Kita tahu bahwa prasangka adalah asumsi yang biasanya bersifat negatif. Karena keterbatasan informasi tentang kelompok atau individu, seseorang dapat berprasangka buruk akibat penilaian tergesa-gesa sebelum mengetahui karakteristik asli orang tersebut.
Gus Ulil menegaskan bahwa prasangka yang bersifat emosional dapat dengan mudah menjadi katalisator ledakan sosial. Prasangka memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap munculnya tindakan yang merugikan masyarakat.
Salah satu komponen yang menyebabkan kerusakan perilaku manusia adalah prasangka. Banyak peristiwa besar yang mengubah dunia berasal dari ketidaksetaraan. Peristiwa mengerikan seperti konflik, kekerasan, dan pembunuhan memiliki akibat tragis bagi sistem kehidupan bangsa dan negara.
Dalam agama Islam, adab pergaulan dan sopan santun harus dipatuhi oleh semua orang—baik pria maupun wanita, muda maupun tua, kaya maupun miskin. Tujuan dari ketentuan ini adalah agar sesama makhluk ciptaan Allah SWT tidak memiliki prasangka buruk terhadap orang lain.
Tak hanya itu, menurut Gus Ulil, ada beberapa asas yang harus dipegang oleh masyarakat, seperti saling menghargai, tolong-menolong, gotong royong, dan saling percaya. Islam menganjurkan kita untuk hidup sebagai satu umat yang bersatu.
Sangat penting untuk memiliki sikap positif antarsesama. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa Allah telah menggariskan bahwa orang beriman adalah bersaudara. Pendek kata, kita dilarang saling berprasangka. Dalam Al-Qur’an dinyatakan:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).
Larangan Mengadu Domba Sahabat Nabi
Gus Ulil menekankan bahwa kita tidak boleh berburuk sangka kepada para sahabat Nabi. Mengapa? Karena mereka adalah generasi terbaik setelah Rasulullah. Misalnya, jangan sampai Anda berbaik sangka kepada sahabat Abu Bakar karena beliau khalifah pilihan, namun berburuk sangka kepada Ali bin Abi Thalib hanya karena terjadi banyak perpecahan di masa kepemimpinannya.
Tindakan semacam ini tidak dibenarkan agama. Secara tidak langsung, sikap tersebut mengadu domba para sahabat dan memicu kerusakan sosial di ruang publik. Hal inilah yang akhirnya menciptakan “sekat sosial” di antara kelompok Islam. Jika sekat sosial terjadi, maka praktik tahkim (penghakiman) dan takfir (pengafiran) kemungkinan besar akan terjadi pula.
Berbaik sangka terhadap sesama Muslim, termasuk kepada sahabat Nabi, jauh lebih baik daripada mencela mereka. Meskipun Anda merasa tahu kekurangan seseorang, tetaplah berbaik sangka daripada membicarakannya. Bahkan, kata Gus Ulil, jika bahan ghibah itu benar adanya, kita tetap dilarang melakukan ghibah atau membeberkan keburukan tersebut.
Jika seseorang memahami pentingnya menghindari ghibah dan mencela sahabat Nabi, ia akan menghindarinya sekuat tenaga. Bahkan di waktu luang sekalipun, ia tidak akan tertarik pada hal-hal tersebut dan lebih memilih mencari kesibukan yang berfaedah.
Khulafaur Rasyidin adalah Masa Terbaik
Sudah maklum bahwa mayoritas Muslim meyakini masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin adalah masa terbaik. Khulafaur Rasyidin terdiri dari Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Secara historis, tidak ada masalah mengenai urutan jabatan mereka. Namun, jika Anda membuat hierarki keutamaan hanya untuk merendahkan salah satunya, di situlah ghibah bermula.
Menurut akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, soal urutan keutamaan dan kedudukan para sahabat adalah urusan di akhirat, bukan konsumsi duniawi. Hanya Allah SWT dan Rasul-Nya yang mengetahui posisi tersebut. Oleh karena itu, siapa pun tidak boleh membanding-bandingkan sahabat satu dengan lainnya demi tujuan menjatuhkan. Jika ingin membahas prioritas, menurut Gus Ulil, harus didasarkan pada dalil-dalil sahih.
Nabi sendiri memuji para sahabatnya. Jika kita menentukan urutan keutamaan hanya berdasarkan perkiraan amal fisik, hal itu hanyalah sangkaan yang sulit dibuktikan. Sebab, urusan diterima atau tidaknya amal hanyalah rahasia Allah SWT.
Bisa jadi seseorang tampak tidak menonjol dalam ibadah fisik, namun memiliki akhlak batin yang mulia di mata Allah. Sebaliknya, ada yang amalnya tampak besar di luar, namun menyimpan keburukan di dalam hati. Hanya Allah yang benar-benar tahu segala kerahasiaan hati.
Yang jelas, berdasarkan wahyu dan catatan sejarah Islam, Abu Bakar dipilih sebagai khalifah pertama, diikuti oleh para sahabat besar berikutnya. Oleh karena itu, melakukan ghibah dengan menuduh sahabat tertentu berkhianat atau menggunakan dalil untuk memverifikasi keburukan mereka, menurut Gus Ulil, ibarat membuka “kotak Pandora” yang berbahaya.
Kesimpulannya, terdapat ijma’ para sahabat terhadap kepemimpinan Khulafaur Rasyidin yang disusun berdasarkan hadis-hadis keutamaan mereka. Dalil utama adalah hasil ijma’ ini. Hal inilah yang menyebabkan Imam Al-Ghazali membatasi kita dalam urusan imamah (kepemimpinan) agar tidak terjebak dalam fitnah. Wallahu a’lam bisshawab.

