Membaca Al-Qur’an di era modern sering kali menempatkan manusia modern pada persimpangan jalan yang dilematis: di satu sisi ada dorongan dogmatis untuk merawat keimanan, sementara di sisi lain ada tarikan skeptisisme ilmiah yang menuntut rasionalitas empiris. Dalam ruang dialektika inilah, pengajian kitab “Jawahirul Qur’an” karya Imam Al-Ghazali yang diampu oleh Gus Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) menemukan relevansi profetiknya.
Memasuki episode ke-28, kajian ini tidak sekadar menjadi ritual membaca teks keagamaan klasik, melainkan sebuah ikhtiar epistemologis untuk menggali “mutiara” terkubur di balik hamparan ayat-ayat Surah Hud dan Surah Ar-Ra’d. Melalui kacamata Al-Ghazali yang kontekstual, Gus Ulil mengajak kita melampaui batas literal teks demi menemukan titik temu antara teologi Islam, fenomena alamiah kosmos, bahkan tesis sains modern seperti teori evolusi, dalam satu tarikan napas narasi keimanan yang kokoh namun adaptif.
Epistemologi Kedaulatan Ilahi dalam Surah Hud
Surah Hud dibuka dengan penegasan radikal mengenai konsep kepulangan, pengawasan, dan ketergantungan absolut makhluk kepada Khalik. Allah SWT berfirman:
اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ ۚ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya: “Kepada Allahlah kamu kembali. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Hud [11]: 4).
Potongan ayat ini menetapkan fondasi ontologis bahwa realitas eksistensial manusia bersifat sirkular: berawal dari-Nya dan berujung pada-Nya. Namun, aspek yang paling menarik dari pembacaan Gus Ulil atas Surah Hud ini adalah penyingkapan terhadap psikologi manusia yang kerap mencoba bersembunyi dari realitas ketuhanan.
Ketika teks menyatakan bahwa manusia “menutupi dada mereka” atau “menutupi diri mereka dengan pakaian mereka”, Al-Qur’an sedang memotret kepalsuan eksistensial. Manusia modern acapkali bersembunyi di balik jubah sekularisme, positivisme, atau bahkan kesibukan materialistik untuk mengaburkan kehadiran Tuhan. Padahal, pengetahuan Tuhan menembus lapisan-lapisan privasi biologis dan psikologis terdalam; Dia mengetahui apa yang disembunyikan dan apa yang diungkapkan.
Lebih jauh, ayat berikutnya menegaskan jaminan eksistensial:
وَمَا مِنْ دَآبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
Artinya: “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Hud [11]: 6).
Dalam perspektif “Jawahirul Qur’an”, ayat ini tidak boleh dipahami secara fatalistik-pasif. “Rezeki yang ditanggung” adalah sebuah hukum kosmis (sunnatullah) yang menggerakkan roda ekosistem. Dari mikroba terkecil hingga manusia modern yang hidup dalam rimba kapitalisme, setiap makhluk dibekali dengan modal biologis dan insting untuk melangsungkan hidup.
Dengan kata lain, Tuhan menaruh kehidupan tersebut pada setiap entitas, lengkap dengan pengetahuan tentang di mana mereka akan tinggal dan ke mana mereka akan kembali. Ini adalah sebuah keteraturan makrokosmos yang luar biasa, sebuah sistem pendukung kehidupan (life support system) universal yang dirancang secara presisi.
Teori Evolusi, Ekologi, dan Intervensi Kosmis
Puncak dramatisasi dalam Surah Hud beralih pada narasi kosmis-ekologis ketika banjir besar zaman Nabi Nuh diredam. Dinyatakan dalam Al-Quran Surah Hud ayat 44 yang berbunyi:
وَقِيْلَ يٰۤاَرْضُ ابْلَعِيْ مَآءَكِ وَيٰسَمَآءُ اَقْلِعِيْ وَغِيْضَ الْمَآءُ وَقُضِيَ الْاَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُوْدِيِّ وَقِيْلَ بُعْدًا لِّـلْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ
Artinya: “Dan difirmankan, “Wahai Bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan!) berhentilah.” Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan dan kapal itu pun berlabuh di atas Gunung Judi, dan dikatakan, “Binasalah orang-orang zalim.” (QS. Hud [11]: 44).
Peristiwa ini, jika dibaca secara mendalam, merefleksikan bagaimana alam semesta tunduk pada suatu komando spiritual yang berjalan beriringan dengan hukum fisika. Air surut, kapal berlabuh di Gunung Yudi, dan kezaliman ditumpas. Di sinilah dialog dengan sains modern, khususnya teori evolusi dan geologi, menemukan celahnya.
Sains modern memandang kepunahan massal (mass extinction) dan perubahan katastrofik bumi sebagai bagian dari mekanisme alamiah evolusi untuk menyeleksi spesies. Namun, narasi keimanan yang ditawarkan dalam ngaji “Jawahirul Qur’an” memberikan dimensi makna pada peristiwa fisik tersebut.
Banjir Nabi Nuh bukan sekadar anomali cuaca purba atau bencana hidrologi acak. Ia adalah sebuah proses pembersihan moral eksistensial. Alam semesta bertindak sebagai instrumen moralitas Ilahi. Bumi dan langit memiliki “kesadaran ontologis” untuk merespons perintah Sang Pencipta.
Ketika kita bergeser pada ayat ke-56 dari Surah Hud yang berbunyi:
اِنِّيْ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللّٰهِ رَبِّيْ وَرَبِّكُمْ ۗ مَا مِنْ دَآبَّةٍ اِلَّا هُوَ اٰخِذٌ بِۢنَاصِيَتِهَا ۗ اِنَّ رَبِّيْ عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
Artinya: “Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya). Sungguh, Tuhanku di jalan yang lurus (adil).” (QS. Hud 11: Ayat 56).
Tanpa di sadari, kita mendapati konsep al-Qabd, kendali absolut. Frasa “memegang ubun-ubunnya” melambangkan otoritas mutlak yang tak terbantahkan. Dalam diskursus teori evolusi Darwinian, perkembangan makhluk hidup digerakkan oleh seleksi alam (natural selection) dan mutasi genetik acak (random mutation). Bagi seorang materialis dogmatis, proses ini berjalan buta tanpa arah. Namun, teologi Jawahirul Qur’an yang diartikulasikan Gus Ulil menolak keacakan yang buta tersebut.
Keimanan kita melihat bahwa apa yang disebut sains sebagai “seleksi alam” atau “adaptasi evolusioner” sejatinya adalah tangan-tangan tak terlihat dari Tuhan yang sedang “memegang ubun-ubun” setiap makhluk-Nya. Evolusi bukanlah bukti tiadanya Tuhan; ia justru merupakan mekanisme mekanis yang dipilih Tuhan untuk memperlihatkan bagaimana kreativitas-Nya bekerja secara gradual di dalam ruang dan waktu. Tuhan berada di “jalan yang lurus”, yang berarti hukum-hukum alam yang Dia tetapkan konsisten, geometris, dan penuh keteraturan, termasuk di dalamnya hukum evolusi biologis.
Pluralitas dan Konstruksi Sosial Manusia
Surah Hud juga memberikan pencerahan luar biasa mengenai sosiologi manusia. Allah SWT berfirman:
وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَـعَلَ النَّاسَ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلَا يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ
اِلَّا مَنْ رَّحِمَ رَبُّكَ ۗ وَلِذٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَاَمْلَـئَنَّ جَهَـنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ
Artinya: “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat), kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhanmu telah tetap, “Aku pasti akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS. Hud [11]: 118-119).
Ayat ini adalah legitimasi teologis terhadap pluralisme dan keragaman. Tuhan sengaja tidak menciptakan manusia dalam bentuk satu cetakan yang seragam. Perbedaan pendapat, keragaman budaya, multiplisitas ideologi, dan variasi biologis adalah bagian inheren dari desain penciptaan (design by decree).
Gus Ulil sering kali menekankan bahwa ketidakmampuan manusia untuk seragam bukanlah cacat bawaan, melainkan rahmat dan ruang bagi dinamisasi peradaban. Perselisihan dan perbedaan adalah energi yang menggerakkan sejarah. Namun, Al-Qur’an mengingatkan bahwa energi ini harus dikelola dengan rahmat agar tidak berujung pada destruksi total. Sejarah para rasul yang disampaikan kepada Nabi Muhammad bertujuan untuk menguatkan hati, menjadi jangkar moral di tengah badai polarisasi sosial.
Membaca Ayat-Ayat Kosmis dalam Surah Ar-Ra’d
Memasuki bait-bait dari Surah Ar-Ra’d, kita disuguhi dengan “Katedral Alam Semesta” yang megah. Surat ini dibuka dengan penegasan kebenaran Kitab Suci, yang langsung disusul dengan pembuktian empiris-kosmis. Dinyatakan dalam Surah Ar-Ra’d Ayat 2 :
اَللّٰهُ الَّذِيْ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۗ كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَجَلٍ مُّسَمًّى ۗ يُدَبِّرُ الْاَمْرَ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَآءِ رَبِّكُمْ تُوْقِنُوْنَ
Artinya: “Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan; masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 2).
Bagi manusia modern, “langit tanpa tiang” dapat dipahami melalui hukum gravitasi, gaya sentrifugal, dan mekanika kuantum yang menjaga planet-planet tetap berada pada orbitnya. Gus Ulil mengajak kita melihat bahwa Al-Qur’an menggunakan bahasa puitis-metaforis yang melampaui zamannya untuk menjelaskan kestabilan kosmos.
Tuhan menghamparkan bumi, menancapkan gunung-gunung sebagai pasak tektonik, dan mengalirkan sungai-sungai sebagai urat nadi kehidupan. Menariknya, Al-Qur’an menyebutkan tentang buah-buahan yang diciptakan “dua jenis” (berpasangan) dan petak-petak tanah yang ditumbuhi kurma atau anggur, yang: “…diairi dengan satu air, dan Kami menjadikan sebagian dari mereka lebih unggul rasanya daripada yang lain.”
Ini adalah sebuah paradoks biologis yang mencengangkan. Mediumnya sama (air dan tanah yang sama), namun genetika tanaman menghasilkan struktur rasa, warna, dan khasiat yang berbeda-beda. Bagi para pemikir yang jeli (liqaumin ya’qilun), fenomena variasi botani ini adalah petunjuk paling benderang tentang adanya entitas cerdas (Intelligent Designer) yang mengatur biologi alam semesta.
Air yang satu itu mengejawantahkan keragaman hayati yang tak terbatas: sebuah paralel yang klop dengan ide pohon silsilah kehidupan (tree of life) dalam teori evolusi, di mana seluruh makhluk hidup berasal dari leluhur universal yang sama (common ancestor), namun berdiferensiasi menjadi jutaan spesies yang berbeda berkat ketetapan ukuran-Nya.
Pengetahuan Mikro dan Makro: Menolak Determinisme Buta
Teologi Islam menolak pandangan deisme yang menganggap Tuhan menciptakan alam semesta lalu meninggalkannya berjalan sendiri seperti jam dinding mekanis. Surah Ar-Ra’d mematahkan hal tersebut:
اَللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ اُنْثٰى وَمَا تَغِيْضُ الْاَرْحَامُ وَمَا تَزْدَادُ ۗ وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهٗ بِمِقْدَارٍ
Artinya: “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, apa yang kurang sempurna, dan apa yang bertambah dalam rahim. Dan segala sesuatu ada ukuran di sisi-Nya.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 8).
Tuhan bukan hanya arsitek makrokosmos (matahari dan bulan), tetapi juga pengawas mikrokosmos (rahim dan embriologi). Setiap fluktuasi seluler, setiap mutasi kromosom, dan setiap pembelahan DNA berada dalam kalkulasi presisi (bi-miqdar).
Kesadaran bahwa Allah mengetahui yang gaib dan yang nyata, mengetahui orang yang berbisik di kegelapan malam maupun yang berjalan di terik siang, melahirkan rasa aman sekaligus tanggung jawab moral eksistensial. Di sinilah terletak ayat sosiologis yang sangat masyhur:
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ ۗ وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
Artinya: “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11).
Ayat ini menjembatani takdir Ilahi dengan kehendak bebas manusia (free will). Walaupun alam semesta diatur oleh hukum fisik yang ketat (determinisme alam), manusia diberikan ruang agensi untuk mengubah nasib sosial, politik, dan peradabannya sendiri. Evolusi sosial manusia tidak terjadi secara otomatis; ia membutuhkan kesadaran internal, revolusi spiritual, dan transformasi epistemologis dari dalam diri manusia itu sendiri.
Metafora Buih dan Air: Esensi Melampaui Eksistensi
Salah satu perumpamaan paling indah dalam Surah Ar-Ra’d yang dikupas dalam kajian “Jawahirul Qur’an” adalah metafora tentang air hujan yang mengalir di lembah-lembah dan membawa buih yang mengapung, atau logam yang dilelehkan dalam api untuk perhiasan yang juga menghasilkan buih serupa. Allah SWT berfirman:
اَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَسَالَتْ اَوْدِيَةٌ بِۢقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا ۗ وَمِمَّا يُوْقِدُوْنَ عَلَيْهِ فِى النَّارِ ابْتِغَآءَ حِلْيَةٍ اَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهٗ ۗ كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْحَـقَّ وَالْبَاطِلَ ۗ فَاَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَآءً ۚ وَاَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِى الْاَرْضِ ۗ كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ
Artinya: “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 17).
Gus Ulil melalu kacamata tasawuf falsafi Al-Ghazali mengajak kita merenungkan esensi dari eksistensi. Buih adalah simbol dari segala sesuatu yang artifisial, yang tampak besar, bergemuruh, namun kosong dari substansi. Buih adalah hoaks, narasi-narasi kebencian, materialisme yang mendewa-dewakan penampilan luar, serta klaim-klaim kebenaran yang dangkal. Sebaliknya, air murni dan logam mulia yang tertinggal di dasar adalah simbol dari kebenaran (al-haqq), ilmu yang bermanfaat, keimanan yang tulus, dan kontribusi nyata bagi kemanusiaan.
Dalam pertarungan wacana modern (termasuk perdebatan antara agama dan sains) banyak sekali “buih” intelektual yang diproduksi. Ketegangan yang dibuat-buat antara teori evolusi dan keimanan sering kali hanyalah buih polemik yang bersumber dari kedangkalan memahami teks agama dan arogansi memahami batas sains. Ketika buih-buih polemik itu pecah dan lenyap, yang tersisa dan menetap di bumi keimanan manusia adalah kesadaran batin yang menghunjam dalam: bahwa alam semesta dengan segala mekanismenya adalah ayat (tanda) yang mengantarkan jiwa pada sujud yang tulus kepada-Nya.
Narasi Keimanan yang Terbuka dan Kokoh
Melalui penjelajahan teologis atas Surah Hud dan Surah Ar-Ra’d dalam episode ke-28 ngaji “Jawahirul Qur’an ini”, kita disadarkan bahwa narasi keimanan Islam bukanlah narasi yang rapuh dan ketakutan menghadapi laju sains modern.
Al-Qur’an menantang manusia untuk melihat alam semesta bukan sebagai entitas mati yang mekanis, melainkan sebagai organisme hidup yang bertasbih. Kilat yang menimbulkan rasa takut dan harapan, awan tebal yang membawa air kehidupan, guntur yang memuji-Nya, hingga bayang-bayang yang bersujud di waktu pagi dan petang: semuanya adalah simfoni kosmis yang mengagungkan keesaan Allah.
Tugas manusia, sebagaimana ditegaskan di akhir Surah Ar-Ra’d, bukanlah menguasai takdir kosmos, melainkan menyampaikan kebenaran dan mengasah kesadaran spiritual dengan bantuan interpretasi dari orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang Kitab Suci (man indahu ilmul kitab).
Dengan cara pandang religiusitas yang inklusif, rasional, dan sufistik seperti yang dicontohkan Imam Al-Ghazali dan dihidupkan kembali oleh Gus Ulil, kita dapat memeluk sains (termasuk teori evolusi) tanpa harus kehilangan tuhan, dan kita dapat merawat keimanan tanpa harus mengkhianati akal sehat. Kebenaran sejati tidak akan pernah menghapus kegunaan; ia akan menetap di bumi, menyirami gersangnya jiwa manusia modern. Wallahu a’lam bisshawab.

