu erat padanya? Kita yakin bahwa segala ukuran rezeki dan ketetapan takdir telah digariskan oleh Allah SWT, namun mengapa nafsu kita terus memaksa untuk berpayah-payah, mengejar materi dengan cara-cara yang sering kali melampaui batas kemanusiaan?

Di sinilah Gus Ulil Abshar Abdalla, melalui majelis ngaji “Ihya’ Ulumuddin”, membongkar kebingungan eksistensial tersebut. Mengutip pandangan-pandangan inti Imam Al-Ghazali, Gus Ulil menegaskan betapa anehnya mentalitas manusia. Manusia menyadari bahwa dunia diselimuti oleh kepalsuan dan ketidakpastian, tetapi mereka memilih untuk bersikap seolah-olah akan hidup selamanya.

Mereka percaya pada konsep takdir, tetapi dalam praktiknya, tindakan mereka mencerminkan ketakutan dan ketidaksetujuan pada ketetapan Tuhan. Ada kecemasan neurotik yang mendorong manusia untuk terus “ngoyo” meraup apa saja, tanpa sadar bahwa setiap langkah yang melampaui batas justru sedang memenjarakan jiwa mereka sendiri.

Kisah klasik mengenai seorang lelaki tua berusia 200 tahun dari daerah Najran (sebuah wilayah yang pada masa lalu didominasi oleh komunitas Nasrani) yang menghadap Raja Muawiyah bin Abi Sufyan menawarkan ilustrasi esensial mengenai esensi kehidupan. Ketika sang raja bertanya tentang bagaimana hakikat dunia di mata seseorang yang telah melintasi dua abad era kehidupan, lelaki tua itu memberikan jawaban yang sangat puitis sekaligus substantif:

“Sebentar-sebentar datang cobaan, sebentar-sebentar datang kesenangan. Umur berkurang sehari demi sehari, semalam demi semalam. Dilahirkan seorang anak dan mati orang yang mati. Andaikan tidak ada orang yang dilahirkan, niscaya punah dunia ini. Dan andaikan tidak ada orang yang mati, niscaya sempitlah dunia ini.”

Terpesona oleh kedalaman jawaban tersebut, Raja Muawiyah menawarkan ganjaran dan bertanya apa yang paling diinginkan oleh lelaki tua itu saat itu. Namun, jawaban sang veteran kehidupan ini justru melumpuhkan kekuasaan politik sang raja. Lelaki tua itu hanya meminta satu hal: “Bisakah engkau mengembalikan umurku yang telah lalu agar aku bisa mencegah kematianku?”

Raja Muawiyah tertegun dan mengakui ketidakmampuannya terhadap takdir tersebut. Lelaki itu kemudian menegaskan bahwa jika seorang raja tidak sanggup mengembalikan waktu, maka tidak ada satu pun perhiasan duniawi milik raja yang berharga baginya. Tragisme manusia terletak pada kenyataan ini: kita bersedia menukar waktu kita yang terbatas demi tumpukan harta yang tak sanggup membeli kembali waktu itu sendiri.

Perangkap Angan-Angan dan Illusi Pencapaian

Persoalan utama manusia dalam memandang dunia bukanlah pada kewajiban untuk bertahan hidup, melainkan pada ketidakmampuan mengelola angan-angan (thulul amal). Imam Dawud at-Tha’i pernah melontarkan kritik tajam kepada keturunan Adam: “Wahai anak cucu Adam! Bergembiralah engkau karena telah mencapai angan-anganmu. Engkau tidak sadar bahwa dengan tercapainya angan-anganmu itu, engkau sejatinya telah menghabiskan umurmu. Dan engkau menunda amal-amalmu seolah-olah amal itu berguna untuk orang lain, bukan untuk dirimu sendiri.”

Ketika seorang manusia berhasil merengkuh cita-cita dunianya (entah itu jabatan, kekayaan, atau popularitas), ia sering kali terjebak dalam euforia ego. Ia merasa telah menang. Padahal, secara anatomis dan spiritual, setiap kali satu pencapaian diraih, satu porsi dari jatah usianya di bumi telah hangus secara permanen. Ia merasa sedang mengumpulkan masa depan, padahal ia sedang mendekati liang lahat. Kemegahan struktur duniawi membuat jiwa terlena, hingga amal kebaikan dan persiapan menuju keabadian selalu ditempatkan pada prioritas terakhir, seakan-akan kematian adalah urusan orang lain.

Baca...  Imam as-Sakhawi Sejarawan Islam

Gus Ulil memberikan garis batas yang sangat jernih dalam mengartikulasikan ajaran Al-Ghazali ini. Mengkritik dan mencela dunia (dzamm ad-dunya) dalam tradisi tasawuf bukanlah imbauan untuk menjadi pertapa yang pasif, melarang pembangunan peradaban, atau menolak kemajuan ekonomi.

Islam tidak pernah memfatwakan haramnya memiliki target dan goal dalam hidup. Yang ditolak oleh para sufi adalah keterikatan hati (ta’alluq) yang membutakan. Boleh saja seseorang berkejaran dengan target-target profesional dan material, tetapi aktivitas tersebut wajib diimbangi dengan kesadaran transendental yang kokoh. Jika kesadaran itu hilang, pencapaian materi hanya akan menjadi bahan bakar bagi kecemasan yang tidak pernah usai.

Dalam konteks inilah, imbauan Imam Ibn Harits menjadi sangat relevan untuk direnungkan: “Barangsiapa yang meminta kepada Allah SWT akan dunia, maka orang itu sesungguhnya sedang meminta panjangnya waktu berdiri kelak di Padang Mahsyar.”

Pernyataan ini terdengar paradoksal bagi cara pandang materialis. Mengapa meminta harta berarti meminta kesusahan? Sebab dalam teologi Islam, setiap materi yang kita miliki membawa konsekuensi hukum ganda: halaluuha hisab, wa haramuha adzab (yang halal akan dihisab, dan yang haram akan diazab).

Semakin melimpah harta benda yang dikuasai seseorang, semakin rumit dan panjang pertanggungjawaban yang harus disajikannya di hadapan Pengadilan Ilahi. Di dunia, kepemilikan harta yang berlebih mengharuskan pemiliknya mencurahkan pikiran, energi, dan waktu untuk mengelolanya, mengamankannya, dan mengembangkannya.

Harta tersebut menyita waktu yang seharusnya digunakan untuk merawat jiwa. Maka, secara tidak langsung, berdoa memohon kelimpahan harta tanpa kesiapan spiritual yang memadai adalah bentuk permohonan implisit untuk memperberat beban hisab diri sendiri di akhirat kelak.

Istidraj: Keberkahan Palsu dalam Lingkaran Maksiat

Salah satu fenomena sosial-keagamaan yang sering memicu kebingungan psikologis di kalangan awam adalah keberadaan orang-orang yang hidup melimpah-ruah, sehat secara fisik, tidak pernah tertimpa musibah besar, padahal pola hidupnya amat jauh dari nilai-nilai syariat dan bergelimang dalam kemaksiatan. Masyarakat modern yang dangkal sering kali menjadikan kenyamanan material tersebut sebagai tolok ukur bahwa tindakan orang tersebut “diinginkan” atau “diberkahi” oleh Tuhan.

Tasawuf Al-Ghazali melalui penjelasan Gus Ulil memperingatkan kita agar tidak terjebak dalam cara pandang awam yang keliru tersebut. Kita dilarang takjub, iri, apalagi meniru pola hidup demikian. Dalam doktrin Islam, kondisi ini dikenal dengan istilah istidraj: jebakan taktis berupa pemanjaan materi yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang membangkang. Istidraj adalah bentuk hukuman yang paling halus sekaligus paling mengerikan, karena hukuman tersebut disamarkan dalam bentuk kenikmatan.

Melalui istidraj, Allah membukakan pintu-pintu kemudahan bagi orang-orang yang melupakan-Nya. Harta mereka melimpah, karier mereka melesat, tubuh mereka senantiasa bugar, dan usaha mereka selalu berhasil. Namun, keberlimpahan ini tidak disertai dengan rasa syukur atau hidayah, melainkan justru mempertebal kesombongan dan keterasingan mereka dari Tuhan.

Mereka menganggap enteng perintah agama karena merasa tanpa menjalankan perintah pun hidup mereka tetap aman dan nyaman. Ketiadaan musibah di dunia membuat mereka mengira telah selamat, padahal Allah sedang membiarkan mereka mengumpulkan dosa hingga taraf maksimal, sebelum akhirnya menjatuhkan siksaan yang amat pedih di akhirat tanpa ada lagi kesempatan untuk bertobat.

Imam Abu Hazim menjelaskan hakikat kesenangan duniawi yang manipulatif ini dengan sangat ringkas: “Tidak ada di dalam dunia ini yang bisa menggembirakan dirimu, kecuali karena hal gembira itu juga melekat hal yang membikin sedih dan susah.”

Setiap kenikmatan materi di dunia ini senantiasa melahirkan anak kandung berupa kecemasan. Memiliki mobil mewah melahirkan kecemasan akan kerusakan atau kecurian; memiliki jabatan tinggi melahirkan ketakutan akan kejatuhan; memiliki harta berlimpah melahirkan kekhawatiran akan kemerosotan pasar. Tidak ada kegembiraan murni di bumi; semuanya terikat secara simbiotik dengan potensi kesedihan.

Sementara itu, Imam Hasan al-Basri, tokoh tabi’in, menggambarkan kondisi akhir hayat dari orang yang mendedikasikan hidupnya semata-mata untuk perburuan duniawi. Ia menyatakan: “Tidak keluar nyawa anak cucu Adam dari dunia ini, kecuali kematiannya meninggalkan tiga penyesalan utama: dirinya tidak pernah merasa kenyang terhadap apa yang telah dikumpulkannya, dirinya gagal mencapai seluruh hal yang diinginkannya, dan dirinya tidak menyiapkan bekal yang cukup untuk kehidupannya setelah mati.”

Sifat dasar dari dorongan nafsu manusia adalah ketidakberhinggaan. Manusia tidak akan pernah dipuaskan oleh pencapaian materi. Ketika kebutuhan A berhasil dipenuhi, ambisi akan serta-merta menggeser standar kebahagiaan ke target B, C, dan seterusnya. Ini adalah lingkaran setan (vicious circle) yang diciptakan oleh ego.

Baca...  Konsep Kebahagiaan Ibn Arabi dalam Perspektif Wahdatul Wujud

Tragisnya, karena seluruh energi hidup dihabiskan untuk mengejar target-target yang tak pernah bertepi tersebut, manusia kehabisan waktu untuk merawat bekal kematiannya. Ketika maut menjemput secara tiba-tiba, ia berhadapan dengan kenyataan bahwa seluruh koleksi dunianya tidak dapat dibawa, sementara kantong amalnya kosong melompong.

Visi Akherat sebagai Pengendali Eksistensial

Bagaimana manusia dapat membebaskan dirinya dari jebakan perburuan materi yang destruktif ini? Imam Abu Sulaiman ad-Dharani, seorang sufi besar abad kedua Hijriah yang bermukim di Damaskus, memberikan formula spiritual yang amat mendalam: “Tidak akan bisa bersabar terhadap godaan-godaan dunia, kecuali orang yang dalam hatinya sibuk mengejar akhirat.”

Pernyataan ad-Dharani menekankan pentingnya orientasi transendental. Mengendalikan syahwat duniawi bukanlah perkara menekan nafsu secara masokistik, melainkan perkara memindahkan fokus perhatian (pivoting). Seseorang hanya akan mampu menolak pesona rendah dari materi dunia jika ia telah menemukan keindahan yang jauh lebih tinggi, yakni keindahan relasi dengan Tuhan dan kesadaran akan keabadian akhirat.

Tanpa adanya kesadaran akhirat yang melandasi cara pandang seseorang, manusia secara otomatis akan tersedot oleh gravitasi materi. Gus Ulil mengingatkan bahwa kesadaran akhirat inilah yang berfungsi sebagai rem darurat (emergency brake) agar manusia tidak menghabiskan seluruh kapasitas kognitif, emosional, dan fisiknya hanya untuk menimbun kekayaan fana.

Bila kecintaan pada dunia telah mendominasi secara kolektif, maka struktur masyarakat akan mengalami pembusukan moral yang parah. Malik bin Dinar menggambarkan patologi sosial ini dengan lugas: “Sudah jelas kita pasti cinta akan dunia, sehingga kita tidak saling mengingatkan untuk berbuat baik dan tidak saling mengingatkan untuk memperbaiki diri. Dan Allah SWT tidak akan membiarkan keadaan buruk kita ini, sehingga cepat atau lambat pasti kita terkena azab.”

Kritik Malik bin Dinar menunjuk pada tumpulnya fungsi amar makruf nahi munkar dalam masyarakat yang terintoksikasi oleh materialisme. Ketika indikator keberhasilan hidup diukur murni secara finansial, kritik sosial dan ajakan moral dianggap sebagai gangguan yang tidak produktif. Orang-orang tidak lagi saling menasihati dalam kebaikan karena semua sibuk memvalidasi diri melalui simbol-simbol kekayaan.

Gus Ulil menggarisbawahi bahwa manakala kesadaran non-material dan etis ini diabaikan secara ekstrem, bencana (malapetaka) yang diramalkan oleh para ulama klasik akan mewujud dalam bentuk yang sangat riil di era modern.

Malapetaka tersebut tidak hanya berupa bencana alam akibat eksploitasi alam yang rakus, tetapi juga berupa ekosistem sosial yang timpang, krisis kebudayaan yang dangkal, dan yang paling masif di era modern: malapetaka kejiwaan. Wabah depresi, kecemasan sistematis, rasa kesepian mendalam (existential loneliness), dan kekosongan makna hidup yang dialami masyarakat modern adalah bukti empiris dari kegagalan materialisme dalam membahagiakan jiwa manusia.

Moderasi Jiwa dan Etika Sufistik Modern

Islam tidak menganjurkan penolakan total terhadap dunia hingga merusak keberlangsungan hidup, melainkan menekankan pentingnya posisi tengah (at-tawassut). Akhlak yang mulia, sebagaimana dirumuskan oleh Imam Al-Ghazali, adalah kondisi ideal di mana jiwa berada di tengah-tengah antara dua titik ekstrem.

Dalam diri setiap manusia, terdapat dua daya alamiah yang sangat dominan: daya amarah (ghadhab) dan daya nafsu/syahwat (syahwah). Jika kedua daya ini dibiarkan berjalan tanpa kendali, manusia akan berubah menjadi makhluk predator yang destruktif.

Oleh karena itu, kedua daya biologis-psikologis tersebut harus didampingi dan ditundukkan oleh dua daya pengendali transendental: ilmu (rasionalitas spiritual) dan keadilan (proporsionalitas etis).

Dengan pencerahan ilmu dan keteraturan keadilan, potensi amarah dan syahwat tidak dimatikan, melainkan dijinakkan dan diarahkan untuk tujuan-tujuan yang luhur. Kehidupan seorang hamba menjadi stabil karena ia tidak lagi didikte oleh impuls-impuls reaktif nafsunya.

Imam Abu Hazim kembali memberikan komparasi matematis yang menarik tentang hakikat dunia dan akhirat: “Dunia yang nilainya sedikit bisa membuat kita terlena dan terlupa akan akhirat yang amat banyak.” Ini adalah sebuah tragedi kognitif. Manusia bersedia mengorbankan kenikmatan abadi yang tak terbatas demi meraih secuil kenikmatan fana yang berumur pendek.

Sejalan dengan itu, Imam Hasan al-Basri menyerukan radikalisme spiritual: “Hinakanlah kalian terhadap dunia! Karena demi Allah, tidaklah dunia ini lebih menjadi sumber kebahagiaan daripada hal yang merendahkanmu.” Maksud dari “menghinakan dunia” adalah menempatkan dunia hanya di tangan, bukan di dalam hati. Ketika dunia ditempatkan di tangan, ia menjadi alat untuk berbuat baik; tetapi jika ia merasuk ke dalam hati, ia menjadi berhala yang merendahkan martabat kemanusiaan.

Baca...  Patologi Spiritual dan Dekonstruksi Kemunafikan: Telaah Kritis Kitab Ihya’ Ulumuddin dalam Dialektika Eksistensial Manusia (Episode Ke-442)

Gus Ulil menjelaskan bahwa ketika seseorang berhasil melepaskan keterikatan hatinya dari gemerlap kenikmatan dunia, secara spontan akan terpancar rasa tenang, damai, dan merdeka dari dalam jiwanya. Inilah pengalaman empiris yang telah dibuktikan oleh para tokoh sufi sepanjang sejarah Islam: kemerdekaan sejati justru diraih saat kita berhenti menjadi budak dari apa yang kita kejar.

Imam Hasan al-Basri juga mendedahkan pola bagaimana Allah memperlakukan hamba-Nya terkait urusan duniawi: “Jika Allah SWT berkenan memberikan kebaikan kepada seorang hamba, maka Allah akan memberikan dunia kepadanya. Tetapi kemudian Allah juga akan menahan dunia itu. Lalu jika dunia itu sudah habis, maka Allah akan memberinya lagi. Dan jika hamba tersebut adalah orang yang rendah/remeh di mata Allah, maka Allah SWT akan membentangkan dunia kepadanya seakan-akan tanpa batas.”

Pandangan ini membalikkan logika awam. Dalam perspektif tasawuf, dinamika pasang-surut rezeki yang dialami oleh orang beriman adalah bentuk pemeliharaan Ilahi (ri’ayah). Allah memberikan dunia secukupnya, lalu menahannya agar si hamba tidak melampaui batas (baghy).

Sebaliknya, pembentangan harta tanpa batas kepada orang-orang yang ingkar bukanlah bentuk pemuliaan, melainkan tanda bahwa keberadaan mereka di mata Allah amat remeh, sehingga mereka dibiarkan tenggelam dalam kesibukan materi yang membinasakan.

Penyingkiran Ketulusan dan Rahasia Tersembunyi di Hari Kiamat

Sebagai penutup dari argumentasi tasawuf yang amat tajam ini, Imam Muhammad ibn al-Munkadir menyajikan sebuah simulasi spiritual yang amat menggetarkan hati siapa pun yang merasa telah beramal saleh.

Ia berkata: “Tidaklah engkau bernalar, jika sesungguhnya ada seseorang yang berpuasa setahun penuh tanpa pernah berbuka, menahan diri agar bisa shalat malam tanpa putus untuk tahajud, menginfakkan seluruh hartanya, berjuang di jalan Allah, serta menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah. Hanya saja, di hari kiamat kelak, isi hatinya dibuka oleh Allah SWT dan ternyata di dalam hatinya ia menganggap nilai dunia lebih besar daripada nilai akhirat: padahal di mata Allah, nilai akhirat jauh lebih besar. Maka siapakah dari kita yang ingin berada dalam keadaan seperti orang itu?”

Aporisma dari Ibn al-Munkadir ini membongkar kepalsuan kesalehan formal. Seseorang bisa saja secara lahiriah menjalankan ritual ibadah yang sangat berat: puasa nonstop, tahajud sepanjang malam, dermawan, bahkan mati syahid.

Namun, jika dalam struktur kesadarannya yang paling dalam ia masih memandang bahwa kemuliaan duniawi lebih bernilai daripada keridaan akhirat, maka seluruh bangunan ibadahnya runtuh di hadapan Allah. Allah tidak hanya menilai kuantitas dan bentuk lahiriah dari ritual manusia, melainkan menembus hingga ke kedalaman subliminal hati: apa yang sebenarnya paling dihormati dan dicintai oleh jiwa tersebut?

Syahdan, begitulah sifat dasar dunia. Dunia akan terus merekayasa pesona dan menawarkan sejuta ilusi kelezatan untuk memikat siapa saja yang singgah di dalamnya. Kemolekan lahiriah dunia berpotensi merusak mata zikir dan mata batin manusia. Kita sering kali lupa bahwa seluruh kenikmatan duniawi yang diperebutkan oleh miliaran manusia dari zaman Nabi Adam hingga hari kiamat sejatinya hanyalah ibarat setetes air jika dibandingkan dengan samudra kebahagiaan akhirat yang disediakan oleh Allah SWT.

Sudah menjadi tabiat dasar dari nafsu manusia bahwa ia tidak akan pernah puas dengan apa yang ada di tangannya. Ego manusia senantiasa menuntut lebih, mendorongnya memasuki labirin kompetisi yang tidak pernah usai. Namun, pada akhirnya, setiap manusia harus menyadari sebuah garis pemisah yang abadi: akhirat adalah jalan sunyi kesendirian dan pertanggungjawaban personal di hadapan Tuhan, sementara dunia adalah jalan ramai yang penuh sesak oleh kompetisi ilusi.

Kebijaksanaan spiritual yang diajarkan oleh Gus Ulil melalui ngaji “Ihya’ Ulumuddin” tidak mengajak kita untuk lari dari realitas, melainkan mengajak kita untuk menyadari posisi kita yang sebenarnya. Berjalanlah di jalan ramai dunia untuk menunaikan tugas kemanusiaan, tetapi simpanlah hati kita tetap jernih di jalan sunyi menuju-Nya. Wallahu a’lam bisshawab.

267 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
HukumKeislaman

Hukum Suap-Menyuap (Risywah) Dalam Kerja & Fatwa Ulama

4 Mins read
​PENDAHULUAN ​Mendapatkan pekerjaan yang layak merupakan salah satu sarana utama manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup guna menjaga jiwa (hifzh an-nafs) dan menjaga…
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Mengatasi Egosentrisme dan Merayakan Kemanusiaan: Refleksi Altruisme dalam Khazanah Ihya’ Ulumuddin Bersama Gus Ulil

10 Mins read
Dunia modern hari ini kerap kali didakwa sebagai panggung megah bagi tumbuh suburnya individualisme ekstrem. Manusia kontemporer dipaksa (atau mengondisikan diri) untuk…
Keislaman

Etika AI dan Islam: Tantangan Kejujuran Intelektual Muslim

6 Mins read
Pendahuluan Dunia hari ini sedang menyaksikan revolusi besar melalui Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). AI bekerja berdasarkan serangkaian instruksi atau prosedur…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *