Sering kali kita berjumpa di dalam kehidupan sehari-hari dengan orang-orang yang secara intelektual cerdas sekali, atau secara ilmu sangat alim. Akan tetapi, ilmunya tidak disertai dengan akhlak dan etika. Akibatnya, ia memiliki kecenderungan sombong.
Semakin pintar atau berpengetahuan seseorang, kesombongannya semakin meningkat. Karena itu, orang yang berilmu tidak cukup jika hanya memiliki ilmu saja, melainkan harus ditopang dengan akhlak dan budi pekerti yang luhur.
Di dalam tradisi Nahdlatul Ulama dan pondok pesantren, kita mengenal pola pendidikan yang dikembangkan bahwa santri tidak sekadar belajar ilmu, tetapi juga belajar sikap dalam berilmu. Artinya, jika seseorang hanya memiliki ilmu yang mendalam tanpa disertai sikap keilmuan yang tepat, ia bisa menjadi pusat kejengkelan orang lain.
Itu sebabnya, Sayyidina Umar bin Khattab pernah mengucapkan sebuah pernyataan penting:
تعلموا العلم وتعلموا للعلم السكينة والحلم وتواضعوا لمن تعلموا تواضعوا لمن تعلموا منه ولا تكونوا جبارة العلماء ولا يقوم علمكم بجهلكم
Artinya: “Pelajarilah ilmu dan pelajarilah bersama ilmu itu sakinah (sikap tenang) dan hilm (menahan amarah). Berlakulah tawaduk (rendah hati) kepada orang yang belajar kepadamu dan tawaduklah kepada orang yang engkau menuntut ilmu darinya. Janganlah menjadi orang berilmu yang sombong sehingga ilmumu tidak bisa tegak disebabkan kebodohan.”
Godaan terbesar bagi orang yang memiliki ilmu adalah sombong; penyakit orang alim adalah arogansi. Hal ini terjadi di mana-mana sejak zaman dahulu sampai sekarang. Kesombongan membuat ilmu yang ada pada seorang alim menjadi tidak menarik. Dengan kata lain, ilmu yang disertai dengan kesombongan bisa mendatangkan musibah.
Oleh karena itu, orang yang berilmu harus memiliki sikap dan sifat as-sakinah (ketenangan) serta al-hilm (kesabaran). Dengan ketenangan, ia bisa mengontrol dirinya serta tidak mengumbar pernyataan seenaknya. Apa pun yang dilakukan harus dikalkulasi penuh pertimbangan, bukan secara emosional.
Begitu juga dengan kesabaran. Ketika orang berilmu diperlakukan secara tidak baik oleh orang lain, ia tidak membalasnya dengan perbuatan jelek yang serupa. Jika kedua sifat ini ditanamkan secara matang, ia akan dicintai oleh banyak orang dan ilmunya akan bermanfaat.
Menurut Gus Ulil, para kiai ketika mengajarkan santrinya di pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan saja, melainkan juga mengajarkan sikap dalam berilmu. Bahkan, terkadang sikap keilmuan jauh lebih penting daripada ilmu itu sendiri. Mengapa demikian? Karena seseorang yang memiliki sikap keilmuan kurang baik, ilmunya justru bisa membawa mudarat dan mafsadah bagi orang lain. Ilmunya tidak membawa manfaat.
Tentu saja, lanjut Gus Ulil, sikap keilmuan yang tepat justru akan membuat ilmu orang tersebut membawa manfaat yang luar biasa. Imam Al-Hasan Al-Bashri, salah satu ulama sekaligus sufi besar pada masa awal Islam, pernah mengatakan: “Tuntutlah ilmu pengetahuan dan hiasilah ilmu dengan ketenangan serta kesabaran.” Jelasnya, belajarlah kalian demi ketenteraman dan ketenangan, serta rendah hatilah kepada orang yang kamu menuntut ilmu darinya.
Hari ini, ilmu pengetahuan semakin menjauh dari cita-cita ideal seperti yang diharapkan Sayyidina Umar dan Hasan Al-Bashri. Pengetahuan sekarang sering dilepaskan dari etika. Apalagi dengan maraknya kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan bisa diraih dengan cuma-cuma via internet, utamanya melalui platform Google.
Atas dasar ini, siapa pun bisa dengan mudah menjadi sangat alim. Sarana untuk menjadi orang alim sangat banyak, termasuk lewat kanal YouTube yang menyediakan banyak pengajian, mulai dari masalah politik hingga keagamaan. Tak heran jika belakangan ini ada ratusan orang yang secara tiba-tiba menjadi ustaz dadakan, padahal tak pernah mengenyam pendidikan di pesantren sama sekali.
Memang kecanggihan teknologi sangat bagus dalam upaya menyebarkan ilmu pengetahuan. Namun, jangan lupa bahwa ajaran penting yang dirawat di pondok pesantren menegaskan: belajar dan mencari ilmu hanyalah satu sisi mata koin, sedangkan sisi mata koin lainnya adalah sikap berilmu.
Artinya, jika ilmu tidak dibarengi dengan sikap berilmu yang tepat, ia ibarat orang yang memakai pakaian kusut dan tidak menarik. Orang lain justru membencinya karena ia tidak memakai pakaian yang indah. Dengan kata lain, berilmu tanpa dihiasi al-waqar dan al-hilm sama sekali tidak menarik.
Sederhananya, orang pintar yang sombong itu menjengkelkan. Sebaliknya, orang yang kepintarannya sedang-sedang saja tetapi sopan dan berakhlak baik bisa menyebarkan faedah ilmunya lebih banyak karena memiliki sikap berilmu yang tepat (disenangi banyak orang).
Selain kecanggihan teknologi, kata Gus Ulil, sekarang kita mengalami instrumentalisasi ilmu. Ilmu hanya dijadikan sebagai instrumen atau alat untuk mencapai tujuan-tujuan yang sifatnya sesaat. Karena diinstrumentalisasikan, ilmu seperti ini sering tidak dibarengi dengan sikap berilmu yang baik. Itu sebabnya tak jarang kita mendengar ucapan, “Pokoknya saya sudah paham dan mendapatkan ijazah, ya sudah saya puas.”
Tentu saja cara berilmu seperti ini bukan seperti yang diajarkan oleh para ulama kita. Ulama dari dahulu sampai sekarang selalu mengajarkan dua hal kepada para santrinya: berilmu dan sikap berilmu (akhlak ilmu). Semoga kita bisa menjadi orang-orang berilmu yang memiliki sikap keilmuan yang tepat dan benar. Wallahu a’lam bish-shawab.
*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula Digital Daily News Jatim.

